
Dean keluar dari kondo Brittany dengan langkah lunglai. Brittany Jonas telah mengusirnya. Bukan saja dari kondo nya, tapi dari hidupnya. Ia telah mengatakannya dengan jelas tadi. Ketika bersamanya, tidak dapat mendapatkan kebahagiaan. Ia menyesal. Momen terberat baginya adalah kehilangan anaknya. Entah bagaimana lagi ia menebus kesalahannya pada Brittany.
Di ujung lorong, sebelum ia melangkah, seseorang memanggilnya. Ia berbalik. Lana berada disana. Ia datang disaat yang tepat. Beruntung sekali.
Dean berjalan menghampiri Lana. Ia menatap nanar sahabatnya itu.
“Lana…” ucapnya pelan.
“Dean.. apa yang terjadi?” Tanya Lana. Ia cemas melihat wajah Dean yang pucat. Ia kemudian melihat Joey yang terlihat tidak nyaman. “Joey, kau masuk kedalam. Lihat keadaan Brittany.” Ucapnya.
Joey melangkah cepat untuk sampai ke depan kamar.
Lana kembali melihat Dean. “Apa yang terjadi?"
“Semua karena kesalahanku, Lana. Aku menyesal. Aku baru tahu jika aku telah membuat Jessy kehilangan masa depannya. Apa yang harus aku lakukan?”
Lana menghela nafas. Pada akhirnya bukan ia yang bercerita mengenai kondisi Brittany. Walaupun dari luar ia terlihat baik-baik saja, namun dari dalam ia memiliki banyak kesakitan. Ia memegang bahu Dean. “Ayo kita bicara”
“Bije..”panggil Joey sambil mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban. Hanya suara tangisan yang terdengar. “Bije. Aku cemas padamu. Jangan menangis..”panggil Joey kembali.
“Aku baik-baik saja.. Pergilah..” jawab Brittany sambil terisak.
Joey mulai berjalan meninggalkan kamar Brittany. Tidak ada yang bias membantunya selain dirinya sendiri. Ia akan membiarkan Brittany sendirian untuk sementara.
Suara nyanyian seseorang terdengar merdu. Beberapa pegawai Lana memang sedang menikmati masa liburnya di butik. Mereka mengadakan acara. Ketika Lana dan Dean datang, mereka langsung masuk menuju ruang kerjanya sehingga tidak melihat acara apa yang dilakukan pegawainya.
“Apakah kau sudah tahu semuanya?” Tanya Dean Ketika mereka memasuki ruangan itu.
Lana hanya mengangguk. Ia menatap Dean lama.
“Mengapa kau tidak memberitahuku dengan segera? Kau begitu kejam padaku, Lana"
__ADS_1
Lana duduk dikursi nya. “Aku memang sudah tahu. Tapi aku berpendapat jika masalah ini lebih baik kau sendiri yang mengetahuinya. Hal ini terlalu sensitif bagi Jessy. Kau tahu, ia menangis ketika menceritakan kecelakaan itu. Ia kehilangan bayinya dan kehilangan kesempatan untuk memiliki seorang turunan. Bisakah kau bayangkan jika aku yang menceritakannya langsung padamu?”
Dean terdiam sambil menundukkan kepalanya. “Kesalahanku sangat fatal.”
“Wajah Jessy hampir lima puluh persen mengalami perubahan. Sangat disayangkan..”
“Ya, karena itulah ia merubah total wajahnya. Padahal, aku akan menerimanya bagaimanapun kondisinya.”
“Kenapa kau tidak mengatakannya langsung pada Jessy?”
“Ia tidak memberiku kesempatan. Ia menutup pintu maafnya untukku. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”
“Kau pasti ingin ia hidup bahagia bukan?”
“Ya, dengan satu persyaratan yang harus aku penuhi. Aku harus meninggalkannya. Apakah aku sanggup?” Tanya Dean kembali.
...***...
Brittany membuka matanya. Sinar matahari pagi masuk kedalam kamarnya. Ia bangun dengan cepat. Ia ingat malam ini ia harus pergi ke Las Vegas untuk fashion show. Ia keluar dari kamarnya. Biasanya ketika ia bangun tidur, Lana dan Joey berada diruang tengah sedang menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Tapi tidak ada siapapun. Dari arah dapur ia mendapati Joey tengah membuat sarapan pagi.
Joey membalikkan badannya. “Nanti malam. Apakah kau baik-baik saja? Semalaman kau menangis. Aku tidak berani mengganggumu.”
