Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Goodbye Dean


__ADS_3

"Kau menyedihkan sekali." ucap Rossy ketika mereka berada didalam ruangan.


Dean tidak berani menjawab. Begitulah keadaannya. Ia memang menyedihkan sejak kehilangan Jessy. Ia menunduk dan tidak berani mengeluarkan suara.


"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Sejak kita kuliah, aku selalu memperhatikanmu. Sikapmu terhadap wanita selalu sama. Tapi, pada istrimu, kau berbeda jauh. Aku iri.." Rossy tersenyum hambar. Menyakitkan ia mengatakan hal seperti itu. "Kau terlihat membela dan mencintai istrimu. Aku terkadang kesal. Kau sulit didekati."


"Maafkan aku ketika terakhir kita bertemu. Aku terlalu kasar padamu."


Rossy tersenyum. "Karena itulah aku tersadar. Cintamu tidak akan pernah aku dapatkan. Seberapa keras aku mencoba, disitulah rasa sakit yang aku terima semakin besar. Beberapa hari ini aku berfikir. Aku akan melanjutkan sekolahku. Aku tidak akan bekerja di dunia hiburan kembali. Semua sudah cukup. Aku ingin hidup bebas tanpa melihatmu dan berurusan denganmu."


"Itu berita bagus.." jawab Dean sambil mengangguk. "Lagipula aku tidak bisa membuatmu bahagia."


Rossy tertawa. "Aku pikir, kita lebih enak berteman. Lucu sekali, aku menjadi manager mu hanya dalam beberapa bulan saja."


Dean hanya tersenyum.


Rossy menatapnya. Ia ingin bertanya mengenai berita itu, namun ia tidak ingin melihat pria yang dicintainya bertambah sedih. Ia melihat sekeliling ruangan. Ada satu bingkai foto yang membuatnya tertarik. Ia berdiri dan berjalan untuk melihat foto itu lebih dekat. Beberapa foto yang tersimpan di atas meja itu merupakan kenang-kenangan keluarga. Ia dapat melihat foto ayahnya Dean dan kakak perempuannya. Dan ia melihat foto yang sejak tadi membuatnya tertarik. Ia memegang bingkai itu dan menatapnya lama.


"Kalian berdua sangat bahagia disini. Aku tidak melihat pernikahan palsu disini. Aku dengar dari Harris jika awalnya pernikahan kalian palsu."


"Tidak ada pernikahan palsu antara aku dengan Jessy. Semuanya nyata. Harris mengada-ngada." jawab Dean marah.


Rossy menundukkan kepalanya. "Aku ingin kau membantuku, Dean." ucapnya. Ia sengaja membelokkan pembicaraan agar ia tidak mendengar Dean mengatakan hal itu.


"Apa yang terjadi antara kau dan Harris?"


Rossy duduk kembali. Ia menatap Dean. "Harris pria jahat. Ia mengancam ku."


Dean hanya bisa mengerutkan keningnya. "Ancaman?"


"Aku harus membayar ganti rugi jika aku pergi dari perusahaannya. Aku tertipu oleh surat kontrak yang sudah aku tandatangani. Harris bukan pria baik-baik. Ia bahkan menjual mu pada investor agar misinya berhasil. Ia ingin perusahaan maju dengan bantuan para investor. Aku tahu ini salah, namun pertemuan mu dengan artis muda itu memberikan peluang padanya. Gosip kalian yang membuatku patah hati itu membuat ayahnya memberikan suntikan modal yang sangat besar. Apalagi dengan hilangnya istrimu, membuat pria itu bahagia. Tidak ada pertemanan seperti itu, Dean. Ia berteman denganmu hanya karena kau dapat melancarkan usahanya. Tinggalkan Harris, Dean.."


"Aku tidak pernah terpikir Harris adalah orang seperti itu."


