Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Mad


__ADS_3

Pagi yang indah untuk memulai hari. Tapi tidak seindah wajah Joan pagi ini. Alv mengantar Joan ke butik sebelum ia berangkat bekerja. Sudah beberapa hari ini ia tinggal di rumah Joan. Perdebatan keduanya sering terjadi mengenai masalah rumah. Seperti yang terjadi hari ini. Alv mengatakan pada Joan bahwa ia berencana untuk mencari sebuah apartemen baru untuk dihuni mereka berdua. Bagaimanapun mereka telah memutuskan untuk bersama sehingga Alv terpikir untuk membuat sebuah keluarga bahagia. Namun tanggapan Joan, ia bersikeras agar mereka tinggal di kediamannya saat ini. Sebenarnya masalah itu bisa diselesaikan dengan cepat, namun lihatlah sekarang, Joan masih tidak berbicara sedikitpun sejak mereka pergi dari rumah beberapa waktu yang lalu.


Mobil berhenti tepat didepan butik Joan. Alv masih memegang steer mobilnya. Ia menarik nafas dalam. “Maafkan aku. Mungkin permintaanku tadi pagi membuat hatimu sakit. Tapi sebagai seorang suami seharusnya aku membahagiakanmu dengan membawamu ke tempatku. Bukan aku yang berada di tempatmu. Aku merasa seperti pria yang tidak bertanggung jawab jika seperti ini. “


Joan memegang erat tas tangannya. “Kita bisa bicarakan lagi nanti. Aku harus segera ke dalam. Ada meeting dengan pihak produksi. “ ucapnya.


Alv melepaskan tangannya dari steer mobilnya dan memeluk Joan dengan erat. “Jangan lupa hubungi aku jika kau santai. Aku akan menjemputmu nanti. “


Joan hanya mengangguk. Ia pun keluar dari mobil tanpa berbicara sedikitpun. Sedangkan Alv hanya bisa melihatnya dari dalam mobil. Ia menyadari sesuatu. Wajah Joan cantik jika sedang marah. Mungkin inilah sifat Joan yang sebenarnya. Ia egois dan mementingkan dirinya sendiri. Tapi ia menikmatinya karena iapun sama seperti Joan.


Alv kembali memegang kemudi. Iapun mulai menjalankan kembali mobilnya. Sebenarnya ada yang lebih ia takutkan dari kejadian saat ini. Pertengkaran kecil dengan Joan maupun kebahagiaan mereka saat ini bisa saja ada yang mengacaukannya. Ia terkadang melupakan sesuatu. Lily belum mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi sekarang. Ia sendiri tidak tahu bagaimana sikap Lily ketika ia tahu jika dirinya dan Joan sudah mulai menjalani hubungan suami istri yang sesungguhnya. Ia tidak bisa membayangkan seorang Lily akan marah besar. Sikap Lily yang terlalu kekanak-kanakan sering membuatnya tidak bisa hidup dengan baik.


Alv menghela nafas. Ia berharap Lily tidak mengetahuinya dengan cepat. Walaupun ia harus mengetahui keadaan sebenarnya, ia hanya berharap Lily bisa menerima Joan dengan baik. Ia melihat wajah Brittany dari billboard. Ia harus berterima kasih padanya karena jika Brittany tidak membatalkan pernikahan mereka, ia tidak akan menemukan sosok seperti Joan.


...***...


“Sepertinya harimu sedang tidak baik. “ goda Gerard yang datang dengan tiba-tiba ke ruangannya.


Joan menyimpan kepalanya di meja. “Kami berdebat untuk pertama kali. Rasanya tidak menyenangkan. Aku pikir pernikahan kami tidak akan melalui hal seperti ini. “


Gerard menghampiri Joan dan duduk didepannya. “Kau lucu sekali. Memang usia pernikahan kalian berapa lama? Aku tahu sifatmu. Jangan egois, Jo. Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian. Tapi sebagai sahabat, aku hanya berharap kau tidak egois dan mementingkan urusanmu sendiri.”


Joan mengangkat kepalanya dan menatap pria didepannya dengan serius. “Apakah menurutmu aku egois? “


“Sangat.. Bisa kau ceritakan apa yang terjadi? " tanya Gerard serius.


“Ini tentang rumah. Alv berencana mencari sebuah apartemen untuk kami tinggali. Aku menentangnya dengan keras. Aku telah menyiapkan sebuah rumah khusus untuk kami berdua, tapi mengapa ia bersikeras untuk mencari apartemen? Ia mengatakan ingin membahagiakanku. Sedangkan aku bahagia jika ia ada disampingku. Itu cukup“


Gerard menggelengkan kepalanya. “Masalah itu?“


Joan hanya mengangguk.


“Kau harus tahu, suamimu itu merencanakan sesuatu yang sangat baik. Ia pria yang paling bertanggungjawab yang aku tahu. Ia tidak seperti pria New York pada umumnya. Ia tidak ingin hidup dibawah kendali seorang wanita. Ia memiliki harga diri yang tinggi. Keinginannya untuk membahagiakanmu dengan tinggal di rumah yang ia siapkan denganmu. Sungguh indah bukan? Jika aku menjadi dirimu, tentu saja aku tidak akan menolaknya. Sedangkan rumah yang kau siapkan, kenapa kau tidak menyewakannya pada orang lain? Atau kau bisa menjualnya dan membuat apartemen kalian menjadi indah dari penjualan rumah itu. “


Joan menggigit kukunya. Ia berfikir sesuatu.


