Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
I will survive


__ADS_3

Joan menyadari satu hal. Ada bagian dimana ia tidak bisa masuk kedalam hati Alv yang tersimpan kenangan mengenai seorang Lily Aysun. Seberapa jahat Lily padanya, tidak membuat Alv menghentikan perasaan sayangnya pada wanita itu. Ia menyadari jika rasa persaudaraan Alv tinggi. Langkah Joan terasa sangat berat menuju rumah sakit. Ia menjinjing sebuah tas besar berisi pakaian Alv.


Sebelumnya..


"Alv, tenang. Aku akan membawamu ke rumah sakit." ucap Joan sambil membawa mobilnya menembus jalanan sepi menuju Manhattan.


"Aku tidak akan bisa tenang jika belum melihat kondisi Lily. Ia tidak memiliki siapapun disini. Hanya aku yang menjadi tumpuannya." ucap Alv.


"Alv, apakah kau sadar? Lily sudah jahat pada kita. Mengapa kau masih peduli? Dia bukan adik kandungmu." ucap Joan hati-hati.


"Lebih baik kau diam jika kau tidak mengerti!" bentak Alv. Sontak kalimat itu membuat Joan terdiam.


Joan melihat Alv berlari menuju ruang ICU. Suasana mulai berbeda. Joan masih tetap berjalan mengikuti kemana Alv melangkah. Wajah panik Alv sangat jelas terlihat.


"Bagaimana dok?"


"Ada benturan keras di salah satu bagian perutnya. Namun ada hal lain yang harus disampaikan. Karena benturan sangat keras di bagian kaki kanan, kami terpaksa harus mengatakan jika kaki kanannya tidak bisa berjalan dengan normal. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan. Namun memakan waktu dan pasien harus bersabar."


Alv menutup kedua matanya karena sedih.


Joan datang menghampirinya dan menyentuh bahunya


"Apakah aku hanya diam saja melihat Lily seperti ini? Aku tidak bisa diam saja. Lily adikku." ucapnya.


Joan melepaskan tangannya. Ia berjalan menuju tempat dimana Lily berada. Ia membuka tirai yang menutupi tempat tidur Lily. Keadaan Lily tidak jauh berbeda dengan orang yang sedang meregang nyawa. Wajahnya penuh dengan luka. Entah apa yang telah terjadi padanya. Beberapa perban menutupi wajah dan tangan Lily. Sedangkan kedua kakinya tertutup oleh selimut. Iapun mendekat. Hanya terdengar suara dari layar monitor detak jantung. Salah satu tangannya menyentuh ujung tempat tidur.


Tiba-tiba terdengar suara keras Alv. Joan buru-buru keluar dari ruangan. Ia melihat Alv hampir melayangkan pukulannya pada salah seorang pria yang memakai seragam keamanan.


"Alv, tunggu!" teriak Joan mencoba meleraikan.


"Kau tahu, pria ini yang mengakibatkn Lily terluka." teriak Alv kesal.

__ADS_1


Joan menarik lengan Alv. "Kita dengarkan penjelasan pria ini." 


"Kau bersekongkol dengan pria ini?" tanya Alv menuduh dengan wajah merah.


Joan mengerutkan keningnya.'Kau katakan apa? Aku bersekongkol?"


Penyesalan mulai terlihat di wajah Alv. Ia berbalik dan berjalan menuju ruangan dimana Lily berada. Joan menatap nanar kepergian Alv. Ia menggelengkan kepalanya sejenak.


"Bisa kau jelaskan apa yang membuat adik kami seperti ini?"


Pria itu masih terlihat shock. "Aku yang membawa wanita ini ke rumah sakit."


"Kau pegawai keamanan bukan? Apakah Lily melakukan kesalahan?"


"Aku adalah petugas keamanan dimana wanita itu tinggal. Ada konsleting listrik di beberapa kamar apartemen, aku datang ke kamar 211 untuk menyampaikan permintaan maaf karena pengerjaan itu memakan waktu beberapa jam. Ketika aku mengetuk pintu, wanita itu membuka pintu namun wajahnya terlihat shock. Ia berteriak histeris. Aku berlari mengejarnya karena aku takut wanita itu terjadi apa-apa. Wanita itu berlari tanpa tujuan. Ternyata memang benar, terdengar di ujung blok sana orang-orang berteriak. Sesuatu terjadi pada wanita itu. Aku tidak melihat dengan pasti bagaimana wanita itu tertabrak. Hanya saja menurut polisi yang berada disana, wanita itu berlari dan berteriak dengan histeris. Ia seperti ketakutan. Ia menyebrang jalan tanpa melihat kekiri dan kekanan. truk besar itu menabrak wanita itu tanpa peringatan."


Joan menutup mulutnya membayangkan semua yang terjadi pada Lily. Hanya satu terlintas di kepalanya. Apakah Lily gila? Mengapa karma ini begitu cepat terjadi padanya? Pada awalnya ialah yang disakiti. Tapi, mengapa keadaan jadi terbalik? Tunggu, bagaimana dengan Alv? 


