
"Mereka sudah pergi honeymoon?" tanya Lee ketika ia baru saja kembali dari luar. Ia tiba dengan menenteng sebuah koran.
Anastasia yang tengah sendiri di rumahnya menatap suaminya yang baru kembali. Ia menatap jam dinding rumahnya. "Sepertinya mereka sudah sampai. Ini sudah siang."
Lee menyimpan sebuah koran itu di atas meja. "Bahkan berita mengenai badai semalam harus mengalah pada berita pernikahan Dean dan Jessy. Aku tidak pernah berfikir mereka akan sangat fenomenal." ucap Lee sambil duduk di samping istrinya.
Anastasia mengambil koran itu dan melihatnya. "Lihatlah, Lee. Mereka terlihat sangat bahagia. Siapa yang menyangka jika pernikahan ini dilakukan dalam waktu yang sangat cepat sekali. Aku ingat sekali ketika hari pertama Jessy tiba dirumah ini. Ia langsung mengunci Jessy karena takut gadis itu akan kabur." ucapnya sambil tertawa ringan. Ia tidak bisa melupakan hari itu. Hari dimana bersikap dengan sangat konyol.
"Aku harap mereka bahagia." ucap Lee tiba-tiba.
"Ya, akhirnya ada yang memperhatikan Dean. Selama ini ia jauh dari keluarga. Dean tidak memiliki sahabat. Ia hanya dekat denganmu. Bahkan ketika aku menikah denganmu pun, aku tidak bisa mengambil hatinya." ucap Ana kembali mengingat ketika ia mulai memasuki keluarga Lee.
"Dean besar hanya olehku. Ia bahkan tidak mengenal ibunya. Kakaknya pun tidak bisa mendekatinya karena ia sudah sangat sibuk sejak remaja. Sejak memutuskan menjadi model, sejak remaja Joan sudah meninggalkan aku. Ketika pernikahan Dean, ia menghubungiku sambil menangis. Ia senang mendengar adiknya menikah. "
Anastasia mengelus bahu suaminya. "Kau lega sekarang?"
"Aku hanya berharap kehidupan mereka akan baik-baik saja. Setiap perselisihan pasti akan ada. Tapi aku harap itu bukan penghalang mereka bersama. Mengenai Joan, aku hanya akan mendukung setiap langkahnya. Ia tidak ingin menikah seumur hidupnya. Aku sudah menasihatinya tapi Joan anak yang keras kepala." ucap Lee dengan mata nanar.
Terdengar bunyi bell pintu. Lee langsung menatap istrinya. "Siapa yang bertamu?"
"Aku tidak tahu. Biar aku yang membukanya." ucap Anastasia sambil berdiri. Ia berjalan mendekati pintu.
Lee kembali menatap koran yang ia beli tadi. Ia pikir godaannya pada Dean tidak akan menjadi kenyataan. Awalnya ia hanya menggoda Dean untuk menikahi Jessy. Ternyata Dean melakukannya.
"Lee.. kau lihat siapa yang datang" seru Anastasia.
Lee menoleh. Ia terkejut hingga berdiri. "Jonas!" teriaknya. Pertemuan kedua sahabat itu sedikit mengharukan. Lee dan Jonas pernah sekolah di universitas yang sama ketika dulu. Mereka sangat dekat hingga Jonas memutuskan untuk berkeliling dunia untuk menjadi seorang fotografer. Ketika di italy ia bertemu dengan Isabela yang bekerja sebagai editor sebuah majalah fashion dan menikahinya. Sedangkan ia memutuskan menjadi sutradara.
Mereka berdua berpelukan.
"Kapan terakhir kita bertemu?" tanya Lee senang.
Jonas tertawa. "Aku lupa. Tapi aku sering bertemu dengan anakmu, Lee.." ucapnya.
"Dean? Kapan kalian bertemu? Kalian tahu tentang pernikahan Dean?"
__ADS_1
"Kami tahu. Justru Isabela sangat ingin bertemu dengan istri Dean. Ia hampir tidak bisa tidur kemarin ketika pesawat dari LA dibatalkan karena cuaca buruk."
Lee melihat Isabela. "Apa kabar Bella? Kau masih terlihat cantik.." ucap Jonas sambil menghampirinya.
"Aku baik-baik saja, Lee.. Jonas bisa menjagaku dengan baik." jawab Isabela sambil tersenyum.
"Kalian ingin bertemu dengan Dean dan Jessy?" tanya Lee.
Isabela mengangguk dengan cepat.
