Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Two Pray


__ADS_3

"Joan Lee, aku tidak tahu alasan kau pindah secara tiba-tiba ke tempat ini. Aku ingin mendengarkannya sekarang! "


Joan menatap ke depan kolam. Ia berharap pria yang sudah menjadi suaminya itu akan muncul jika ia pindah ke tempat baru. Sebuah rumah dengan nuansa mediteranian. Ia mendapatkannya dari salah satu agen perumahan yang memang telah Joan minta sebelumnya. Rumah itu tidak terlalu besar seperti keinginannya. Namun banyak sudut yang membuatnya senang. Jika ia memasuki gerbang, ia langsung berada di samping kolam renang yang tidak terlalu besar. Rumput-rumput sintetis berada di samping kiri mengelilingi kolam renang. Pot-pot bunga tergantung dan berada di lorong sepanjang langkahnya menuju pintu masuk ke dalam rumah. Memasuki rumah, ia bisa melihat sebuah lampu gantung raksasa yang memang sudah terpasang ketika ia membelinya. Ada sofa berukuran super besar yang bisa ia gunakan untuk bersantai. Ia pikir pilihannya tepat.


"Joan, dad sedang bicara denganmu.. " bisik Anastasia.


Joan tersadar pada lamunannya ketika ia mendapatkan rumah ini untuk pertama kalinya. "Kenapa? " bisiknya.


"Ayahmu sejak tadi berteriak. Ia marah karena kau pindah dari rumah. " bisik Anastasia.


Joan menghampiri ayahnya dan merangkul lengannya. "Dad.. lihatlah, aku sudah menikah sekarang.. " ucap Joan sambil mengangkat jari manisnya. Walaupun pada awalnya itu bukan miliknya, namun kini tersemat dalam jari manisnya sebuah cincin berlian yang tidak bisa diungkapkan betapa indahnya cincin itu.


"Aku tidak melihat kau sudah menikah. " tolak Lee. "Jangan biarkan aku mencekik pria itu ketika aku melihatnya secara langsung! Tidak ada pasangan suami istri yang hidup masing-masing. Kau bahkan tidak tahu dimana ia tinggal. Pernikahan apa itu? " tanya Lee marah.


"Dad, apakah dad tahu tentang perasaanku? " tanya Joan.


"Kau menikahi pria itu untuk menutupi rasa malu. Untuk apa kau berkorban seperti itu? "


"Karena aku mencintainya, dad. Dia pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Aku akan bekerja keras agar ia mencintaiku juga. Walaupun semuanya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Tapi setidaknya aku akan berusaha. Jangan lupa. Stigma dad sejak awal selalu menganggap ku penyuka sesama jenis. Aku ingin mematahkannya."


"Anak bodoh." jawab Lee kesal. Namun ucapan Joan tidak salah. Karena Joan terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia tidak pernah meluangkan waktunya untuk mencari seorang pacar. Ia pikir Joan memang penyuka sesama jenis karena di sekitarnya selalu dikelilingi wanita cantik.


"Aku bodoh tapi aku juga anakmu dad. " ucap Joan sambil memeluk ayahnya.


Lee melepaskan tangan Joan dan duduk di salah satu sofa. "Terkadang aku berfikir. Apakah kedua anakku harus mengalami hal yang sama? Jika hal itu terjadi pada Dean, aku akan membiarkannya agar ia layak disebut pria sejati. Tapi jika hal itu menimpamu, aku harus peduli. Aku tidak mau kau disakiti. "


"Tidak ada yang menyakitiku, dad.. " Seru Joan.


Lee melihat ke sekeliling rumah. "Apakah kau berani tinggal sendiri disini? Apakah kau bisa menjaga dirimu baik-baik?"

__ADS_1


Joan menghela nafas. Mengapa ayahnya menjadi seorang pria melankolis? Wajahnya terlihat sedih.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, dad. Lalu, apakah dad sekarang memaafkan ku karena kepindahan ini? "


"Aku hanya takut ada orang yang berbuat jahat padamu. Lagipula kau tinggal di sebuah perumahan real estate. Banyak kawanan pencuri di daerah ini. "


Joan tersenyum. "Tidak ada dad. Kawasan ini aman. Banyak security yang berjaga. Tidak banyak orang yang bisa masuk ke kawasan ini sembarangan.


Anastasia keluar dari sebuah ruangan. Ia membawa tiga gelas air minum. " Aku sudah mencoba dapur minimalis milikmu. Aku menyukainya. Rumah ini memang disebut layak sebagai rumah keluarga. Semuanya hangat. "


"Kau melihatnya bukan? Aku membelinya cukup mahal. " jawab Joan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Dad, apakah kau akan datang ke acara fashion show ku?"


"Kapan? "


"Minggu depan. Tapi Dean mengatakan padaku untuk ikut dengannya ke acara award dihari yang sama. Aku pikir hal itu bisa berguna untuk rancangan ku. Para aktris akan melihatku dan Jessy saat memakai gaun yang sudah aku rancang beberapa hari ini. Aku harap impact nya akan bagus. "


"Kau tahu kapan Dean pulang? " tanya Anastasia.


