Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Final


__ADS_3

"Sudah lebih baik?" tanya Alv. Pria itu menundukkan wajahnya untuk melihat wajah Joan lebih dekat. Kedua tangannya memegang kedua tangan Joan lebih erat. Inilah wanita yang sangat dirindukannya. Ia tidak pernah percaya dengan berita diluar karena ia yakin Joan masih mencintainya. Ia terus menatapnya dengan tulus. "Aku berjanji tidak akan pergi. Percaya padaku." bisiknya.


Joan merasakan jari-jari Alv menyentuh pipinya. Ia membuka matanya dan menatap wajah Alv. Airmatanya tiba-tiba tumpah. Ia masih tidak percaya atas apa yang terjadi hari ini. Kondisi Alv membuatnya terus menyalahkan dirinya sendiri. "Maafkan aku, Alv.."


"Tidak. Aku yang salah. Aku yang seharusnya meminta maaf. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." ucap Alv tenang.


"Tapi kau menjadi seperti ini gara-gara aku. Aku tidak mau berpisah denganmu, Alv."


Alv lega. Ia memeluk Joan dengan erat. Ia pesimis awalnya. Ketika memutuskan untuk mencari tahu keadaan Joan, ia tahu bagaimana resiko yang akan ia hadapi. Apakah baik atau buruk, ia siap menerimanya. "Lily sudah pergi. Tapi bukan karena kepergiannya yang membuatku harus mencarimu, tapi karena sudah saatnya aku menyelesaikan semuanya. Aku pikir aku akan menyerah. Tapi Gerard memintaku untuk bertahan."


Joan melepaskan pelukannya. Ia menatap Alv. "Lily pergi?"


Alv kembali menghapus airmata Joan. Kemudian ia memegang tangannya. "Ya, kali ini aku melepaskannya. Aku pun harus mencari kebahagiaanku, bukan? Kau pasti sakit hati dengan perlakuanku saat itu. Aku menyadarinya. Itu adalah kesalahan terbesarku karena menghiraukanmu. Aku yang harus meminta maaf. Jika saat itu aku tidak seperti itu, kita masih bersama. Tapi, aku tidak kini aku tidak menyesal karena aku pikir hubungan kita akan semakin kuat kedepannya."


"Lily pergi kemana?"


"Kau penasaran dengan kepergian Lily?" tanya Alv. Joan hanya mengangguk. Alv menyandar ke belakang tanpa melepaskan pegangannya. Ia kemudian tersenyum. "Padahal kau banyak disakiti oleh Lily. Tapi kau masih peduli. Malam itu, Lily datang ke kamarku. Ia memutuskan sesuatu."


"Apa itu?"


"Lily memutuskan untuk melepaskan kewarganegaraannya. Ia memilih menjadi warga negara Yunani dibandingkan Turki. Aku tidak membantahnya karena itulah pilihannya. Keesokannya aku hanya tahu dari salah satu pelayanku jika ia sudah pergi membawa semua barang-barangnya. Ia berjanji sejak semalam. Ia tidak akan menggangguku. Kau pasti penasaran mengapa aku terlalu memberi perhatian padanya saat itu? Kau harus tahu Jo, ada sebuah permintaan terakhir ibunya yang tidak bisa aku tolak. Aku harus menjaga Lily. Tapi sejak aku kehilanganmu, aku langsung mengabaikan permintaan itu dan membiarkan Lily pergi. Namun setidaknya, selama ini aku telah menjaga Lily dengan baik. Ia sudah dewasa. Ia bisa menjalani hidupnya dengan baik tanpa ada aku. Aku mencintaimu, Jo. Aku lebih baik melepaskan Lily daripada harus kehilanganmu. Aku tidak mau hal itu terjadi kembali."


Terdengar pintu diketuk. Joan dan Alv melihat ke pintu. Gerard berdiri disana sambil menyilangkan kedua tangannya. "Pada akhirnya kalian berdua berbaikan. Aku senang melihatnya. Aku ingin tahu bagaimana model itu sekarang. Sophie baru saja menghubungiku. Kau menolak lamaran darinya?"


