Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
No Tittle


__ADS_3

"Bagaimana harimu?"


Brittany menaiki lift setelah seharian ia sibuk pemotretan. Tidak ada yang tahu mengenai acara pernikahan yang akan digelar lusa. Tidak seorangpun kecuali agensi dan keluarga dekatnya.


"Aku lelah seharian ini, Alv.. " rengek Brittany.


"Maafkan aku karena tidak bisa membantumu disaat seperti ini. Tes untuk kepindahan ku tidak bisa dihindari. Aku akan pergi dengan pesawat pagi besok. Jadi lusa aku tidak akan terlambat untuk pernikahan kita." jelas Alv.


Ketika lift terbuka, ia terkejut melihat orang yang dikenalnya ada didepan kondo.


"Alv, aku akan menghubungimu lagi nanti. Ada beberapa orang yang menungguku." ucapnya sambil menutup telepon.


Brittany terdiam di tempat melihat kedua orangtuanya datang bersama orang tua Dean. Mereka berdiri didepan pintu kondo nya.


"Mom.. " ucapnya pada Anastasia.


Anastasia menghampirinya. Ia memegang kedua tangan Brittany. Kemudian ia menatapnya penuh selidik. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada menantunya. "Apakah ini Jessy?" tanyanya sambil memegang wajah wanita didepannya.


Brittany mengangguk pelan. Ia memegang tangan Anastasia. "Ya, mom.. " ucapnya.


"Maafkan kami karena baru sekarang menemui mu. Kami sudah mendengarnya dari Isabela. Lusa kau akan menikah bukan? " tanya Anastasia. Tidak dapat dipungkiri nadanya sedikit tertekan ketika mengatakannya. Ia kecewa.


Brittany hanya mengangguk pelan. Ia menatap ibunya. Seakan tahu kesulitan anaknya, ia menghampiri Anastasia.


"Untuk itulah kami mengundang kalian." ucap Isabela.


Butuh sebuah ruang untuk menatap kedua orang yang pernah dekat dengannya. Tatapan tidak percaya dan rasa kecewa dari mereka yang tidak pernah berurusan dengannya. Namun keputusan yang telah diambilnya telah bulat. Pernikahan ia dengan Alv akan terjadi dua hari lagi. Semua persiapan telah siap 90 persen. Sebuah pernikahan simple namun romantis hasil karya Lana akan segera terjadi.


Ada satu yang mengganjalnya. Pernikahan idaman itu dilakukan Lana atas perintah Dean. Walaupun begitu, Ia tidak ingin memikirkan sesuatu tentang Dean. Apapun yang Dean lakukan, itu karena tanggungjawabnya telah membiarkannya terluka.


"Aku harap suamimu nanti bisa membahagiakanmu. " Lee mulai membuka suaranya. "Aku minta maaf karena Dean pernah membuatmu terluka."


"Tidak ada yang menginginkan hal seperti itu, Lee. " ucap Jonas.

__ADS_1


Brittany duduk tanpa menatap kedua orang tua Dean. Ia merasa tidak tahan menatap dua pasang mata yang menatapnya dengan rasa kecewa. Ia menunduk dan merasa lemah didepan kedua orangtuanya.


"Kami bukannya ingin merusak kebahagiaan mu, Jessy. Namun kami harap semua permasalahan yang telah terjadi tidak ditujukan pada Dean semata. Ada beberapa faktor yang membuatnya seperti itu. Seharusnya kau tahu bagaimana Dean itu. Kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan Dean. Bukan kami. Aku sangat ingat bagaimana Dean terpuruk karena kehilanganmu. Aku hanya ingin kalian saling memaafkan." ucap Anastasia.


"Kami tidak bermusuhan" seru Brittany.


"Ya, tapi kau tidak memberikannya kesempatan. Ketika ia keluar dari rumah sakit, ia menjadi pendiam. Ia tidak mau pulang ke rumah dan menghabiskan waktunya dengan berada di kantor sepanjang waktu. Ia menjauh dari kami. Terutama dari Lee. Ia tidak mau menatap ayahnya sendiri karena ia pikir ia telah gagal menjadi seorang pria. Apakah kau tahu, ia menghadiahi kau sebuah pesta pernikahan yang indah dengan bantuan Lana." ucap Anastasia berapi-api. Namun kemudian ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Maafkan aku, aku terlalu emosional jika menyangkut Dean. Dean tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sebelumnya. Ketika aku menikah dengan Lee, sangat sulit bagiku untuk menembus pertahanannya. Aku merasakan sakit yang ia rasakan."


"Apakah kalian tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Brittany pelan. Ia menatap Anastasia.


"Jika kau tidak bercerita, bagaimana kami bisa tahu? " jawab Anastasia.


