
Dean dan Jessy keluar dari taxi ketika mereka sudah sampai didepan rumah Alv. Karena Jessy pernah tinggal disana, ia hanya bisa menatap bangunan yang menurutnya lumayan kotor itu dengan menggelengkan kepalanya. Ia sangat mengerti bagaimana Alv menjaga rumahnya. Tapi ia sadar, Alv melupakan rumahnya setelah ia menikah dengan Joan. Jessy hanya tersenyum. "Aku pikir, saat itu Alv memang sudah mencintaiku. Ternyata cinta pertamanya adalah Joan." ucapnya tenang.
"Tunggu. Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Dean seraya menarik lengannya.
Jessy menoleh padanya. "Apa?"
"Tadi kau mengatakan tentang cinta pertama Alv. Apa maksudmu? Kau pernah jatuh cinta pada Alv?"
"Tentu saja tidak. Saat itu, Alv mengatakan jika ia mencintaiku. Tapi aku pikir ia hanya merasa kasihan padaku. Ia bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku karena adiknya. Sakit hatinya pun hanya sesaat. Ia bisa mencintai Joan dengan mudah."
Dean mengangguk setuju. "Ya, tidak boleh ada pria lain yang mencintaimu. Saat itu Alv hanya kasihan padamu."
Jessy cemberut. Ia menghela nafas sejenak.
"Kenapa? Kau keberatan karena Alv mencintai Joan?"
Jessy tersenyum. "Tidak ada. Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Padahal belum lama aku meninggalkan Ankara"
"Bagus bukan? Sepertinya akan aku sewa untuk produksi filmku yang lain."
Jessy menggelengkan kepalanya. "Menurutku tidak sebagus ketika terakhir kali aku datang ke tempat ini. Rumah ini terlihat tidak dirawat dengan baik."
Terdengar pintu rumah terbuka. Salah seorang pelayan rumah keluar sambil membawa beberapa surat. Mereka bertiga saling bertatapan. Jessy mendekatinya.
"Halo.. aku ingin bertemu dengan Alv." ucapnya.
Pelayan itu mengangguk kemudian menyimpan surat-surat itu disebuah kursi dan berlari kedalam. Karena penasaran, Dean mengambil salah satu surat itu. Ia membacanya sejenak. "Perpindahan kewarganegaraan.". Ia kemudian menoleh pada Jessy. "Apa maksudnya?"
"Aku tidak tahu. Lebih baik kita tidak ikut campur urusan keluarga mereka kecuali tentang Joan." ucap Jessy.
Dean menyimpan kembali surat itu dan berdiri disamping Jessy. Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya pelayan yang tadi keluar kembali.
"Silahkan masuk." ucapnya.
Jessy masuk terlebih dahulu. Sedangkan Dean kembali melihat surat yang tadi karena penasaran. Sepertinya ada yang harus ia cari tahu, pikirnya.
"Dean.." panggil Jessy.
Dean menyimpan kembali surat itu dan bergegas masuk kedalam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jessy
"Tidak ada." jawab Dean sambil tersenyum.
Tidak seperti sebelumnya, kini Dean berada dihalaman belakang. Ia menatap Jessy yang tampak menikmati pemandangan yang cukup indah itu.
__ADS_1
"Sepertinya Alv bukan pria biasa. Aku pikir ia hanya seorang dokter biasa."
"Yang aku tahu orangtuanya adalah seorang pengusaha. Rumah di ankara ini dan di Istanbul adalah peninggalan terakhir mereka." jelas Jessy.
"Istanbul?" tanya Dean.
"Ya, mereka memiliki rumah yang lain disana. Tapi mereka lebih senang tinggal disini. Padahal rumah istanbul jauh lebih indah dan lebih modern. Ketika kau membuka jendela kamar, kau bisa melihat selat bolporus. Indah sekali."
"Sepertinya kau tahu segalanya tentang Alv" ungkap Dean dengan nada cemburu.
Jessy tertawa ringan. "Kau cemburu."
Terdengar suara roda yang tengah didoromg. Dean tahu siapa itu. Mereka berdua menoleh.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Lily.
Jessy menatap Lily. Keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaannya ketika ia berada dikursi roda saat itu. Wajah Lily pucat karena tidak ada satupun kosmetik yang menempel diwajahnya. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Kecelakaan yang menimpa Lily pun, ia baru mengetahuinya dari Dean minggu lalu. Sepertinya ia tahu mengapa Joan tidak mau kembali pada Alv.
"Hai, Brittany.." ucap Lily sambil tersenyum.
Senyuman yang tidak ada paksaan sama sekali. Ia terlihat tulus, pikir Jessy. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, seperti yang kau lihat. Kedua kakiku lumpuh. Aku tidak bisa menggerakkan keduanya. Ini adalah karma karena aku banyak menyakiti orang lain."
"Bagus jika kau menyadarinya. Menyakiti seseorang itu balasannya sangat sakit" jawab Jessy tajam.