Alv langsung menatap Joan. Ia tersenyum.

__ADS_1


"Beritanya cepat tersebar." ucap Joan. Ia melirik pada Alv. "Aku masih terikat pernikahan dengan dokter ini. Bagaimana bisa aku menerima lamaran orang lain."


"Aku tahu itu. Jadi kalian sudah berbaikan? Tidak akan bercerai?"


Joan mengapit lengan Alv sambil menyenderkan kepalanyapada bahu Alv. Ia menggelengkan kepalanya.


Gerard menghela nafas. "Aku beruntung tidak perlu mengeluarkan semua tenagaku untuk membuatmu sadar. Walaupun hubunganku dengan Sophie masih buruk karena pria itu, sekarang aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kebahagiaanmu." ungkap Gerard. Ia kemudian menatap jam tangannya. "Ah tidak. Hampir petang. Aku harus pergi."


Joan melihat jam tangannya. "Aku pun harus pergi bertemu seseorang."


"Siapa?" tanya Alv cepat.


"Sebenarnya aku memiliki janji dengan seorang dokter." jawab Joan.


"Tidak. Hanya saja aku pikir siklus bulananku tidak lancar. Hormonku pun sepertinya meningkat. Aku menjadi lebih sensitif. Aku mudah sekali marah akhir-akhir ini. Aku ingin tahu ada apa dengan diriku." jawab Joan.


Alv tersenyum. "Apa kau merasakan mual setiap pagi?"


Joan menggelengkan kepalanya.


Alv mendekatkan wajahnya. "Aku yang merasakannya. Selama tiga minggu ini aku tidak pernah bisa sarapan. Apapun yang aku makan akan selalu aku keluarkan setelahnya. Aku curiga sesuatu telah terjadi padamu. Untuk itu aku tidak mungkin melepaskanmu. Kau ingat ketika kita bertemu di bandara? Kau terlihat jauh lebih cantik. Padahal terakhir pertemuan kita dirumah hingga bertemu dibandara tidak selama itu. Aku marah awalnya, aku kecewa. Aku tidak bisa makan karena memikirkanmu. Tapi, aku menyadari jika aku tidak akan pernah bisa meninggalkanmu."


"Lalu tubuhmu seperti ini karena tidak bisa makan? Bukan memikirkanku?" Alis mata Joan terangkat salah satu. Ia melipat kedua tangannya didepan dada.


Alv tertawa ringan dan memeluk Joan. "Bagaimana mungkin aku tidak memikirkanmu. Ketika melihat foto antara dirimu dengan pria itu, darahku mendidih. Aku harus membuat perhitungan denganmu jika berita yang aku dengar itu benar adanya. Aku tidak mungkin membiarkan ia merebut kau dan anakku bukan?"

__ADS_1


"Anak? Apa maksudmu?"tanya Joan sambil melepaskan tangan Alv yang memeluknya.


"Apakah kau tidak mengerti? Setiap pagi kau tidak merasa mual, tapi aku yang merasakannya. Emosimu memuncak dan kau pasti mulai merasa kelelahan."


"Maksudmu aku hamil?"


"Walaupun aku bukan dokter umum, tapi aku tahu ciri-ciri wanita jika tengah hamil." jawab Alv.


Joan memegang perutnya. "Apakah benar?"


"Kau mau membuktikannya? Kita pergi ke dokter sekarang."


Joan mengangguk. "Ya, aku memang memiliki janji temu dengan dokter malam ini."


"Jika tebakanku benar, kau mau mengabulkan permintaan dariku?" tanya Alv.


"Apa itu?"


"Hidup denganku selamanya."


"Jika tebakanmu salah?"


"Tebakanku selalu benar. Ayo kita buktikan." jawab Alv sambil menarik tangan Joan.


---------------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2