Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Blossomed


__ADS_3

Selama tiga puluh menit Joan berdiri didekat pintu gerbang rumahnya hanya untuk mendengar pintu rumahnya diketuk malam-malam. kedua tangannya dingin karena takut. Mana ada tamu datang berkunjung ketika malam mulai larut. Ia tidak bisa menahan lagi ketika suara ketukan pintu semakin kencang. sudah beberapa hari ia pindah tapi tidak pernah ia merasa setakut ini.


Joan menutup matanya dan salah satu tangannya memegang gagang pintu untuk membukanya. Ia masih menutup matanya ketika mendengar suara langkah kaki mulai menjauh. Ia  mendengar umpatan kasar yang keluar dari mulut seorang pria. ia membuka matanya. ada sebuah dus besar yang telah disimpan didepan pintu masuk.


Sepertinya ia telah salah duga. ia pikir tamu yang datang ke rumahnya adalah orang lain. Ternyata ketakutannya masih besar. Rumah sebesar ini ditinggali hanya oleh dirinya. Wajar saja jika kekhawatirannya begitu tinggi. ia berjongkok untuk membuka box itu. Sebuah hewan kecil berbulu dengan lincahnya keluar dari box. Joan begitu terkejut mendapat kiriman itu. Tapi siapa yang mengirimkannya?


Joan mengangkat hewan kecil itu dan membawanya masuk kedalam. Terdengar ponselnya berbunyi. Ia setengah berlari untuk mengangkatnya.


"Halo.."Jawabnya tanpa melihat siapa yang memanggilnya.


"Kau suka?" Tanya Lee dengan suara berat.


"Dad.. kau mengirimkannya untukku?" Joan bertanya dengan nada nyaring.


"Ya. Aku tidak ingin kau kesepian. Keputusanmu sendiri untuk tinggal sendiri."


"Ya dad. Terimakasih karena kau masih memperhatikanku. Keputusanku untuk tinggal sendiri tidak


pernah salah." Jelas Joan.


"Kau besok bisa datang kerumah? Dean dan Jessy pulang malam ini."


"Baiklah aku akan pulang."


"Kau harus menyempatkan waktu untuk makan siang dirumah. Anastasia akan memasak untuk menyambut


kedatangan mereka."


"Baiklah dad. Akan aku usahakan."

__ADS_1


"Jangan lupa.."


"Oke, Dad.. Aku tidak akan lupa." Jawab Joan dengan sedikit kesal. Telepon pun ditutup. Baru saja ia berjalan sambil mengangkat hewan itu, telepon kembali berbunyi.


"Apa lagi dad?" Tanya Joan


"Ini aku. Alv.."


Alv kesepian. Ia tidak pernah menonton televisi. Iapun tidak bisa mengunjungi bar karena malam ini tidak ada live akustik. Ia tidak punya kegiatan lain. Sedangkan ia tidak bisa tidur. Ia teringat siapa yang bisa dihubungi. Sebetulnya di klinik tempatnya bekerja akan diadakan perjalanan wisata dengan semua karyawan selama tiga hari. Jen sendiri mengatakan jika ia harus membawa pasangan karena itu akan berpengaruh pada sikap wanita-wanita yang mengejarnya. Lagipula memang tidak ada salahnya ia mengajak Joan Lee. Sepanjang mereka tidak melakukan apapun. Kali ini ia harus membuat Joan sadar akan posisinya sebagai wanita yang sudah menikah. Iapun tidak menghitung sudah berapa lama mereka tidak bertemu.


Alv sendiri mendapatkan ponsel milik Joan setelah ia melihat sebuah iklan pakaian yang dibuat oleh Joan. Sungguh ironi mengingat ia dan wanita itu sudah menikah. Ternyata Joan membuka butik didekat apartemennya.  Kebetulan sekali. Wajah cantiknya menghiasi sebuah gedung yang berada tepat didepan apartemennya. Hanya berselang dua bangunan besar, namun wajahnya terlihat jelas. Ia tidak memerlukan seorang model untuk mempromosikan pakaiannya. Cukup wajahnya sendiri dipakai untuk promosi, ia pikir cukup. Alv memang bukan seorang peneliti fashion atau apapun. Ia hanya melihatnya dari sudut pandang seorang warga biasa. Dan ia bisa melihatnya setiap hari.


“Ini aku, Alv.” Ucapnya kembali.Cukup lama ia menunggu jawaban dari Joan. Ia melihat ponselnya untuk memastikan jika nomor yang ia hubungi adalah nomor Joan Lee.


“Alv?” pekik Joan tanpa sadar. Ia melepaskan hewan kecil yang tengah dipegangnya karena menggeliat akibat seruannya yang tiba-tiba.


“Dad memang memarahiku dan ia sempat berkata jika ia akan mencekikmu jika ia bertemu denganmu.” Jawab Joan.


Alv tertawa. “Ayahmu galak sekali.”


“Jika kau bermacam-macam dengan anak perempuannya, maka itulah yang terjadi.”


Alv tersenyum. Ia dapat membayangkan bagaimana wanita itu berbicara hanya dari gambar yang ia lihat


dari butiknya.


“Ada apa kau menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang mengharuskan aku berada pada posisi sebagai seorang istri dokter muda dan tampan?” Tanya Joan


“Terimakasih karena memanggilku tampan.” Jawab Alv sambil tersenyum.

__ADS_1


Joan menutup matanya. Ya Tuhan, pria ini…..


“Mungkin orang-orang akan menganggap mu tampan sehingga kau memerlukan ku.” Jawab Joan gugup.


“Apakah kau gugup? Jangan-jangan kau memang sudah menyukaiku. Jika kau menikah denganku karena terpaksa, kau tidak akan gugup ketika mengatakannya.”


“Aku tidak gugup!” seru Joan


“Aku seorang dokter. Tidak perlu menutup mata.” Jawab Alv


“Jika kau tidak mengatakan apa maksudmu menghubungiku, aku akan menutup teleponnya saat ini juga.”


Alv tertawa. “Baiklah..baiklah.. Aku akan mengatakannya. Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal yang harus kita bicarakan.”


“Kapan?” Tanya Joan.


“Lebih cepat lebih baik karena aku sudah tidak bisa menunggu lagi.” Jawab Alv semakin menggodanya


Joan tersipu malu. Bisa-bisanya pria ini menggodanya.


“Baiklah, tapi karena aku sedang sibuk, kau tidak bisa bertemu denganku lama-lama.”


“Itu tidak masalah. Aku hanya ingin bertemu denganmu.” Jawab Alv,


Joan menutup teleponnya dengan cepat. Ia menutup matanya dan mengangkat kedua tangannya. Ia berteriak karena senang. Ia tidak menyangka Alv akan memulai percakapan antara mereka. Ia berlari menuju kamarnya dan berteriak kegirangan. Tidak ada rasa takut setelah pria itu menghubunginya. Sungguh obat ajaib.


Dilain tempat, Alv memegang pagar pembatas yang ada dikamarnya. Ia tersenyum membayangkan bagaimana wanita itu kegirangan atau malah malu. Tidak sulit meluluhkan hati Joan Lee. Ia tidak perlu melakukan tebar pesona agar wanita itu menginginkannya. Ia tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan “Istri” yang tidak ia inginkan itu.


                                      ***

__ADS_1


__ADS_2