"Harus aku akui, sulit untuk memaafkanmu. Awalnya aku memaafkanmu karena melihat sifat lugumu. Tapi aku salah, kau memakai Alv untuk menutupi perbuatanmu. Aku kasihan pada Alv. Aku tahu kalian bukan saudara kandung. Tapi tidak bisakah kau menghormati Alv yang terus menjagamu sejak kalian kehilangan orangtua?"
Kedua tangan Lily bergetar. "Aku tahu aku salah. Aku wanita tidak tahu diri. Tapi aku tidak peduli dengan anggapan kalian. Kau ataupun yang lainnya boleh marah padaku. Tidak memaafkanku ataupun ingin membawaku ke penjara. Silahkan. Tapi nanti, ketika Alv sudah bahagia. Aku ingin melihatnya bahagia."
"Lalu dimana Alv sekarang? Ia tidak mungkin masih berada di kamar bukan?" tanya Dean.
"Sejak kau datang tadi malam, ia selalu melihat foto yang kau berikan. Tadi pagi sekali ia pergi. Ia ingin bertemu dengan Joan. Aku hanya berharap ada kabar baik." jawab Lily.
Jessy menoleh pada Dean. "Foto?"
"Ya, foto antara Joan dengan seorang pria. Kemungkinan kekasihnya yang baru."
"Itu tidak mungkin.." jawab Jessy kecewa. Ia kemudian menatap Lily. "Alv tidak tahu dimana Joan tinggal. Bagaimana ia bisa menemukannya?"
"Tidak ada yang mustahil selama Alv berusaha."
"Ya, aku setuju." jawab Dean
"Ayo kita pulang. Kita beritahu dad." ucap Jessy sambil menarik lengan Dean.
__ADS_1
Dean menatap Lily. Ada pertanyaan yang mengganjal di kepalanya. "Bisa aku tanyakan sesuatu?"
Lily tersenyum. "Silahkan"
"Ketika diluar tadi aku melihat beberapa dokumen yang dibawa pelayanmu. Apa maksudnya perpindahan kewarganegaraan?" tanya Dean.
"Dean...." panggil Jessy.
"Sayang, aku penasaran. Aku takut Lily akan menyakiti Joan lagi." jawab Dean.
Lily tersenyum. "Itu adalah masalah pribadiku dengan keluarga."
Dean membalikkan badannya. "Baiklah, jika kau memang merahasiakannya. Jangan sakiti siapapun lagi."
Dean dan Jessy mulai berjalan.
"Tunggu Alv.." panggil Lily.
"Ada apa?"
"Aku titipkan Alv padamu. Keluarga kami tidak dekat. Alv pasti canggung jika bertemu keluarga ayah dan ibunya. Ia hanya memiliki keluargamu saja. Tolong jaga Alv." ucap Lily.
Dean berjalan kembali. "Alv sudah besar. Ia tahu mana yang terbaik. Ia bukan anak kecil lagi."
Jessy melirik ke bawah tangga. Ada beberapa koper yang sudah disiapkan oleh Lily. Ia hanya mengerutkan keningnya.
***
Lily melihat keluar jendela. Ia melihat pelayannya tengah menyalakan api untuk memusnahkan beberapa dokumen miliknya. Ia tersenyum. Sudah cukup untuknya menggantungkan diri pada Alv dan ayahnya. Jelas-jelas karena kebaikan ayahnya, ia bisa hidup di dua negara. Ya, turki dan yunani. Kini ia telah memutuskan untuk menjadi warga negara yunani. Ia membatalkan semua hal yang berkaitan dengan Turki. Ia akan kembali ke Yunani. Ke negara ibunya.
"Kau yakin bisa pergi sendiri, nona?" tanya salah seorang pelayan.
Lily menoleh. "Kau mau ikut denganku? Tapi aku tidak bisa memberimu gaji." ucapnya dengan nada menggoda.
"Apakah kau akan baik-baik saja?" tanya wanita itu kembali.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Kondisimu yang seperti ini, aku khawatir."
Lily tersenyum. "Aku bisa. Jangan khawatirkan aku."
Pelayan itupun pergi meninggalkan Lily. Ia kembali menatap keluar. Ia harap, Alv bisa bahagia. Joan akan kembali pada Alv jika ia pergi. Sejak semalam, Alv masih tidak peduli padanya. Untuk apa ia bertahan. Ia bisa kembali ke Yunani dan memulai hidup baru. Ia tidak tahu bagaimana ia akan hidup disana. Ia mengangkat salah satu tangannya dan menyentuh jendela. Beruntung kedua tangannya masih bisa ia gunakan.
Lily mendengar koper miliknya mulai dikeluarkan. Ia menoleh untuk melihatnya. Sepertinya waktunya sudah berakhir. Ia masih memegang jendela dan menatapnya sedih. Semua ini bukan miliknya. Ia akan kembali dimana ia seharusnya berada. Perlahan ia melepaskan pegangannya. Ia membawa kursi rodanya keluar rumah.
__ADS_1
Selamat tinggal, Alv. Jangan pernah mencariku. Aku akan bahagia jika kau juga bahagia. Terimakasih karena selalu baik padaku. Rasanya aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Biarlah kepergianku ini menjadi kado pernikahan kalian berdua. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi