Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Feels


__ADS_3

"Terimakasih atas tumpangannya. Pulang dan istirahat yang cukup. Kau baru tiba dari luar kota" ucap Brittany ketika mereka baru saja sampai di restoran milik keluarga Alv. "Aku harus bekerja sekarang."


Tangan Alv menahan lengan Brittany untuk tidak turun dari mobil. "Tunggu.."


Brittany membalikkan kembali tubuhnya dan menatap Alv. Tatapan pria itu berbeda. Sudah satu minggu ini Alv semakin memperlihatkan ketertarikan kepadanya. Ia sedikit cemas karenanya. Ketika sebuah persahabatan dicederai oleh cinta, ia yakin kedepannya tidak akan mudah baginya. Ia tidak pernah lelah berpikir bahwa Alv adalah pria baik. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan dengan wanita manapun. Sedangkan ia sendiri, ia tidak layak bagi pria sebaik Alv. Ia cacat seumur hidup. Ia tidak bisa memberikan keturunan. Lalu hatinya? Sudah sejak tiga tahun yang lalu hatinya mati. Sebenarnya ia tidak peduli jika suatu saat ia memiliki seorang suami kembali ketika semua urusannya sudah selesai. Tapi tidak dengan Alv.


Brittany tersenyum. Ia melirik pada Lily yang tampak penasaran dengan perlakuan kakaknya. Ia kemudian menatap Alv. "Ada apa?"


"Aku tidak suka kau mencari kesibukan dengan bekerja di restoran pamanku. Kau harus mencari kesibukan lain. Aku tidak nyaman melihatmu di tempat ini" jawab Alv serius dan nadanya sedikit tinggi.


Brittany tersenyum dan dengan tenangnya melepaskan tangan Alv. "Aku tahu sejak awal kau tidak suka aku bekerja disini walaupun kau sendiri yang saat itu menawarkannya. Untuk saat ini aku nyaman disini. Jadi, lebih baik kau tidak mengganggu kenyamanan ku."


Lily terkejut dengan jawaban Brittany. Ia melihat wajah kakaknya yang berubah. Ia kemudian mendorong Brittany untuk segera keluar dari mobil. "Ya, lebih baik kau bekerja. Nanti kau dipecat karena pamanku galak sekali. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."


Ketika Brittany turun dari mobil dan melambaikan tangannya, Lily pindah ke kursi depan. "Jalan!" ucapnya pada Alv.


Alv merasa bersalah karena sedikit berkata dengan keras pada Brittany. Ia mulai menjalankan kembali mobilnya. Ia melihat jalanan yang sedikit padat. "Apakah aku keterlaluan tadi?"


"Sedikit." jawab Lily. "Kau tahu untuk apa aku pulang? Aku ingin meminta bantuan Brittany untuk mengurus masalah percintaan ku dengan Jose, namun rasanya aku salah waktu. Kau yang harus aku bantu. Sejak kapan kau menyukai Brittany? PASIEN KEBANGGAAN MU."


"Sejak awal ketika ia meminta kesibukan, aku yang memberikan pekerjaan itu padanya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa menyesal. Aku tidak pernah menolak permintaan Brittany. Apapun aku lakukan termasuk mendengarkan semua ceritanya. Ketika aku berada diluar kota kemarin,aku melihat disalah satu rumah sakit sedang dilakukan syuting sebuah film. Aku teringat pada Brittany." jelas Alv. Ia kemudian memarkirkan mobilnya di bahu jalan dan terdiam. "Inilah kelemahan ku. Aku lemah masalah wanita"


Lily tertawa mendengar nada Alv. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Lily menghela nafas dan menyandarkan punggungnya. "Kau jatuh cinta, Alv. Kau ingin tahu sesuatu?"

__ADS_1


Alv menoleh pada Lily. "Apa?"


"Kau harus siap untuk patah hati. Seperti aku." jawab Lily sambil tertawa.


"Mulut mu bisa saja tertawa, tapi hatimu sakit. Kita harus melihat realita. Jika sedih, kau tidak perlu menutupinya. Kau tidak perlu menunjukkannya. Kau hanya tinggal bicara denganku. Aku masih seorang kakak yang bisa kau andalkan."


Lily mendadak kebingungan. "Kita berdua sama Alv, sepertinya Brittany tidak tertarik dengan pria selain suaminya. Sepertinya jika masalah hati kau tidak bisa diandalkan, Alv."


Alv terdiam. Itulah ketakutannya saat ini. Ketika ia melihat syuting sebuah film di salah satu rumah sakit, ia langsung terpikir jika suatu saat Brittany bisa saja kembali pada suaminya. Balas dendam tidak akan menghasilkan apapun. Brittany salah jika ia melanjutkan rencana itu. Ia sempat mencari tahu kabar seorang Dean Justin Lee dari internet setelah melihat syuting itu. Setelah ia kehilangan Brittany, Dean pensiun dari film yang membesarkan namanya. Dan iapun menghilang. Banyak yang beranggapan jika Dean tengah mencari istrinya yang hilang. Namun tiga tahun berlalu belum ada kabar terbaru mengenai pria itu.


