
Dean menatap dirinya di cermin kamar mandi. Ia telah selesai bercukur. Dapat dikatakan, Dean telah kembali ke awal. Ia terus menatap dirinya didepan cermin. Sebagai seorang pria, sedikit memalukan jika ia memiliki lingkaran mata berwarna hitam. Ia kurang tidur sejak melakukan pencarian.
Terdengar olehnya pintu kamar diketuk. Suara ayahnya terdengar memanggilnya. Iapun menyimpan mesin pencukur di atas wastafel dan berjalan menuju pintu. Ketika ia membuka pintu, ayahnya sudah berada didepan kamarnya sambil memegang satu botol wine dan dua gelas kosong.
"Ada apa dad?"tanya Dean tanpa melepaskan tatapannya pada botol wine itu.
"Penfolds Grange Hermitage 1951 buatan Australia." ucap Lee seraya mengangkat botolnya keatas. Dari kemasannya saja Dean tahu jika itu bukan wine murahan.
"Aku belum pernah mencicipinya."
"Bisa aku masuk kedalam? Aku ingin berbicara denganmu. Kita bisa minum didalam kamar " ucap Lee.
Dean membuka pintu lebih lebar. "Masuklah dad. Aku akan memakai pakaian." ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi.
Lee masuk kedalam kamar Dean. Pertama kali yang ia lihat adalah foto pernikahan antara Dean dan Jessy saat itu. Ia melihat Jessy. Bukankah saatnya kau kembali, Jessy? Sudah banyak sekali yang merindukanmu.
"Dad.." panggil Dean.
Lee langsung tersadar dan duduk di sofa. Ia menyimpan botol wine dan gelas diatas meja. Ia akan membiarkan Dean yang mengisi gelasnya sendiri. Ia melihat Dean menghampirinya.
"Kau tahu apa kesibukanku saat ini?" tanya Lee.
"Aku mendengar kau membuat sebuah rumah produksi? Kau tertarik untuk membuat film lagi? Kau sudah tua, Mr. Lee. Kau akan kelelahan." goda Dean.
"Aku membuatnya bukan untukku sendiri. Aku membuat rumah produksi untukmu. Apakah kau tidak akan kembali membuat film?" tanya Lee serius. Ia dapat melihat perubahan pada wajah Dean. "Kali ini aku memberikan pendapat, kau harus membuat film romantis. Banyak yang menunggu karyamu. Aku akan membantumu dari belakang."
Dean mengambil wine itu dan membukanya dengan mudah. Ia kemudian mengisinya kedalam gelas. Salah satu gelas diberikan pada ayahnya dan satu lagi untuknya. Ia menyesapnya sehingga mulutnya terdengar berdesis. Ia belum menjawab pertanyaan ayahnya. Ia menatap butiran-butiran wine yang tertempel di ujung gelas.
"Kau tahu dad? Ketika aku memutuskan untuk berhenti, aku sudah melepaskan semuanya. Aku bertemu dengan Jessy karena sebuah film yang membuatku terkenal. Ia pergi dari kehidupanku pun ketika aku membuat film. Sepertinya film tidak bisa memberikan kebahagiaan."
"Apakah kau yakin? Apakah selama kau menikah dengan Jessy, kalian belum pernah bahagia?"
Dean menatap ayahnya. Tentu saja ia bahagia ketika Jessy ada disampingnya. Jessy yang selalu mengerti padanya. "Kami bahagia ketika bersama."
"Lalu, kau ingin Jessy sedih ketika mendengar impianmu hancur karenanya? Aku ingin berbicara denganmu tentang ini sejak kau memutuskan untuk berhenti. Tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan. Dad hanya ingin kau mempertahankan profesi sutradara itu. Ini impianmu, Dean." jelas Lee.
"Jika aku membuat film baru, kerinduanku pada Jessy akan semakin dalam. Aku lemah jika dikaitkan pada Jessy. Aku takut tidak bisa profesional karena merindukannya." ucap Dean.
