Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Never be enough


__ADS_3

"Alv, maafkan aku karena telah merepotkanmu. Aku tidak ingin ini terjadi." ucap Lily terbata-bata. "Tapi aku ingin bisa sembuh."


"Kau pasti sembuh. Ada aku. Aku yang akan bertanggung jawab atas pengobatanmu." jawab Alv tenang. Ia melihat beberapa alat yang terpasang pada tubuh Lily.


"Semalam aku bermimpi tentang mama. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu dengan mama. Ia marah sekali padaku. Aku disebut wanita tidak tahu diri. Kau sudah sangat baik padaku, tapi aku mengacaukannya. Maafkan aku Alv."


Alv menoleh pada Lily. "Aku anggap semua hanya kenakalanmu, Aysun. Aku ingin kau menerima Joan sebagai seseorang yang sangat aku cintai. Aku ingin kau berhubungan baik dengannya." ucapnya sambil duduk disamping tempat tidur.


Lily menutup matanya. "Walaupun sulit, aku harus melakukannya bukan? Aku akan mencobanya walaupun hal itu membutuhkan waktu. Apakah aku menjadi orang jahat jika aku tidak mau menerima istrimu?"


"Ya, kau jahat sekali. Aku tidak akan sanggup kehilangan Joan, asal kau tahu itu."


"Jika kau kehilanganku? apakah kau akan sanggup?"


"Kau bisa mengatakan aku jahat karena mengatakan hal itu. Kau tahu jawabannya." ucap Alv.


Lily tersenyum. "Tidak perlu mengatakannya karena aku sudah tahu.. Oh ya Alv, kau bisa memegang tanganku? Kau mengatakan jika aku tetap adikmu. Bisakah kau berjanji padaku?"


Alv menggenggam tangan Lily dengan erat. "Apa yang harus aku lakukan?"


"Aku ingin pulang ke rumah. Aku harus ke Ankara terlebih dahulu kemudian aku pulang ke Yunani. Kau bisa menemaniku pulang?"


"Tentu saja aku harus pulang denganmu! Aku tidak akan membiarkan kau sendiri. Kau harus kutemani. Aku sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu. Ketika kau sudah membaik, kita akan mulai membahas kepulangan kita ke Ankara."ucap Alv. "Tapi kau kuat sekali. Kau masih tetap tenang."

__ADS_1


Lily tersenyum. "Semua ini terjadi karena kesalahanku. Aku gila. Tapi apakah kau pikir aku akan sadar setelah apa yang terjadi padaku? Hidupku penuh dengan drama. Semua ini gara-gara kau, Alv. Kau selalu memnjakanku sejak kecil."


"Aku hanya berharap kau tidak menyakiti orang lain lagi. Cukup. AKu ingin kau hidup dengan baik. Aku ingin melihatmu menikah dengan pria pujaanmu nanti. Akupun ingin melihat anakmu nanti."


"Ngomong-ngomong dimana istrimu? Apakah ia masih marah padaku?" tanya Lily cemas.


Alv bangun dari duduknya. Ia melihat jam tangannya. "Kau benar. Sepertinya sudah dua jam aku menghubunginya tadi. Kenapa masih belum sampai?"


Lily menatap wajah cemas Alv. "Aku tidak pernah sekalipun melihatmu seperti ini, Alv. Kau jatuh cinta. Selama kau berhubungan dengan wanita manapun, aku tidak pernah melihat ketulusan hatimu. Dan matamu, itu sangat berbeda sekali. Aku iri."


Alv menatap jam tangannya. "Kau tahu jika aku bersungguh-sungguh dengan istriku. Aku tidak mau kehilangannya. Sepertinya aku harus mencarinya keluar. Kau tunggu disini sebentar." ucap Alv sambil membuka pintu kamar. Ia terkejut ketika melihat Joan sedang duduk diruang tunggu yang ada didepan kamar Lily.


