
Alv menatap jam ditangannya. Ia baru saja mengantarkan Lily ke bandara. Liburannya telah usai. Ia sengaja tiba di Turki beberapa hari yang lalu untuk menemuinya. Ia masih tetaplah sama. Seorang adik yang tidak pernah bisa membuat kakaknya hidup tenang. Persoalan percintaannya selalu menjadi masalah sejak dulu. Namun kali ini ia tidak terlibat secara langsung. Masalah hidupnya berkurang satu seiring bertambahnya usia adiknya.
Melihat wajah Brittany di beberapa billboard membuatnya rindu. Tidak dapat terhitung berapa lama mereka tidak bertemu. Ia masih ingat terakhir kali bertemu dengan Brittany adalah ketika ia melamarnya malam itu. Sebuah jawaban dari Brittany yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia pun sempat kehilangan nafsu makan. Mungkin begitulah yang namanya patah hati. Adiknya memang berkata benar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ketika ia berpisah dengan kekasihnya, ia tidak pernah merasa sakit hati. Ia berfikir bagaimana caranya agar ia bertemu dengan Brittany? Wanita itu masih dalam pengawasan nya.
Sebuah panggilan telepon sedikit mengejutkan nya. Panggilan dari ponsel Brittany. Sebuah kebetulan. Ia tidak menunggu lama untuk mengangkatnya.
“Halo”
“Dokter Alv.. “ panggil seseorang.
Alv melihat kembali ponselnya. Dari suaranya terdengar suara gadis remaja. Tidak seperti suara Brittany.
“Dokter Alv. Aku Joey, asisten Brittany. Aku membutuhkan bantuan mu. “ ucap Joey cepat.
“Apa yang terjadi dengan Brittany? “ tanya Alv
“Sepertinya Brittany mabuk. Ia terlalu banyak minum. Aku ingin kau membantunya. Kami sekarang sedang berada di acara perusahaan.”jawab Joey
Alv langsung membelokkan mobilnya. Untungnya saat itu jalanan sedang tidak macet.
Alv menatap Brittany yang kini berada disampingnya. Ia terlihat berbeda sekali. Lipstik berwarna merah, gaun minim dan make up sedikit tebal. Ia tahu itu bukan keinginannya. Ia melakukannya karena tuntutan. Tapi ia senang bisa melihatnya saat ini.
“Kau masih pusing? Berapa gelas wine yang kau minum?” Tanya Alv.
“Sepertinya 12 gelas. “ jawab Brittany dengan mata tertutup.
Alv menyentuh kepala Brittany. "Tidur lah, nanti aku bangunkan.” Ia kemudian menatap Joey. “Dimana alamat apartemen Brittany yang baru? “
“Brittany tidak pernah mengganti apartemennya.” Jawab Joey.
Alv hanya mengerutkan keningnya. "Aku pikir ia merubah tempatnya"
...***...
Brittany membuka kedua matanya pelan. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Ia berada di kamarnya. Ia ingat Alv yang membawanya pulang. Ia tertidur ketika berada di mobilnya. Ia bangun dan duduk diatas tempat tidur. Ia berfikir sesuatu.
__ADS_1
Dean. Ia pasti tidak akan diam saja. Ucapannya semalam mengganggunya bahkan dalam mimpi.
"Kau sudah bangun?" tanya seseorang yang masuk kedalam kamarnya.
Brittany terkejut mendapati Alv masih ada di apartemennya. "Alv, apa yang kau lakukan?"
Alv mendorong pintu dengan lengannya. Ia membawakan nampan berisi piring dan segelas air putih. "Kita belum berbicara semalam. Kau mabuk dan tidak sadarkan diri."
"Aku tertidur semalam." elak Brittany.
"Ya, kau mabuk hingga tertidur. Aku dan anak itu tidak berani membangunkan mu." ucap Alv. Ia duduk disampingnya dan memberikan nampan itu. "Semalam kau muntah. Mungkin kau tidak ingat."
Brittany menatap Alv lama. "Kenapa kau baik sekali padaku?"
Alv tersenyum. "Sudah aku katakan alasannya."
"Tapi aku tidak bisa." ucap Brittany. "Dengar Alv, kau bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku."
Alv memegang bahu Brittany. "Dengar, aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Aku tidak mungkin bisa mengalihkan perasaanku pada yang lain. Aku ini pria yang setia. Tapi aku tidak akan memaksamu." ucapnya
"Tadi malam, pria itu.. apakah ia mantan suamimu?" tanya Alv. "Apakah ia mengenalmu?"
