
Jessy keluar dari pintu rumahnya. Ia tidak memiliki kegiatan hari ini. Jika ia sudah berada diluar, ia akan dengan cepat memutuskan kemana kakinya akan melangkah.
"Selamat siang, Jessy. Kau terlihat segar siang ini." ucap seseorang ketika Jessy keluar dari rumah.
Jessy mengangkat wajahnya. Ia ingat pria yang menyapanya pagi ini. Ia adalah seorang paparazzi yang membantunya dua hari yang lalu. Jessy tersenyum ramah. "Terima kasih untuk kemarin.." ucapnya sambil berjalan.
"Senang membantumu." jawabnya.
"Siapa namamu?" tanya Jessy kembali. Ia mengabaikan beberapa paparazzi yang hendak mendekat.
"Jose" serunya.
Jessy mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Siang ini ia ingin mengunjungi Mrs. Patty. Ia sangat merindukannya. Ketika ia menikah, Mrs. Patty tidak bisa datang ke acaranya karena mereka terjebak badai. Ia diantar oleh supirnya seperti biasa. Tapi ia meminta hanya diantar saja. Mobilnya mulai melewati apartemen Dean.
"Bisakah kau menurunkan ku disini?" tanya Jessy
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin menikmati kebebasannya Tidak akan ada yang tahu siapa aku. Tidak ada yang mengikuti kita bukan?" tanya Jessy. Ia melihat pria itu melihat kebelakang.
"Sepertinya tidak ada." ucapnya.
"Baguslah, aku ingin berhenti didepan. Aku ingin berjalan kaki." ucap Jessy.
"Kau bisa menjaga dirimu sendiri?"
"Kenapa tidak? Aku wanita kuat. Aku biasa melakukan semua hal sendiri sebelum aku menikahi Dean."
Mobil pun berhenti. Jessy keluar dengan lega. Ia senang. Tempat laundry Mrs. Patty berjarak dua blok dari tempatnya berdiri. Ia ingat ketika Dean mengajaknya bertemu di apartemen dua hari yang lalu, ia melewati tempat ini. Tapi karena keadaan mendesak, ia terpaksa melewatinya. Beberapa tahun ia bekerja di tempat Mrs. Patty. Ia terbiasa melewati jalan ini ketika mengambil pakaian kotor dari beberapa pelanggan yang tidak bisa datang langsung ke tempatnya. Walaupun berat, tapi ia tidak akan menjadi saat ini jika tidak melewati masa lalu.
Ia mulai berjalan melewati beberapa toko. Ketika dulu, ia hanya melewatinya saja. Kali ini ia harus mencobanya. Ia ingin membeli satu scoop besar es krim untuk ia makan bersama Mrs. Patty nanti. Iapun masuk kedalam toko untuk memesan.
"Berikan aku satu scoop besar. Aku minta rasa vanilla, coklat, dan sedikit rasa anggur." ucapnya.
Penjual itu mengambil es yang diminta Jessy. Jika dulu, ia hanya merasa iri melihat orang-orang membeli es krim, kali ini ia bangga karena bisa membelinya. Setelah selesai membayar, ia mulai berjalan untuk segera sampai ke tempat laundry. Tak lupa ia memakai maskernya. Ia bisa melihat tempat laundry Mrs. Patty merupakan tempat paling sibuk diantara gedung yang lain. Orang-orang keluar masuk untuk mencuci atau mengambil pakaian mereka. Mrs. Patty terlihat tengah duduk di kursinya. Wajahnya terlihat kusut. Iapun masuk ke dalam.
"Apakah kau merindukanku?" tanya Jessy sedikit berbisik.
Mrs. Patty terkejut. Ia berdiri dengan cepat. "Jessy!!"
Ia langsung memeluk dengan erat. Ia melepaskan pelukannya. "Lihatlah kau sekarang. Kau jauh berbeda. Kau bertambah cantik setelah menikah dengan sutradara itu. Aku tidak menyangka kau akan datang kesini." ucapnya kencang.
Jessy melirik ke kiri dan ke kanan. "Kau membuat keributan kecil." bisik Jessy.
Mrs. Patty menarik lengan Jessy dan masuk ke sebuah ruangan.
