
Ruang meeting manajemen sudah siap sejak pagi. Beberapa dokumen, air minum dan makanan sudah disediakan di sisi kanan meja bundar itu. Harris sendiri sudah berharap-harap cemas karena kejadian yang akan terjadi hari ini. Tinggal 9 hari mereka akan memulai syuting di Yunani. Beberapa masalah datang dengan tiba-tiba.
Harris menunggu Dean diruang kerjanya. Ia menunggu sejak pagi tapi pria itu belum terlihat. Demi film ini, ia harus mengganggu acara Dean. Ia tidak peduli. Ia mengangkat ballpoint nya dan mengetuk di meja. Suaranya terdengar sedikit keras. Ia gugup. Tentu saja, semua ini terjadi karena Dean yang memilih pemeran utama. Investasi promotor tidak kecil. Jumlahnya jutaan dollar bahkan hingga milyar. Beberapa media cetak dan elektronik sudah mulai membahasnya. Jika masalah ini mencuat keluar, ia akan habis. Begitu pula dengan Dean.
Ia berdiri, langkahnya tak tentu. Ia maju dan mundur seenaknya. Tangannya mulai berkeringat. Ia mengingat tadi malam. Kritikus film mulai mengeluarkan statement nya. Jika film ini gagal dipasaran, maka riwayat Dean akan berakhir. Tapi ia yakin hal itu tidak mungkin terjadi. Ia yakin pada potensi Dean. Ketika otaknya mengatakan hal buruk, bibirnya mengatakan sebaliknya. Dengan cepat ia mengambil handphonenya dan mulai menghubungi Dean.
Karena Dean tidak mengangkatnya, ia berjalan keluar untuk menunggu pria itu didepan ruang meeting. Beruntungnya investor belum ada yang tiba. Ia melihat pegawai menatapnya bingung.
"Jangan menatapku. Ini menyangkut masa depan kalian!" serunya kesal.
Para pegawai kembali terdiam. Mereka berbisik-bisik sesuatu yang merekapun tidak tahu. Ia menghentakkan kakinya dilantai. Kemudian ia menatap jam tangannya.
Terdengar suara siulan tak jauh darinya. Ia menoleh. Dean sedang berjalan menghampirinya dengan kedua tangan disimpan di saku masing-masing. "Ada apa dengan wajahmu?" tanya Dean bingung.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi?" tanya Harris bingung. Ia memberikan handphonenya. "Berita pagi ini."
Dean melihatnya dan tersenyum. "Belum terbukti. Masih bisa berjalan bukan? Lagipula kesuksesan film ini tergantung dari kerja kerasku." ucap Dean sombong. Memang beberapa kali membuat film, yang terkenal hanyalah sutradara. Penghargaan yang ia terima pun rata-rata sebagai sutradara terbaik.
"Kalau terbukti benar?"
"Cari pemeran pengganti." jawab Dean tenang. Ia berjalan masuk kedalam ruang meeting itu dengan santai.
"Begitulah Dean. Kita serahkan semua pada ahlinya.'" ucap Jeremy tiba-tiba. Ia pun masuk kedalam ruangan.
Dean melihat kembali iPad nya. Ia mengetahui berita tentang aktornya pagi ini sebelum Harris menghubunginya. Ia terpaksa mengabaikan sarapan dengan Jessy hanya untuk menemui Pedro disebuah restoran di New York. Ia ingin kru dan pemain berhubungan baik agar chemistry yang didapatkan berhasil membuat film yang bagus. Kabar mengenai Pedro yang tidak membayar pajak selama sepuluh tahun membuatnya gerah. Iapun dituduh telah bekerja sama dengan mafia dalam perebutan tanah di Lousiana. Ia ingin tahu kebenarannya.
__ADS_1
Tapi ketika ia bertemu dengan pria itu, ia tidak mendapatkan jawaban. Ia hanya mendapatkan cibiran karena ia terlihat seperti perempuan yang menyukai gosip tidak penting. Bukan itu yang ia inginkan. Ia hanya meminta penjelasan dari Pedro. Tapi, setelah melihat Pedro tenang seperti itu, ia sedikit yakin jika pria itu tidak terlibat. Berurusan dengan hukum negara lain tidak akan pernah membuat merasa tenang. Apalagi menyangkut pajak dimana pendapatan negara dibebankan pada pajak. Itu pasti bukan masalah kecil.
