Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Shy Boy


__ADS_3

"Masuk" seru Alv.


Jen masuk sambil membawa beberapa dokumen ditangannya. Ia tersenyum seperti seorang ibu yang tengah menggodanya. Tidak ada asisten dengan seorang dokter yang dekat seperti mereka saat ini. Walaupun Alv baru bekerja di klinik ini, tapi Jen bisa menjaganya.


"Selamat siang, dokter.." ucapnya yang hanya terlihat kepalanya saja dari belakang pintu.


"Aku tidak menemukanmu sejak pagi. Aku bahkan mengatur pasienku sendiri." protes Alv. "Apa yang kau lakukan, Jen? "


Jennifer tersenyum dan melangkah kedalam. Ia menutup pintu pelan. Jubah perawat yang digunakannya masih menggunakan beberapa pernik dengan tulisan relawan. "Maafkan aku, acara di bawah tidak bisa aku hindari. Aku berada di klinik sejak pukul lima pagi. Aku bahkan belum beristirahat sejak pulang dari Miami."jawab Jen. Wajahnya memang terlihat kurang tidur. Ia masih harus memberikan beberapa dokumen padanya.


"Kalau begitu aku memberimu libur hari ini. Aku tidak mau disalahkan karena asistenku sakit. Aku khawatir karena kau sudah.." jawab Alv tertahan. Ia menahan tawa.


"Katakan saja dok. Aku baik-baik saja."


"Kau sudah tua. Tapi kau dibanggakan di klinik ini. Siapa yang tidak mengenal Jennifer Rosy, seorang asisten terbaik klinik ini."


"Terimakasih, dokter. Sejak berpuluh tahun aku melihat sendiri berbagai perubahan wajah maupun tubuh seseorang di klinik ini. Aku membantu mereka melupakan trauma sehabis operasi. Aku pun membantu mereka melewati masa sulit. Aku tidak mungkin mundur hanya karena aku terlihat tua bukan? Lagipula aku tidak akan mati secepat itu. Aku masih harus melihat kalian berdua berbaikan." jelas Jen sambil memberikan dokumen pada Alv.


"Kami tidak bermusuhan." elak Alv.


Jen membuka salah satu dokumen. "Benarkah? Tapi lebih baik aku menjelaskan data pasien ini terlebih dahulu. Nama pria ini Oliver Dust. Berusia 31 tahun


Saat ini ia memiliki berat badan sebesar 140 kilogram. Ia telah berulang kali melakukan diet namun tidak berhasil. Ia hanya berharap operasi kali ini bisa menurunkan berat badannya dengan cepat. Beberapa kali ia berkonsultasi dengan dokter Salma. Hasilnya tidak buruk. Ia masih tetap ingin


menurunkan berat badan. "


Alv mengangguk sambil melihat dokumen itu. "Kau harus memastikan tekanan darah dan berapa gula darah pria ini. Berat badan sebanyak ini dikhawatirkan gula darahnya tinggi. Aku ingin melihat data terakhir. Dan kau pastikan kapan jadwal operasi akan dilakukan. Kau tahu sendiri aku tidak pernah mau melakukan operasi dengan tingkat resiko yang tinggi." ucapnya sambil menyimpan dokumen itu.


Jen tiba-tiba duduk. Ia senang menggoda pria didepannya. Ia akan merubah pembicaraan mereka menjadi lebih pribadi. "Apakah kalian benar tidak bermusuhan?"


"Tidak sama sekali." jawab Alv tenang. Ia tidak melepaskan tatapannya dari dokumen ditangannya.


"Lalu mengapa ketika hari terakhir berada di Miami, wajah kalian berdua merah. Kalian bahkan tidak mau saling menatap. Kami berpikir kalian berdua dalam hubungan tidak baik. Padahal setahuku, liburan kemarin adalah peluang kalian untuk berbaikan."


Alv menutup dokumennya. "Wajah kami merah? Jangan bercanda. Kami tidak seperti itu. " tanya Alv menahan tawa.


