Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Birthday Present


__ADS_3

Dean berlari dari satu tempat ke tempat lain. Sejak pagi, Jessy dibawa oleh ibunya berbelanja. Malam ini ia ingin membuat kejutan untuknya. Semalam Jessy terus mengatakan tentang acara ulang tahunnya. Namun ia sengaja tidak memberikan respon yang baik. Ia ingin memberikan kejutan dan pengalaman indah sebelum ia pergi ke Yunani.


Dean tengah mencari bunga kesukaan Jessy. Istrinya itu memang tidak secara langsung mengatakan jika ia menyukai bunga mawar putih. Namun sejak mereka pergi ke Argentina untuk melakukan bulan madu, Jessy terlihat antusias ketika melihat tanaman itu. Salah satu teman Lana telah membuat apartemennya menjadi ruangan paling romantis. Hanya ada yang kurang. Bucket bunga. Ia ingin memilihnya sendiri. Lana sempat mengatakan jika semua wanita menyukai bucket bunga yang sangat besar. Kali ini ia yang akan memilihnya sendiri.


Ketika ia memasuki sebuah tempat, ia bertabrakan dengan seorang pria. Dean sempat mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ia tabrak. Pria itu, sejak kapan pria itu ada di sekitarnya? Pria yang tinggi badannya tak jauh darinya. Ia bahkan bisa menarik perhatian para penjaga toko bunga. Pria itu pula yang telah mengancam keberadaan istrinya saat ini. Kini ia melihat pria itu tersenyum sinis dan berjalan keluar.


Dean sempat terdiam sebentar namun panggilan penjaga toko membuatnya menoleh dengan cepat.


"Apa yang sedang kau cari?" Tanya wanita itu tersenyum.


Dean kembali menoleh ke pintu keluar. "Apakah pria itu sering kesini?"


"Tidak pernah. Ia bukan pelanggan setia toko kami." Ujar salah seorang pelayan toko.


Ia merasa lega. Keberadaan pria itu disekeliling istrinya membuatnya sedikit cemburu. Oke, setelah beberapa waktu ia dan Jessy bersama, ia tidak mungkin untuk tidak mencintai wanita itu. Malam ini ia akan mengatakan semua perasaannya pada Jessy. Ia kembali menatap pelayan itu. "Oke, kali ini aku bisa memilih bucket bunga tanpa gangguan. Perlihatkan padaku bucket bunga paling cantik yang pernah kalian buat. Harga tidak menjadi masalah. Tonjolkan mawar putih." Ucap Dean tenang.


Selagi penjaga toko itu mengambil gambar bucket yang mereka buat, ia memutuskan menghubungi Harris untuk menanyakan kabar perusahaan. Ia duduk disalah satu kursi panjang yang disediakan disana. Harum berbagai bunga mulai menusuk hidungnya. Seumur hidupnya, ia tidak.pernah melakukan hal romantis pada siapapun. Jessy yang membuatnya berubah cepat. Sifat kerasnya perlahan memudar. Ia kini lebih menghargai orang lain.


Wajah Harris muncul di layar ponselnya.


"Berita bagus, Dean!"teriak Harris sambil memperlihatkan kertas yang ia pegang.


Dean tertawa ringan. "Ada apa dengan wajahmu? Apa yang membuatmu sangat bahagia? Kertas apa itu?"


"Surat perjanjian, Dean!" Seru Harris kencang. Ia tertawa karena bahagia. "Kita bisa berangkat ke Yunani dengan tenang, Dean! Kau tidak akan percaya jika orang yang sedang kita kejar menjadi aktor utama kita telah masuk ke manajemen ku! Kau memang dewa keberuntunganku! Kau selalu membawa keberuntungan untukku. Cepatlah ke kantor! Kita harus merayakannya!"


Butuh waktu untuk mencerna setiap ucapan Harris. Jika benar apa yang dikatakan Harris, itu berarti ayahnya telah melakukan sesuatu. Ia kemudian menatap Harris. "Aku tutup teleponnya!" Ucapnya sambil melambaikan tangan. Ia kemudian menghubungi ayahnya untuk menanyakan kebenaran berita itu.


Nada tersambung. Terdengar suara "klik"


"Dad!" Panggil Dean bersemangat.


"Ada apa kid? Kau terdengar sedang senang.." tanya Lee.


"Apakah dad yang melakukan ini? Apakah dad yang telah membuat aktor utama kita merapat ke manajemen Harris?" Tanya Dean kembali.


"Kau yang meminta bantuan ku. Aku hanya melakukan peranku sebagai seorang ayah yang baik."ungkap Lee.