"Sayangnya mereka sedang honeymoon ke Argentina. Kalian tahu sendiri, pasangan baru." ujar Anastasia.
"Jadi kami belum bisa bertemu? Padahal aku sangat ingin melihatnya. Keberadaan kami di New York tidak akan lama. Kami harus kembali ke LA." ucap Isabela.
"Sayangnya sampai saat ini kami tidak tahu berapa lama mereka tinggal disana." ucap Lee
...***...
"Jessy, bangunlah!" panggil Dean pelan.
Jessy mengerutkan keningnya. Tapi ia belum membuka matanya.
Ia mengangkat salah satu tangannya yang tidak dipegang Jessy untuk merapikan rambut istrinya itu ke samping. "Jessy, bangunlah. Kau tidak akan bisa menyaksikan keindahan Sao Paolo jika kau terus tertidur." panggil Dean.
Jessy menggeliat dan membuka matanya pelan. Ia melihat Dean dan lebih mengencangkan pegangan tangannya. "Aku takut ketinggian, jangan menggodaku Dean. Kau akan kesulitan jika aku sudah membuat gara-gara di pesawat ini."ancamnya.
"Aku bukan menakutimu. Kita sebentar lagi landing. Kau tidak mungkin melewatkan melihat kota Sao Paolo bukan? Lihatlah, aku akan memeluk bahumu agar kau tidak takut." ucap Dean.
Jessy membuka matanya kembali dan menoleh ke samping kanannya. Benar saja, hamparan kota terlihat sangat jelas. Ia langsung menoleh pada Dean. "Dean..." ucapnya antusias.
Dean mengangkat tangannya dan memegang bahu Jessy dengan erat. "Indah bukan?"
Jessy mengangguk senang.
Ketika mereka sudah berada didalam bandara pun, Jessy tak henti melihat keindahan bandara.
__ADS_1
"Jaga image mu, kau adalah istri seorang publik figur. Tetaplah tenang dan tatapan kedepan." bisik Dean.
Selama perjalanan menggunakan taxi, Jessy hanya terdiam. Ia terus melihat kesamping.
"Estancia Mendoza Wine Hotel" ucap Dean pada supir taxi.
Jessy melihat Dean. Bukankah kemarin ia akan mengunjungi Valle de Uco?
Seakan tahu pikiran Jessy, Dean berbisik. "Di Valle de Uco tidak ada hotel. Tapi acaranya berada disana. Kita akan tinggal di estancia yang tidak terlalu jauh dari Valle de Uco."
"Aku.. aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku tidak tahu tempat ini. Apalagi negara ini. Kalau kau meninggalkanku disini, aku akan sangat membencimu, Dean.."
"Tidak akan. oke, sudah sampai." ucapnya.
Dean turun dari mobil terlebih dahulu setelah itu Jessy. Sebuah pemandangan kebun anggur terhampar luas di sepanjang matanya melihat. Ia terdiam sejenak diluar sedangkan Dean sudah masuk kedalam. Tarikan tangan Dean membuatnya sadar.
"Ayo kita pergi ke kamar." ucapnya.
Jessy berteriak kegirangan ketika pintu kamarnya baru saja ditutup. Ia senang tak tertahankan ketika melihat kamar mereka memiliki pemandangan yang cukup membuatnya menangis.
"Kau menyukainya?" tanya Dean
Jessy melompat kegirangan. "Aku rela tidak pulang ke New York untuk tinggal disini sementara waktu."
"Baiklah. Aku akan mengabulkannya." ucap Dean.
Jessy duduk diatas tempat tidur dan menatap keluar jendela.
"Aku memesan kamar ini selama dua minggu." ucap Dean pada seseorang di telepon.
Jessy langsung turun dari tempat tidur. "Betulkah itu Dean? Kita akan tinggal disini selama dua minggu?" tanya Jessy.
Dean mengangguk. "Apapun yang kau inginkan, aku akan berusaha untuk mengabulkannya."
__ADS_1
Jessy mengangkat kedua tangannya dan merangkul leher Dean dengan erat.
Dean memegang bahu Jessy agar ia bisa berdiri dengan seimbang. Ia dapat merasakan tubuhnya ditarik Jessy. Ia menutup matanya ketika dahi mereka saling bersentuhan. Apa yang akan kau lakukan, Jessy? Apakah kau akan menggodaku? Kenapa jantungku berdebar kencang ketika diperlakukan seperti ini olehmu? Perasaan apakah ini? Jika ada yang tahu, tolong beritahu aku...