Jen mengangguk. "Jika bukan marah, mengapa kalian berdua seperti itu? Banyak yang melihat perubahan kalian dalam satu malam. Padahal sebelumnya kalian berdua terlihat baik-baik saja." jawab Jen. "Atau apakah kalian berdua malu? Tapi untuk apa? Kalian sudah menikah. Tidak seharusnya kalian berdua malu." Jen berfikir untuk menemukan jawaban.


Alv masih mengingatnya saat itu.


05.00 pagi

__ADS_1


Angin laut yang berhembus kedalam kamar hotelnya membuat ia harus mempererat pelukannya. Suara dengkuran halus dan tarikan nafas membuat matanya terbuka. Wajah terlelap nya tepat berada didepan kedua matanya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Wajah putihnya sangat menggoda karena berada tepat didepan wajahnya. Ia tidak tahu sampai kapan ia bertahan dengan posisi memeluk wanita ini? Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia hanya bisa menghela nafas. Ia kembali menatap wajah wanita itu.


Bulu mata panjang, bibir penuh dan alis tegas. Rasanya ia ingin menyentuh wajah itu. Tapi ia merasa takut wanita ini terbangun dan terkejut melihatnya. Ia ingat semalam ia dan Joan tertidur dengan batas beberapa bantal. Seharusnya itu tidak perlu dilakukan karena mereka sudah tidur bersama selama dua malam. Walaupun tidak ada yang terjadi antara mereka. Tapi semalam Joan bersikeras. Ia tidak bisa apa-apa karena wanita didepannya begitu keras kepala. Tidak ada perdebatan yang panjang. Mereka sama-sama lelah karena aktifitas seharian.


Hembusan angin kembali menusuk. Alv menoleh untuk melihat jendela kamarnya. Salah satu jendela terbuka. Ia tersenyum. Sepertinya alam mendukung suasana menjadi lebih intim. Pantas saja ia tertidur nyenyak karena ia merasa hangat. Ia tidak tahu bagaimana Joan akan bersikap jika ia melihat ini.


Tiba-tiba pelukan Joan semakin erat. Harum tubuh Joan menusuk hidungnya. Ia menyentuh rambut coklat Joan pelan. Ia menundukkan kepalanya dan mencium kepala Joan. Harumnya membuat ia terlena. Ia mengangkat wajahnya dan menatap kembali wanita didepannya. Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba saja ada dikepalanya.


"Bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?" bisik Alv.


Rasanya terlalu cepat menemukan pengganti Brittany. Namun semenjak ia menikah dengan wanita ini, ia tidak pernah sekalipun mengingat Brittany. Ia selalu penasaran dengan apa yang wanita ini lakukan. Puncaknya adalah pagi ini. Ia bisa melihat begitu jelas dan begitu dekat.


Kedua mata itu terbuka. Ia terkejut melihat kedekatan mereka. Tapi ia sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya. Tiba-tiba saja Joan menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada Alv. Alv hanya bisa tersenyum.


"Selamat pagi. Sepertinya tidurmu nyenyak."


"Ya. Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Joan tanpa memperlihatkan wajahnya.


"Kau malu karena melompat padaku sejak semalam?" goda Alv.


"Aku tidak melakukannya. Aku tidak tahu apapun." protes Joan.


"Kau yang memelukku!" Serunya sambil melepaskan diri. Ia berbalik memunggunginya.


"Aku bercanda." jawab Alv sambil membalikkan kembali tubuh Joan dan memeluknya. "Sepertinya jantungku berdebar."


"Apa?" tanya Joan panik.


Alv tertawa tanpa bisa terbendung. "Aku begitu senang menggodamu. Bahkan sepertinya menggodamu menjadi sebuah kepuasan tersendiri."


"Kau menggodaku terus!" protes Joan kesal. Iapun melepaskan diri dan bangun dari tempat tidur.