__ADS_1
"Apakah kau tahu kabar terbaru tentang Harris?" tanya Lee kembali.
"Sejak aku memutuskan untuk mundur dari perusahaannya, aku tidak tahu lagi."
"Ia kehilangan banyak uang karena tidak bisa membuat film yang bagus. Saat ini ia sedang mencari beberapa wajah baru untuk membuat manajemennya bangkit. Begitu pula dengan rumah produksinya. Ketika ia kehilanganmu, ia kehilangan aset yang sangat besar."
Dean tersenyum. "Bagus. Aku senang mendengarnya. Sebentar lagi ia semakin terpuruk karena rumah produksi mu, dad."
"Lalu, kenapa tidak kau ambil alih rumah produksi ku? Bukankah Harris yang menyebabkan semua ini terjadi?" tanya Lee yang membuat Dean terdiam.
"Mom.." panggil Dean keesokan harinya. Ia tidak melihat ayahnya. "Kemana dad?"
"Ia tidak pernah ada dirumah hingga makan siang. Ia sibuk di kantor. Kau mau aku siapkan sarapan?" tanya Anastasia yang saat itu tengah membuat teh untuknya.
Dean sudah mandi dan bersiap untuk pergi. Ia menggelengkan kepalanya. "Aku akan pergi sekarang. Bisa kau kirimkan alamat kantor dad saat ini?"
Anastasia meninggalkan tehnya dan berjalan cepat menghampiri Dean. Ia memegang lengannya. Hanya dalam waktu semalam Dean dapat berubah. Semalam suaminya berkata jika ia berbincang dengan Dean tentang banyak hal. Termasuk tentang rumah produksi miliknya. Ia harap berita baik seperti hari ini akan turus menghampirinya. Ia senang sekali.
"Kau serius, Dean?" tanya Anastasia.
"Aku senang sekali, Dean. Aku harap kabar baik seperti hari ini akan terus menghampiri kita." ucapnya.
Dean mengangguk. Ia kemudian menggoda ibunya. "Apakah aku sudah kembali menjadi Dean Justin Lee yang dulu?"
Anastasia memegang wajah Dean. "Kau sudah kembali. Aku terharu.." ucapnya. Sejak semalam, ia tidak bertemu kembali dengan Dean. Karena peristiwa Dean, ia sering meminum obat tidur agar ia bisa tidur dengan nyenyak.
"Maafkan aku karena membuatmu khawatir."
"Yang terpenting kesehatanmu dan kebahagiaanmu. Yang lainnya aku tidak peduli." ucap Anastasia sedih
Dean memeluk Anastasia erat. "Terimakasih mom. Terima kasih karena kau telah menjadi ibuku."
Setelah mendapat alamat kantor ayahnya, ia kembali memakai mobil milik Jessy yang selalu terparkir dirumahnya. Semua kenangan itu muncul. Ia melihat billboard kembali yang memasangkan sebuah judul film romantis. Benar kata ayahnya, saat ini sedang ramai dibicarakan tentang film romantis. Kemudian ia melihat sebuah billboard iklan. Modelnya merupakan seorang aktris dan aktor yang sempat ramai beberapa tahun yang lalu karena hubungan keduanya lebih dari sahabat. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia tidak sengaja menginjak rem sehingga mobilnya berhenti dengan cepat. Ia melihat dari kaca mobilnya, untungnya tidak ada mobil lain dibelakangnya. Ia teringat sesuatu. Jessy pernah mengatakan ia menyukai pasangan itu. Jika ia membuat sebuah film dengan memakai pasangan itu, Jessy akan melihatnya. Ia akan menyelipkan sebuah kata-kata diakhir filmnya. Ia yakin Jessy akan tahu jika ia mencarinya.
