
Dean sudah tahu akan begini pada akhirnya. Sejak bangun tidur hingga pergi ke lokasi syuting, ia sudah mendengar berita mengenai kejadian semalam. Awalnya ia ingin tahu apa yang mereka bicarakan, namun pada akhirnya ia tidak tertarik. Berulang kali mendapatkan skandal, baru kali ini ia tidak merasa terbebani. Ia sudah tidak peduli dengan gosip yang menimpanya. Ia tidak perlu memberikan penjelasan apapun pada Jessy karena wanita itupun sudah bermain dengan seorang pria dibelakangnya.
Ketika mengingat akan Jessy, ia sudah tidak berhubungan dengan istrinya itu sejak beberapa hari yang lalu. Ia ingin fokus walaupun banyak godaan yang datang. Jika Jessy seorang wanita sekaligus istri yang baik, seharusnya ia mencari cara untuk menghubunginya. Namun kali ini tidak. Iapun bisa melakukan hal yang sama. Mengingat Jessy, sama saja merusak moodnya.
Syuting kali ini ia melakukannya didekat pantai. Ia sengaja membuat gubuk-gubuk kecil untuk tempat istirahat aktor dan dirinya. Suara ombak bersahutan. Ia menatap set sedang dipersiapkan. Ia hanya memiliki waktu setengah jam hingga semuanya bisa kembali.
"Dean, media mengatakan jika kau berhubungan dengan Shane karena campur tangan ayahnya di film ini." seru Rossy tergesa-gesa. Ia menatapnya marah. Bagaimana bisa ia didahului oleh wanita itu?
"Apalagi yang mereka katakan?"
"Kau harus melihatnya sendiri. Foto-foto kalian berdua tersebar luas di media sosial dan semua media elektronik maupun cetak. Kau tahu, gara-gara foto ini.. akan berakibat pada film kita. Kau tidak bisa egois, Dean. Pikirkan kru yang sudah lelah mengikuti cara kerjamu akhir-akhir ini!" seru Rossy dengan mata berkaca-kaca.
"Untuk saat ini, aku tidak peduli dengan apapun. Biarkan skandal itu berjalan. Semuanya akan berhenti tanpa kita sadari. Lagipula skandal sebuah film baru itu wajar." jawab Dean tenang.
"Mengapa kau tidak mengerti perasaanku?" tanya Rossy tanpa bisa tertahan lagi. Ia meneteskan airmata.
Dean berbalik. "Perasaan bagaimana?"
"Aku mencintaimu, Dean. Aku kembali karena ingin dekat denganmu. Aku bahkan menutup mata jika kau telah menikah. Tapi, kenapa harus dengan model itu?"
"Sejak awal aku sudah katakan. Jangan pernah berharap pada perkembangan hubungan kita. Aku menganggap mu hanya sebagai teman dan partner kerja. Tidak lebih. Kau hanya manajer ku, dan aku mengeluarkan uangku untuk membayar mu. Kau harus ingat itu."
Sambil menangis, Rossy meninggalkan Dean.
Dean terdiam sambil menatap gulungan ombak. Ia menatap ke atas, awan gelap sudah kembali. Ia pikir akan turun hujan. Ia menatap kembali ke depan.
"Dean.." panggil seseorang.
Dean berbalik. Seorang kru terlihat khawatir. "Ada apa?"
"Sepertinya akan turun hujan. Aku melihat di prakiraan cuaca, dikhawatirkan akan muncul badai. Sepertinya kita harus memundurkan beberapa jam hingga badai itu berhenti." ucapnya.
Dean berdiri. "Baiklah. Aku akan menunggu di gubug untuk beristirahat. Jangan biarkan ada yang menggangguku."
Pria itu mengangguk.
__ADS_1
Ia masuk ke sebuah tempat yang sengaja dibuat kru untuk tempatnya beristirahat. Ia duduk menghadap pantai. Badai memang akan dimulai. Ia menatapnya serius. Jika badai ini berlangsung lama, ia tidak akan bisa memulai syuting hari ini.
...***...
Jessy turun dari taxi ketika ia sudah sampai di lokasi syuting Dean. Ia menatap kertas ditangannya. Lokasinya sama dengan gambar yang diberikan Joan padanya. Air hujan sudah mulai turun walaupun tidak terlalu besar. Angin pantai menyentuh wajahnya. Ia menunduk sambil berlari kecil. Ketika sampai ditempat syuting, ia melihat kru tengah bersiap-siap untuk beristirahat.
Ia menghampiri seorang kru.
"Dimana aku bisa bertemu Dean?"
"Ada di gubug nomor 2." ucapnya.
"Apakah tidak ada syuting hari ini?"
"Diundur sampai badai ini berlalu." ucapnya ramah.
Jessy mengangguk. Ia meninggalkan kru itu dan berjalan menghampiri gubug yang tadi dikatakan oleh salah satu kru.
Ketika ia sudah sampai didepan pintu gubug, jantungnya berdebar dengan kencang. Ia mengetuk pintu cukup lama. Ia akan menunggu hingga Dean membuka pintu. Angin pantai mulai membesar. Ia membetulkan cardigan dan memangku tangannya. Ia kembali mengetuk pintu.