"Harus aku tambahkan? Aku mengenalmu sejak awal kita terjun ke dunia fashion. Aku tahu kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Kau mencintai suamimu yang berarti ialah cinta pertamamu. Bisakah kau memperlakukannya dengan baik? "


“Apakah aku memang keterlaluan? “ tanya Joan.

__ADS_1


“Aku harus mengatakan iya. Kau keterlaluan. Cepat minta maaf pada suamimu. Kalian baru saja menikah dan “dekat”. Hanya karena masalah ini, kalian berdebat. Kau keterlaluan. Bisakah kau mengikuti ucapan suamimu? Ia yang akan bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada sebuah rumah tangga“


Joan mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Alv. Beberapa nada tersambung tapi Alv tidak mengangkatnya. “Sepertinya ia sedang sibuk. “


“Kirim pesan.. “ seru Gerard.


Alv keluar dari ruang operasi didampingi oleh beberapa dokter pemula. Kasus yang tidak ia harapkan akan dilakukan. Liposuction atau sedot lemak di beberapa bagian tubuh manusia. Pasien yang ditanganinya sebenarnya bukan pasiennya secara langsung. Melainkan pasien dokter lain. Hanya saja selama dua minggu ini dokter yang menanganinya sedang berada diluar kota karena urusan pribadi yang tidak bisa dihindari. Terpaksa pasien-pasiennya dibagi pada beberapa dokter di klinik ini.


Alv melihat asistennya berlari menghampiri nya.


“Kau tidak perlu berlari seperti itu, aku takut kakimu tidak akan kuat. “ goda Alv.


“Ya, aku memang sudah tua. Tapi aku masih cantik dan setia menjadi asistenmu.” Jawab Jen bangga.


Alv masuk kedalam ruangan dan membuka masker wajahnya. Sedangkan Jen membantunya melepaskan jubah operasi yang dipakainya.


“Bagaimana istrimu? “ tanya Jen.


Alv melirik pada Jen. “Seharusnya kau bertanya bagaimana operasinya? Apakah berjalan dengan lancar?”


“Aku yakin dengan kemampuanmu, dokter tampan. Aku hanya penasaran dengan kabar istrimu. Sejak kembali dari Miami, kau tidak bercerita sedikitpun tentang keadaan istrimu. Apakah ia baik-baik saja? “


“Tapi sepertinya tidak. “ ucap Jen.


“Apa maksudmu? “ tanya Alv sambil mengerutkan keningnya.


“Sejak tadi ponselmu berdering.. Aku pikir itu istrimu. “ goda Jen.


Alv mengambil ponselnya dengan cepat. Ternyata benar. Ada lima panggilan dan dua pesan dari Joan. Ia melirik pada Jen. “Keluar.. “


Jen berlari keluar tanpa diminta dua kali.


Alv langsung menghubungi Joan dengan cepat.


“Halo.. “


“Aku baru selesai operasi. Ada apa sayang? Kau mau makan siang denganku sekarang? “ tanya Alv.


“Aku sudah makan, Alv. Kau yang harus makan siang sekarang. Kau sudah terlambat. Aku tidak mau kau sakit. “ jawab Joan tulus.

__ADS_1


Alv tersenyum. “Kau tidak marah padaku lagi? “


“Untuk itu aku menghubungimu. Aku ingin meminta maaf atas sikap kekanak-kanakan ku tadi pagi. “ ucap Joan pelan.


“Kau tidak perlu meminta maaf, Joan sayang. Berdebat seperti tadi hal biasa. Kita bahkan bisa saja melakukannya dengan sangat parah nanti. Aku tidak berharap itu terjadi karena aku takut kehilanganmu. Jadi kita berdamai sekarang? “


Joan tertawa ringan. “Bagaimana aku bisa marah jika kau senang menggodaku.. “


“Kau mau makan malam diluar malam ini? “ tanya Alv.


“Apakah aku bisa mendapatkan mawar merah disana? “ tanya Joan.


“Sebanyak yang kau mau.. “


Joan tertawa kembali. “Baiklah, aku akan menunggu mu nanti malam. Apakah aku harus berdandan? “


“Kau sudah cantik walaupun tanpa berdandan.” Jawab Alv. Ia pun berbisik. “Kau cantik luar dan dalam. Aku sudah tahu. Kau ingin aku mengatakan bagian mana yang cantik? “


“Alv! Tidak.. Cukup! Aku akan menunggumu nanti malam. “ ucap Joan malu.


Alv tertawa senang. Ia masih mendengar suara Joan berteriak karena malu. Ia tidak dapat membayangkan jika mereka bertatap muka saat ini. Iapun menutup panggilan ponselnya dan tersenyum.


Terdengar suara berdeham dibalik pintu. Asistennya yang ini memang serba ingin tahu. Ia bisa melihat bayangan besar dibalik pintu.


“Aku tahu kau pasti mendengarnya. Masuklah Jen..“ ucapnya.


“Manis sekali, dok. Sayang suamiku tidak manis seperti dirimu. “ ucap Jen sambil menyerahkan dokumen pada Alv.


Alv menatap Jen. “Jangan katakan kau memberiku pekerjaan untuk hari ini. “


Jen tersenyum. “Tentu saja aku tidak akan mengganggu acaramu malam ini. Ini data pasien yang baru untuk esok siang. “


Alv tersenyum lega. Ia membuka map itu dan mulai mempelajarinya. Ia kemudian menatap Jen. “Apakah aku bisa menyuruhmu diluar pekerjaan? “


“Tentu saja. Apa itu? “


“Aku ingin kau memesankan satu bucket bunga mawar merah. Harus siap pukul 4 sore nanti. “


Jen berbalik dan mulai berjalan. “Akan aku siapkan.“

__ADS_1


__ADS_2