"Terima kasih, dad.." bisik Dean terharu. Selama satu minggu ini kepalanya pusing memikirkan aktor utama film yang akan disutradarainya. Ia meminta bantuan ayahnya ketika sudah terdesak. Tapi hasilnya, ia hanya bisa bersemangat.


"Kau jangan lupa, aku melakukan ini karena istrimu juga. Ia selalu melamun di taman belakang karena memikirkanmu."


"Jessy?"

__ADS_1


"Ya, bagaimanapun Jessy ikut memikirkan permasalahan mu. Jangan kau pikir ia selamanya diam karena tidak memikirkanmu. Dia wanita baik. Aku harap selamanya kau akan bahagia dengan Jessy. Walaupun sebenarnya pernikahan kalian ini, akulah yang memiliki andil besar." Ucap Lee sambil tertawa.


"Aku tahu dad, aku tidak akan melepaskannya sampai kapanpun. Aku mencintainya." Ucap Dean. Ia melihat pelayan sudah berdiri disampingnya.


"Aku tahu. Aku bisa melihatnya. Setiap hari kalian selalu terlihat mesra."


"Aku tutup dulu teleponnya. Nanti kita bicara di rumah. bye.." Ucap Dean


Dean menerima beberapa brosur dan buku yang memperlihatkan bucket-bucket yang telah mereka buat. Ada beberapa yang menarik perhatiannya.


''Kau bisa membuat yang ini?" Tanya Dean ketika menunjuk salah satu gambar yang terus menarik perhatiannya.


"Sangat bisa." Ucap pelayan itu.


"Oke, buat bucket ini sebanyak dua puluh satu buah. Kalian antar ke alamat yang aku berikan nanti pada pukul dua belas malam. Apakah kalian bisa melakukannya?"


"Tidak masalah. Kami sudah biasa melakukannya." Ucap mereka.


Dean berdiri dan mengeluarkan kartu berwarna hitamnya. Ia melihat beberapa orang berbisik. Karena sudah terbiasa, Dean hanya diam dan tidak peduli.


...***...


"Apakah kau pusing, Jessy?" Tanya Anastasia ketika ia tengah memilih buah-buahan ditangannya. Ia melihat Jessy melamun. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu"


Jessy merasa malu. Anastasia selalu bisa menebak isi hatinya. Ia tersenyum."Banyak yang terjadi mom. Dean bermasalah, aku berulangtahun dan kami berpisah." Ucapnya pendek


Anastasia menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat kantung berisi buah itu ke dalam troli belanja. "Itu semua proses sayang. Apakah Dean akan membuat acara ulangtahun mu?"


Jessy menggelengkan kepalanya sambil cemberut."Ia bahkan tidak membahas sekalipun tentang ulangtahun ku. Beberapa waktu yang lalu aku menghubunginya tapi ia sedang sibuk."


"Apakah kau pikir aku mengajakmu ke supermarket untuk berjalan-jalan? Tentu saja tidak. Aku mengajakmu kesini karena esok rumah kita akan mengadakan pesta untuk merayakan ulangtahun mu."


"Aku ingin makan enak besok!" Seru Jessy


"Kau ingin makan enak?" Tanya Anastasia dijawab anggukan cepat Jessy. "Bantu aku memilih tomat ini." Tambahnya. Ia menatap Jessy. Menantunya itu masih saja terlihat sedih. "Ayolah Jessy, berhenti memikirkan suamimu. Kau tahu sendiri Dean bukanlah pria romantis. Ia tidak mungkin membuat surprise untukmu. Masih ada aku. Kita bisa merayakannya berdua besok. Apa yang kau inginkan? Berbelanja? Makan enak? Bermain? Aku akan menemanimu."


Jessy hanya terdiam. Merayakan dengan Anastasia tentu saja berbeda dengan merayakannya dengan Dean.


Ketika di perjalanan pulang ke rumah, baik Anastasia dan Jessy melewatkan sesuatu. Setelah berbelanja di supermarket, mereka lupa membeli anggur. Pada akhirnya mobil Anastasia berbelok ke sebuah toko anggur terkenal.


"Aku akan menunggu disini." Ucap Jessy.

__ADS_1


Anastasia melepaskan seatbelt nya. "Baiklah, kau tunggu aku." Ucapnya.


Jessy menatap kepergian Anastasia. Kini ia patut bersyukur karena ia disayangi oleh banyak orang. Terkadang ia merindukan yayasan tempatnya tumbuh besar. Ia menatap ponselnya. Beberapa jam yang lalu ia melihat berita disalah satu toko tentang kotanya. Ia merindukan semua mengenai kotanya. Ia sempat terpikir untuk pergi ke sana ketika Dean pergi syuting. Tapi tentu saja dengan ijin Dean.


