
Tiga tahun yang lalu
"Aku mohon Mrs. Elisa, jika ada berita sekecil apapun mengenai Jessy.. aku mohon segera kabarkan padaku." ucap Dean memohon. Pertama kali seumur hidupnya, ia mendatangi Nevada untuk bertemu secara langsung ibu angkat Jessy. Sekaligus ia ingin melihat secara langsung tempat dimana Jessy tumbuh.
Mrs. Elisa mengangguk. "Aku mengerti kesedihanmu. Namun semua itu kehendak Tuhan. Jika memang Jessy bisa ditemukan dan mengabari ku, aku akan dengan segera memberikan kabar padamu. Aku pun cemas. Semua anak yang ada di yayasan ini cemas."
"Aku mengerti. Aku dengar Jessy dekat dengan semua anak disini."
"Jessy telah memberikan begitu banyak bantuan untuk yayasan ini. Bahkan aku masih malu jika mengingat terakhir kali ia datang kesini. Saat itu, kami sedang mengalami masalah keuangan. Namun Jessy dapat menyelesaikan semuanya dengan mudah. Aku berterima kasih padamu karena telah bersama Jessy saat itu." jelas Elisa.
Sebuah kebenaran yang menusuk jantungnya. Betapa dermawan istrinya. Dan dengan bodohnya ia membiarkan istrinya pergi. Tiba-tiba lamunannya dikejutkan oleh ketukan pintu. Seorang gadis masuk membawa sebuah surat. Ia melihatnya dari bawah ke atas. Seorang gadis belia yang usianya tak lebih dari 15 tahun, pikirnya.
"Ini adalah anak yang sangat dekat dengan Jessy. Ia bernama Joey." ucap Elisa.
"Joey?" tanya Dean. Ia melihat Joey menunduk setelah dengan sopan nya ia menganggukkan kepalanya. Ia terlihat berbisik pada Mrs. Elisa.
"Joey.." panggilnya. "Apakah kau dekat dengan Jessy? Bagaimana perasaanmu ketika kau tahu Jessy hilang?"
Joey menoleh pada Dean. "Hatiku sakit. Jessy pergi karena ulah mu! Kau yang tidak bisa menjaga Jessy kami." ucapnya ketus.
Dean cukup terkejut saat itu. Padahal ketika pertama kali ia masuk kedalam kantor Mrs. Jessy, ia terlihat sopan. Namun ketika ia bertanya pada Joey mengenai Jessy, tatapannya langsung berubah. Usianya bisa dikatakan menuju dewasa saat ini. Terlihat dari dandanannya sekarang. Namun tetap saja ia terlihat seperti anak kecil baginya.
Ia melihat Joey gugup. Dean memiliki cara. Ia melihat Lana. "Lana, Brittany aman bersamaku. Kau bisa membawa gadis ini pergi. Aku akan membawa Brittany ke suatu tempat."
Brittany langsung protes. "Aku akan pulang. Kau jangan seenaknya. Aku tidak percaya kau hanya akan membawaku pergi. Aku tidak percaya padamu!"
Dean melirik dan tersenyum. "Melihatmu seperti ini, aku mengingat istriku."
"Tapi aku bukan istrimu!" seru Brittany marah. Ia langsung masuk kedalam mobil yang dibawa oleh Lana. "Jangan pernah berharap untuk menemui ku lagi! Aku membencimu!" ucapnya sambil menutup pintu dengan kencang.
Dean menatap kepergian Brittany sambil tersenyum. Jessy, berapa banyak pun kau merubah wajahmu, kau tetap aku kenali.
"Jangan katakan kau ditolak?" tanya Harris dibelakangnya sambil tertawa sinis.
__ADS_1
Dean membalikkan tubuhnya. Ia melihat Harris. "Lebih baik ia menolak ku daripada ia harus bertemu denganmu?"
"Mengapa? Kau pikir karena pesona mu, wanita-wanita cantik akan mengejar mu? Tapi menurutku tidak dengan Brittany Jonas. Ia wanita cantik yang sama sekali tidak terpesona oleh pesona mu. Ia wanita muda yang pintar. Aku akan mendapatkannya dengan mudah."
"Dan aku tidak akan membiarkannya. Kau harus camkan itu! Aku tidak akan membiarkan kau mendekati Brittany!" tekan Dean. Iapun berjalan menjauhi Harris. Sialan, melihat wajahnya saja ia langsung marah karena mengingat apa yang telah ia lakukan padanya dan pada Jessy. Ia tidak akan pernah memaafkannya. Ia pula yang telah membuat kehidupannya hancur. Ia yang telah merekayasa semuanya. Apapun yang akan kau lakukan pada Brittany, aku yang akan pertama kali mengacaukannya. Aku tidak akan membiarkan Brittany menandatangani kontrak denganmu, Harris. Dan kau Brittany Jonas.. Ketika semuanya terungkap dan kau benar-benar Jessy, aku ingin tahu mengapa kau meninggalkanku begitu lama? Mengapa kau melakukan hal ini sekarang? Apa yang terjadi padamu? Lalu, kemana anak kita? Apakah kau membuangnya?
Ketika tiba di kondo, Brittany langsung berlari menuju kamarnya. Ia mengunci pintu kamar dan menjatuhkan diri di tempat tidur. Dean merusak rencananya. Ia mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Jangan ganggu aku!"
