
Koridor rumah sakit nampak lengang. Tidak terlihat aktifitas pasien diluar kamar. Alv melihat sebuah kamar yang terbuka. Ia masuk untuk mengecek salah satu pasien. Kali ini pasiennya adalah seorang bintang sepakbola yang mengalami retak ligamen sehingga ia harus melakukan operasi.
“Suster, bisa kau ambilkan data mengenai operasi dua hari yang lalu? “
Suster itu tidak mengatakan apapun. Ia langsung keluar dari kamar. Cukup membuat Alv terkejut. Tidak pernah sekalipun suster disini mengabaikannya. Ia ingat. Sejak pagi tadi, ia mendapat beberapa sorot mata yang tidak biasa. Ia terbiasa menggoda para suster setiap pagi, namun hari ini berbeda. Mereka nampak serius dan tidak mau melihatnya. Ia akan mencari tahu nanti. Ia kemudian memeriksa pasien itu sebentar kemudian keluar ruangan.
Ketika ia berjalan di lorong, ia kembali melihat salah seorang suster yang ia kenal. Wanita berusia 40 tahun itu bisa dikatakan senior di rumah sakit ini. Pengalamannya sangat banyak. Terkadang jika ia meminta bantuan, hanya suster itu yang dapat membantunya tanpa meminta balas jasa.
“Suster Shara! “ panggil Alv.
Suster itu melirik sejenak dan mengangguk. Ia berjalan menghampiri Alv. “Apa yang bisa dibantu, dok? “ tanyanya serius.
“Apa yang terjadi dengan suster-suster lain?" tanya Alv bingung.
"Tidak ada. Kami masih melanjutkan pekerjaan seperti biasa."
"Aku pikir tidak. Atau, apakah aku salah? Mereka semua menatapku penuh kebencian" ucap Alv. Ia melihat salah satu suster keluar dari salah satu kamar.
"Suster!" panggil Alv. Ia kemudian menatap suster senior didepannya. "Kau tanyakan sendiri."
Suster Shara mengerutkan keningnya. Ketika ia melihat suster junior itu menghampirinya, ia tak kuasa bertanya karena penasaran.
"Apakah suster yang lain bekerja dengan baik?" tanya Suster Shara.
"Mereka bekerja seperti biasa." jawabnya
"Apakah ada gosip yang membicarakan ku akhir-akhir ini?" tanya Alv hati-hati. Ia menunduk untuk mendengarkan suster itu bicara. Tubuhnya yang tinggi terpaksa harus melakukannya.
Suster itu menatapnya malas dan sedikit menjauh. Alv melirik pada Suster Shara. Iapun tampak kebingungan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan dokter Alv? Kenapa suster-suster yang lain menghindarinya? Katakan.." tanya Suster Shara.
"Karena berita tadi malam. Dokter Alv telah memiliki kekasih. Bagaimana bisa kami terima? Banyak dari kami yang patah hati karena berita semalam. Yang lebih patah hati adalah kekasih dokter Alv yaitu pasien yang selama ini kami curigai. Karena pasien itu sudah pasti tidak dapat ditandingi." jelas Suster muda itu polos.
Alv tak kuasa menahan tawa mendengar ucapan suster muda itu. Ia kemudian menatap suster Shara. "Kalau itu, aku tidak akan bertanggungjawab. Kau bisa mengurusnya untukku.." ucapnya sambil berjalan menjauhinya. Tidak ada yang membuatnya tertawa bahagia seperti saat ini. Ia masih mendengar ucapan suster muda itu berkata. "Lihatlah suster Shara, dokter Alv bahkan tidak membantahnya. Berarti berita itu benar adanya.."
Walaupun tidak ada berita mengenai mereka sama sekali, tapi wajah Brittany sering muncul di acara yang ditayangkan di seluruh acara televisi. Banyak yang mulai bertanya-tanya. Pagi ini saja ia mendapatkan telepon dari seorang pasiennya yang bertanya mengenai Brittany. Pesona Brittany memang tidak main-main. Banyak yang memuji kecantikannya. Namun siapa yang tahu jika wajahnya yang sekarang hasil dari tangannya. Perubahan sebanyak 50 persen diwajahnya membuat Brittany nampak mempesona.
Ketika didalam ruangan, ia mendapatkan panggilan dari seseorang. Ia cukup terkejut dengan seseorang yang menghubunginya.
"Halo.."
"Dokter Alv, kau pasti mengenalku." ucap seseorang dibalik telepon.
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal orangtua pasien. Bagaimana kabarmu, Isabela?" jawab Alv tenang. Ia tidak menyangka gosip itu akan sampai ke Austria.