"Kesakitan ku jauh lebih banyak dibanding Dean. Aku kehilangan 20 persen wajah asliku dan sebagai gantinya, aku harus merubah wajahku. Kemudian, aku harus kehilangan bayi yang sedang aku kandung. Aku harus menerima ketika aku divonis sebagai wanita yang tidak akan pernah memiliki keturunan. Apakah aku masih bisa menerima pria yang telah membuatku menjadi seperti itu? Apakah kalian akan menerima kenyataan jika kalian tidak akan pernah memiliki penerus dalam keluarga kalian? Sedangkan kalian berdua sangat ingin memiliki penerus. " jelas Brittany dengan bibir bergetar.


Lee menutup matanya. Ia memegang lengan istrinya yang hendak menjawab ucapan Brittany. "Cukup, sayang.. " ucapnya. Ia kemudian menatap Brittany. "Maafkan kelancangan istriku. Ia melakukannya semata-mata karena menyayangi Dean. Jonas sempat menceritakan semua peristiwa yang terjadi padamu saat itu. Kami merasa menyesal karena hal buruk terjadi padamu. Penerus bukanlah sebuah masalah bagi kami. Aku memang pernah berharap banyak tentang itu. Tapi itu bukan masalah. Yang terpenting bagi kami hanya kebahagiaan Dean."


"Aku selalu berharap Dean akan bahagia, dad. " jawab Brittany lemah.


"Apa yang Dean lakukan? Dimana ia kini? " tanya Isabela.


"Sampai kini kami tidak tahu ia di mana. Setelah premier film terbarunya, ia menghilang. Seperti dua tahun yang lalu ketika ia pergi berkeliling dunia hanya untuk mencari istrinya."jawab Lee. Semua orang terdiam.


Brittany menunduk. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya bimbang atas pernikahannya dengan Alv kelak. Semua kebenaran terus keluar tanpa ia sadari. Ia menutup matanya dan hanya mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang meluncur dari orangtua Dean.


...***...


"Aku hanya ingin tahu kau dimana? " tanya Lana kesal ketika Dean menghubunginya.


"Kau tidak perlu tahu, Lana. Yang terpenting aku baik-baik saja." jawab Dean sambil tertawa.


"Apakah kau sudah menerima gambar yang aku berikan padamu? "


"Ya, Jessy ku sangat cantik dengan gaun pernikahannya. Kau telah melakukan yang terbaik. Terima kasih, Lana. Aku akan memberimu hadiah ketika aku pulang nanti. "

__ADS_1


"Apakah kau sudah melihat dekorasi tempat pernikahan mereka?"


"Ya, semuanya sangat indah. Jessy pasti menyukainya."


Tiba-tiba Lana terisak. "Dean, aku seperti menyiapkan pernikahan Jessy denganmu. Bukan dengan pria itu. Aku kasihan padamu. Aku harap dimana pun kau berada, kau bisa bertemu wanita yang jauh lebih baik dari Jessy. "


"Sulit Lana. Aku tidak yakin akan membuka hatiku dalam waktu dekat. Setelah apa yang aku lakukan selama ini, aku pikir tidak ada waktu untuk wanita lain."


"Aku yakin kau bisa melakukannya. Besok aku akan membawanya menonton film buatan mu. Ia tidak tahu film itu kau yang membuatnya karena ia terlalu fokus pada pekerjaan dan rencana pernikahannya."


"Aku tidak akan berharap apapun." jawab Dean.


"Dean... " panggil Lana


"Kerjakan semua pekerjaanmu dengan baik. Aku akan kembali bekerja." ucap Dean.


"Bekerja? " tanya Lana terkejut. "Apa yang sedang kau kerjakan? "


"Tidak penting. Hanya untuk mengusir kesepianku. " jawab Dean.


"Baiklah Dean. Kau harus terus menghubungiku. "


"Aku tahu. Bye.. " jawabnya sambil memutus telepon.


Sambil memakai sepatu boots besar, ia berjalan mengitari kebun anggur yang luas itu sambil mendorong sebuah kereta berisi anggur-anggur yang akan diolah nanti. Ia merapikan topinya sebentar dan kembali menarik tali yang terpasang pada kereta itu.


Ia melihat Jack telah menunggunya di depan gudang penyimpanan anggur yang ia bawa. Ia melambaikan tangan padanya.


"Kau terlalu bersemangat! " seru nya.


Dean menyerahkan kereta itu pada salah seorang pegawai dan menghampiri Jack. "Kau harus membayar ku sangat mahal untuk ini."


"Aku akan membayarnya dengan makan malam enak buatan Miranda. Ayo kita pergi.. " ucap Jack sambil merangkulkan tangannya dipundak Dean. Mereka berjalan berdampingan sambil terus bercerita tentang hal lucu. Mereka berdua tertawa

__ADS_1


__ADS_2