"Jika kau tidak percaya, besok pagi ia akan bertemu dengan investor untuk menandatangani kontrak baru. Aku tahu kau tengah berduka karena istrimu hilang. Tapi, kau harus memikirkan dirimu sendiri. Apakah kau memikirkan dirimu sendiri? Hilangnya istrimu pun tak lepas dari rencana Harris. Jika ia tidak menyewa seorang mata-mata untuk mengikuti istrimu, kau pasti tidak akan cemburu dan terpengaruh. Sayangnya semuanya terlambat." jelas Rossy.


Ucapan Rossy ada benarnya. Untuk itulah ia datang pagi-pagi ke kantor untuk melihat apa yang terjadi. Suasana kantor masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang sudah datang. Ia berjanji untuk bertemu dengan Rossy di ruangannya. Beberapa editor terlihat tengah sibuk mengedit film yang ia buat. Ia masuk untuk melihatnya.


"Akhirnya kau datang. Aku sudah mulai memasukkan beberapa sound pada adegan perkelahian. Kau harus melihatnya." ucap pria yang berprofesi sebagai editor itu.


"Aku akan melihatnya nanti. Apakah Harris sudah datang?"


"Ada tamu di ruangannya." jawab pria itu.

__ADS_1


"Aku akan kembali nanti. Aku akan bertemu Harris terlebih dahulu." ucap Dean sambil berjalan keluar.


"Ya." jawabnya. "Dean, aku bersimpati atas hilangnya istrimu. Aku harap istrimu segera ditemukan"


Langkah Dean terhenti. Ia menoleh pada pria itu dan tersenyum. "Terimakasih." ucapnya sambil menutup pintu.


Dean melangkah meninggalkan ruang editor untuk menemui Rossy di ruangannya. Ia melewati ruang Harris namun tidak terlihat ia ada didalam.


"Dean!" panggil Rossy seraya berbisik.


Dean mencari asal suara. Rossy sedang bersembunyi dibalik pilar. Ia pun menghampirinya. "Kenapa kau bersembunyi?" tanya Dean bingung.


"Ikut aku!" ajak Rossy sambil menarik lengan Dean.


Dean mengikuti langkah cepat Rossy. "Lihatlah.." ucap Rossy.


"Aku sangat menyayangi Shane. Shane adalah jiwaku. Sejak ia kecil, aku tidak pernah menolak permintaannya. Ketika ia ingin menjadi seorang aktris, aku mendukungnya penuh. Namun ternyata, ia jatuh cinta pada sutradara muda itu." ungkap pria separuh baya itu.


Harris tersenyum. "Seorang ayah memang harus mengabulkan permintaan putrinya. Ketika gosip itu muncul, apa yang putrimu katakan?"


"Ia bahagia karena gosip pertamanya dengan Dean."


"Lalu, kapan kau akan meresmikan mereka? Istri Dean menghilang entah kemana. Kesempatan putrimu untuk mendapatkan Dean semakin besar. Aku akan membantumu." seru Harris.


"Kau jangan macam-macam, Dean. Film yang kau buat sudah hampir jadi. Ingat, pria itu sponsor sekaligus investor utama perusahaan ini."


"Lalu untuk apa kau perlihatkan ini padaku?" tanya Dean marah.


"Aku hanya ingin kau melihat secara langsung bagaimana Harris itu. Kau bisa membantuku bukan untuk meninggalkan perusahaan ini?" bisik Rossy. "Aku hanya ingin menjauh darimu.."


Dean menoleh pada Rossy. "Kau tidak bisa sejujur itu, Rossy.. Jika orang lain mendengarnya, bagaimana tanggapan mereka?


"Aku mohon..." bisik Rossy kembali.


"Apa yang harus aku lakukan? Kau melarangku untuk memukul laki-laki itu!" tanya Dean.