...***...


Sebuah mobil berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah. Pria itu kembali. Ia memakai jaket outdoor yang tebal dan topi bertuliskan NY. Ia memakai kacamata hitam, namun kumis dan jenggot tebalnya terlihat menghiasi wajahnya. Tidak ada yang mengenalinya. Wajahnya terlihat lelah. Ketika turun dari mobil, ia masih memegang rokoknya. Ia hanya menatap rumah dimana kedua orangtuanya tinggal.


Ia mengangkat tas ransel besar dan menggendongnya dibelakang. Kepergiannya selama tiga tahun ini tidak membuahkan hasil. Semakin ia ingin menyerah, ia semakin takut. Usahanya sia-sia. Berkeliling dunia hanya untuk mencari keberadaan istrinya tidak menghasilkan apapun. Setiap hari ia merindukan istrinya. Ia menoleh kebelakang. Sebuah Billboard poster sebuah film romantis komedi terpasang tak jauh dari rumah kedua orangtuanya. Walaupun tidak aktif dari perfilman, namun ketika berada di beberapa negara, film romantis komedi tengah booming saat ini. Film.. gara-gara sebuah film namanya terkenal. Gara-gara film pun ia harus kehilangan istrinya. Ketika ia memutuskan berhenti, ia pikir alasannya sudah tepat.


"Dad..." panggil Dean.


Lee berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ia tertegun melihat Dean yang biasanya terlihat rapi, namun kini ia terlihat "berantakan".


"Dean?" tanya Lee bingung. Ia kemudian menatap Anastasia yang sama-sama bingung seperti dirinya.


"Aku pulang, dad. Aku kembali. Aku menyerah.." ucapnya sambil tersenyum samar.

__ADS_1


Anastasia melepaskan diri dari Lee dan menghampiri Dean. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya Dean akan terpuruk setelah kehilangan Jessy. Ia terharu dan menitikkan airmata. "Dean.. Ya Tuhan.. Kenapa kau menjadi seperti ini?" tanyanya sambil memeluk Dean.


"Aku kembali karena aku pikir sudah saatnya aku kembali. Tiga tahun tidak bisa aku lewati dengan mudah. Aku sudah mencarinya kemanapun namun tidak ada yang bisa menemukan Jessy. Foto wajahnya telah aku sebar di beberapa kantor polisi diberbagai negara. Puluhan FBI telah aku sewa untuk menemukan Jessy. Namun tetap tidak dapat kutemukan. Tidak mungkin jika seorang Jessy meninggal dengan anak yang sedang ia kandung. Aku yakin ia masih hidup. Aku harap suatu saat ketika aku sudah menyerah, Jessy akan muncul. Beginilah aku. Sekarang aku menyerah. Aku harap Jessy akan muncul tak akan lama lagi." ucap Dean dengan nada bergetar.


Anastasia mengangguk. Ia melepaskan diri dan menyentuh wajah Dean. "Kau berantakan. Jika kau berpikir Jessy akan kembali, apakah kau akan memperlihatkan dirimu yang seperti ini?" tanya Anastasia.


"Aku tidak tahu, mom." jawab Dean.


Lee menghampiri Dean. "Lebih baik kau istirahat. Nanti kita pikirkan kembali. Kau harus membersihkan dirimu. Kita harus bicara. Apakah kau tinggal dengan Joan ketika berada di Paris?"


Dean menggeleng. "Aku bahkan tidak tahu Dean kembali ke Paris. Aku tidak pernah menghubunginya sejak Jessy hilang."


"Dad yang memaksa Joan untuk kembali bekerja. Kau harus mulai menghubunginya kembali. Lebih baik sekarang pergilah ke kamarmu. Biar Anastasia yang mengantar. Ketika kau sudah membaik, kita harus bicara. Ini mengenai masa depanmu."


Dean mengangguk. Ia berjalan menuju kamarnya. Ia menoleh pada Anastasia. "Apakah kamarku berubah, mom?"


"Tidak ada yang berubah. Masih seperti terakhir ketika kau tinggalkan. Hanya saja apartemen mu sudah aku jual satu tahun yang lalu. Itupun sesuai permintaanmu terakhir. Kau tidak tahu bagaimana cemasnya kami ketika kau tidak pernah memberi kabar satu tahun terakhir."


Dean mengangguk. "Aku minta maaf. Siapa pembelinya?"


"Kau pasti terkejut mendengar siapa pembelinya?" jawab Anastasia.


"Siapa?"

__ADS_1


"Jonas. Tapi tanpa sepengetahuan Isabela. Aku tidak tahu alasannya, namun aku percaya ia bisa menjaga apartemen mu dengan baik. Ia menghubungi ayahmu untuk menanyakan kabarmu, saat itu pula ia mengatakan tentang penjualan apartemen milikmu."


Dean mengangguk. "Aku akan menghubunginya nanti untuk berterima kasih."


__ADS_2