"Beijing? Untuk apa? " tanya Lee.


...***...


"Aku berharap ada keajaiban ketika kita berada di sini." ucap Dean. Ia membawa sebuah gelas dengan obat ditangannya. Ia menyerahkannya pada istrinya.


Brittany tersenyum. Perjalanan bulan madu kali ini bermakna. Bagaimana tidak, Dean membawanya ke sebuah tempat yang bisa membuatnya sembuh. Selain terharu, ia pun semakin mencintai pria didepannya. Ia mengambil gelas dan obat itu kemudian meminumnya dengan cepat. Setelah selesai, ia menyerahkan kembali pada Dean.


Dean menyimpan gelas itu dan duduk di sofa. Ia menatap Jessy yang sedang menatap keluar. Walaupun panas, tetap tidak mengurangi rasa penasaran istrinya untuk melihat perayaan tahunan kota Beijing dari atas balkon hotel yang mereka tinggali.


"Jessy! " panggil Dean.

__ADS_1


Jessy berbalik dan menghampiri Dean. Ia membalas uluran tangan Dean. Pria itu menarik tangannya untuk mendekat. Ia membiarkan dirinya duduk dipangkuan suaminya.


"Kenapa?" tanya Jessy.


Dean memeluk tubuh yang berada di atas pangkuannya dan menyandarkan kepalanya di dada wanita itu.


"Aku tidak pernah lelah berharap keajaiban akan menghampiri kita. Aku hancur ketika mendengar bayi kita tidak bisa selamat. " ucapnya pelan. Ia menghela nafas. "Padahal kau tahu aku sangat menginginkannya saat itu."


Jessy memegang lengan Dean. "Darimana kau tahu tempat ini? "


"Aku diberitahu Miranda. Ia sangat peduli padamu. Ia menyesal karena pernah berbuat hal yang tidak menyenangkan padamu." ucap Dean.


"Ia sangat baik padaku sekarang. Oh ya Dean, kapan kau akan membuat film baru?"


Dean mengangkat kepalanya. "Kenapa?"


Melihat wajah terkejut Dean, Jessy tak kuasa untuk tertawa. "Kenapa wajahmu seperti itu? Apakah kau berfikir aku meminta sebuah film? "


Dean mengangguk cepat. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya. Apalagi untuk sebuah adegan-adegan yang membuatku kesal."


"Aku hanya bertanya, aku bukan meminta sebuah film yang bisa aku perankan. Aku memperhatikanmu karena setelah film yang saat ini masih diputar, kau harus memikirkan film yang akan kau produksi kembali. Kau tidak mungkin memberikanku sebuah cek kosong untuk menunjang kecantikan ku bukan? " goda Jessy.


Dean menjauhkan kepalanya. Salah satu alisnya terangkat. "Kau takut miskin? "


"Tentu saja.." seru Jessy dengan suara nyaring. Namun ia tersenyum karena tak kuasa menggoda suaminya.


"Sebelum aku membuat film, kita harus pergi ke acara award minggu depan. Tapi sebelum itu, kita akan sangat sibuk sekali. Jangan coba-coba sekalipun mengganggu! " geram Dean. Ia berdiri sambil mengangkat tubuh Jessy.


Jessy tertawa mendengar nada kesal suaminya. Akhir-akhir ini ia senang sekali menggoda suaminya karena reaksinya yang tidak terduga. Dean sering mempercayai kata-katanya. Bahkan sekalipun ia berbohong, Dean akan mempercayainya. Ia pun berharap jika usaha mereka dapat membuahkan hasil yang baik. Bukan hanya kebahagiaan bagi keluarga Lee, tapi kebahagiaan bagi keluarga Jonas.

__ADS_1


Jessy menatap wajah yang tengah tertidur itu. Ia mengangkat salah satu tangannya. Jari-jarinya menyentuh wajah pria itu. Siapa sangka balas dendamnya gagal. Ia telah gagal. Tapi kalaupun balas dendam itu berhasil, ia tidak yakin akan bahagia saat ini. Ternyata, jika semua masalah diselesaikan dengan baik, hasilnya pun akan baik. Ia tidak mau menyalahkan siapapun karena ia pikir ia dan Dean memang bodoh. Berpikir kembali. Jika mereka berdua tidak bodoh, ia tidak akan menemukan orang tua kandungnya. Dean tidak akan membuat film romantis kesukaannya. Dan ia tidak akan menjadi aktris. Ia akan terus berjibaku dengan pakaian kotor di tempat laundry.


Ia mengangkat salah satu tangan Dean dan tidur dalam pelukannya. Ia menutup matanya. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana dengan kabar Joan dengan Alv? Apakah mereka bahagia? Ia akan mengetahuinya nanti ketika mereka pulang.


__ADS_2