
Pemandangan apartemen di pinggiran kota New York masih terlihat jauh lebih baik daripada di negaranya. Jose mengangkat kedua kakinya keatas meja sambil menatap beberapa bangunan didepannya. Terlihat olehnya beberapa orang pria dan wanita sedang melakukan perbincangan dengan serius. Ia menatap mereka hingga ia teringat sesuatu. Ternyata tidak sulit untuk mendekati seorang Jessy Julian. Tidak disangka juga ternyata ia merupakan kenalan dari keluarga Jonas.
Jonas adalah pria yang dulu membantunya bangun dari keterpurukan. Ia yang mengajarinya beberapa fotografi ketika ia remaja. Pesta waktu itupun atas gagasannya. Ia menyarankan agar ia dan istrinya melakukan pesta kecil sebelum pindah ke Eropa. Namun gagasannya berbuah kebaikan. Ia bertemu dengan target utamanya untuk datang ke New York. Ia membayangkan bagaimana wanita itu tiba seorang diri dengan cantiknya. Ia terpana. Pria manapun pasti akan terpana ketika melihatnya. Wajahnya yang cantik dan polos didandani tidak terlalu tebal dan sangat cocok untuk wajahnya. Begitu pula dengan pakaian dan semua yang dipakainya. Gaun pendek itu dirancang sempurna untuk seorang Jessy. Rambutnya yang panjang dibuat ikal sehingga menambah daya tariknya. Semua tamu terpana ketika melihat kecantikannya. Untuk pertama kalinya ia melupakan alasannya untuk mendekati seorang Jessy.
Jonas yang memaksanya untuk datang ke acara pesta mereka malam itu. Tidak pernah sekalipun ia mengikuti sebuah pesta sampai habis. Tapi malam itu lain. Ia mengikuti acara itu hingga selesai. Ia bahkan ikut mengantar Jessy menuju parkiran. Tawa dan suara lembutnya terus terngiang di telinganya. Jika tidak ada bodyguard itu, ia yakin ialah yang akan mengantarnya pulang.
Ia tersenyum sendiri. Ia benar-benar tidak bisa melupakannya. Wajah cantik dan polosnya terus teringat didalam ingatannya. Jika Jessy memiliki keterampilan, ia pasti sudah menjadi seorang model atau aktris tanpa bantuan suaminya. Sayangnya terlihat sekali jika wanita itu tidak ingin menjadi seorang public figure.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dalam artikel yang terbit di hari pertama itu menyebutkan jika mereka berdua berada pada sebuah pernikahan kontrak. Jika itu memang terbukti benar, ia bisa memiliki kesempatan untuk mengambil hati Jessy. Sekarang yang ia butuhkan adalah cara untuk memisahkan mereka. Selama Jessy ada di kota ini, ia masih bisa mendekatinya.
Iapun berdiri dan keluar dari mini kondominium nya. Ketika berada di kota ini, ia hanya menyewa sebuah kondo murah yang disewakan oleh salah satu penyedia layanan kamar hotel. Tak lupa ia membawa kameranya. Awal tujuannya datang ke kota ini tak lain hanya untuk mencari berita tentang Jessy dan memisahkan mereka berdua. Namun sejak kejadian pesta itu, ia kini ingin memiliki Jessy.
"Aku baik-baik saja, Dean.." ucap Jessy ketika Dean terus menghubunginya sejak di pesta itu.
"Aku cemas. Abaikan semua berita yang muncul. Aku dan Rossy tidak ada hubungan apa-apa selain teman. Mereka melakukan ini karena ingin menghancurkan reputasi ku. Film yang aku buat akan menggebrak pasar film yang sedang lesu. Mereka tidak menyukainya, karena itulah mereka mencari kesalahan dan kelemahan ku. Apakah kau mengerti sekarang? Jangan ada prasangka apapun padaku. Aku mencintaimu. Itu sangat jelas. Jangan pernah meragukannya" jelas Dean.