Brittany duduk di kursi makan. Ia pikir Lana yang membuat rencana agar ia bertemu dengan Dean disini. “Aku baik-baik saja. Aku lega telah mengatakan semuanya. Aku tidak akan kembali pada Dean. Itu sudah pasti.”
“Apakah kau yakin?” Tanya Joey. “Aku tidak yakin kau bisa melupakan Dean dengan cepat. Banyak yang terjadi pada kalian.” Jawab Joey.
“Apakah kau ingin agar aku kembali pada Dean, Joey? Kau tidak ingat bagaimana sikapnya padaku?”
“Aku tahu. Itu memang kesalahannya. Tapi seseorang butuh kesempatan untuk menebus kesalahan, bukan?”
Brittany mengangguk. “Itu benar tapi dengan pengecualian. Aku tidak mau Dean yang mendapatkannya.”
__ADS_1
“Lalu.. apakah kau akan menikahi Dr. Alv?”
Brittany menatap Joey. “Tidak akan. Aku tidak mungkin melakukannya. Ia pantas mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakannya. Dan itu bukan aku.”
“Lalu, apakah kau tidak akan memiliki pasangan?”
“Untuk apa? Memiliki pasangan membuatku sakit. Aku tidak mau lagi. Lebih baik aku sendiri."
“Kau harus memiliki pasangan agar hidupmu tidak kesepian.” Jawab Joey.
“Ya..ya.. baiklah sayang, akan aku pikirkan.” Jawab Brittany. Ia tidak mau berdebat dengan Joey karena ia selalu kalah. Ketika ia melihat diatas meja ada yang salah karena ada sesuatu yang kurang. Ia bertanya “Dimana kopi ku?”
"Sepertinya habis. Kau ingin aku membelinya?" tanya Joey.
"Kau sudah tahu jika aku tidak bisa hidup tanpa kopi. Aku yang akan membelinya. Lagipula ini pertama kalinya aku bangun pagi. Aku akan membeli sebentar."
"Jangan lakukan itu Bije, lebih baik aku yang pergi."
Brittany bangun dari duduknya. Ia langsung memakai mantelnya. "Biar aku saja. Tidak akan banyak yang mengenalku. Mengapa? Karena ini NY." ucapnya bahagia.
Joey hanya mengangkat bahunya. "Terserah. Tapi kau harus hati-hati."
Brittany tersenyum. "Tentu saja. Ancaman selalu datang kapanpun."
Joey menatap kepergian Brittany. Brittany lebih banyak tersenyum pagi ini. Ia benar, ia terlihat lebih lega setelah berbicara dengan Dean. Ia tidak terlihat menyimpan sebuah beban. Tapi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Dean akan menyerah? Entahlah..
Brittany keluar dari kondo nya dan bertemu kembali dengan pasangan yang ia lihat kemarin. Namun terlihat ada yang salah. Ia kembali mengingatnya. Ya, benar..mereka berganti pasangan,pikirnya. Sesuatu yang menjijikkan.
Ketika ia keluar dari bangunan itu, cuaca pagi hari yang cerah. Ketika ia bekerja di laundry dahulu, ia ingat sering sekali pergi ke tempat laundry ketika pagi hari seperti saat ini. Ia merasa terbawa kembali ke masa itu. Sinar matahari pagi menyilaukan matanya. Cuaca dingin seperti ini sangat cocok untuk berjemur dibawah sinar matahari.
Ia terus berjalan menuju cofeeshop yang tak jauh dari kondo. Awalnya ia ingin membeli kopi utuh agar ia bisa menikmati kapanpun ia mau. Namun, ketika melihat cofeeshop didekatnya, ia menghapus keinginan untuk ke mini market. Ia membeli kopi yang di blend secara khusus itu.
__ADS_1
"Americano." ucapnya pada salah satu petugas. Ketika petugas itu membuatkan kopi, ia melihat ke sekelilingnya. Tidak ada yang bisa dicurigai. Semuanya terlihat aman-aman saja.
Tidak lama ia menunggu kopi itu selesai dibuat. Ia mendapatkannya dengan cepat. "Terimakasih." ucapnya sambil memberikan kartu pada petugas itu. Iapun keluar untuk kembali pulang. Jalanan masih sepi. Kemungkinan karena masih pagi. Terlihat dari kejauhan ada sebuah Van yang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba Van itu berhenti tepat didepannya. Pintu Van terbuka, dua orang pria memakai pakaian hitam-hitam keluar tanpa lama-lama. Ia menarik lengan Brittany dengan kencang dan masuk kedalam Van. Brittany tidak bisa melawan karena ia sudah kehilangan kesadaran ketika bahunya dipukul benda keras.