
"Aku ingin tahu apa yang kau katakan pada istriku?" tanya Dean ketika ia mengunjungi Zuccardi pagi ini. Ia masih mengingat bagaimana Jessy mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Pagi ini ia meninggalkan Jessy yang masih tertidur di hotel hanya untuk menemui Miranda.
Miranda yang tengah berbincang dengan suaminya begitu terkejut dengan kedatangan Dean. Apalagi pertanyaan Dean yang begitu kasar dan tanpa basa basi seakan menamparnya. Ia menyimpan cangkir tehnya dan berdiri. Tatapannya pada Dean berubah sejak ia kasar padanya.
"Apa yang kau katakan?"
"Aku bertanya, semalam apa yang kau katakan soal istriku? Apa yang kau tanyakan padanya?" tanya Dean.
Jack ikut berdiri disamping Miranda. Ia menatap Dean kesal karena ia tidak sopan pada istrinya. Ia melangkah dan berada didepan istrinya. "Apa yang kau inginkan?"
Dean tertawa hambar. "Kau ingin melindungi istrimu? Tenang saja Jack, aku bukan pria yang melakukan kekerasan pada wanita. Wanita patut dilindungi. Untukmu, istrimu patut kau lindungi. Untukku, istriku patut dilindungi. Aku hanya ingin bertanya pada istrimu, apa yang ia katakan pada istriku sehingga ia tertekan?"
Jack menoleh pada istrinya. "Apa yang kau katakan?"
Miranda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengatakan apapun. Istri Dean telah memfitnahku."
"Apa yang kau katakan, Miranda? Istriku bahkan tidak mengatakan apa-apa tentangmu padaku. Aku hanya menebaknya. Semalam setelah berbincang denganmu, ia hanya mengatakan soal kepantasan." seru Dean.
"Hormati istriku. Ia lebih tua darimu!" seru Jack.
"Aku akan menghormatinya jika iapun menghormati seseorang yang lebih muda darinya. Asal kau tahu, tidak ada wanita yang pantas mendampingiku selain wanita yang sudah aku nikahi ini." ucap Dean tegas.
"Aku menyesal telah mengundangmu ke sini." ucap Miranda dengan terbata-bata.
"Akupun menyesal karena berada ditempat ini. Kami berdua akan pergi dari sini secepatnya." jawab Dean sambil berbalik untuk meninggalkan mereka. Kemudian ia berhenti dan menoleh. "Aku lupa. Kau tidak perlu membayarkan biaya hotel untuk bulan maduku karena aku sudah membayar semuanya. Aku tidak memerlukan hadiah sedikitpun darimu" ucapnya sambil melangkah pergi dari tempat itu.
Dilain tempat.
Jessy tengah berpangku tangan sambil menatap pemandangan indah diluar sana. Pemandangan indah itu tidak disertai dengan pemandangan di wajah Jessy. Ia cemberut. Ia kesal mendapati dirinya berada sendirian di kamarnya. Ia bangun satu jam yang lalu tanpa kehadiran Dean. Ia hanya melihat sepucuk surat yang isinya :
Aku pergi sebentar, sayangku. Kau tunggu aku. Jangan keluar kamar karena diluar banyak pria jahat.
Perutnya lapar karena semalam ia tidak makan. Ia hanya meminum wine sehingga ia mabuk. Dan ia tidak memakan apapun lagi. Ia memegang perutnya. Dean jahat sekali membiarkannya sendiri di kamar tanpa sehelai roti ataupun susu untuk mengisi perutnya yang lapar.
Ia membayangkan sesuatu. Jika ia tidak berada disini, saat ini ia sedang memasukkan pakaian-pakaian kotor kedalam mesin cuci Mrs. Patty. Ia tidak merindukan kegiatan itu karena yang terpenting baginya adalah saat ini. Ia lebih bahagia sekarang. Semalam tidak akan pernah ia lupakan. Dean benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik. Mereka sama-sama belajar. Untuk seorang pria yang tidak romantis, Dean mampu membuat suasana menjadi romantis. Seandainya semua ini tidak akan pernah berakhir.
Pintu terbuka pelan. Ia hanya meliriknya. Ia yakin Dean kembali.
"Jessy.." panggilnya.
__ADS_1
Jessy hanya diam tanpa melepaskan tatapannya ke depan.
Dean menghampirinya. "Ada apa? Kau marah padaku?"
"Ya, aku sangat marah."
Dean berjongkok didepannya dan memegang tangannya. "Ada apa?"
"Kau meninggalkanku dikamar seorang diri. Kau pergi tanpa berkata apapun padaku. Kau bahkan tidak meninggalkan makanan disini." protes Jessy.
Dean menahan tawanya. "Maafkan aku, aku ada urusan sebentar. Kau menahan lapar sejak tadi?"
"Aku belum makan apapun sejak pagi. Dan ini menjelang siang."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Dean.
Jessy berfikir. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. "Kau harus membayarnya dengan membelikanmu makanan enak." ucapnya cepat.