Brittany menatap Alv dengan cepat. "Nah, itu lah yang ingin aku bicarakan denganmu."
Alv mengerutkan keningnya. Ia menatap Brittany hanya dengan sebuah isyarat. Wanita itu mengangkat kedua alisnya. Alv menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan mau melakukannya. Wajahmu sudah cantik. Untuk apa kau merusaknya? Jika kau ingin suamimu tidak mengenalmu dengan melakukan pembedahan lagi, jangan meminta padaku. Kau bisa meminta dokter lain untuk melakukannya."
Brittany menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia memegang lengan Alv dengan kedua tangannya. "Alv, tolonglah. Kau tidak lihat pipiku sedikit turun. Dan tubuhku, lihatlah.. terlalu banyak lemak.." pintanya manja.
"Tubuhmu terlalu banyak lemak? tentu saja, kau selalu makan malam dengan porsi besar." jawab Alv sambil melepaskan tangannya. "Masalah ini kau tidak bisa merayuku."
Brittany cemberut. Ia melepaskan tangan Alv. "Siapa yang mengatakannya?"
"Anak itu. Tidak mungkin ia berbohong bukan?"
Joey. Ya, ia gadis yang polos. "Baiklah.. aku mengakuinya."
__ADS_1
Alv tersenyum.
"Bije.. ada tamu diluar." ucap Joey yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
Brittany mengerutkan keningnya. "Tamu? Siapa?"
"Kau bisa melihatnya sendiri."
Brittany turun dari tempat tidur. Namun sebelumnya ia meminum air putih yang Alv berikan padanya. Ia memakai jubah tidurnya dan keluar dari kamar. Namun ia terkejut melihat siapa yang datang ke apartemennya.
"Lana, sedang apa kau disini?"
Lana berbalik dan tersenyum. Ia sedikit terkejut melihat seorang pria tampan keluar dari kamar Brittany. Bukan hanya itu, pakaian yang dipakai Brittany hanya pakaian tidur. Apakah ia bisa langsung menyimpulkan apa yang terjadi didalam sana?
"Brittany.. aku pergi ke rumah sakit dulu. Kau bisa beristirahat lebih lama jika hari ini tidak ada kegiatan. Aku akan menghubungimu nanti." ucap Alv sambil memegang bahu Brittany.
"Baiklah, Alv. Hati-hati dijalan." ucap Brittany sambil tersenyum. Ia mengantar Alv sampai kedepan pintu.
Lana terus melihat keduanya tanpa berkedip. Pria tampan itu menghipnotisnya. Ia begitu tampan. Sepertinya Dean akan memiliki saingan berat. Lalu siapa pria yang keluar dari kamar Brittany tadi?Apa hubungan mereka?
"Ada perlu apa kau kesini, Lana?" tanya Brittany sambil duduk disofa miliknya.
"Aku membawakan pakaian baru untukmu. Ini dari salah satu sponsor. Kau bisa memakainya untuk acara-acara santai atau untuk digunakan sehari-hari." jawab Lana sambil menyerahkan pakaian itu pada Brittany. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Tidak terlalu banyak barang. Ia yakin barang-barang disini masih dalam keadaan baru. "Kau memiliki selera yang baik."
"Apartemen ini kecil. Dan barang-barang disini masih baru."
Lana menatap wajah tanpa make up Brittany. Ia tetap cantik. "Aku yakin kau baru pindah ke Turki. Apakah dugaan ku benar?"
"Apakah kau sedang menyelidikiku, Lana? Apakah kau begitu penasaran dengan masa lp?" tanya Brittany tajam.
"Tidak. Itu hanya sebuah kebetulan. Aku penasaran dengan pria tadi. Aku terpikat pada pandangan pertama."
Brittany tertawa. "Itu tidak mungkin Lana. Alv adalah seorang pria normal. Ia tidak mungkin terpikat padamu.."
Lana menyipitkan matanya. Brittany tidak tahu ucapan itu hanya untuk memancing. "Aku wanita normal pula. Apa maksudmu?"ucapnya kemudian.
__ADS_1
Brittany langsung terdiam. Ia tidak mungkin merasa bodoh seperti sekarang. Semuanya begitu tiba-tiba. Lana, Dean, dan entah apa lagi yang ada didepannya. Ini semua begitu tiba-tiba dan diluar rencananya.