
Sambil menunggu pesawat landing, Brittany masih tetap saja memegang hadiah dari ayahnya. Ia masih penasaran dengan kunci apartemen yang diberikan. Ia merasa tidak asing dengan kuncinya. Lalu mengapa ayahnya tidak mau bicara mengenai asal usul kunci itu? Semuanya membingungkan.
Ia melihat pramugari memberikan arahan. Ia melihat ke kaca jendela. Pesawat kemungkinan akan segera landing.
LA......walaupun kau berbeda kota dengan NY, tapi setidaknya aku berada di benua yang sama. Aku kembali..
"Kau senang?" tanya Joey ketika ia menjemputnya di bandara.
Brittany tersenyum. "Aku tidak sabar bertemu dengan pria brengsek itu!"
"Kau harus berhati-hati, bi.. Harris bukanlah pria yang lemah. Ia bisa melakukan apapun. Aku melihat sebuah artikel minggu lalu, ia sedang dicurigai memaksa karyawannya untuk melayani beberapa investor. Ia nakal bi. Aku harap kau berhati-hati."
Brittany masih tetap tersenyum. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menatap sebuah layar besar yang tengah mempromosikan barang yang menampilkan wajahnya. Akhirnya, ia kini dikenal luas. Bukan hanya pasar Eropa, tapi ia telah merambah pasar Amerika. Apakah ia harus merayakan keberhasilannya ini?
Brittany menoleh pada Joey. "Pukul berapa kita bertemu dengan pria itu? Lalu dimana Deniz?"
Joey melihat jamnya. "Pukul 1 siang. Deniz saat ini masih berada di hotel. Deniz akan menemui kita di kondo."
Brittany mengangguk mengerti.
Harris telah menunggu di sebuah ruangan yang ia sewa khusus untuk pertemuannya dengan bintang baru. Ketika melihatnya pertama kali di televisi, ia jatuh cinta. Ia tidak bisa tidak merekrutnya untuk menjadi bagian di perusahaannya. Ia menginginkan wanita cantik itu.
Kedua kakinya digoyangkan karena tidak sabar. Berulang kali ia mencoba merekrut bintang baru namun hasilnya tidak memuaskan. Film yang dibintangi oleh mereka tidak meledak di pasaran. Akhir-akhir ini rumah produksinya pun nihil pencapaian. Selama dua tahun terakhir, ia krisis sebuah karya bagus. Ketika Dean berada dibawahnya, ia bisa dengan mudah mendapatkan kepercayaan publik. Semuanya tidak sesuai dengan rencananya. Dan semua itu terjadi akibat ulah wanita itu.
Beberapa pria berpakaian hitam-hitam terlihat berjalan menghampirinya. Ia melihat siapa yang datang. Suara sepatu hak tinggi terdengar berirama. Seorang wanita cantik dengan memakai gaun pendek berwarna tosca menghipnotisnya. Ia terpana dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita itu benar-benar cantik. Ia sedang tersenyum padanya.
Harris tak kuasa untuk tidak berdiri. Ia menghampiri wanita itu dah mengulurkan tangannya. Jari-jari mungil wanita itu terangkat dah membalas uluran tangannya.
__ADS_1
"Kau calon bintang masa depan. Aku Harris. Produser sekaligus pemilik rumah produksi. Ketika kau berada di kota indah ini, maka popularitas mu akan semakin merangkak ketika kau menerima tawaranku." ucap Harris percaya diri.
Brittany mengangkat alisnya. Sesuatu yang biasanya dibanggakan oleh Harris. Itu sudah biasa. Popularitas? Ya, popularitas Dean semakin menanjak karena skandal yang dibuatnya.
"Aku tidak pernah mendengar film yang kau produksi mendapat respon positif." ucap Brittany.
Harris tersenyum samar. "Itu karena aku telah bersalah dengan merekrut beberapa artis buruk. Tapi dengan kehadiranmu, aku yakin perusahaan ku akan merangkak naik."
Brittany duduk disalah satu sofa. Ia mengangkat kakinya. "Apakah kau membuat skandal agar popularitas aktris/aktor mu naik?" tanya nya sambil menatapnya tajam.
Harris menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak ada hal seperti itu! "
"Aku pernah mendengarnya. Apa mungkin aku salah?" selidik Brittany.
"Tentu saja itu salah. Tidak hal semacam itu. Aku tidak berani membuat skandal seperti itu. Sangat berbahaya untuk kelangsungan perusahaan." jawab Harris gugup.
"Sutradara mana yang kau maksud?" tanya Harris
Brittany merasakan pundaknya ditekan oleh Joey. Ia melihat Joey memberikan isyarat. Brittany pun kembali menatap Harris.
"Mungkin aku yang salah. Maafkan aku. Aku hanya ketakutan karena aku tidak siap dengan hal seperti itu."
Harris tersenyum lega. "Tidak mungkin. Kau akan menjadi aset perusahaan. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu apalagi membuat sesuatu yang buruk tentangmu."
"Apakah kau yakin?"
"Tentu saja. Kecuali kau membuat sebuah pelanggaran. Lagipula aku tidak bisa ditolak." ancam Harris.
__ADS_1
"Kau mengancam ku?" tanya Brittany.
"Tidak. Kau yang berfikir seperti itu." jawab Harris.
Brittany meminta Joey untuk mengambil berkas yang dipegang oleh Harris. Ia melihatnya sejenak. "Aku akan mempelajarinya. Nanti Deniz akan menghubungimu."
"Baiklah. Dan, apakah kau kosong malam ini?" tanya Harris.
Brittany mengangkat kepalanya dan menatap Harris. "Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam. Ini bukan soal pekerjaan. Ini murni permintaan seorang Harris." ucapnya.
Brittany terus menatap Harris. "Baiklah. Nanti malam aku akan pergi denganmu." jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah. Nanti aku menghubungimu. Sayangnya sekarang aku harus bertemu dengan beberapa sponsor." ucap Harris sambil berdiri.
Brittany hanya tersenyum ketika Harris mulai beranjak pergi.
Joey yang saat itu berada disampingnya langsung protes. Wajahnya terlihat kesal. Brittany tahu jika Joey marah padanya. Biar saja. Ia ingin menghancurkan Harris dengan cepat sehingga ia bisa tenang menjalani kehidupannya. Ia memegang tangan Joey. "Aku akan berhati-hati."
"Apa yang terjadi? Bagaimana pertemuan mu dengan Harris?" tanya Lana yang saat itu baru saja tiba. Ketika Brittany berlibur dirumah orangtuanya, Lana kembali ke NY. Kemudian ia terbang ke LA untuk bergabung kembali dengan Brittany dan Joey.
"Bije menerima ajakan makan malam Harris." jawab Joey kesal.
Lana duduk disamping Brittany. "Benarkah itu?"
Brittany menuang gula kedalam minumannya. Ia dengan tenang mengaduknya. "Ia ketakutan, Lana. Aku tidak akan melakukan apapun selain makan malam. Aku seorang aktris baru, tidak mungkin aku menolak ajakan seorang produser terkenal seperti Harris."
__ADS_1
Lana menoleh pada Joey yang masih terlihat kesal. Ia harus melakukan sesuatu.