Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Yes, I do


__ADS_3

Alv melangkah penuh semangat menuju rumah sakit. Ia senang karena berita mengenai Brittany tidak muncul. Ia ingin merayakan kesembuhan Brittany. Menurut Joey tadi malam, hari ini ia diijinkan untuk pulang. Ia datang hanya untuk menjemputnya pulang. Dan tentu saja melakukan sesuatu.


"Dokter Alv! " panggil seseorang.


Alv cukup terkejut di New York ada yang mengenalinya. Ia berbalik. Seorang pria keturunan timur tengah yang melakukan penelitian dengannya di kawasan Asia Tenggara sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Dr. Fakhri?" tanya Alv.


Pria itu menghampirinya. "Apa yang kau lakukan disini?"


"Menemui calon istriku. Ia sedang dirawat. Tapi hari ini ia pulang." jelas Alv.


"Aku senang mendengarnya. Jika ada sesuatu, kau bisa menghubungiku. Siang ini aku harus menghadiri presentasi."


Alv mengangkat kedua bahunya. "Baiklah. Jaga dirimu baik-baik."


Pria itu melambaikan tangannya dan berjalan dengan cepat menuju ruang pertemuan. Terlihat dari papan nama yang terpasang diatas.


Alv kembali berjalan. Ia melihat seorang dokter masuk kedalam kamar Brittany. Ia pun mengikutinya dengan cepat.


"Alv.. " panggil Brittany senang.


Ia terlihat sangat baik hari ini. Alv mendekat dan memegang tangannya. "Bagaimana kabarmu? "


"Aku baik-baik saja." jawab Brittany.


Alv membiarkan dokter memeriksanya. Ia menyimpan bunga disamping Brittany. Ia menatapnya sambil tersenyum. Tidak pernah ia merasa senyaman ini. Wanita yang dicintainya ada didepannya. Sepertinya waktunya sudah pas.


"Kau sudah baik. Aku mengijinkan mu pulang hari ini." ucap dokter yang memeriksa Brittany.


"Terimakasih dok." jawab Brittany senang. Ia melihat dokter itu berjalan keluar.


"Aku senang kau sembuh." ucap Alv. Ia kemudian menggenggam tangan Brittany erat. "Aku mencintaimu, Brittany. Jika kau mengatakan tentang masa lalumu, bisakah kau lupakan itu? Aku tidak akan menuntutmu apa-apa. Aku baik-baik saja jika kau tidak bisa memberikan keturunan. Banyak cara yang bisa kita lakukan. Jika hal itu yang menjadi pertimbangan mu, aku mohon pertimbangkan perasaanku." jelas Alv.


"Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?" tanya Brittany bingung.


Alv menarik tangan Brittany untuk berdiri. Sekarang mereka berhadapan. "Karena kau selalu sulit untuk didapatkan. Ketika waktunya sudah pas, aku ingin mengatakan hal yang penting padamu. Aku sudah membicarakan ini dengan orangtuamu dan dengan semua orang yang kita kenal. Mereka mendukungku."


"Bisa kau katakan intinya saja? Aku tidak suka sesuatu yang berputar-putar."


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Alv dengan jantung berdebar.


Brittany tersenyum. "Jika aku mengatakan tidak, apakah kau akan marah?"

__ADS_1


Alv mengangguk dengan memberikan wajah kecewanya.


"Kalau begitu, ayo kita lakukan! " jawab Brittany.


Alv terkejut. "Benarkah? Kau mau menikah denganku?" tanyanya tak percaya.


"Ya. Aku mau." jawab Brittany.


Alv tidak percaya Brittany akan menerima lamarannya yang secara mendadak itu. Ia memeluk dan mengangkat tubuh Brittany. "Terimakasih. Aku senang sekali."


Brittany tersenyum. Ia harap keputusannya tepat. Ia tidak ingin Dean mengharapkannya kembali karena ia sudah mengubur perasaan itu dalam-dalam. Sejak kejadian penculikan itu, ia sering bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia masih bisa bersama Dean? Jawaban hatinya adalah tidak. Ia membutuhkan pria lain untuk menjaganya. Ia bisa menata kembali hatinya yang sudah hancur berkeping-keping pada seorang pria yang tepat. Alv bukan pria sembarangan. Ia pria yang baik dan bertanggungjawab. Ia bahkan tidak peduli dengan masa lalunya dan kelemahannya sebagai seorang wanita. Kemudian apa salahnya jika kali ini ia menerima lamarannya?


...***...


Suara ketukan tongkat terdengar sangat lambat. Dean murung. Ia berjalan dengan sangat pelan menuju kamarnya. Kedua kakinya masih sakit namun ia bisa menahannya. Seharusnya pasien lain melakukan therapy untuk kesembuhan kakinya, tapi ia malah pergi menuju kamar lain.


Ia membuka pintu kamarnya. Lana masih berada disana. Ia sedang duduk disofa sambil menggambar sesuatu.


"Lana.. kau bisa bantu aku ke atas tempat tidur? " tanya Dean.


Lana terkejut dan menghampirinya dengan cepat. "Kenapa kau sudah kembali? Kau sudah bertemu Brittany? Bagaimana keadaannya?"


Dean tersenyum masam. "Ia baik-baik saja. Aku ingin istirahat. Bisakah kau tidak menggangguku? " tanya Dean serius.


"Kau cukup diam dan tetap berada disini." jawab Dean.


Ia kemudian dibantu Lana kembali ke tempat tidur. Ia penasaran. Dean tidak pernah tertutup padanya.


"Dean? " tanya Lana


Dean berbaring dan menutup matanya. "Jangan tanya apapun padaku, Lana. Kau diam saja disana." ucapnya.


Lana duduk namun hatinya tidak tenang. Ia terus menatap Dean. Ia yakin ada sesuatu. Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Lana berdiri untuk membukanya. Brittany dan pria itu berada didepan kamar Dean. Apakah terjadi sesuatu pada mereka?


"Brittany? " tanya Lana.


"Lana, aku ingin melihat keadaan Dean. Sejak kejadian itu, aku tidak tahu keadaan Dean." ungkap Brittany.


Lana melihat Dean yang masih tidak berkutik di atas tempat tidur.


"Masuk lah.. "


Brittany menghampiri Dean. Ia melihat keadaannya. Satu pasang tongkat berada disamping tempat tidur. Ia merasa tersentuh.

__ADS_1


"Dean, kau tidur? " tanya Brittany.


"Aku lelah. Aku ingin tidur. Kau bisa lihat aku baik-baik saja. Jika kau ingin berpamitan, pergilah. Maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang." jawab Dean dingin.


Lana terkejut dengan jawaban Dean. Ia menatap Brittany cepat. Ia kemudian melihat Dean yang masih saja memunggunginya. Ia menghampiri Dean. "Maafkan aku tapi sepertinya Dean memang kelelahan. Kau tidak perlu cemas." jawab Lana.


Brittany menatap Lana. "Lana, bisakah aku berbicara dengan Dean? "


Lana melirik pada Dean. Kemudian ia melihat pria yang berdiri di samping Brittany. "Ia ikut keluar? " tanya Lana.


"Alv, keluarlah. Nanti aku menyusul. Aku hanya berpamitan pada Dean. " ucap Brittany.


Alv dan Lana keluar dari kamar Dean.


Brittany menghampiri ranjang Dean. "Dean, hari ini aku pulang. Aku ingin berterima kasih padamu. Pertolonganmu tidak akan aku lupa."


Dean membuka matanya. Ia duduk diatas tempat tidur dan menatap Brittany. "Jangan ingat pertolongan dariku. Itu semua hanya sebuah kebetulan. Lagipula Harris temanku. Sudah seharusnya aku berada di sampingnya."


"Satu lagi, Dean." ucap Brittany. Ia mengangkat tangannya dan memamerkan sebuah cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Aku harap kau bahagia." jawab Dean dingin. Ia kembali membaringkan tubuhnya.


"Cerita mengenai kita sudah selesai, Dean. Aku akan menikah dengan Alv. Aku pun berdoa untuk kebahagiaanmu. Lupakan aku. Jangan pernah mengingat jika aku pernah ada di hidupmu karena aku akan terbebani dengan itu. Aku ingin hidup bahagia. Dan kau juga pantas untuk bahagia. Selamat tinggal, Dean. Aku berdoa agar kau menemukan wanita yang mencintaimu apa adanya."


"Keluar!" ucap Dean tegas. "Aku tidak perlu diceramahi. Keluarlah. Jangan ganggu aku."


Perlahan Brittany keluar dari kamar Dean.


Lana berlari kedalam. Ia melihat Dean yang sudah berbaring kembali.


"Dean... Dean... benarkah yang aku dengar? " tanya Lana shock.


Dean masih menutup matanya.


"Dean!" panggil Lana. "Dean, aku tidak akan pernah setuju jika Brittany menikahi dokter itu. Tidak akan! Pengorbanan mu tidak terlihat olehnya. Brittany hanya memikirkan dirinya sendiri."teriak Lana kesal.


"Lana, diam! " jawab Dean kesal.


Lana langsung menutup mulutnya. Ia tidak percaya Brittany melakukan ini.


Dean menyentuh dadanya.


Hati.. Berakhir kah ini? Ketika ia datang untuk kembali, jantung ini kembali berdetak dengan kencang. Kemudian ketika ia pergi dan tidak akan pernah kembali, jantung ini kembali berdetak dengan kencang. Namun, hati ini terasa sakit.

__ADS_1


Hati.. bisakah kau diobati setelah pengorbanan yang sia-sia ini? Bisakah kau bertahan untuk tetap kuat?


__ADS_2