Disisi lain, ia tidak mau Harris ikut khawatir. Selama di perjalanan tadi, ia memikirkan aktor pengganti yang mampu menandingi aktor sekelas Pedro. Ia belum menemukannya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dua orang pria berjas rapi masuk ditemani beberapa pria yang masuk dengan membawa tas.
...Baiklah, kedua pria yang ia temui ketika berada di Paris dulu telah sampai. Ia mulai merapikan pakaiannya....
"Aku ingin pulang. Aku merindukan papa dan semuanya." ungkap Joan ketika mereka menyelesaikan acara fashion show terakhir minggu ini. Ketika mobilnya berada didepan apartemen, ia menghubungi ayahnya.
Joan tidak pernah pulang sejak ia mulai mengurus fashion show nya beberapa bulan ini. Ketika pernikahan Dean berlangsung, ia pun tidak pulang untuk melihatnya karena kesibukan yang menyitanya. Tapi setelah fashion show ini selesai, ia bisa libur selama satu bulan.
"Dad, aku akan pulang." ucapnya ketika ia menghubungi ayahnya malam ini.
"Itu sangat baik, sayang. Dad akan menunggumu di rumah."
"Baiklah. Bye, aku sayang padamu, dad.." ucap Joan.
Joan menutup teleponnya dan keluar dari mobil. Ia mulai mengisi apartemen ini ketika usianya masih sangat muda. Ayahnya membelikannya apartemen ini agar dirinya merasa nyaman. Tidak disangka pekerjaannya sebagai fotomodel mendapatkan atensi besar dari berbagai brand. Tidak banyak yang tahu jika ia anak dari sutradara terkenal. Itu membuatnya sangat nyaman.
Ia mulai membayangkan popularitas adiknya yang berkembang sejak pemutaran perdana film Death. Ia sudah menontonnya. Rasanya seperti menonton film buatan ayahnya. Hanya saja ada beberapa ciri khas Dean yang tidak pernah dibuat ayahnya dalam membuat sebuah film.
Anastasia tiba di ruangan milik Lee dengan membawakan secangkir teh kesukaannya.
"Dean sudah pergi pagi sekali tadi." ucapnya ketika masuk.
Lee menoleh. "Untuk apa ia pergi pagi?" tanya Lee.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tadi aku tanya ke Jessy katanya menyangkut film yang akan dibuat nanti."
"Tantangan Dean akan semakin berat. Aku harus banyak menasihatinya." ungkap Lee.
Anastasia duduk disampingnya. "Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak ada. Joan akan pulang secepatnya. Kau harus membuat pesta ketika ia kembali."
Anastasia tersenyum. "Aku tahu. Kita biasa melakukannya ketika ia pulang bukan? Aku senang ia pulang. Jauh dari keluarga dan hidup seorang diri. Apakah ia nyaman seperti itu?"
"Ia yang menginginkannya. Itu pilihan hidup. Tapi jika ia mau kembali, aku dengan senang hati menerimanya. Bagaimana denganmu?" tanya Lee.
"Tidak mungkin aku menolaknya. Joan juga anakku, bukan?" tanya Anastasia.
"Terimakasih karena mau bersamaku. Mungkin rasanya berat menikah denganku yang memiliki dua anak."
"Jangan berkata seperti itu lagi. Aku mencintaimu tulus. Aku juga mencintai kedua anakmu. Itu tidak masalah untukku."
"Oh ya, apakah Jonas menghubungimu?" tanya Dean.
"Tidak ada. Ketika terakhir mereka datang kesini, mereka terlihat sedang sibuk."
"Ya, sebelum mereka pulang ke benua Eropa, mereka akan melakukan pesta terlebih dahulu. Mereka mengundang keluarga kita. Dan kau ingat perkataan istrinya? Ia sangat ingin bertemu Jessy."
"Bukankah mereka akan tinggal di New York setahun?"
__ADS_1
"Setahuku rencana mereka berubah. Aku tidak tahu." jawab Lee.