
Ulasan bedak tipis, lipstik berwarna pink menghiasi wajah Brittany Jonas sore ini. Gaun pengantin yang disediakan telah ia pakai. Sebuah tiara mewah disiapkan dan telah terpasang dengan sempurna di kepalanya. Ia menjadi seorang ratu hari ini.
Penyesalan memang datang terlambat. Namun apa lagi yang harus dikatakan. Semua yang terjadi adalah takdirnya. Ia yang menginginkan ini. Ia tidak bisa mengorbankan Alv untuk kepentingannya sendiri. Pernikahan ini adalah resiko yang harus ia tanggung.
Beberapa penata rias keluar dari ruangan. Ia kini duduk sendiri dengan kedua tangannya memegang sebuah bucket bunga yang sangat indah. Sayup-sayup terdengar olehnya alunan musik pernikahan yang romantis. Ia menutup matanya. Pernikahan yang akan ia jalani kali ini berbeda dengan pernikahan yang ia lakukan dengan Dean. Beberapa orang dari departemen hukum yang mengurus mengenai pernikahan mereka telah didatangkan. Itu berarti pernikahan ini akan langsung didaftarkan.
Ia sempat terfikir untuk melarikan diri. Namun jika mengingat kebaikan Alv padanya, rasanya ia cukup kejam.
"Aku tidak pernah melihat wanita secantik dirimu." ucap seseorang.
Brittany mengangkat kepalanya. Lana hadir di pernikahannya. Kedua matanya mulai memanas. Melihat Lana sama saja seperti melihat Dean. Ia membayangkan jika saja Dean hadir di acara pernikahannya. Apakah itu mungkin?
Lana berjalan dengan cepat. "Oh tidak.. Ini pesta pernikahanmu. Jangan menangis.." serunya.
"Melihatmu sama saja melihat Dean. Aku tidak akan sanggup menjalani pernikahan ini jika ada Dean di sekitarku. Pernikahan ini sudah menjadi takdir yang harus aku jalani. Aku akan bahagia walaupun pernikahan ini tanpa cinta. Lana, apakah aku wanita menyebalkan?" ucap Brittany sambil menangis
"Aku seperti melihat pernikahan paksa. Penyesalan memang datang terlambat. Tapi kau masih memiliki waktu untuk menghentikan pernikahan ini."
Brittany menggelengkan kepalanya. "Dimana wajah Alv akan ditaruh? Aku dengar orang-orang yang Alv kenal dari departemen hukum telah datang. Ia begitu serius ingin membuatku menjadi istrinya. Bagaimana bisa aku mempermalukannya?"
"Kita cari pengantin pengganti." jawab Lana cepat.
"Lana.. aku tidak mungkin sekejam itu pada pria yang telah banyak menolongku."
Lana mengambil tissue dan menghapus airmata Brittany. "Lihatlah sekarang. Matamu merah. Jika tamu undangan melihatnya, kau akan terlihat seperti sedang berakting."
"Apakah Dean menghubungimu?"
"Tidak. Sejak kemarin aku tidak mendapatkan panggilan darinya."
"Sebenarnya Dean ada dimana?" tanyanya sambil menangis.
"Jangan seperti ini, Bije.."
"Bagi sebagian orang mungkin aku menyebalkan. Tapi aku tidak bisa membohongi hati nurani ku. Takdirku kini harus menikah dengan Alv. Tapi apakah aku akan bahagia setelah kenyataan ini?"
Lana menghela nafas. "Ya, kau memang menyebalkan. Kau memutuskan sesuatu terlalu cepat. Kau menyakiti dokter itu jika kau membatalkan pernikahan ini. Kau juga menyakiti Dean jika ia melihatmu tidak bahagia. Sekarang bola panas ada padamu. Hanya kau yang bisa memutuskan mana yang terbaik. Ada waktu satu jam hingga pernikahan berlangsung. Aku akan pergi dari sini dan menunggu bersama keluargamu." ucap Lana sambil berdiri. Ia menyerahkan tissue baru padanya. "Hapus air matamu. Jika calon suamimu melihat ini, aku tidak akan bertanggungjawab."
Pintu tertutup. Mengapa airmata ini terus keluar? Sebelum ia bertemu Lana, ia sempat berfikir untuk menerima takdir ini. Tapi kenapa hatinya berubah?