Ia berjalan memasuki ruang ICU. Baru saja membuka tirai, ia melihat Alv sedang menatapnya penuh sayang. Keadaan bisa berubah kapanpun tanpa kita sadari. Baru kali ini ia melihat Alv panik dan kesedihan di wajahnya. Ia menutup kembali tirai dan berdiri dibaliknya. Ketika ia mulai melangkah, ia mendengar Alv mengatakan sesuatu.


Mengapa Alv harus minta maaf? Joan memegang dadanya. Ada sedikit sesak disana. Apakah ia cemburu?


                                                                                        ***


Alv memegang tangan hangat itu. Ia menatap Lily. Ia teringat kejadian ketika Lily masuk rumah sakit karena terjatuh. Ia panik. Jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, yang pertama kali disalahkan adalah dirinya. Tidak peduli dengan status Lily yang bukan adik kandungnya. Ia menyayangi Lily. Itu tidak mengubah apapun. Kecuali sikap gilanya pada Joan terakhir kali. Ia sangat marah, namun melihat kondisinya saat ini, balasan itu lebih dari cukup.


"Sudah cukup bermain-main, Aysun! Kau tetap adikku. Itu tidak akan mengubah apapun. Cepatlah sadar. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu."


Iapun berjalan keluar. Ia menyadari sudah cukup lama berada didalam. Sedangkan Joan, ia bersalah membentaknya tadi. Emosinya buruk ketika mengetahui keadaan Lily. Ia mengingat ucapan terakhir ayah dan ibu tirinya untuk menjaga  Lily Aysun. Ia orang yang menepati janji pada siapapun. Ketika keluar dari ruangan, ia melihat Joan sedang duduk diruang tunggu. Tidak ada orang lain karena menjelang pagi. Joan menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Iapun duduk disampingnya dan menggenggam tangan Joan dengan erat.


"Maafkan aku. Emosiku tidak stabil." ucap Alv.

__ADS_1


"Aku sempat terkejut dengan sikapmu yang seperti ini. Rasa sayangmu pada Lily berlebihan. Aku sempat cemburu tadi." ucap Joan sambil tersenyum hambar.


Alv menoleh padanya. "Kau cemburu?" tanyanya sambil tersenyum.


Joan mengangguk. "Aku sempat berfikir, jika aku mengalami hal seperti Lily, apakah kau akan melakukan hal yang sama?"


Alv menyandarkan kepalanya di bahu Joan. "Aku akan mati jika terjadi sesuatu padamu. Aku panik dan emosiku memuncak karena aku mengingat setiap janji yang sudah aku ucapkan pada ibu tiriku. Aku takut menjadi orang yang tidak bisa menepati janji. Maafkan aku jika kau menganggapku terlalu berlebihan."


"Aku memaafkanmu. Tapi aku tidak akan sanggup jika aku melihat orang yang aku cintai menaruh perhatian lebih pada wanita lain." bisik Joan.


"Lily bukan wanita lain. Sejak dulupun aku menganggapnya hanya seorang adik."


"Lalu apalagi yang akan kau lakukan?" tanya Joan.


"Aku akan berada disini hingga Lily membaik. Aku tidak ingin berpisah denganmu, tapi alangkah baiknya jika kau pulang ke rumah dan beristirahat. Besok kau bisa membawakanku pakaian. Malam ini kau sudah terlalu lelah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku pun seorang dokter." jawab Alv


"Lalu malam ini aku akan tidur sendiri?" rengek Joan.


"Maafkan aku. Ketika Lily sudah membaik, aku akan berada disisimu."


Itulah kata-kata yang terakhir kali Alv katakan kemarin malam. Suasana rumah sakit sedikit ramai. Ia bisa melihat beberapa perawat tengah berbincang dengan dokter muda. Kemudian ia melihat seorang wanita hamil yang sedang diantar oleh suaminya. Semuanya tampak baik-baik saja kecuali dirinya. Ketika ia melihat dirinya didepan cermin, ia hanya melihat lingkaran hitam di kedua matanya. Ia tidak bisa tidur memikirkan keberadaan Alv yang tidak ada disampingnya.


Ruang ICU sudah terlihat olehnya. Seorang perawat menghampirinya.


"Apakah kau keluarga Lily Aysun?" tanya pria itu ramah


Joan mengangguk. "Mengapa kau tahu?"


"Semalam aku berjaga. Aku melihatmu seorang diri di ruang tunggu sebelum suamimu datang. Adikmu sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kau bisa menemuinya disana." ucap pria itu. Ia melihat tas yang sedang ia bawa. "Boleh aku bantu?"


Joan tersenyum. "Tidak perlu. Ini tidak berat. Tadi kau katakan, Lily sudah dipindah. Itu berarti ia sudah siuman?"

__ADS_1


"Tadi pagi ia siuman. Kakaknya yang memintanya langsung dipindah ke ruang perawatan. Suamimu adalah seorang dokter handal. Ia terus menjaga adiknya." ucap pria itu.


Joan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Iapun mulai berbalik arah menuju ruangan yang pria tadi katakan. Ia melihat ke jendela yang ada didekat pintu. Ia membukanya sedikit. Terdengar sebuah percakapan antara keduanya. Ia hanya terdiam. Ia tidak mampu berdiri lebih lama. Kedua kakinya lemas. Ia menutup pintu kembali dan duduk di kursi tunggu yang berada diluar ruangan.


__ADS_2