Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Losing You


__ADS_3

Joan tidak pernah setenang ini dalam hidupnya. Selama beberapa hari ini ia terus sibuk dengan aktifitasnya. Sebelum ia kembali ke Eropa, ia harus menyelesaikan semua masalah keluarganya. Jessy tidak menghubunginya. Dan gosip mengenai Dean sudah sedikit memudar karena tidak ada sanggahan dari kedua belah pihak. Ia yakin Jessy dan Dean telah berbaikan. Kini ia bingung, apa yang harus ia lakukan ketika sendiri didalam rumah.


"Jessy! Kau tidak menutup pintu?Apa yang sedang kau lakukan?" tanya seseorang ketika masuk kedalam rumah.


Joan bangun dari duduknya. Ia melihat kepintu. Ayahnya kembali?


"Dad, kau pulang? Bukankah kau berkata akan cukup lama berlibur?"


Lee masuk dan duduk di sofa ruang tamu. "Ya, aku kembali untuk melihat kalian."


"Ayahmu merasa tidak tenang berada jauh dari kalian. Pertama kalinya ayah kalian berlibur tidak tenang. Sejak melihat berita di televisi mengenai Dean, ia tidak tenang. Kemana Jessy?" tanya Anastasia.


"Jessy sedang berada di tempat Dean. Sudah beberapa hari ia berada disana. Ia belum memberikan kabar. Itu berarti hubungan keduanya telah membaik."


"Apakah gara-gara berita Dean?" tanya Lee.


"Sebelum berita itu muncul, keduanya terlihat dalam suasana tidak baik."


"Apa maksudmu?" tanya Anastasia.


"Kau tahu paparazzi yang dekat dengan Jessy? Ia mengundurkan diri dari profesinya dan menjadi sahabat Jessy. Aku dengar ia banyak membantunya ketika ia merasa kesulitan oleh media. Dean mengetahui itu, dan ia cemburu."jelas Joan.


Lee menyandarkan punggungnya. "Aku sudah dapat menduganya."


Anastasia menatap Joan cemas. "Aku dapat merasakan bagaimana jahatnya Dean ketika ia cemburu. Aku pernah merasakannya."


Joan mengangguk. "Untuk itulah aku meminta Jessy untuk menyusul."


"Lalu bagaimana keduanya?" tanya Lee kemudian.


Joan mengangkat bahunya. "Belum ada kabar. Aku tidak bisa menghubungi Jessy beberapa hari ini karena aku sibuk."


"Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka. Mereka pasangan serasi. Aku harap mereka bisa menyelesaikan permasalahan mereka."


"Kenapa kau tidak menghubungi Harris?" tanya Anastasia.


"Aku belum mencobanya." jawab Joan sambil mengeluarkan ponselnya. Ia mulai menghubungi Harris.


"Aku tahu pada akhirnya kau akan menghubungiku." goda Harris ketika ia mengangkat telepon.


"Aku tidak memerlukan candaanmu. Apa yang Dean lakukan? Aku tidak bisa menghubunginya."

__ADS_1


"Dean sedang melakukan take terakhir. Aku akan memberitahunya ketika ia telah selesai." jawab Harris.


"Bagaimana suasana hatinya saat ini?" tanya Joan.


"Ia sangat antusias dan bahagia." jawab Harris pendek.


Joan lega mendengarnya. Ia langsung menutup sambungan telepon dan menatap ayahnya. "Semuanya baik-baik saja, dad.."


"Ternyata firasatku salah.." jawabnya sambil tersenyum.


Dean sedang melakukan take terakhir untuk filmnya. Kali ini mereka melakukannya dibeberapa tepat berbeda. Walaupun lelah namun ia senang karena syuting telah selesai sesuai dengan rencana. Namun, dibalik kebahagiaannya ada sedikit hal yang mengganggu pikirannya. Sejak semalam ia berkeliling ke beberapa hotel yang ada di Santorini. Ia tidak dapat menemukan Jessy dimanapun. Ia sempat menghubungi kakaknya namun karena sibuk, ia tidak sempat.


Ia kembali menatap monitor. Ia melupakan sejenak kebingungan hatinya. Hanya tinggal satu scene, berakhirlah syuting film ini.


"Angkat kamera dua!" seru Dean. Ia menarik tangannya ke atas. Ada perasaan gemas dan tak sabar untuk mengakhiri semuanya. Ia menggigit bibir bawahnya. "Oke......! Cut! Finish!!" teriak Dean.


Semua kru dan tim bertepuk tangan dengan meriah. Mereka bahagia sama sepertinya. Semua pemain bersalaman dengannya. Akhirnya, beberapa bulan sudah berlalu. Ia bisa menyelesaikan syuting dengan cepat. Ia akan terus mengawasi editor agar film ini nampak sempurna.


"Selamat, Dean.." ucap seseorang.


Dean berbalik. "Sejak kapan kau ada disini?" tanya Dean kebingungan ketika melihat Harris berada dibelakangnya.


"Sejak Rossy pulang ke New york." jawabnya dengan nada kesal.


"Ya, sebenarnya apa yang kau lakukan? Membuat berita panas dengan seorang aktris, kemudian menolak Rossy yang tulus mencintaimu."


Dean menatap tajam Harris. "Kenapa kau malah memintaku untuk bersama Rossy, sedangkan kau tahu sendiri aku telah menikah."