Jessy duduk di kursi yang biasa ia duduki ketika ia bekerja. Ia menyimpan keranjang es krim diatas meja. Ia menatap Mrs. Patty yang tidak terlihat mengalihkan matanya sejak tadi.
__ADS_1
"Patty" ucapnya serius
Mrs. Patty duduk didepannya. "Ada apa sayang?"
Jessy menghela nafas. "Aku bahagia sekali setelah menikah. Aku ingin merayakan kebahagiaanku denganmu. Kau tahu, hanya kau yang ada disamping ku sejak aku berada di kota ini. Kau dengan baiknya memberikanku pekerjaan. Padahal kau sendiri tidak memerlukan karyawan."
"Aku senang kau bahagia. Sayangnya aku tidak bisa berada di acara penting mu." jawab Mrs. Patty. Sesekali ia menatap keranjang yang disimpan Jessy di meja.
Jessy tersenyum. "Aku membelikan es krim kesukaanmu."
Kedua mata Mrs. Patty membesar. "Benarkah?"
Jessy mendengar beberapa obrolan diluar. Ia menatap Mrs. Patty. "Sepertinya kau sedang sibuk."
"Aku memang sibuk. Setelah kau pergi, aku tidak mencari pegawai baru."
Jessy menyimpan tasnya di atas meja. Ia membuka cardigan nya. Kemudian ia melipat tangan kemeja nya keatas. "Kalau begitu, biarkan aku membantumu kali ini." ucapnya.
"Aku tidak sanggup membayar mu. Kau sudah menjadi artis. Bagaimana jika wartawan melihatnya?"
"Kau tahu siapa aku? Aku adalah wanita yang tidak takut pada apapun." ucapnya.
"Baiklah. Aku akan membayar mu dengan makan siang. Bagaimana?"
Jessy mengangguk senang. "Kebetulan aku belum makan siang."
Mencuci pakaian, memakan es krim dan makan siang menu yang selalu ia pesan sejak dulu membuatnya bahagia. Ia kini duduk diantara beberapa toko. Entah akan kemana lagi ia akan berjalan-jalan. Ia menatap toko-toko barang branded itu. Kini ia bisa membeli salah satunya. Pagi itu ketika mereka berada di apartemen, Dean mengatakan telah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Dan ia sadari ketika mengecek buku tabungannya, ternyata Dean mengirimkan sejumlah uang sesuai permintaannya ketika ia menyetujui pernikahan itu.
Jika ia pergi ke manajemen suaminya, apa yang akan terjadi? Seharusnya mereka masih berada dalam masa bulan madu. Tapi karena pekerjaan, Dean terpaksa bolak balik ke kantor manajemennya. Ia tidak pernah bertanya tentang pekerjaannya sebagai sutradara. Ia tidak mau mengganggu perhatian Dean saat ini. Apalagi Dean pernah mengatakan jika film terbarunya akan lebih menyorot perhatiannya.
"Foto terbaru istrimu siang ini." ucap Harris ketika ia menemui Dean di rooftop manajemennya.
Dean mengeluarkan handphonenya. Tampak Jessy keluar rumah seorang diri. Ia terlihat tersenyum pada seorang paparazzi. Mereka terlihat dekat.
"Aku harap istrimu harus bisa menjaga jarak dari paparazzi manapun. Ingat, mereka mendapatkan uang hanya dari berita dan foto yang mereka dapatkan." ancam Harris.
"Aku akan berbicara dengannya nanti." ucap Dean.
Harris berjalan meninggalkannya. Jessy harus bisa menempatkan diri. Kini ia bukan wanita biasa karena Dean ada disampingnya. Apapun yang ia lakukan akan menjadi berita. Skandal apapun tidak akan dibenarkan jika ia melakukannya sebelum film ini dimulai. Ia akan serahkan masalah ini pada Dean karena ia tidak berhak ikut campur urusannya. Ia hanya mengingatkan.
Ketika berjalan di lobby, ia mendengar suara seseorang yang ia kenal. Ia menoleh untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengan resepsionis.