Langkah Alv menuju ruang calon istrinya sedikit melambat. Ia melihat Lana keluar dari ruangan dengan wajah kebingungan. Ketika sampai didepan pintu, ia melihat Brittany sedang menangis. Apa yang mereka bicarakan? Ia terdiam sejenak.
Tanpa mengetuk pintu, ia masuk kedalam. "Kau sudah siap?" tanya Alv berpura-pura tidak tahu.
Brittany terkejut. Itu bisa terlihat dari gerakan tubuhnya yang tiba-tiba. Ia dengan cepat menghapus air matanya.
"Apakah kau terharu karena menikah denganku?"
godanya.
__ADS_1
Brittany tersenyum. Namun memaksakan diri. Alv pun duduk didepan Brittany. Ia memegang tangannya.
"Ada apa?" tanyanya
Brittany menggelengkan kepalanya. Ia enggan berbicara.
"Katakan apa yang terjadi? Apa yang kau bicarakan pada Lana?"
Brittany tetap menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." ucapnya pelan.
"Katakan?" tanya Alv tegas. Ia hanya meminta alasan mengapa calon pengantinnya menangis. Ia menekan tangannya di jari-jari Brittany.
Kedua mata Brittany merah. Alv sendiri tidak pernah melihat wajah penuh kesakitan itu selama ia mengenalnya. Apakah yang ditakutkannya akan terjadi?
"Alv.." bisiknya. Ucapan Brittany hampir tidak terdengar oleh Alv.
"Katakan.."
Brittany menutup matanya. "Alv.. apakah aku bisa membatalkan pernikahan ini?" tanyanya sambil menangis.
"Tidak. Tentu saja tidak bisa. Aku akan menikah hari ini." ucap Alv tegas.
"Maafkan aku, Alv.." ucapnya disela tangisnya. "Aku wanita tidak tahu diri. Aku wanita yang menyebalkan. Aku bisa mengatakan alasannya.."
Alv menggelengkan kepalanya. "Aku tidak perlu alasan. Aku sudah tahu semuanya."
Brittany membuka matanya. Ia menatap Alv tidak percaya. "Apakah kau pikir pernikahan kita akan bahagia jika aku mencintai pria lain?"
"Aku tidak akan menyangkalnya. Itu memang benar."
"Apakah kau tahu konsekuensinya jika kau melakukan ini padaku? Aku bisa membencimu, Brittany! Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya adalah membenci wanita. Kau mau merusaknya dan membuatku membencimu?" tanya Alv marah.
Brittany mengangkat kedua tangannya dan memohon. "Aku minta maaf, Alv.. Aku benar-benar minta maaf."
Alv berbalik kembali dan menarik tangan Brittany dengan kasar. Ia membawa Brittany keluar dari ruangan itu.
"Ikut aku!" ucapnya kesal.
Brittany pasrah. Jika dengan cara seperti ini, Alv tidak bisa melepaskannya, terpaksa ia harus menerima takdir ini. Ia menutup matanya dan menahan air matanya agar tidak jatuh.
Langkah Alv sangat cepat. Sulit mengimbanginya karena Brittany memakai gaun pengantin. "Kau akan membawaku kemana, Alv.." tanya Brittany.
"Memberimu pelajaran!" jawab Alv.
Pada akhirnya Alv membawanya kesebuah ruangan. Tidak lain adalah ruangan dimana kedua orangtuanya sedang bersiap. Brittany mulai panik. Ia mencoba melepaskan diri, namun genggaman Alv yang sangat kencang sulit untuk ia lepaskan.
"Ada apa?" tanya Isabela terkejut. Ia melihat Brittany yang sedikit berantakan. "Apa yang terjadi? Kalian bertengkar?" tanyanya panik.
Alv menarik tangan Brittany sehingga ia berdiri disampingnya. Ia menyerahkan tangan itu pada Isabela. Ia menarik nafas panjang. "Aku menyerahkan putri kalian kembali pada kalian.." ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
"Alv!" seru Brittany terkejut.
Sungguh berat menyerahkan kedua tangan yang mungkin itu kepada pemiliknya. Ya, kedua orangtuanya adalah pemiliknya.
"Ya, sulit menerima kenyataan jika aku akan menikah dengan wanita yang memiliki pria lain di hatinya." ucap Alv tenang.
Brittany menutup wajahnya dengan tangannya. Ia menangis. "Maafkan aku, Alv.."