"Pernikahan kalian salah. Sejak kau menikah, popularitas mu menurun. Jika kau menikahi Rossy, aku yakin popularitasmu akan melesat. Kau harus memikirkannya." jawab Harris tenang.


"Apakah kau berada dibalik semua masalahku dengan Jessy?" tanya Dean tajam.


Harris memegang kedua tangannya. Dean tahu ia gugup. Ia melihat sekeliling. Kru dan aktris maupun aktor telah masuk ke Van mereka masing-masing. Ia kembali menatap Harris. "Jujur! Katakan, apakah kau ada dibalik semua masalahku?"


"Aku hanya ingin kau seperti Dean Justin Lee yang belum menikah. Popularitasmu tinggi sebelum mengenal wanita itu."


Dean langsung menarik kemeja Harris dan memberikan satu pukulan pada wajah pria itu. "Aku memperingatkanmu untuk tidak menggangguku dengan Jessy! Jangan pernah memintaku untuk bersama Rossy karena pilihanku hanya Jessy! bukan yang lain!" serunya marah. Ia berjalan meninggalkan Harris sendiri. Semua perkataan pria itu membuatnya marah. Walaupun foto-foto itu benar, namun ia tidak menyangka Harris ada dibalik semuanya. Apa yang harus ia lakukan?


Jessy, jika kau masih berada di kota ini, tolong keluarlah. Aku tahu apa yang aku katakan terlalu jahat padamu. Aku cemburu. Tolong mengertilah..


Dean mengeluarkan ponselnya. Ia harus menghubungi Joan.

__ADS_1


"Kemana ponselmu yang biasa?" tanya Joan marah.


Dean menarik nafas. "Aku membuangnya."


"Apakah kau bertemu dengan Jessy?" tanya Joan


"Aku bertemu dengannya, tapi sepertinya ia sudah pulang. Aku tidak dapat menemukannya disini." jawab Dean.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" teriak Joan marah.


"Aku mengabaikannya. Aku mengusirnya. Itu kulakukan karena aku masih dalam keadaan cemburu buta. Aku mencari di beberapa hotel yang ada di Santorini namun belum kutemukan. Bisakah kau mencarinya untukku?"


"Jika terjadi sesuatu pada Jessy, aku tidak akan memaafkanmu! Aku yang menyuruhnya pergi untuk menemuimu karena aku tahu syuting itu hanya akan dilakukan selama beberapa hari lagi."


"Jangan menyalahkan ku! Aku minta kau pergi ke apartemen untuk melihat Jessy. Aku tidak bisa menghubunginya sejak kemarin." ucap Dean sedikit frustasi.


Joan menutup teleponnya dan berlari menuju mobil dengan memakai mantelnya. Apa yang ia pikirkan terjadi. Bagaimana jika Jessy hilang? Ia membawa mobilnya dengan tergesa agar cepat sampai ke apartemen.


Dean berlari dari satu hotel ke hotel lain. Ia tidak merasa lelah setelah seharian syuting. Jantungnya berdebar kencang. Ia takut terlambat karena peristiwa itu terjadi sudah beberapa hari yang lalu. Tidak banyak hotel di kota ini. Hotel-hotel besar telah ia datangi. Hasilnya nihil. Ia kembali mencari.


Ia duduk disebuah kursi tua. Ia menatap hotel didepannya. Ini adalah hotel terakhir yang ia datangi. Dan hasilnya tidak ditemukan tamu bernama Jessy Julian. Apakah ia harus mencarinya di kantor polisi? Bagaimana jika ia mengalami kecelakaan?


Suara ponsel mengaburkan lamunannya. Joan menghubunginya.


"Apakah kau menemukannya?"


"Tidak. Aku menghubungi pihak kedutaan. Jessy belum pulang."


"Lalu dimana Jessy sekarang?" tanya Dean bingung.


"Sebaiknya kau pulang. Ada hal penting yang harus aku beritahu. Hal yang sangat penting."


"Beritahu aku sekarang. Aku akan mencari Jessy hingga aku menemukannya disini. Aku tidak akan pulang hingga Jessy bisa kutemukan." ucapnya tegas.


"Sepertinya Jessy tengah hamil."


Dean terkejut. Kedua kakinya bergetar. Ia menyandarkan punggungnya disandarkan kursi. "Apa yang kau katakan?"


"Sepertinya Jessy sempat ke dokter kandungan. Aku melihat sebuah foto USG di meja pantry dan obat yang mungkin tidak sempat Jessy bawa. Di foto itu tertera nama Jessy dengan lengkap. Istrimu sedang hamil, Dean. Kau harus menemukannya!" seru Joan cemas.


Dean berjalan lemas sambil membayangkan betapa kecewanya Jessy padanya. Ia mengingat ketika Jessy melepaskan pakaiannya didepannya. Apakah itu dilakukan untuk mengatakan padanya jika ia sedang mengandung anaknya? Tidak, apa yang sudah ia lakukan! Ia menikahi Jessy yang masih muda untuk terlibat dalam masalahnya. Ia membuat Jessy hamil kemudian menghina dan membuangnya. Jika ia benar-benar kehilangan Jessy, apa yang harus ia lakukan? Kemana ia harus mencari Jessy?

__ADS_1


Ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan dari Joan. Ia menghentikan langkahnya dan membuka pesan itu. Sebuah foto dimana bayinya tengah tumbuh diperut Jessy. Ia menekan ponselnya keras. Kemudian ia menunduk dan mulai terisak. "Maafkan aku, Jessy.."


__ADS_2