Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Seriously?


__ADS_3

Jessy berniat tidak akan tidur setelah pulang dari perjalanan jauh. Tapi matanya berkehendak lain. Ketika ia membaringkan tubuhnya, matanya mulai terbuai keheningan kamar.


Ketika ia membuka matanya, ia melihat diluar sudah gelap. Entah berapa lama ia tidur. Namun tubuhnya menjadi lebih ringan. Ia menatap ponselnya yang ia simpan diatas meja rias. Ia belum menghubungi Dean. Iapun bangun dan merentangkan kedua tangannya. Kemudian ia turun dan berjalan menuju meja rias.


Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dean pasti sudah kembali ke hotel. Iapun mulai menghubungi ponsel suaminya. Ia menunggu namun tidak ada jawaban. Apa mungkin ia masih syuting?


Terdengar ketukan pintu kamarnya sesaat setelah ia menyimpan kembali ponselnya.


"Jessy.. kau sudah bangun? Kita makan malam.." seru Joan diluar


"Iya!" jawab Jessy. Iapun berdiri dan membuka pintu. "Maafkan aku. Aku kelelahan.."


Joan tersenyum. "Tidak apa-apa. Mom menyuruhmu untuk makan malam. Sejak siang kau berada didalam kamar."


Jessy mengangguk. Ia berjalan keluar. Ia masih tidak menyangka ternyata Joan seorang wanita yang menyenangkan.


"Apakah kau melihat gosip hari ini?" tanya Jessy tiba-tiba.


"Belum ada. Masih mengenai fansclubmu." jawab Joan.


"Apakah aku terlihat cocok menjadi seorang aktris?" tanya Jessy membuat langkah Joan terhenti. Ia membalikkan tubuhnya. "Apakah kau ingin menjadi aktris?"


Jessy menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kehidupan seorang aktris tidak mudah. Menjadi seorang istri sutradara saja membuatku tidak bisa bergerak banyak."


"Kau menyesal?"


"Tidak sama sekali. Jika sutradara itu bukan Dean, mungkin aku berfikir lain."


Joan tersenyum. Melihat kepolosan dan ketulusan Jessy, ia merasa tenang.


Diruang makan, Lee dan Anastasia sudah menunggu mereka berdua. Karena merasa tidak enak, Jessy menghampiri keduanya dan memeluk mereka satu persatu.


"Maafkan aku tidak langsung menghampiri kalian ketika baru saja pulang tadi."


Lee tersenyum. "Apakah kau masih shock?" goda Lee


Jessy menatap Lee. "Dad..aku pergi ke Yunani untuk memberikan kejutan pada Dean, namun sayangnya aku tidak tahu jika kedatanganku diketahui oleh paparazzi disana."


"Itu bagus sekali karena berita mengenai Dean dan Rossy hilang." jawab Lee


Jessy tersenyum. Ia kemudian menatap Anastasia. "Maafkan aku mom. Oh, kapan kalian akan pergi?"


"Malam ini. Kalian berdua tinggalah disini. Akan lebih menyenangkan jika kalian berdua saling mengenal." ucap Anastasia.


Joan langsung merangkul bahu Jessy. "Tentu saja. Kami sudah dekat tanpa kalian minta."

__ADS_1


Jessy hanya tersenyum. Ia kemudian duduk di kursi yang berada disamping Lee.


"Jessy.. jika ada masalah jangan lupa untuk beritahu kami. Perjalanan kalian tidak akan mudah. Dean seorang pria yang bergairah dan bersemangat. Ujian pernikahan kalian mungkin sewaktu-waktu akan terjadi. Dad meminta padamu untuk terus berada disamping Dean. Ia yang hanya bergantung padamu selama ini. Jika kau lelah, kau bisa bercerita pada Joan. Dan mulai esok, kau akan belajar kepribadian padanya. Kami ingin kau menjadi seseorang yang pantas bersanding dengan Dean. Kami ingin kau menjadi lebih pintar dalam menyikapi sesuatu." ucap Lee serius.


"Dad, kenapa kau berkata seperti itu? Aku mulai merasa takut." ucap Jessy.


"Dad bukan menakutimu. Hanya saja, melihat kesibukan Dean saat ini, kemungkinan ia bertemu denganmu akan sedikit sulit. Dan peluang untuk mendapatkan kekasih baru akan terbuka. Kecuali jika kau yang menghampirinya. Namun Dean mirip denganku, ia tidak mungkin tergoda dengan wanita lain." ucap Lee tenang. "Kekhawatiran itu pasti selalu ada." tambahnya.


"Aku harap itu tidak akan terjadi." ucap Anastasia.


"Asal kau tahu, tidak semua orang akan menyukaimu. Terutama orang-orang yang berada di lingkaran Dean. Aku sudah menjadi sutradara lebih dari dua puluh tahun. Aku tahu apa yang terjadi. Rossy dan Harris adalah dua orang yang harus kau waspadai."