Ia menatap kembali ponselnya. Ia merindukan Dean. Dean tidak pernah membicarakan tentang ulangtahunnya esok hari. Padahal setiap tahun ia selalu merayakannya bersama orang-orang dekatnya. Menurutnya bertambahnya usia merupakan sesuatu yang benar-benar sakral. Karena itu ia harus merayakannya. Walaupun besar tanpa orangtua, ia selalu mengungkapkan sayangnya pada pemilik yayasan yang merupakan orangtua angkatnya. Setiap ia berulang tahun, mereka selalu merayakannya bersama anak-anak yayasan lainnya. Semua itu tidak akan pernah ia ulangi lagi. Ia memegang bandul kalungnya dengan erat. Ia menutup matanya. Sebutir airmata menetes di pipinya. Siapapun orangtuanya, ia merindukannya. Hanya kalung inilah satu-satunya benda yang ditinggalkan orangtuanya.


Dean menatap setiap ruangan di apartemennya dengan takjub. Jika bukan karena Lana yang menyiapkan semuanya, ia tidak mungkin bisa merayakan ulangtahun Jessy malam ini dengan baik. Ia ingin memberikan Jessy hadiah yang tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya. Tiba-tiba didepan wajahnya, Lana menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia menatap Lana.


"Apa?"


"Semuanya tidak akan sempurna jika kau tidak memberikan hadiah untuk istrimu." Ucap Lana. Sejak sore ia membantu sahabatnya untuk mendekor apartemen miliknya. Jika bukan karena Dean, dibayar berapapun, ia tidak akan mau.


"Aku sudah menyiapkan hadiah untuk istriku." Ucap Dean tenang. Sejak Jessy mengatakan akan berulangtahun beberapa hari yang lalu, ia sudah menyiapkan sebuah hadiah yang besar untuknya.


Sebuah mobil BMW seri terbaru sudah ia siapkan. Pihak dealer telah membawanya ke basement apartemen. Ia menatap Lana sambil tersenyum.


Lana duduk disampingnya. "Kau sangat mencintai Jessy?"


Dean melirik sekilas. Sulit untuk tidak mengatakannya. "Aku harus mengakuinya."


"Jessy adalah wanita pertama yang menarik perhatianmu sejak pertama kali kalian bertemu. Ia beruntung bisa meluluhkan hatimu yang sekeras batu, Dean. Padahal aku pikir kau hanya ingin bersenang-senang dengan Jessy."


"Aku yang beruntung karena mengenalnya. Aku beruntung karena saat itu orang yang bertanggung jawab menjaga rumah ku tidak datang. Aku sendiri yang bertemu dengan Jessy saat itu. Jika aku tidak bertemu dengannya, aku tidak mungkin sudah menikah sekarang. Setiap hari aku terpesona dengan sikap dan kecantikan Jessy. Sayangnya..." Ucap Dean tertahan.


"Ada apa?"


"Jessy tidak mau ikut denganku ke Yunani."


Lana memangku kedua tangannya. "Aku yang akan menemaninya disini. Kau tidak perlu takut. Aku hanya mengingatkanmu satu hal. Jangan berubah. Aku tahu bagaimana seorang Dean jika sudah bekerja. Aku mengingatkanmu, Dean."


"Mana mungkin aku mengabaikan Jessy, kau ini bodoh!" Seru Dean.


"Tidak ada salahnya aku menasihatimu." Ucap Lana. Ia menyerahkan kotak berwarna merah itu pada Dean. "Kau berhutang banyak karena hadiah ini. Sebagai sahabatmu, aku sudah menyiapkannya walaupun kau tidak memintanya."


Dean mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah kalung dengan bandul yang menurutnya adalah berlian karena kilauan nya."Ini hadiah mahal "


"Untuk istrimu rasanya adil." Ucap Lana.


Dean mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Kemudian ia menatap Lana. "Sudah aku kirimkan uangnya."


Lana berjingkrak karena senang. Sudah sangat biasa jika Dean selalu membayar lebih untuk sesuatu yang disiapkannya. Ia hampir saja memeluk Dean namun kedua tangan pria itu terangkat.


"Stop! Tubuhku hanya untuk istriku saja." Seru Dean.

__ADS_1


Lana tertawa mendengar kekonyolan Dean hari ini. Pria itu baru pertama kali jatuh cinta. Wajar saja jika ia banyak belajar padanya. Ia harap Jessy dapat membahagiakannya. Ia berjalan menuju mobilnya dan kembali pulang. Ia sudah berjanji untuk bertemu dengan seorang kliennya yang merupakan aktor terkenal malam ini.


__ADS_2