"Aku sedang di bandara. Bisa kita bertemu sebelum aku bertemu dengan putriku?" tanya Isabela. Kali ini ia pergi seorang diri karena keras kepala. Ia harus mendengar dari Brittany mengenai keputusannya menjadi artis. Ia tidak tenang. Pengalaman pahit Brittany seharusnya sudah cukup. Tapi mengapa putrinya memutuskan hal seperti itu tanpa berunding dengan orangtuanya?
"Kau tahu bagaimana ketakutan ku jika Brittany memutuskan untuk masuk ke dunia hiburan?" tanya Isabela dengan nada cemas. Mereka berada disalah satu cafe bandara.
Alv mengangguk. "Aku mengerti. Maaf, semalam aku tidak mengawasinya sehingga ia bertemu dengan salah satu manajer artis. Semalam produk yang aku kenalkan memakai seorang artis untuk mempromosikan produknya. Semalam aku ikut sempat memperingatkannya karena pengalaman buruk itu. Aku tidak mau Brittany sakit untuk kedua kalinya." jelas Alv.
"Brittany memiliki sifat keras kepala. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur mengenai masa depannya. Namun, jika ini berkaitan dengan mantan suaminya itu.. aku harus ikut campur." ucap Isabela.
"Aku akan menjaganya. Tidak akan aku biarkan pria itu menyakitinya kembali. Dengan segenap hatiku, ijinkan aku untuk menjaga Brittany seumur hidup. Aku berjanji tidak akan membuatnya terluka. Tidak akan ada airmata satu tetes pun yang ia keluarkan selama bersamaku. Aku mencintai putrimu."
...***...
Brittany menunduk mendengar penjelasan pria didepannya. Ia menunjukkan surat pengunduran diri di restoran tempatnya bekerja. namun ia mendapat teguran keras. Benar saja ucapan Lily, pemilik restoran ini memiliki sifat yang sangat keras. Wajar saja jika Alv memintanya untuk keluar kerja. Padahal ia sendiri yang memberikan pekerjaan itu untuknya.
__ADS_1
"Kau tidak tahu bagaimana kerugian ku karena kepergian mu?" tanya pria itu marah.
"Aku hanya seorang pelayan. Aku pikir tidak ada kerugian untuk restoran mu. Aku bahkan belum menerima gaji ku untuk bulan ini." jawab Brittany.
"Kau berlebihan Aydin! Brittany hanya seorang pelayan dan kau mengatakan tentang kerugian restoran mu?" ucap Alv yang baru saja datang bersama Isabela.
Brittany terkejut. "Mom?" tanyanya sambil berlari kearahnya. Ia memeluk ibunya erat. "Kenapa kau datang kesini?"
"Kenapa kau mendengar pembicaraan mengenai pemilik dan karyawannya? Itu tidak sopan." ucap pria itu
"Bukan aku saja yang mendengar teriakan mu. Karyawan yang lain pun ikut mendengar. Kau tidak malu mengatakan itu?" tanya Alv marah.
"Untuk apa aku malu? Aku berhak atas restoran ini. Apapun yang aku lakukan bebas."
"Tapi tidak dengan mengatakan hal yang tidak-tidak pada karyawan mu."
"Pergilah." ucap Pria itu.
Alv mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu aku akan membawa Brittany pergi. Urusanmu denganku belum selesai. Aku akan kembali."
Mereka bertiga pergi dari tempat itu. Alv mengantar kedua wanita itu ke apartemen. Ia melihat ke kaca. Keduanya masih terdiam sambil berpegangan tangan. Ia akan membiarkan mereka berbicara berdua saja. Ketika ia meminta ijin pada Isabela mengenai putrinya, jawaban tidak terduga datang dari mulut Isabela. Alih-alih memberikan dukungan, ia hanya mengatakan "Terserah Brittany karena ia yang memutuskan semua."
Sesampainya didepan apartemen, ia turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil agar keduanya dapat turun dengan mudah.
"Terimakasih Alv karena telah membantuku. Aku akan menghubungiku nanti. Kau tahu bukan kedatangan ibuku karena kejadian semalam?" bisik Brittany.
"Aku tahu. Aku akan kembali kerumah sakit. Aku akan menunggu kabar darimu. Jika memungkinkan, aku ingin mengajakmu makan malam." ucap Alv
"Aku terima ajakan mu tapi nanti ketika urusanku telah selesai." jawab Brittany.
__ADS_1
Alv kembali memasuki mobil dan akan kembali ke restoran tempat pria itu memarahi Brittany. Urusannya dengan Aydin belum selesai. Ia akan menyelesaikannya hari ini. Ia tidak menerima pria itu melakukannya pada Brittany. Ia melambaikan tangannya ketika mobilnya mulai jalan.