Ia tersenyum untuk pertama kalinya. Sebuah ingatan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia langsung menghubungi seseorang yang dapat membuat harapannya menjadi kenyataan. Ia membawa mobilnya ke sebuah cafe untuk membeli kopi. Ia memakai kacamata hitam dan turun dari mobil. Tidak banyak pengunjung. Ia bersyukur masih belum banyak yang mengenalnya kini. Ia duduk disalah satu sudut ruangan yang membuatnya bisa melihat keluar dengan jelas.
Ia mulai menghubungi seseorang. Nada sambung terhubung sementara ia menunggu kopi diantarkan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kau akan menghubungiku, Dean. Apa yang kau lakukan? Kau menghilang sejak penghargaan itu.." ucap seseorang ketika ia baru saja mengangkat teleponnya.
"Apakah kau masih bekerja untuk Harris?" tanya Dean serius.
"Sejak kau memutuskan berpisah dengan Harris, kami ikut berpisah." ungkap pria bernama Jefry yang khusus bekerja sebagai penulis naskah di rumah produksi Harris. "Bukan hanya aku, tapi tim editor, produser, cinematographer dan beberapa manajer unit mengikuti langkahmu."
"Kau tahu mereka dimana? Kau bisa mengumpulkan mereka?"
"Ada projek baru? Apakah kau kembali membuat film?" tanya Jefry antusias. Tentu saja, saat ini ia akan membuktikan pengalamannya membuat naskah baru. Selama tiga tahun ia hiatus dengan harapan Dean akan kembali bekerja dan mengajaknya kembali bekerjasama.
"Aku akan berikan alamatnya. Kau bisa menemui ku pukul 5 sore nanti. Jangan lupa bawa semua orang yang kau sebutkan tadi." ucap Dean.
"Aku akan melakukannya dengan cepat." ucap Jefry senang.
Seorang pelayan membawakan satu cup kopi untuknya. Ia mengambilnya dan berdiri. Ia keluar untuk menuju kantor ayahnya. Ia tersenyum mengingat kehancuran Harris akan terjadi tak akan lama lagi.
Selama diperjalanan, ia melihat begitu banyak perubahan kota New York. Terjadi beberapa pembangunan di kiri dan kanan jalan. Ia melihat kembali alamat yang diberikan oleh ibunya. Seharusnya ia sudah dekat dengan kantor ayahnya. Setelah melewati beberapa toko-toko pakaian kelas dunia, ia terkejut dengan keberadaan kantor ayahnya.
Dean membawa mobilnya parkir disalah satu halaman. Ketika keluar, ia melihat ayahnya tengah berada disalah satu ruangan dengan seorang pria. Ia tidak mengenalnya. Iapun turun dari mobil dan kembali memakai kacamata hitam yang sempat ia lepaskan tadi. Ketika memasuki ruangan, ia yakin ibunya ada dibalik perencanaan penataan ruangan. Setiap ruangan terlihat nyaman seperti berada dirumah. Ia menghampiri ayahnya.
"Dad!" panggil Dean
Lee terkejut melihat kedatangan Dean. Ia berjalan menghampirinya. "Apakah kau berubah pikiran?"
"Jika aku mengatakan Ya, apakah kau akan senang?" tanya Dean menggoda ayahnya.
Lee tersenyum dan memeluk Dean. "Tentu saja. Aku senang kau kembali. Lalu apa rencana mu?"
Dean melepaskan diri dan duduk disalah satu sofa. "Nanti sore teman-temanku akan datang. Aku meminta dad untuk ikut denganku bertemu dengan mereka."
Lee duduk didepan Dean. "Siapa?"
"Timku. Tim terbaik. Aku akan bekerjasama dengan mereka kembali."
"Aku akan menunggunya dengan senang hati " jawab Lee senang.
Jika Dean tidak melihat papan billboard tadi, ia tidak mungkin terpikir untuk membuat film hanya untuk membuat Jessy kembali. Ini adalah pertaruhan. Jika ia tidak bisa membuat film yang baik, besar kemungkinan ia akan dikritik negatif oleh kritikus. Apalagi ini akan menjadi film pertamanya setelah ia menyatakan berhenti tiga tahun yang lalu.
__ADS_1