"Kalian tidak tahu jika aku istri dari Dean?" tanya Jessy marah
"Banyak yang mengatakan hal yang sama. Tapi aturan tetaplah aturan. Kami tidak bisa membiarkanmu masuk kedalam."
Jessy kesal. Ia menyimpan salah satu tangannya di atas meja resepsionis. Menyedihkan sekali, beberapa waktu yang lalu ia mendapatkan tembakan blitz dari paparazzi yang setia menunggu dirumahnya, namun di kantor ini tidak ada yang mengenalnya. Ia tidak gila diri. Hanya saja, ia sangat ingin menemui Dean di sini. Setelah menemuinya, ia akan pulang.
__ADS_1
"Jessy!" panggil Harris.
Jessy menoleh. Seorang pria dengan tubuh sedikit tambun berdiri dibelakangnya. Ia ingat siapa pria itu. Ia tersenyum.
"Mungkin ini kedua kalinya kita bertemu." ucap Harris.
"Ya, aku ingat. Kau selalu berada disamping Dean.." jawab Jessy senang.
"Apakah kau ingin menemui Dean?"
"Ya, aku kebetulan lewat jalan ini. Tidak ada salahnya jika aku ke datang untuk menemui Dean sebentar." jawab Jessy.
Harris mendekatinya. "Apakah ada paparazzi yang mengikutimu?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku telah berjalan melewati 3 blok. Aku tidak menemukan orang yang mengikutiku."
Harris merasa lega. "Baguslah. Kau mau menemui Dean?"
"Iya. Apakah ia ada disini?"
"Kau bisa naik ke lantai paling atas. Suamimu ada di rooftop. Di sana ada taman luas." ucap Harris.
Jessy senang mendengarnya. Ia menoleh sejenak pada resepsionis itu dan tersenyum sinis. Berani-beraninya mereka tidak mengenalnya. Iapun menaiki lift untuk sampai ke lantai paling atas. Mungkin karena masih jam bekerja, suasana sedikit sepi. Jarang sekali ada orang berlalu lalang.
Lift telah sampai ke lantai paling atas. Ada sebuah pintu didepannya. Ia terdiam. Kemudian ia membuka pintu. Ia bisa melihat Dean ada disana sedang duduk di kursi taman sambil menatap kedepan. Tangannya memegang satu rokok yang sudah ia hirup. Masih ada asap disana. Selama mereka menikah, ini pertama kalinya ia melihat Dean merokok. Apakah sedang terjadi sesuatu padanya?
Jessy berjalan pelan hingga ia berada dibelakang Dean. Ia menunduk kemudian memeluk Dean dari belakang.
Dean menarik lengan itu dengan kasar. "Hey! Siapa sih?" tanyanya marah.
Jessy terhuyung ketika tangan Dean melepaskan lengannya. Ia hampir saja terjatuh jika ia tidak bisa menahan beban tubuhnya.
" Ini aku Dean.." panggil Jessy.
Dean hanya terkejut. Ia berdiri dengan cepat dan memegang lengannya. "Jessy! Apa yang kau lakukan disini?"
"Maafkan aku, Dean. Aku tadi berkeliling. Aku teringat padamu. Jadi aku putuskan untuk mampir."
"Kau tidak perlu datang ke sini lagi.." ucap Dean.
Jessy menunduk. "Maafkan aku. Lebih baik aku pulang. Aku tidak mau mengganggumu."
Dean mendekat. " Jangan berkata seperti itu. Aku hanya tidak mau kau datang kesini. Disini semua orang bekerja. Termasuk aku." ucapnya sambil memegang tangannya.
"Aku mengerti. Maafkan aku." ucap Jessy.
"Tidak apa-apa. Kita duduk dulu." Dean memegang tangan Jessy dan menariknya untuk duduk di kursi taman.
__ADS_1
Alasan Dean cukup beralasan. Ketika ia bekerja, ia tidak mau diganggu oleh siapapun termasuk dirinya. Ia menghela nafas. Keberadaannya hanya sebatas di rumah saja. Ia tidak mau memikirkan hal lain lagi. Ia akan mencoba introspeksi kesalahannya. Jika Dean memang tidak mau pekerjaannya diganggu, ia akan mengikutinya.