Jessy terhentak. Bagaimana ayahnya bisa tahu?


"Kenapa kau terkejut? Berarti ucapanku benar?" tanya Lee.


Jessy menunduk. "Tolong jangan beritahu Dean tentang ini. Rossy terang-terang mengatakan jika ia mencintai Dean. Dan Harris datang untuk membelanya."


Joan menggebrak meja. "Apakah Dean tahu?"


Jessy menggelengkan kepalanya. "Film ini merupakan taruhan Dean. Ia bertaruh banyak pada film ini. Aku tidak mau masalah kecil ini akan mempengaruhinya."


"Menurutmu ini masalah kecil?" tanya Joan tidak percaya.


"Aku sudah biasa mengalami kejadian yang lebih buruk dari ini. Menurutku ini masalah kecil. Aku percaya pada Dean. Dad tenang saja. Semuanya bisa kami selesaikan tanpa menyakiti siapapun."


Jessy tersenyum. "Tidak mungkin dad."


"Kalau begitu, kita makan sekarang. Kau terlihat kurus. Apakah Dean tidak memberimu makan ketika berada di Yunani?" tanya Lee serius


"Tidak mungkin Dad, aku yakin ia yang mengurangi jam tidur Jessy." goda Joan sambil tertawa.


...***...


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Dean ketika ia menghubungi ponsel Jessy. Suaranya terdengar malas.


"Aku baru saja kembali ke kamar. Aku tadi berbincang dengan ayah, ibumu dan Joan. Mereka semua menyenangkan."


"Joan memang kakak terbaik. Kau bisa merasakannya bukan?"


"Ya. Apa yang kau lakukan? Aku menghubungimu tapi tidak kau angkat." ucap Jessy sambil merebahkan tubuhnya.


"Aku masih berada di lokasi syuting." Dean mengatakannya dengan malas. "Tidak ada yang harus aku lakukan di hotel. Kau tidak ada disana. Aku tidak harus pulang cepat. Lebih baik aku menyiksa kru dan artis disini."


"Aku yakin Dean telah kehilangan penyemangatnya."

__ADS_1


"Kau tahu itu. Mungkin dua minggu kedepan aku akan pulang untuk menemuimu. Bisakah kau sediakan sesuatu yang bisa membuatku terharu?" goda Dean.


Jessy tersipu malu. "Apapun akan aku berikan Dean. Tapi, apakah kau benar-benar tidak bisa hidup tanpa aku?" goda Jessy


"Kau tahu itu."


"Kapan kau pulang?"


"Itu tidak akan menjadi kejutan jika aku memberitahumu."


"Kau ingin membalas dendam padaku?"


"Ya." jawab Dean sambil tertawa. Ia kemudian menambahkan. "Sayang, kau tahu... setelah mendengar suaramu, aku bisa mendapatkan kembali energiku."


"Dean, aku malu. Jangan terus menggodaku. Kau tahu? ketika aku berada di bandara tadi, ada beberapa orang yang menghampiriku untuk meminta foto. Apakah kau tahu jika aku sudah menjadi artis sekarang? Kau harus berhati-hati karena kau akan mendapatkan banyak saingan."


"Aku akan membunuh mereka semua." jawab Dean dengan nada kesal.


Jessy tertawa. "Aku takut."


"Tidak akan ada yang bisa merebut mu dariku!" seru Dean.


"Dean, aku bercanda. Kau terlalu serius. Tadi aku mendapatkan nasihat dari Dad. Ia terlalu baik, Dean.."


"Aku yakin ia memintamu untuk terus berada disampingku."


"Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Jessy bingung.


"Ketika aku bertemu dengan Dad terakhir, ia terus mengatakan untuk melanjutkan pernikahan ini sampai kita memiliki cucu untuknya. Jessy, aku bertanya padamu serius. Apakah kau berniat memiliki seorang anak denganku?"


Jantung Jessy berdebar dengan kencang. Ia tidak menyangka pembicaraan dengan Dean sedikit serius. Padahal ketika berada di Yunani, mereka tidak pernah berbicara dengan serius seperti ini.


"Jessy.. Aku sedang bertanya padamu."


"Mm.. jika memang aku diberikan mukjizat seperti itu, aku tidak mungkin menolaknya bukan?"


Dean tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Aku menyukai anak kecil. Aku ingin kau mengandung anakku beberapa kali."


Jessy tertawa. "Apa maksudmu?"


"Jessy..." ucapnya pelan


"Ya.."


"Aku harus jujur padamu.."

__ADS_1


"Ya.."


"Aku tidak memakai pengaman ketika kita melakukannya terakhir kali." ucap Dean sambil mematikan ponselnya.


__ADS_2