"Aku mengerti.." jawab Jessy pelan. Ia tersenyum mendengar Dean mengatakan hal itu. Namun dalam hati kecilnya, ia masih saja penasaran.
"Lalu kapan kau akan kesini?"
Jessy tercekat. Ia tidak mengatakan pada siapapun tentang kepergiannya kali ini. Bahkan kedua bodyguardnya telah ia tipu agar ia bisa pergi. Iapun berkata "Ketika semua pekerjaanku sudah selesai."
Terdengar suara mobil bergemuruh. Beberapa klakson mobil dibunyikan kencang. Itulah ciri khas kota tempatnya tinggal dahulu. Ia menutup teleponnya sesaat. Jika Dean tahu kemana ia pergi, ia takut Dean akan marah. Ketika semuanya sudah terkendali, ia mulai melanjutkan pembicaraannya.
"Ada yang kau sembunyikan?" tanya Dean curiga.
"Tidak ada. Aku sedang berada di jalan." ucap Jessy gugup.
"Jujur saja padaku. Aku tidak akan marah. Kau berada dimana? Tidak pernah ada suara mobil berat di New York, Jessy. Kau tidak bisa berbohong.." tanya Dean.
"Aku.. aku berada di Nevada." ucap Jessy pelan
__ADS_1
Dean langsung berdiri. "Dengan siapa kau pergi? Apakah bodyguard yang aku sewa ikut bersamamu? Apakah ada orang yang mengikutimu? jawab aku Jessy!"
"Aku tidak bisa menjawab jika kau bertanya terus padaku. Baiklah, aku pergi seorang diri. Tidak ada bodyguard yang mengantarku. Dan.. aku tidak dikenal oleh siapapun disini. Lebih baik kau tenang dan lanjutkan pekerjaanmu. Aku baik-baik saja disini."
"Aku akan cemas, sayang.. Bagaimana aku bisa melanjutkan pekerjaanku jika aku mencemaskanmu" jawab Dean.
"Aku tahu. Percayalah padaku. Aku hanya ingin bertemu dengan ketua yayasan yang mengurusku sejak aku kecil dulu. Aku merindukan mereka. Aku akan terus memberikan kabar padamu, Dean.." jelas Jessy. Ia dapat mendengar ada seseorang yang memanggil Dean. "Lanjutkan pekerjaanmu, Dean. Aku akan menghubungimu nanti malam ketika kau sudah pulang ke hotel."
"Baiklah. Jaga kesehatanmu. Jangan sakit. Kalau kau sakit, aku akan langsung pulang dan meninggalkan pekerjaanku disini. Dan satu lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan bosan mengatakan jika aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Cepatlah menyusul ke sini. "
Jessy tersenyum. "Aku tahu." jawabnya sambil tersipu malu.
Ketika telepon ditutup, tidak disangka langkahnya telah sampai didepan pintu masuk yayasan tempatnya dulu tinggal. Kenangan semasa kecilnya terus membekas di ingatannya. Ia tidak mengingat apapun mengapa ia ada disini ketika kecil dulu. Hanya saja ibu yayasan memberitahunya jika mereka menemukannya ketika kecil berada di sebuah rumah kosong yang berada tak jauh dari yayasannya tinggal. Rumah kosong itu kini telah dibuat taman bermain.
Terdengar pintu terbuka. Seorang wanita berusia tujuh puluh tahunan keluar dari rumah dengan menggunakan mantel kotak-kotak kesukaannya.
"Mom.." panggil Jessy dengan nada bergetar.
Wanita tua itu menoleh padanya. Ia membenarkan letak kacamatanya dan menatapnya dari bawah ke atas. Alisnya berkerut kebingungan. Ia tidak mengenalnya. Tentu saja, ketika pergi dari yayasan dahulu, ia tidak terawat seperti sekarang.
"**, mom.. Apakah kau melupakanku?" tanya Jessy. Karena kalungnya melambangkan tulisan B dan J, ia dipanggil ** oleh Mrs. Elisa. Ia kebingungan dengan inisial kalungnya. Nama Jessy Julian diberikan oleh Mrs. Elisa. Jessy merupakan nama panggilan Mrs. Elisa ketika kecil dulu. Sedangkan Julian adalah nama suaminya.
