
Pengorbanan Jessy bukan saja diam dengan melihat berita suaminya terus meluas. Namun pengorbanan yang lain harus ia lakukan adalah dengan pergi ke Yunani demi buah hati yang sedang dikandungnya. Ia tidak mau buah hatinya lahir tanpa seorang ayah. Cukup ia saja yang mengalami kesedihan tumbuh tanpa orangtua.
Sebuah televisi bandara masih menayangkan gosip mengenai Dean dengan manajernya. Hatinya berkecamuk. Menurut dokter yang ia temui tadi pagi, hal itu wajar karena ia tengah mengandung. Wanita hamil biasanya lebih sensitif daripada biasanya.
Tangannya digenggam dengan erat. Ia menoleh kesamping. Joan terlihat gugup. Mungkin ia ketakutan Dean tidak akan mendengarkan penjelasannya. Berulang kali ia menyatakan dukungan dan kepercayaannya yang tinggi padanya. Ia harap kepergiannya sekarang akan memberikan berita baik. Apalagi ia kini tengah hamil. Apakah Dean akan tega menyiksanya jika tahu ia kini tengah hamil? Sudut bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Jangan melihat berita itu! Berita itu selalu diulang-ulang." bisik Joan.
Jessy memegang tangan Joan dengan erat. "Selama aku percaya pada Dean, berita itu tidak terpengaruh." ucapnya berbohong. Padahal jelas-jelas ia menangis semalaman setiap melihat berita itu.
"Kau wanita tangguh. Aku akan menunggumu pulang. Jika pekerjaan Dean hanya tinggal satu minggu, lebih baik kau menunggunya hingga pulang dengan berada disana. Aku akan baik-baik saja tinggal disini sendiri. Lagipula aku banyak pekerjaan."
"Aku harap saat ini menjadi wanita tangguh. Aku belum pernah ke Santorini sebelumnya. Aku sedikit takut "
"Aku sudah memberikan petunjuk padamu. Di hotel mana kau akan tinggal, dan siapa yang menjemputmu nanti. Sayangnya kau tinggal di hotel yang berbeda dengan Dean. Aku sudah memesannya namun kamar disana penuh. Aku ingin kau menikmati liburanmu disana." goda Joan.
"Seandainya ini memang liburan.." ungkap Jessy pelan.
Joan hanya bisa menguatkan sambil menggenggam erat tangan Jessy. Ia menunduk untuk menyesali apa yang terjadi. Dean adalah seorang pria yang keras. Ia tidak pernah dan melarang adanya pengkhianatan. Ia benci pada orang yang berkhianat. Awalnya ia pikir hal itu tidak akan terjadi jika menimpa Jessy. Namun nyatanya Jessy diperlakukan sama. Dean, jika kau menyakiti Jessy... kau akan menyesal. Dengarlah penjelasan Jessy walaupun sulit.
"Dean!!" panggil seorang wanita.
Dean sudah menyelesaikan syutingnya kali ini. Ia bergegas ke hotel untuk mengganti pakaiannya. Ia ingin mabuk malam ini. Ketika ia melangkah menuju resepsionis, ia dikejutkan oleh panggilan seorang wanita.
Dean menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Seorang wanita bertubuh tinggi dengan pakaian mini itu tengah tersenyum kepadanya. Ia berlari manja padanya dan menghambur ke pelukannya.
"Aku merindukanmu, Dean!" ucapnya.
"Shane.. jangan seperti ini. Banyak yang melihat kita." ucap Dean sambil melihat ke sekeliling. Berpasang-pasang mata tengah menyaksikan adegan romantis itu. Jika wartawan melihat ini, ia yakin ada sesuatu yang viral nanti. Lalu bagaimana sikap Jessy ketika melihat berita ia berpelukan dengan seorang wanita baru. Tunggu, sikap Jessy? Bukankah ia sudah tidak peduli pada Jessy?
Dean pun membalas pelukan Shane. "Aku pun merindukanmu. Sayangnya, film ini tidak bisa memasukkan mu sebagai salah satu pemain."
"Tidak masalah, Dean. Aku sudah meminta papa untuk berinvestasi di film ini." jawabnya manja.
Dean kemudian melepaskan tangan Shane. "Shane, kau mau temani aku minum?"
__ADS_1
Shane hanya mengangguk. Tidak pernah sekalipun Dean membawanya ke tempat minum. Ia merasa Dean sudah banyak berubah. Mendengar ia menikahi seorang wanita biasa membuatnya hancur selama berhari-hari. Ia bahkan memutuskan kontrak salah satu produk karena ketidakhadirannya saat syuting iklan. Semuanya gara-gara Dean. Pesona Dean sanggup membuat ribuan wanita tak berdaya. Termasuk dirinya. Ia merangkulkan tangannya di lengan Dean. "Ayo pergi. Tidak ada yang bisa mengganggu kita, bukan?"
