
Joan terus menatap jam dinding di ruangannya. Menuju pukul empat terasa sangat lama. Ia sadar jika beberapa acara yang ia batalkan hari ini akan berimbas pada kepercayaan klien padanya.
Jika suamimu yang meminta untuk berkencan nanti malam? Apakah kau akan menolaknya? Tentu saja jawabannya tidak mungkin ia lewatkan.
Sejak mereka kembali dari Miami, keduanya tidak pernah saling menghubungi. Ia pikir pagi itu Alv menyesal. Bermesraan di pagi hari dengan seorang pria asing rasanya menyenangkan. Tidak, Alv bukan orang asing. Hanya saja itu pertama kalinya mereka sangat dekat.
Joan mengipasi wajahnya. Ia merasa panas walaupun ruangan ini memakai air conditiner. Ia tersenyum sendiri.
"Kau kepanasan?" tanya salah seorang staf prianya yang masuk kedalam ruangannya dengan tiba-tiba.
Ucapan pria itu mengejutkannya. Ia menggigit bibirnya karena malu dan menundukkan kepalanya. "Tidak.. tidak.."
"Mengapa kau gugup?" tanya pria itu kembali sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa." jawab Joan sambil berdiri.
"Ada email masuk ke email perusahaan. Ada penawaran dari brand ternama. Mereka ingin bekerja sama denganmu. Ternyata kedatangan mu ke acara award adikmu berjalan lancar. Banyak permintaan pada butik kita. Kebanyakan mereka ingin pakaian yang dikenakan oleh Brittany Jonas."
"Banyak yang baru menyadari jika rancangan ku luar biasa. Mereka baru tahu padahal aku tidak sengaja melakukannya. Sayangnya gaun kedua ku tidak bisa ia pakai karena ia sedang sakit. "
Pria itu duduk didepannya. "Lalu bagaimana dengan penawaran mereka. Kau harus berfikir jika ini untuk masa depanmu. Namamu akan menjadi salah satu designer ternama dunia."
Joan melihat isi surat yang telah di print itu. Ia menggelengkan kepalanya. "Mereka ketakutan. Sejak lama mereka takut aku mengambil konsumen mereka. Sayangnya mereka tidak memiliki designer yang bisa memahami kepribadian mereka. "
"Untuk itu mereka ingin kau bergabung? Walaupun dengan bayaran mahal?"
Joan mengangguk. "Jika aku bekerja dengan mereka, aku tidak memiliki identitas produk. Kau mengerti bukan? Aku lebih baik memiliki sebuah identitas sendiri. Itu lebih puas untukku." jelas nya.
"Kau wanita hebat. Aku senang bekerja denganmu. Lalu bagaimana dengan penawaran ini? Kau akan menjawabnya dengan sebuah penolakan? "
"Mereka tahu jika aku tidak mau kembali. Apakah ini surat ketiga?" tanya Joan.
"Ke email perusahaan baru satu." jawab pria itu santai.
"Ketiga. Karena dua email yang lain masuk ke email pribadiku." Ucap Joan sambil menatap ponselnya yang berbunyi. Ia melihatnya. Dengan malas ia mengangkat panggilan itu.
"Aku tidak mau. Aku sudah mengatakannya padamu jika aku tidak mau kembali." seru Joan kesal.
"Alasannya? Kau tahu sendiri mereka terus memaksaku untuk mendesak mu agar kau ikut bergabung dengan mereka." tanya seorang wanita yang merupakan salah satu temannya ketika di Paris dahulu.
__ADS_1
Joan duduk di kursinya. Ia menghela nafas. "Sophie, aku sudah menikah. Aku mohon padamu agar kau memberi tahu mereka jika aku sudah menikah, apakah kau keberatan? Aku tidak mungkin meninggalkan suamiku seorang diri di New York sedangkan aku mengejar karirku ke Paris. Apakah aku bukan wanita yang egois jika tetap melakukannya?"
"Kau sudah menikah? Kapan? Mengapa aku tidak tahu?" tanya wanita itu terkejut.
"Baru saja menikah. Aku harap kau memberitahu mereka. Sampai kapanpun aku tidak akan mau. Jika mereka mau, mereka bisa datang ke New York untuk bekerja sama denganku." ucap Joan sambil menutup ponselnya. Ia menyimpan ponselnya di meja dan menatap pria yang kebingungan ketika melihatnya. "Ada apa?"
"Jadi benar kau sudah menikah? Jadi benar gosip yang beredar?"
"Kau tidak perlu tahu dari mereka. Kau cukup tahu dariku. Aku telah menikah dengan seorang dokter tampan." jawab Joan bangga.
"Pria mana yang beruntung mendapatkan mu?"
"Tentu saja Albertico Alv." jawab Joan sambil tertawa senang.
Ponselnya kembali berbunyi. Ia melihatnya. Kini panggilan dari rumah. Sepertinya hari ini banyak sekali gangguan.