"Baiklah. Aku akan membelikannya." jawab Dean sambil berdiri. Ia mengangkat Jessy dari sofa itu untuk berdiri didepannya. Ia mengecup pipinya sekilas. "Ayo, kita pergi." ucapnya.
Jessy tidak tahu jika ia merencanakan sesuatu. Tadi pagi ia menghubungi Lana.
"Aku tidak pernah mengajak kencan wanita manapun. Mereka yang mengajakku." protes Dean.
Lana terdengar tertawa.
Pagi ini sebelum ke Zuccardi, ia sengaja menghubungi Lana untuk bertanya sesuatu. Ia butuh nasihat. Ia ingin menjadi seorang suami yang romantis bagi Jessy. Ia ingin memberikan sesuatu selama dua minggu terakhir ini.
Dean dan Jessy berjalan keluar. Mereka melewati sebuah kolam renang yang tidak terlalu besar. Jessy memegang lengan Dean sambil berjalan. Ia melihat sekeliling. Tatapannya tertuju pada pemandangan indah pegunungan Andes yang pernah Dean janjikan padanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat sebuah meja yang sudah dihias dengan bunga mawar berwarna merah. Satu botol wine yang disimpan didalam ember berisi es sudah tersimpan diatas meja. Beberapa vas bunga disimpan diatasnya.
Jessy menarik lengan Dean. "Ada apa ini?"
"Aku menyiapkan semua ini untukmu." bisik Dean.
Nuansa serba merah terpancar siang ini. Cuaca hari inipun sejuk. Tidak terlalu panas padahal sudah siang. "Kau menyiapkannya? Untuk apa?" tanya Jessy.
Dean membawa Jessy ke depan kursi dan membantunya untuk duduk. "Tentu saja untuk membuat pengakuan."
Jessy menatap Dean bingung. "Pengakuan?"
__ADS_1
Dean mengangguk. "Pengakuan darimu jika aku pun bisa berbuat romantis. Apakah sekarang kau mengakuinya?"
Jessy mengerutkan keningnya. "Apakah ada Lana disini? Jujur saja, apakah kau menghubungi Lana terlebih dahulu?"
Dean tersenyum. "Sedikit. Ia hanya memintaku untuk berbuat sesuatu yang romantis. Dan terjadilah, seharusnya kau menangis melihat semua ini."
Jessy tertawa. "Kau terlalu mengada-ngada. Tapi aku terkejut melihat ini. Aku akui kau romantis, Dean. Tapi, untuk apa kau lakukan ini?"
Dean memegang tangan Jessy. "Aku ingin membuat acara bulan madu kita bermakna. Aku ingin kau tidak melupakannya. Dan aku harus mengatakannya padamu. Liburan ini berakhir hari ini. Tapi tentu saja hanya liburan ini saja, kebersamaan kita masih tetap akan berjalan selama dua minggu."
"Kita pulang?" tanya Jessy antusias.
Dean mengangguk. "Apakah kau kecewa?"
"Sama sekali tidak. Sejak semalam aku mengatakan jika aku ingin pulang. Lagipula kenangan kita disini terlalu banyak." ucap Jessy malu karena mengingat kejadian semalam.
"Siang ini jangan minum wine terlalu banyak. Aku tidak bisa menerimanya. Semalam kau banyak meminum wine dan mengakibatkan sesuatu yang membuatku bahagia." ucap Dean.
"Jangan katakan itu lagi. Walaupun mabuk tapi aku mengingatnya." jawab Jessy dengan wajah bersemu merah.
Dean tersenyum senang. Ia mengangkat tangan Jessy dan menciumnya. "Aku senang sekali."
Tak lama makanan pun datang. Tapi ada raut tidak senang di wajah Jessy.
"Ada apa?" tanya Dean
"Aku akan perhitungan denganmu jika setelah hari ini berat badanku naik." sewot Jessy.
"Aku tidak peduli. Aku menginginkanmu untuk ada disampingku. Apakah kau tahu kapan aku merasa tertarik padamu?" tanya Dean.
"Sejak hari pertama kita bertemu. Hari itu kau terlalu banyak menggangguku." jawab Jessy.
"Tepatnya sejak aku membukakan pintu untukmu. Kau menggunakan seragam OneLaundry. Aku terus mengingatnya sejak saat itu. Kau masuk ke kamarku untuk mengambil semua pakaianku tanpa merasa jijik. Dan aku masih ingat. Kau seperti memakai topeng ketika datang ke apartemenku. Kacamata besar dan rambut diikat."
"Sebaliknya. Kau menggangguku setiap saat. Aku kehilangan kebebasanku sejak mengenalmu."
Dean mengangguk sambil tersenyum. "Aku tahu. Resiko memiliki kekasih seorang sutradara tampan seperti ku, seperti itulah adanya. Kau harus bersiap-siap mulai saat ini."
"Ahh.. aku ketakutan" ucap Jessy pendek.
__ADS_1
Dean tahu itu hanyalah candaan. "Ayo kita makan. Aku tidak mau kau kehilangan kesadaran karena belum makan sejak pagi."