Dean dan Shane berjalan keluar untuk langsung berangkat menuju sebuah bar yang tak jauh dari hotel.
"Berapa gelas?" tanya Shane ketika mereka sudah duduk di meja VIP.
Dean menggelengkan kepalanya. "Tiga botol!" ucapnya sambil tersenyum
Shane mengambil tiga botol bir dan menyerahkannya pada Dean.
Dean membuka tutup botol itu dengan mudahnya dan mulai meminumnya. Shane terpana melihat keahlian Dean membuka tutup botol. Hal itu terlihat seksi baginya. Ia kembali duduk disamping Dean dan menyandar manja.
"Kapan kita akan bersenang-senang, Dean?"
Dean menatap seluruh pengunjung bar. Ada satu yang membuatnya tertarik. Ada satu pasangan dan seorang pria yang terlihat sedang bertengkar. Dean mengerutkan keningnya. Suara mereka telah mengakibatkan beberapa pengunjung merasa terganggu. Tiba-tiba pria yang baru datang memukul keras wajah pria yang sedang duduk. Ia menunjuk-nunjuk wajah pria itu dan menarik lengan wanita itu.
Jika saja itu yang ia lakukan ketika melihat Jessy. bersama pria lain, apakah ceritanya akan berbeda? Namun, ia takut dengan jawaban Jessy. Ia menghela nafas. Rasanya seperti sedang melihat diri sendiri.
"Ada bagusnya pria itu dipukul untuk diberi pelajaran " ucap Dean senang.
"Seorang wanita sedang berselingkuh ditemukan oleh kekasihnya. Memang seharusnya diberi pelajaran "
"Kenapa kau peduli tentang itu?"
"Aku tidak peduli. Hanya saja kejadiannya terlihat olehku." ucap Dean.
Shane mengambil gelas. "Aku ingin mencobanya."
Dean tersenyum. "Kau akan menyukainya."
Shane mulai meminumnya. Selama ini ia tidak pernah sekalipun minum bir. Namun karena Dean, ia mau mencobanya.
"Apakah ayahku menyulitkan mu?"
"Tidak." ucap Dean.
__ADS_1
"Aku lega mendengarnya." ucap Shane.
Setelah menghabiskan tiga botol bir, mereka memutuskan pulang. Taxi yang mereka tumpangi membawa mereka menuju hotel Dean terlebih dahulu.
"Pak supir, jaga temanku sampai ke tempat tujuannya. Ia adalah model dan aktris terkenal. Dan jangan kau lupa. Ayahnya seorang yang kaya raya. Jika kau menyakitinya, bukan hanya kau yang disakiti, tapi seluruh keluargamu akan disakiti." ucap Dean dengan nada mabuk. Iapun keluar dari taxi dan berjalan keluar dengan sedikit sempoyongan."
"Dean!" panggil Shane.
Dean terkejut ketika ia merasakan bibirnya disentuh dengan keras oleh Shane.
"Aku mencintaimu, Dean! Sampai jumpa!" ucap Shane sambil berbalik dan menaiki taxi.
Dean terdiam. Shane begitu berani menciumnya didepan umum. Ia berbalik dan berjalan kembali. Ia menunduk. Apa yang akan terjadi esok? Entahlah. Ia akan menunggunya.
Jessy sudah berada di pesawat. Ia menutup matanya perlahan. Iapun memegang perutnya yang terasa ngilu. Ia sedikit kesakitan. Apa yang terjadi padanya? Seharusnya ia baik-baik saja karena kehamilannya masih muda.
"Kau baik-baik saja?" tanya seorang pramugari.
Jessy membuka matanya. "Aku sedikit kesakitan." bisik Jessy karena ia tidak mau mengganggu penumpang lain.
Pramugari itu melihat Jessy tengah memegang perutnya."Apakah kau sedang mengandung?"
Jessy mengangguk. "Sedang masa rawan."
"Apakah ada surat dokter yang mengijinkan mu pergi menggunakan pesawat?"
"Ada. Tadi pagi aku dari dokter untuk memintanya."
"Kalau begitu untuk meringankan sakit mu, aku akan memberikan bantal dan merubah posisi duduk mu."
"Terimakasih." jawab Jessy terharu.
Pramugari itu memegang lengannya. "Apakah kau pergi untuk bertemu suamimu? Aku tahu kau adalah istri seorang sutradara." ucapnya sambil tersenyum.
Ketika pramugari itu selesai membantunya, ia ditinggal sendiri. Lampu pesawat mulai dimatikan. Entah mengapa hatinya sakit sekali malam ini. Ia menangis dalam diam. Ia harap esok bukankah hari yang buruk untuknya.
__ADS_1