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku, Brittany. Kau cukup berjanji padaku." ucap Alv.
Brittany menatap Alv tulus.
"Aku ingin kau berjanji untuk bahagia. Aku tidak meminta apapun lagi. Aku terlalu memaksamu untuk menikah denganku walaupun sebenarnya kau terpaksa menerimanya." ucap Alv kembali.
"Aku bodoh karena menolak pria sebaik dirimu, Alv.." ucap Brittany.
"Hati tidak bisa dipaksakan. Mungkin awalnya kau memang ingin memberi pelajaran pada mantan suamimu. Tapi kedua matamu tidak bisa berbohong. Tatapan matamu padanya sejak dirumah sakit itu terlihat olehku. Kau mencintainya. Kau hanya terpaksa untuk menikah denganku. Aku pun mengabaikan perasaanmu pada awalnya. Seharusnya aku tidak terburu-buru mempercayainya."
Brittany menghampiri Alv dan memeluknya. "Aku benar-benar minta maaf, Alv. Aku bersalah banyak padamu."
...***...
Alv membenci seorang pria yang menangis karena seorang wanita. Namun kenyataannya, ia tidak bisa menghindari perasaannya yang terluka. Ia duduk didepan taman belakang dimana terdapat air mancur mini disekitarnya sambil menunduk malas. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian siang ini. Ternyata apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Namun perubahan wajah Brittany ketika ia melepaskannya mulai berubah. Tidak ada beban diwajahnya.
Suara musik pernikahan masih terdengar dari luar Mereka masih berada di gedung pernikahan. Belum ada kata-kata mereka membatalkan acara itu. Kebetulan sekali tidak banyak tamu yang datang. Namun ia kebingungan, bagaimana memulainya?
Kepindahannya ke New York sudah disetujui dan ia telah mendapatkan pekerjaan di negara ini. Namun apa jadinya jika ia telah membatalkan pernikahan dengan Brittany.
"Alv... jangan bersedih. Aku ada disini. Aku akan selalu berada disamping mu Alv..." ucap Lily sambil berjalan mendekatinya. Ia memeluk Alv dari belakang. "Jika kau ingin menangis karena kecewamu, maka menangis lah. Jangan kau tutupi hanya karena kau seorang pria. Alv sudah ia peringati sebelumnya untuk tidak menyerah. Namun sayang, kau yang menyerah disaat-saat terakhir."
Alv memegang tangan Lily. "Apa yang harus aku lakukan, Aysun?"
"Jika saja saat itu aku tidak menabraknya, kita tidak akan mengenal wanita itu. Aku marah sekali karena ia mengabaikan pria baik seperti dirimu, Alv.."
"Tidak. Jangan katakan seperti itu. Semua sudah terjadi. Aku yang akan menanggung semuanya." jawab Alv .
"Alv.. wajahmu akan kau simpan dimana jika kau katakan pada orang-orang pernikahan kalian batal?" tanya Lily marah.
"Semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu. Hanya saja aku harus bisa menyembuhkan luka hati ini terlebih dahulu. Apakah Brittany sudah pergi?"
"Itu tidak mungkin. Wanita itu masih ada di ruangan nya selama tamu-tamu belum pergi." Jawab Lily. Ia kemudian menatap Alv. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Alv menggelengkan kepalanya. "Jika aku tidak mau nama ku tercemar, aku tetap harus melakukan pernikahan ini. Tapi bagaimana aku bisa menemukan seorang wanita yang bersedia menikah denganku?"
"Itu benar, Alv. Kau harus memiliki seorang pendamping sehingga kau akan dengan mudah melupakan wanita itu."
Alv menunduk seraya berfikir.
"Kenapa kita tidak menikah saja, dokter? Aku wanita lajang dan kau baru saja mengalami kegagalan pernikahan." ucap seseorang.
__ADS_1
Alv dan adiknya terkejut mendengar suara dari arah dalam gedung. Seorang wanita cantik keluar sambil tersenyum dengan tulus.
Wanita itu keluar dari gedung. "Jujur saja, aku merasa kasihan padamu. Aku tidak pernah melihat hal ini sebelumnya. Tawaranku padamu untuk menikah denganku saat ini masih tersedia. Kau bisa memikirkannya. Oh ya, beberapa kali kita bertemu, namun sampai saat ini aku masih belum mengenalkan diri. Namaku Joan Lee."