Jessy melihat sekeliling ruangan. Gubug yang dibuat dari kain tenda itu terlihat menyenangkan. Tidak banyak yang tersedia didalamnya. Ia duduk disebuah kursi kayu walaupun tidak diminta oleh Dean untuk duduk. Dean terlihat sangat dingin.
"Apa kabar, Dean?" tanyanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dean kembali tanpa mau melihatnya.
"Aku merindukanmu, Dean. Aku ingin kita bicara."
"Tidak ada yang harus kita bicarakan. Semuanya jelas. Sejak awal aku memintamu untuk menjauhi pria itu, namun kau tidak mendengarkan ku. Kau berkhianat karena pergi dengan pria itu."
"Aku dengan Jose tidak memiliki hubungan apapun. Kita hanya berteman. Tidak lebih."
"Lalu apakah pertemanan itu harus dilakukan dengan cara berpelukan satu sama lain?" tanya Dean marah.
"Dean, aku baru tiba beberapa jam yang lalu. Apakah tidak ada sambutan untukku?" tanya Jessy sedikit lemas.
__ADS_1
"Jangan memutar pembicaraan. Aku ingin bertanya padamu, apakah pertemanan kalian harus disertai dengan pelukan?"
Jessy menggelengkan kepalanya. Hatinya tercekat karena dituduh seperti itu. "Itu tidak benar, Dean. Jika kau membicarakan soal pelukan itu, itu hanya pelukan perpisahan antar teman. Tidak lebih. Tolong kau percaya padaku kali ini."
"Berulang kali aku percaya pada wanita, pada akhirnya aku dibodohi. Aku tidak percaya padamu lagi. Pergilah! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" ucap Dean sambil berbalik dan menatapnya tajam.
Jessy mundur sambil memegang perutnya. "Oh my.." bisiknya halus.
"Baiklah jika kau tidak percaya padaku. Apa bedanya dengan berita yang sudah tersebar? Apa hubunganmu dengan wanita itu?" tanya Jessy lantang.
"Dia hanya temanku." serunya.
"Apa bedanya dengan Jose? Jose hanya lebih sopan daripada temanmu itu! Tidak ada teman yang mencium bibir temannya sendiri!" ucap Jessy kesal. Nafasnya memburu. Ia marah saat ini.
"Diam!"
Jessy mendekati Dean. Ia mencoba untuk mengalah demi bayi yang sedang ia kandung. "Dean, aku mohon jangan menjauhiku. Aku tidak sanggup berpisah denganmu. Bukankah kau mencintaiku? Percayalah padaku!" ucapnya.
Dean membiarkan Jessy memeluknya. Namun itu tidak lama. Dean melepaskan tangannya dan menjauh. "Aku memintamu untuk pergi!" ucapnya marah.
Tidak ada harga diri dalam diri Jessy. Ia tidak peduli dengan itu. Jika Dean melihat perubahan pada dirinya, apakah ia akan berbalik dengan tidak membencinya? Ia mulai melepaskan dress-nya dan menyisakan hanya pakaian dalam saja. "Lihat aku, Dean"
Dean berbalik memunggunginya. "Kau menjijikkan! Apa bedanya kau dengan para wanita penjaja **** dengan melakukan itu." ucapnya tajam.
Hati Jessy tersayat sangat dalam. Ia menunduk sambil memegang perutnya. "Sayang.." bisiknya halus. Ia kembali memakai dress nya. "Aku tidak ingin kau menyesal, Dean.."
"Aku tidak akan menyesal! Aku akan tetap mengatakan pada seluruh dunia jika kau menjijikkan! Tidak akan ada pria yang menyukaimu!" ucapnya marah.
Jessy mundur dan berlari keluar. Ia harus kuat demi anak yang sedang ia kandung. Ia tidak mempedulikan tatapan para staf dan kru. Harga dirinya telah jatuh dan ia tidak akan bisa bangkit lagi.
Ia terus berlari tanpa tujuan.
"Aku akan kuat demi bayi ini. Jangan harap kau bisa bertemu dengan anakku, Dean." ucapnya sambil berteriak. Ia terus berlari hingga kakinya lemas. Ia berjalan dan tanpa sadar airmata nya menetes dengan deras. Ia menangis tanpa henti. Hatinya begitu sakit dan telah tersayat dengan sangat dalam. Dean bukan saja menolaknya, namun iapun menghinanya. Ia terus berjalan menembus hujan yang saling bersautan tanpa peduli sudah berapa jauh ia melangkah. Jalan itu sepi. Mungkin karena badai sedang berlangsung, sehingga tidak ada orang yang berani melewatinya.
Tiba-tiba tubuhnya terangkat dengan sangat keras keatas dan jatuh dengan keras diatas sebuah kap mobil. Tubuhnya terguling ke aspal yang penuh oleh air hujan. Ia hanya ingin bertanya satu hal. Apakah ia akan mati sekarang?
__ADS_1