
Lee tidak menyelesaikan makan siangnya hari ini. Ia tidak pernah merasakan kehilangan yang sangat besar seperti saat ini. Jessy adalah menantunya paling sempurna. Ketika tahu Jessy hilang, tubuhnya seakan rontok. Ia kebingungan dan sedih. Ia tidak mengetahui kronologi hilangnya Jessy seperti apa. Yang ia tahu satu hal, Jessy pergi karena kesalahan anaknya.
Ia berjalan menuju kamar Dean. Beberapa hari ini Dean mengurung dirinya didalam kamar. Ia tahu penyesalan itu datang terlambat. Dean harus merasakannya. Namun ia berharap, Jessy akan tahu jalan pulang. Karena jika ia tidak pulang, ia tidak tahu bagaimana kondisi Dean kedepan.
Langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar Dean terbuka. Ia melihat dibalik pintu, Dean tengah duduk sambil menatap keluar jendela. Tatapannya kosong. Tidak ada seorang Dean yang berapi-api. Tidak ada seorang Dean yang ceria. Semuanya hilang. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia menyesal karena telah salah membimbing Dean.
Foto itu terus dilihat oleh Dean. Betapa sangat bahagianya ia ketika tahu akan menjadi seorang ayah. Walaupun belum terlihat jelas, ia tahu bayinya tumbuh dengan baik. Sampai kapan ia harus menunggu?
Tadi pagi ia mendapatkan kabar dari William jika penemuan Jessy akan sulit. Tidak ada yang tahu bahkan jejaknya pun sulit. Apa lagi yang harus ia lakukan? Beberapa hari terakhir ia baru tahu rasanya kehilangan. Bahkan media saja mengungkapkan hal yang sama. Ia hanya ingin satu hal. Ia ingin Jessy kembali. Apapun caranya. Bahkan jika Jessy tidak mencintainya, ia tidak akan menyerah.
Terdengar suara pintu terbuka. Ia tidak menoleh. Ia hanya menunduk sambil menatap foto bayinya.
"Aku tahu ini menjadi hal yang paling sulit untukmu." ucap Lee.
Dean menunduk. "Aku tidak mau kehilangan Jessy dan bayi kami dad. Aku takut."
Lee menatap foto yang sedang dipegang Dean. "Apakah itu cucu pertama ku?"
Dean mengangguk. "Aku kehilangan Jessy, dad. Apalagi yang harus aku lakukan? Bahkan agen FBI saja kesulitan mencari Jessy. Apalagi dengan aku?" ucap Dean emosional.
"Selama William melakukan pencarian, kau tidak bisa hanya mengurung dirimu dikamar. Kau memiliki sebuah tanggungjawab besar. Film yang kau buat baru masuk bagian editor. Kau harus melihatnya"
"Apakah uang penting saat ini? Aku sudah tidak peduli dengan itu. Aku tidak peduli dengan popularitas. Jika tidak ada Jessy disampingku, untuk apa aku mengejar popularitas itu? Dad coba pikirkan, saat ini Jessy tengah hamil anakku. Dan ia hilang. Bagaimana ia bisa hidup ketika tengah mengandung seperti itu? Bagaimana ia hidup? Bagaimana ia bertahan dalam kondisi hamil seorang diri? Aku tidak bisa memikirkannya dengan tenang dad. Aku tidak bisa tidur karena tidak ada Jessy. Aku tidak bisa makan dengan enak karena memikirkan bagaimana Jessy bisa makan? Apalagi yang harus aku lakukan, dad?"
"Aku tahu. Tapi kau tidak bisa terus diam. Apakah dengan berdiam diri, kau dapat menemukan Jessy? Bisa saja Jessy memintamu untuk mencarinya. Apakah sebelum mengenalmu, Jessy tidak memiliki tempat tinggal? Apakah Jessy tidak memiliki teman sebelumnya?Apakah kau pernah memikirkan itu?" tanya Lee dengan nada kesal.
Dean memutar otaknya. Ya, mengapa ia tidak memikirkan hal itu? Mungkin Jessy sedang menunggunya saat ini. Ia berdiri dan menatap ayahnya. "Aku akan mencoba sendiri." ucapnya.
__ADS_1
Lee mengangguk. "Kau harus menemukannya. Apapun yang terjadi. Pergilah sekarang.."
Dean tidak mungkin menunggu lama untuk memulai pencarian. Ia mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar.
"Apakah kau yakin Jessy ada dikota ini?" tanya Anastasia cemas.
Lee menoleh pada Anastasia. "Aku tidak yakin. Aku cemas memikirkan Jessy. Ia tidak memiliki siapapun. Apakah kau merasakan hal yang sama?"