"Joan.." panggil Alv sambil duduk disampingnya.


Joan menoleh padanya dan tersenyum. "Hai, Alv.."


"Aku baru saja tiba. Aku belum berani masuk kedalam. Aku takut mengganggu percakapan kalian."


"Tidak ada yang mengganggu. Lily pun sedang menunggumu." Jawab Alv. Ia kemudian menatapnya lama. Lingkaran hitam dimatanya sangat jelas terlihat. Ia menghela nafas. "Ayo kita kedalam."


Joan tersenyum sambil mengangguk. Ia berdiri dan menyerahkan tas berisi pakaian Alv. Mereka berduapun masuk kedalam kamar. Joan dapat melihat Lily sedang merebahkan tubuhnya. Wajahnya masih terlihat pucat. Ia merasa jahat jika ia meminta ALv untuk meninggalkan Lily saat ini. Ia mengorbankan perasaannya dengan menyerahkan suaminya pada wanita lain walaupun untuk sementara. Tapi mengapa rasanya sakit? Terlebih dengan apa yang telah wanita itu lakukan padanya?


"Alv, bisa bantu aku bangun?" tanya Lily dengan nada yang dapat membuat jantung Joan berdebar dengan kencang.

__ADS_1


Alv membantu Lily untuk duduk diatas tempat tidurnya.


Joan menatapnya dengan serius. "Untuk seseorang yang hampir kehilangan nyawanya kemarin, kau terlihat sangat kuat, Lily.." ucapnya.


"Konsekuensi yang harus aku tanggung. Aku bahkan bersedia kehilangan nyawaku asalkan semuanya membaik." jawab Lily.


Joan mengerutkan keningnya. "Jadi kau mau meminta maaf padaku sekarang?" tanya Joan sambil menghampirinya.


Alv membalikkan tubuhnya dan menatapnya dengan tajam. "Cukup." ucapnya.


"Tidak apa-apa, ALv. Aku memang berniat meminta maaf pada Joan. Beruntung ia datang hari ini." ucap Lily. Ia menatap Joan sambil tersenyum. "Kau bisa memaafkan semua kesalahanku, bukan?" tanya Lily.


Joan menghela nafas. "Bukan itu perkataan yang seharusnya kau katakan padaku. Kau bisa mengatakan, maafkan aku, Joan. Aku bersalah."


"Joan, ada apa denganmu?" tanya Alv kesal. "Bisakah kita berbicara diluar?" tanyanya


Joan menggelengkan kepalanya. "Aku harus pergi sekarang. Dean menungguku dikantornya. Ia mengatakan semuanya sudah baik-baik saja, bukan? Sepertinya melihat Lily sekarang aku tidak perlu khawatir lagi." ucapnya.


"Apa yang kau khawatirkan?"


"Tentu saja aku mengkhawatirkan suamiku. Suamiku tidak ada disampingku selama beberapa hari. Sebagai seorang istri, aku khawatir."


"Baiklah jika kau mau pergi sekarang. Aku akan mengantarmu keluar." ucap Alv sambil mendorong punggungnya.

__ADS_1


Joan berbalik. "Kau tidak perlu mengantarku. Lagipula aku kesini hanya membawakan pakaian ganti. Aku pergi." ucapnya. Ia kemudian melihat Lily. "Kau harus sehat, Lily. Aku membutuhkan suamiku." ucapnya sambil tersenyum. Lily menjawabnya dengan senyuman di wajahnya. Ia berjalan keluar pintu dan melangkah. Ia mengangkat jari-jarinya untuk menghapus airmatanya yang jatuh. Ia berjalan dengan tegak dan menatap lurus kedepan. Ia mengingat Alv tidak membalas ucapannya yang terakhir. Ia lebih senang membiarkan istrinya pergi. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Aku kecewa padamu, Alv. Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk kehilanganmu. Aku harus mulai menyiapkan hatiku mulai saat ini.


__ADS_2