"**? Apakah itu kau?" tanya Mrs. Elisa terkejut.
"Iya mom. Aku kembali.." jawab Jessy. Ia mendekatinya dan memeluk Mrs. Elisa dengan erat. "Aku merindukanmu, mom.."
Mrs. Elisa memukul lengannya. " Aku dengar kau menikah dengan seorang sutradara tampan. Kau tidak mengundangku! Kau nakal sekali!"
Jessy tersenyum. "Maafkan aku, mom.. Semuanya terjadi begitu cepat. Tapi sekarang aku pulang. Aku merindukan teriakanmu. Aku merindukan masakanmu."
"Ayo masuk kedalam. Ini juga rumahmu." ucap Mrs. Elisa.
__ADS_1
"Mengapa suamimu tidak kau bawa kesini?"
"Suamiku sedang syuting di Yunani, mom. Suatu hari nanti aku akan membawanya kesini." jawab Jessy.
"Apakah kau sudah hamil?"
Jessy menggelengkan kepalanya.
"Kau harus segera mendapatkan seorang anak. Dengan begitu kehidupan pernikahanmu semakin sempurna."
"Mom.. apakah tidak ada yang mencariku?" tanya Jessy hati-hati.
"Maksudmu orangtuamu?"
Jessy mengangguk. "Apakah tidak ada titik terang siapa orangtuaku?"
"Sudah aku katakan tidak pernah sekalipun ada yang mencari mu. Ketika kau ditinggalkan dirumah kosong itu, aku hanya menemukanmu memakai dress berwarna merah dan kalung dengan liontin bertuliskan **. Walaupun aku yakin kedua orangtuamu pun pasti sedang mencari mu hingga saat ini. Melihat wajahmu, kami yakin kau bukan warga Nevada. " jawab Mrs. Elisa. Ia berdiri untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari. Ia memberikan sebuah kotak berwarna hijau tua pada Jessy. "Bukalah. Hanya ini satu-satu peninggalan yang orangtuamu berikan."
Jessy membuka kotak itu. Ia melihat sebuah gaun kecil berwarna merah dengan pita berwarna hampir senada. Tiba-tiba ia merasa sedih. Ia ingin memiliki orangtua. Sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua. Ia menatap Mrs. Elisa.
"Jasamu begitu besar untukku, mom. Beruntung aku ditemukan olehmu. Aku tidak dapat membayangkan jika ditemukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab." ucapnya sambil terbata.
"Sudah terlambat untuk bersedih, sayang. Kau sudah bahagia sekarang. Kau memiliki seorang suami yang menyayangimu. Kau memiliki segalanya sekarang. Suatu saat orangtua kandungmu pasti menemukanmu." ucap Mrs. Elisa.
Jessy menunduk sedih. Ia memegang kotak itu dengan erat. Ketika melihat kota yang membesarkannya di televisi, ia begitu merindukan Mrs. Elisa. Tapi ketika telah sampai di Nevada, ia penasaran dengan cerita tentang orangtua kandungnya. Jika membicarakan mereka, suasana emosional langsung terasa. Ia sedih karena merindukan orangtuanya.
"Tinggalah disini. Kamarmu masih tetap sama." ucap Mrs. Elisa sambil berjalan keluar dari ruang tamu.
Jessy berdiri dan mengikuti Mrs. Elisa. Ia memegang lengannya dan membantunya berjalan. "Apakah kehidupan pernikahanmu berjalan lancar?"
"Ya.."
__ADS_1
"Segeralah memiliki anak. Kau tahu kenapa? Agar suami tampan mu tidak bisa berpaling. Setahuku pria New York seperti itu."
Jessy tersenyum. Hamil? Ia tidak pernah memikirkannya. Apalagi usianya masih sangat muda. Masih banyak waktu untuknya untuk memiliki seorang anak.