"Buat film dengan baik. Ketika pemutaran pertama nanti, aku ingin kau mengundangku. Kemudian membuat peringatan dengan Harris. Aku hanya berharap ketika kau kehilangan istrimu, kau tidak tertarik pada wanita itu. Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan mu. Ketika semua sudah selesai, aku harap kau keluar dari perusahaan ini." jelas Rossy. Kemudian ia tersenyum. "Aku pikir.. seperti ini lebih baik. Berteman denganmu menyenangkan walaupun tidak lama."


"Aku mengerti." ucap Dean. Ia kemudian keluar dari persembunyian dan menarik lengan Rossy untuk menemui Harris dan tamunya.


Ketika mereka berdua mendekat, Harris terlihat shock melihat kedatangan mereka berdua. Ia langsung berdiri dan kikuk. Dean tersenyum sinis. Kali ini ia bertemu dengan pria yang telah merusak keluarganya. Ia adalah aktor utama kepergian Jessy. Ia tidak akan memaafkannya. Ia akan membalas semua ketika ia sudah siap.


"Aku senang akhirnya kau datang ke perusahaan." ucap Harris.

__ADS_1


"Aku datang kesini untuk mengurus satu hal. Biarkan Rossy pergi untuk melanjutkan sekolahnya. Aku tidak lagi membutuhkan seorang manajer."


"Aku tidak mengijinkannya." ucap Harris.


"Aku mengijinkannya. Aku juga memiliki saham di perusahaan ini." jawab Dean tidak mau kalah.


"Tapi kontrak itu..."


"Kau yang membuatnya tanpa sepengetahuan Rossy!" ucap Dean marah.


"Sifat mu yang seenaknya seperti ini membuatmu banyak kehilangan fans. Kau tahu berapa banyak fans yang pergi?"


"Apakah aku peduli dengan itu?"


"Aku peduli!" seru Harris.


"Kalau begitu, kau saja yang menjadi sutradara. Aku bersedia mundur. Sejak awal aku tidak membutuhkan fans. Aku hanya membutuhkan pengakuan jika aku bisa membuat film yang bagus."


"Kau akan menyesal mengatakan ini." ucap Harris.


Dean menoleh pada Rossy. "Ayo Rossy. Mulai hari ini aku mengijinkan mu untuk pergi dari perusahaan ini." ucapnya.


Rossy tersenyum. Usahanya berhasil. Semalam ia berfikir jika hal ini akan sulit terjadi. Namun Dean menolongnya. Iapun mengikuti Dean berjalan.


"Dean.. aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Sejak semalam aku terus berfikir jika hal ini akan sulit. Namun kau menolongku. Terimakasih untuk semuanya. Kau harus berjanji satu hal padaku."


Dean melihat taxi telah tiba. Ia membuka pintu dan berkata pada supir untuk menunggunya. Ia kemudian menatap Rossy. "Janji apa?"


"Undang aku saat pemutaran perdana film barumu. Sejauh apapun aku pergi, aku akan datang ke New York untuk menontonnya." ucapnya sedih.


Dean mengelus pundaknya. "Doakan aku agar Jessy dapat ditemukan. Itu yang paling utama untukku saat ini."


Rossy tersenyum. "Tentu saja."


"Ada lagi yang ingin kau katakan?"


Rossy menatap Dean lama. "Boleh aku memelukmu? Hanya sebagai sahabat."


Dean mendekat. Ia memeluk Rossy. "Aku harap kau sukses dan bahagia."


Rossy sedih. Ia menitikkan airmata. "Pasti Dean.." ucap?nya.


Dean melepaskan pelukan Rossy dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. Rossy menatapnya lama. "Selamat tinggal, Dean.." ucapnya sambil menutup pintu.

__ADS_1


Ketika taxi pergi, Dean melambaikan tangannya. Satu masalah telah selesai. Kali ini, ia akan menemui editor untuk melihat kembali film miliknya. Ketika semua pekerjaan dan masalahnya telah selesai, ia bisa dengan tenang mencari Jessy.


__ADS_2