Alv menarik lengan Joan hingga ia kembali tertidur di tempat tidur. Ia menatap wajah itu. Ia menyentuh wajahnya pelan. "Kau cantik. Ada sesuatu yang berbeda dari wanita lainnya. Kali ini aku tidak menggoda mu, Joan Lee. Melihat wajah dekatmu seperti ini, sepertinya wajahmu tidak asing untukku. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Sebelum pertemuan kita di rumah sakit? Saat di rumah sakit kau terlihat sangat angkuh padaku."


"Airport." bisik Joan.


"Airport? Aku tidak mengingatnya." jawab Alv


"Kau tidak mungkin mengingatnya karena  aku bukan seseorang yang penting."


Alv menundukkan wajahnya sehingga wajah mereka dekat. "Aku tidak ingat karena saat itu aku tidak pernah menoleh pada wanita lain selain Brittany. Tapi sekarang, aku tidak bisa menoleh pada wanita lain karena kau membuatku ingin terus berada disampingmu."

__ADS_1


"Aku harap kau tidak bermain-main." tegas Joan seraya berbisik. Ia menatap wajah Alv yang sejak awal sudah menarik perhatiannya. Kedua matanya berwarna abu dan alis yang tebal. Janggut dan kumis tipisnya terlihat menggodanya. Joan menunggu saat-saat seperti ini. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Alv. Jari-jarinya bergetar. Ia dapat melihat Alv menyukainya. Ia hanya tersenyum. Tidak ada kebohongan di kedua matanya. Mereka sama-sama menatap.


"Aku menyadari satu hal. Aku tidak bisa hanya bermain-main denganmu. Aku mengikuti naluri ku. Aku peduli padamu. Aku bangga padamu. Aku ingin kita dekat. Jika kau tidak menyukainya, aku akan berhenti."


Joan menutup matanya. "Tidak. Aku tidak mau kau berhenti."


Alv menundukkan wajahnya dan sempat ragu. Namun pesona wanita ini membuatnya luluh. Tentu saja ia tidak bisa bermain-main. Ia ingin hubungan yang nyata saat ini. Ia mencium bibir wanita itu dan larut pada suasana pagi yang indah itu.


"Wajahmu merah kembali. Jadi apa yang terjadi? Aku yakin kalian berbaikan. " goda Jen kembali.


Alv tersenyum. Ia menatap Jen sambil menyerahkan dokumennya. "Kembalilah ke tempat kerjamu. Aku meminta dokumen milik Selena. Aku ingin melihat perkembangannya satu bulan terakhir."


Jen berdiri dari duduknya. "Baiklah.. " ucapnya. Ia kecewa tidak mendapatkan jawabannya.


Pintu pun tertutup. Ia dan Jen bisa langsung dekat karena kebaikan wanita itu padanya. Ia bukan saja asisten untuknya. Tapi iapun sangat peduli pada kebahagiaannya. Ia lebih betah tinggal di New York karena dikelilingi oleh orang-orang baik.


Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk. Ia melihatnya.


Apa yang kau lakukan?


Joan mengirimkan pesan text padanya. Iapun menghubunginya.


"Aku mengganggumu? " tanya Joan cemas.


"Tidak sama sekali. Aku baru saja berbincang dengan Jen. Ia berfikir jika kita berdua bermusuhan."


"Mana mungkin.. " seru Joan.


Tiba-tiba Alv terpikir sesuatu. "Apakah sore ini kau sibuk? "


"Tidak. Pekerjaanku akan selesai pukul dua siang ini."


"Bagus. Aku akan menjemputmu pukul empat."


"Baiklah.. " jawab Joan tanpa bertanya kemana mereka akan pergi.


"Sampai jumpa" ucap Alv tenang.


"Sampai jumpa. Aku akan menunggumu." jawab Joan. Ia menutup ponselnya dan tersenyum. Ia bahkan bersorak karena senang.


Alv tersenyum. Ia menutup ponselnya dan menyimpan nya diatas meja. Ia mendengar nada bahagia. Apakah hubungan mereka akan dimulai sekarang? Malam ini ia akan menemukan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2