"Ya dad.. "
"Sayang, bisakah kau makan malam di rumah?" tanya Lee.
Joan mengangkat jari-jarinya untuk meminta pria didepannya keluar. "Kapan dad? "
"Malam ini. "
"Baiklah. dad tidak akan mengganggumu. "
Cukup sudah panggilan untuknya hari ini. Ia berdiri dan berjalan untuk menuju gudang. Ia tidak mungkin memakai pakaian yang ia gunakan sekarang. Ia menatap dirinya di kaca yang ia lewati. Sebuah celana jeans dengan kemeja kotak-kotak. Ia tidak mungkin memakai pakaian ini jika Alv ternyata mengajaknya ke sebuah restoran mewah.
Beberapa pakaian yang ia design secara khusus tersimpan di lemari yang ada di gudang. Ia mengambil satu gaun berwarna peach dengan motif bunga. Panjangnya gaun itu 15 sentimeter dibawah lutut. Ia lebih baik memakai gaun yang sedang ia pegang itu.
Masih ada waktu satu jam. Ia harus bersiap-siap. Ia tidak mau suaminya menunggu lama.
Alv mengitari jalanan Brooklyn dengan taxi. Ia belum memiliki kendaraan. Ia harap Joan akan mengerti. Tinggal beberapa blok lagi. Sudah terlihat wajah Joan didepan sebuah perbelanjaan. Ia tersenyum. Senang rasanya melihat wajah istrinya ada di mana-mana.
Taxi pun berhenti. Alv turun dari taxi dan berjalan ke depan lobi. Seorang wanita datang menyambutnya.
"Aku ingin bertemu dengan istriku." ucap Alv dengan sebuah penekanan dalam ucapannya.
"Istri? " tanya wanita itu kebingungan.
__ADS_1
"Ya, Joan Lee. Ada didalam? " tanya Alv.
"Joan Lee? " tanya wanita itu terkejut. Ia terlihat benar-benar terkejut.
Alv ingin tertawa namun menahannya. "Ada apa? Kau tidak percaya jika aku suaminya?"
"Tidak. Aku percaya. Tunggu sebentar, aku panggilkan dahulu." ucapnya.
"Ya, itu bagus. Cepatlah.. " jawab Alv. Melihat wanita itu berlari terbirit-birit membuat tawanya keluar. Senang sekali menggoda orang-orang disini. Ia melihat sebuah sofa kosong. Ia pun duduk di sana selagi menunggu Joan dipanggil.
Alv melihat ke seluruh ruangan ini. Menyenangkan sekali. Ada beberapa gaun yang dipamerkan di sebuah etalase kaca. Sepertinya itu gaun baru, pikir Alv. Ia berdiri untuk melihatnya.
"Aku pikir hanya wanita yang tertarik melihat gaun itu. Ternyata seorang pria ikut tertarik. "
Alv membalikkan tubuhnya. Joan terlihat sangat cantik. Ia sedikit berdandan dan ia yakin itu pasti untuknya. Alv tersenyum dan menghampiri Joan. Ia memeluknya erat "Itu gaun buatan mu?" bisiknya.
"Ya, lebih baik bukan?" tanya Joan dengan senyuman diwajahnya.
"Lebih baik yang sedang kau pakai. Aku menyukainya. Pas ditubuh mu" bisik Alv. Ia pun melepaskan pelukannya.
Joan tersipu malu. Ia tidak menyangka Alv akan memeluknya ketika mereka berada ditempat umum. Ia malu mengingat banyak pegawainya yang penasaran dengan sosok Alv.
"Ayo kita pergi. Jika tidak, pegawai mu akan banyak bertanya. Jangan-jangan acara kita batal." bisik Alv.
"Kau membawa kendaraan? " tanya Joan.
"Sayangnya aku belum membeli. Aku memakai taxi kesini. "jawab Alv.
" Kau memerlukan tumpangan? " tanya Joan menggoda nya.
"Ya, aku ingin tahu banyak tentang kota ini. " jawab Alv seraya berbisik. Mereka berdua pun mulai meninggalkan tempat itu menuju parkiran.
Alv memegang tangan Joan sambil berjalan. Ia tahu wanita disampingnya gugup.
"Aku seperti seorang gadis yang baru saja berpacaran. Lucu sekali. " ucap Joan sambil tersenyum.
"Kita bisa lebih dari itu karena kita sudah menikah." jawab Alv menggodanya.
"Apa? " jawab Joan terkejut. Nadanya sedikit tinggi hingga ia harus menutup mulutnya.
__ADS_1
Alv tertawa. "Aku bercanda. Kita bisa melakukannya perlahan. "
Joan mencerna ucapan Alv saat ini. Kita bisa melakukannya perlahan. Apakah saat ini mereka sudah mulai meresmikan hubungan mereka ke tahap selanjutnya?