Joey hanya berdiri didepan pintu yang tertutup itu. Ia merasa bersalah karena telah membuat orang yang paling disayanginya marah.
"Joey, kita harus bicara.." ucap Lana
Joey melirik Lana yang kini ada disampingnya. "Bicara apa?"
"Ini tentang Jessy. Orang yang saat ini sedang marah." ucap Lana tajam.
Joey membelalakkan matanya. "Bagaimana kau tahu?" tanyanya seraya berbisik.
Joey mengikuti kemana langkah Lana. Mereka tiba disebuah cofeeshop yang cukup sepi pengunjung. Lana mengajak Joey untuk duduk disalah satu sofa agar pembicaraan mereka cukup santai. Karena bagaimanapun Joey cukup dekat dengan Jessy. Ia pasti tidak akan banyak bicara.
"Joey, kau tahu aku bukan? Aku adalah sahabat Dean. Dan juga sahabat Jessy. Aku ingin kau menceritakan semuanya." Ucap Lana.
"Aku tidak mempunyai hak untuk mengatakan tentang kebenaran itu karena aku pun tidak tahu kebenaran seperti apa yang disembunyikan Bije." jawab Joey cemas. Kedua matanya menatapnya dengan cemas.
"Aku tidak akan mengatakan pada Bije-mu itu tentang malam ini. Jadi kau membenarkan jika Brittany Jonas itu adalah Jessy Julian? Mengapa ia merubah namanya?" tanya Lana.
"Itu nama asli Bije. Kalung itu mengatakan semuanya. Menurut Mrs. Elisa, ketika Bije ditemukan ia memakai kalung dengan huruf B dan J. Karena ia tidak memiliki nama saat itu, Mrs. Elisa memanggil namanya dengan Bije. Dan ketika ia sekolah, ia memiliki nama Jessy Julian. Itu yang aku tahu."
"Lalu siapa yang memberinya nama Brittany Jonas?" tanya Lana kembali.
"Bije sudah menemukan kedua orangtuanya." protes Joey.
__ADS_1
Lana terkejut. "Jadi ketika ia menghilang, ia bersembunyi dirumah orangtuanya?"
"Cukup Lana.. Aku tidak mau banyak bicara. Lebih baik kau bertanya sendiri. Yang aku tahu, pemikiran mu tentang Bije menghilang adalah salah besar." jawab Joey. Ia kemudian menunduk. "Tolong jangan tanyakan lagi tentang ini, Lana. Aku takut."
Lana mengangguk sambil memegang tangan Joey. "Kau aman bersamaku. Jangan takut. Aku akan diam. Hingga saatnya tiba, aku yang akan bertanya langsung pada Brittany."
Joey mengangguk. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, sayang. Yang terpenting kunci utama masalah ini sudah aku temukan." jawab Lana sambil tersenyum.
...***...
Pemotretan sebuah produk kecantikan keesokan harinya dilakukan disebuah studio yang tak jauh dari tempatnya menginap. Deniz terlihat baru saja masuk kedalam studio diikuti oleh seseorang. Brittany menyipitkan matanya. Harris berada disana. Beruntung Harris tidak tersinggung karena sikap Dean semalam. Buktinya ia datang ke studio untuk melihatnya melakukan pemotretan. Ia melambaikan tangannya.
Harris melihat Brittany dari kejauhan. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada pengacau. Semalam ia dibuat bingung oleh kedatangan Dean. Bagaimana bisa pria itu datang ke restoran? Siapa yang memberitahunya?
"Kau mengundang Harris?" tanya Lana yang sedang merapikan pakaian Brittany
"Tidak. Tapi kebetulan sekali. Aku ada urusan dengannya." jawab Brittany.
"Urusan kontrak atau urusan lain?" selidik Lana.
Brittany menatap Lana dari depan cermin nya. Ia menghela nafas. "Lana, aku tahu kau baik sekali padaku. Tapi bisakah kau tidak ikut campur pada urusanku?"
Lana menghentikan kegiatannya. "Jika aku katakan tidak mau, bagaimana?"
"Aku akan meminta agensi untuk mengganti stylist." sorot Brittany tajam.
Lana mengerutkan keningnya. Jessy sudah berubah banyak. "Baiklah aku tidak akan ikut campur urusanmu." ucapnya malas.
"Bagus. Aku harap setelah pemotretan ini selesai, kau dan Joey pulang ke kondo. Aku akan bersama Deniz. Kami berdua memiliki urusan." Ucap Brittany
"Aku peduli padamu. Kau harus berhati-hati." ujar Lana serius.
__ADS_1
"Lana, apakah kau terpikir jika kita berdua terlalu dekat? Aku bukan sahabatmu yang hilang itu. Kau salah orang, Lana. Kau tidak perlu peduli padaku. Lebih baik kau pedulikan sutradara itu agar tidak mengejar ku lagi." jelas Brittany sambil melangkahkan kakinya menuju tempat pemotretannya.
Lana tidak percaya Jessy berubah. Ia bukan lagi Jessy yang polos namun keberaniannya mengalahkan segalanya. Ia seseorang yang berbeda. Sayangnya tadi pagi Dean telah kembali ke NY. Jika Dean masih disini, ia yakin pria itu akan maju melayani kemarahan Brittany dengan mudah.