Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Survive or Not?


__ADS_3

Ketika di hotel tadi pagi, Alv hanya diberitahu dimana butik milik Joan berada. Petugas hotel itu hanya mengatakan jika butik Joan bersebrangan dengan H&M. Sulit awalnya. Namun, pada akhirnya ia bisa menemukan dimana Joan berada. Ia merasa marah dan cemburu melihat kedekatan Joan dengan pria tadi. Jika saja ia datang ke tempat ini kemarin, ia pasti sudah berbicara dengan Joan.


Sedikit lelah karena ia belum sarapan sejak ia tiba, ia duduk di kursi yang berada disebrang toko Joan. Ia akan terus menunggu hingga Joan kembali. Musim gugur


"Bukankah kau Albertico Alv?" tanya seseorang.


Alv mengangkat kepalanya. Gerard, pria yang selalu ada di samping Joan ada didepannya. Alv langsung berdiri dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Gerard bingung.


"Aku sedang menunggu Joan."


Gerard menggelengkan kepalanya. "Yang benar saja, Kau menunggu disini?"


"Tidak masalah. Aku akan menunggunya disini" ucap Alv sambil tersenyum.


Gerard menghela nafas. "Masuklah, aku pesankan kopi. Kita bisa berbicara didalam."


"Aku tidak yakin Joan akan menyukainya." ungkap Alv.


Gerard tersenyum. "Aku yang akan bertanggungjawab. Joan tidak sejahat itu, apalagi pada suaminya sendiri. Cuaca sudah mulai dingin karena akan memasuki musim dingin. Ayo masuklah kedalam."


Alv memasuki  butik. Ini pertama kalinya ia masuk ke ruang kerja Joan. Ia  melihat beberapa sketsa yang masih tersimpan diatas meja kerjanya. Ada satu hal yang menarik. Ada foto Joan menggunakan gaun pengantin diatas mejanya. Ia terlihat sangat cantik. Tanpa sadar ia mengambil foto itu dan menatapnya lama. Tidak pernah ia mencintai seorang wanita seperti ini sebelumnya. Tidak pernah ia merasa hancur ketika ditinggalkan oleh seorang wanita. Hanya Joan yang mampu melakukannya.


"Kau benar-benar mencintai Joan bukan?"


Alv berbalik dan menatap Gerard. Ditangan pria itu terdapat dua gelas kopi panas. "Sangat. Aku akan melakukan apapun asalkan ia bahagia."


"Termasuk berpisah? Jika menurut Joan dengan berpisahnya kalian akan membuatnya bahagia, apakah akan kau lakukan?"


"Pertanyaan sulit. Untuk itulah aku datang mencarinya. Apakah Joan dengan pria itu sudah lama berhubungan?" tanya Alv.


"Adrian?" tanya Gerard.


"Ya, aku lihat mereka sangat dekat."


Gerard diam sejenak. "Lebih baik kau bertanya sendiri. Aku tidak memiliki jawabannya."


"Jika memang ada yang bisa membahagiakan Joan selain aku.." ucap ALv tertahan.

__ADS_1


"Tidak. Jangan menyerah. Kau harus bertahan. Aku tidak ingin melihat kalian berpisah. Kalian saling mencintai. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan semua ini terjadi, hanya saja aku katakan agar kau tetap bertahan. Kau harus meyakinkan Joan jika kau sangat mencintainya." Gerard duduk dikursi yang tidak jauh darinya. "Sebenarnya aku sangat ingin membantu kalian, tapi Joan sangat keras kepala. Untuk itu kau yang harus berusaha."


"Bagus bukan restoran disini? Aku pernah melakukan pemotretan di tempat ini satu kali. Seharusnya acara untuk malam hari. Tapi kau tidak bisa makan malam denganku. Sayang sekali" ungkap Adrian kecewa.


Joan belum menjawabnya karena pelayan mulai membawakan makanan mereka. Ia pernah datang ke restoran ini bersama Sophie. Jadi sebenernya inipun bukan pertama kalinya. Ia ingat saat itu ada seseorang yang tengah dilamar. Namun sayangnya wanita itu menolaknya. Ia langsung menatap Adrian. Jangan-jangan, iapun mengajaknya kesini untuk melamarnya. Tidak mungkin. Ia masih memiliki suami.


"Terimakasih karena kau sudah berbaik hati untuk membawaku makan siang ditempat ini." ucap Joan.


"Semua ini tidak gratis, Jo. Kau harus membayarnya."


"Aku akan membayar apa yang aku makan. Bukan yang kau makan."


Adrian tersenyum. Tiba-tiba saja pria itu memegang tangannya.


"Ada apa?" tanya Joan


"Kau bisa membayarnya dengan menerima lamaran ku. Aku ingin menikah denganmu? Aku pikir ucapan ini harus dikatakan dengan romantis. Tapi, melihat suami mu tadi aku langsung berfikir untuk mengatakan ini secepatnya. Aku akan menunggu hingga kau siap dan menyelesaikan perpisahan kalian. Tolong jangan menolak ku lagi." jawab Adrian.


Joan melepaskan genggaman tangan pria didepannya. "Aku ingin kau tahu jika aku...."


"Tidak, tolong jangan menolak ku." ucap Adrian cepat.