Anastasia mengangguk sedih. Ia menghampiri Lee. "Jessy memang bukan anakku. Tapi, ikatanku dengan Jessy sudah kuat. Aku cemas. Bagaimana bisa Jessy pergi dalam keadaan hamil seperti itu? Kenapa ia tidak menghubungiku? Setidaknya, walaupun ia marah pada Dean, ia masih bisa menghubungiku."
Lee memeluk tubuh Anastasia. "Kita doakan yang terbaik. Mudah-mudahan Jessy bisa cepat pulang."
Mobil Dean melaju kencang menuju sebuah apartemen kecil yang berada dipinggiran kota. Tepatnya apartemen Jessy. Dengan harapan yang tinggi, ia berharap Jessy ada disana. Sebuah panggilan telepon mengganggu perjalanannya.
"Ada apa?" tanya Dean ketika mengangkat telepon.
"Rossy bukan tanggungjawab ku. Jika aku bertanggungjawab akan Rossy, bisakah kau bertanggungjawab dengan kepergian Jessy dari hidupku?" tanya Dean kesal.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Jessy. Itu semua bukan urusan perusahaan. Kau sendiri yang mengusirnya." jawab Harris.
"Kau pria brengsek! Jangan harap aku bersedia melanjutkan kontrak ekslusif kita!" seru Dean sambil menutup telepon.
Ia membelokkan mobilnya di halaman apartemen. Jantungnya berdebar. Ia berharap Jessy ada di apartemen lamanya. Iapun turun dari mobil dan berlari masuk kedalam. Ada beberapa orangtua yang tengah berbincang namun ia bisa melewatinya dengan mudah. Ia menaiki lift untuk sampai ke lantai lima. Ketika sampai, ia langsung berlari ke depan pintu. Pintu itu tertutup rapat. Ia mengetuknya dengan kencang.
"Jessy! Kau ada didalam? Jessy!" teriaknya.
Pintu disamping apartemen Jessy terbuka.
__ADS_1
"Kau mencari siapa?" tanya wanita itu. Usianya hampir mirip seperti ayahnya walaupun ia sendiri tidak yakin.
"Aku mencari Jessy." jawab Dean cepat. Ia mengetuk kembali pintunya.
"Jessy sudah lama tidak kembali. Apakah ia baik-baik saja?"
"Tidak ada? Aku tidak percaya." ucap Dean.
"Kau bisa membukanya jika tidak percaya. Aku memiliki kunci ganda."
Dean terdiam. Ia kemudian menatap wanita itu. "Tidak perlu. Aku akan mencarinya ditempat lain." ucap Dean sambil berjalan meninggalkan tempat itu. Masih ada harapan. Ia tidak mungkin hanya memiliki satu tempat untuk tinggal. Ia akan mencarinya di tempat laundry. Siapa lagi teman yang ia miliki jika bukan Mrs. Patty.
Tempat kedua yang ia datangi adalah tempat laundry. Namun, ketika melihatnya dari luar saja, ia yakin Jessy tidak ada. Ia memegang stir mobil dan menyandarkan kepalanya. Kemana lagi ia harus mencari? Pertanyaan itu terus menghantuinya.
Tak lama ia kembali membawa mobilnya menuju apartemen miliknya. Ia berharap ada petunjuk. Sejak pulang dari Santorini, ia belum sempat ke apartemen untuk melihat keadaan. Namun seketika itu, ia mendapatkan panggilan telepon. Rumah menghubunginya.
"Halo.."
"Dean, Jessy mengirimkan surat untukmu melalui faximile" ucap Anastasia.
"Aku akan pulang." Jawab Dean cepat. Ia merasa nada suara ibunya tidak baik. Namun ia harus melihatnya sendiri.
...AKU PERGI. JANGAN PERNAH MENCARI KU LAGI. LANJUTKAN HIDUPMU DENGAN BAIK. AKU HARAP TIDAK AKAN BERTEMU DENGANMU KEMBALI. KETIKA KAU MEMBACA SURAT INI, AKU SUDAH TIDAK ADA DIDUNIA INI LAGI. SELAMAT TINGGAL, DEAN JUSTIN LEE...
Dean lemas. Ia melepaskan kertas yang ia baru saja baca dengan wajah nanar. Ia menangis. Tolong, tolong jangan lakukan ini, Jessy.. Tolong jangan pergi dari hidupku..
Anastasia mulai terisak. Ketika mendapatkan fax itu, iapun terkejut dan tak berani berkata pada awalnya. Namun, ia harus mengatakannya. Ia berjalan menghampiri Dean dan memeluknya. "Jangan menyerah!" bisiknya sambil menangis.
__ADS_1