"Kau tidak bisa seperti itu,Jo! Berikan aku kesempatan!"


"Aku bisa karena aku Joan Lee. Aku berharap kau bisa mencari wanita yang jauh lebih baik dariku. Mencintaiku sama saja menghabiskan waktu. Jadi tolong, jangan mencintaiku. Aku tidak mau kau terluka. Jika kau masih ingin menjadi temanku, jangan pernah melakukan hal ini lagi. Aku pergi." ucap Joan sambil berdiri.


"Jo, setidaknya kau harus mengisi perutmu." ucap Adrian tanpa melihat Joan.


"Aku kehilangan nafsu makan ketika kita berjalan kesini." ucap Joan.


"Gara-gara suamimu, bukan? Kalian akan kembali bukan?" tanya Adrian kesal.


"Aku pikir itu bukan urusanmu." jawab Joan sambil berjalan keluar.


***


Letak antara restoran dan butiknya tidak terlalu jauh. Ia terdiam ketika melihat kursi didepan butiknya kosong. Padahal tadi Alv mengatakan akan menunggunya. Kemana Alv pergi? Apakah ia tidak ingin menemuinya? Bukankah tadi ia berkata ingin berbicara dengannya? Joan bersandar ditembok yang berada diserang butiknya hanya untuk melihat kursi dan butiknya. Ia sebal menjadi orang seperti ini. Jelas-jelas ia membenci Alv. Ia tidak mau disakiti kembali olehnya. Tapi ketika melihat ia pergi setelah lebih dari satu bulan ia berpisah, ia mulai kehilangan. Ada apa ini? Mengapa emosinya selalu berubah seperti ini? Mengapa ia tidak mau mendengar penjelasan Alv? Mengapa ia membiarkan Alv tersiksa dengan kepergiannya?


Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Beberapa pejalan kaki terlihat menatapnya. Iapun memutuskan masuk kedalam.

__ADS_1


"Kau sudah kembali?" tanya Gerard ketika Joan baru memasuki butik.


"Kau tidak melihat seseorang diluar tadi?"


Gerard berpura-pura melihat keluar. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak melihat siapapun."


Joan duduk di kursi dan mulai menangis. "Aku tidak tahu dimana ia tinggal? Hatiku sakit melihat kondisinya seperti itu!"


Gerard berjalan dengan cepat dan duduk didepan Joan. "Siapa yang kau cari?"


"Tadi Alv datang dan berkata akan menunggumu di sana." jawab Joan sambil menunjuk kursi yang ada diluar. "Tapi ketika aku kembali, ia tidak ada disana. Aku tidak tahu ia tinggal dimana ketika berada disini. Bagaimana jika ia tidak kembali kesini?"


Gerard memeluk Joan sambil tersenyum. "Kau menyesal karena jahat pada suamimu?"


"Aku menyesal jika harus melihat kondisinya seperti ini. Padahal aku memutuskan mundur agar ia bisa bahagia dengan adiknya tanpa aku ganggu. Aku tidak ingin terluka melihat mereka berdua bahagia. Aku pindah dan melanjutkan hidupku di Paris karena tidak mau mendengar kebahagiaan mereka.


Gerard menepuk bahu Joan. "Jangan menangis. Mungkin kau seperti ini karena cemburu.  Tapi rasa cemburu mu itu sangat menakutkan. Suamimu adalah orang baik. Ia bisa bertahan hingga sekarang. Itu adalah hal yang sangat luar biasa."


"Lalu kemana aku harus mencari Alv?" tanya Joan


"Suamimu ada di ruangan mu. Ia menunggumu sejak tadi." jawab Gerard sambil tersenyum.


Joan menghapus air matanya. Ia menatap dengan tatapan kesal pada Gerard. "Tadi kau katakan tidak melihat Alv diluar."


"Aku memang tidak melihatnya diluar karena aku membawanya masuk kedalam. Jika aku tidak melakukan ini, aku tidak akan tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya." jawab Gerard.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" tanya Joan gemas. Ia melangkah cepat untuk sampai ke ruangannya.


"Alv!" panggil Joan sambil membuka pintu. Langkahnya terhenti ketika melihat Alv tertidur di kursi kerjanya sambil memegang foto dirinya. "Alv.." ucapnya kembali pelan.


Alv membuka matanya pelan dan terkejut melihat Jon ada didepannya. ia berdiri dengan cepat dan menyimpan foto itu di atas meja. Ia seperti ketakutan.


"Oh, kau sudah kembali. Maafkan aku, aku tertidur. Tadi Gerard menyuruhku untuk menunggu didalam." Ucapnya gugup. "Maaf aku tidak sopan duduk di atas kursi kerjamu. "


Joan mulai menangis. "ALv!" Teriaknya. "Tolong jangan seperti ini!"


Alv menghampiri Joan. "Ada apa? Apakah aku menyakitimu? Aku akan pergi sekarang dan kita bisa berbicara esok atau lusa."


"Tidak. Jangan pergi Alv. Tolong jangan pergi.. " tangis Joan pecah.

__ADS_1


Alv berjalan menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat. "Aku tidak akan pergi. Tidak akan pernah pergi. Aku akan tetap bertahan walaupun kau tidak suka."


__ADS_2