Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Candle Light Dinner


__ADS_3

"Aku tidak akan mengulanginya lagi! Harris mengajak Brittany makan malam! Kalau kau berfikir wanita itu adalah istrimu, sebaiknya kau segera datang ke LA!" seru Lana kesal. Berulang kali Joey mengatakan keresahannya. Ia semakin penasaran, apa yang sedang disembunyikan Brittany.


"Lana!" panggil Brittany. Ia bersembunyi dibalik tembok kamar di kondo nya.


"Aku tutup sekarang! Kau hanya memerlukan beberapa jam untuk sampai ke LA!" bisik Lana sambil berdiri. Ia menutup teleponnya dengan cepat.


"Siapa yang kau hubungi?" tanya Brittany bingung.


Lana gugup. Ia takut penyelidikannya terbongkar. "Aku menghubungi orang butik."


"Kemari lah, aku ingin segera merapikan makeup ku." ucap Brittany.


Lana hanya mengangguk dan berjalan menghampirinya. Brittany sudah duduk didepan cermin. Sedangkan Lana mulai mengeluarkan make up-nya. Ia menatap wajah tanpa make up di kaca. "Apa yang terjadi dengan pipi atas mu yang paling kanan?"


Brittany menyentuh pipinya dengan cepat. Ia terlihat gugup. "Tidak ada. Kau salah lihat. Aku tidak pernah melakukan sesuatu pada wajahku."


"Aku tidak bisa dibohongi, sayang. Ya, kau melakukannya. Kau mau bercerita denganku?"


"Tidak! Aku tidak bisa!" teriak Brittany histeris.


Lana mengerutkan keningnya."Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan bertanya kembali." jawab Lana. Iapun mulai memberikan krim pelembab pada wajah Brittany. "Seorang artis baru melakukan operasi kecil pada wajahnya adalah sesuatu yang wajar. Kau bisa melakukannya karena ingin terkenal."


"Aku tidak akan pernah melakukannya " jawab Brittany berbohong.


"Aku ingin bertanya padamu. Siapakah Albertico Alv itu? Apakah dia kekasihmu? Tapi yang aku tahu, ketika kau masuk ke dunia entertainment, agensi akan menolak untuk memberikan kontrak denganmu jika kau memiliki kekasih. Namun kebanyakan mereka melakukannya diam-diam."


"Alv? Ia sahabatku. Ia yang membantuku melewati masa tersulit ku. Aku berhutang budi padanya. Ketika aku kesulitan seperti kemarin, ia datang disaat yang tepat."


Lana mengangguk mengerti. "Kau kesulitan karena Dean?"


Brittany hanya diam. Itu menandakan iya.


"Ia pun sama kesulitan sepertimu. Ia pernah berada pada kondisi terburuk. Ia hampir menyerah pada hidupnya. Jika kau mengenalnya beberapa tahun yang lalu, ia sempat mendapatkan penghargaan atas filmnya. Namun sayang, ketika ia berada diatas panggung ia menangis." ungkap Lana. Jari-jarinya berhenti bergerak. Ia merasa sedih mengingat hal itu. "Ia menangis karena kehilangan istri dan bayinya. Saat itu, ia mundur dari dunia yang telah membesarkannya."


Tubuh Brittany bergetar. Apakah Dean memang seperti yang dikatakan Lana?


"Lana, aku harus ke toilet sebentar." ucapnya sambil berdiri. Ia berjalan ke toilet dan menutup pintu rapat. Ia menatap dirinya didepan cermin. Bulir airmata mulai turun.


Kau kehilanganku, dan aku kehilangan bayiku serta kehilangan harapan untuk memiliki anak, Dean. Kau yang mengusirku dari kehidupanmu..


Ia mulai menangis. Ia menatap cermin. Mengapa ia menangis?


Lana mendengarnya dari balik pintu. Sekarang ia yakin, wanita yang didalam adalah Jessy. Seberapa banyak wanita itu menutupinya, ia semakin tahu. Bagaimana tidak, ia langsung mengenalnya ketika pertama kali bertemu. Tatapan itu tidak bisa dibohongi. Mata Jessy hanya dimiliki oleh sedikit orang di dunia. Ketika Jessy menutup wajahnya dan hanya menyisakan matanya saja pun, ia pasti mengenalnya dengan cepat.

__ADS_1


"Brittany.. kau baik-baik saja?" tanya Lana sambil mengetuk pintu.


"Ya.. maafkan aku, makeup ku luntur. Aku tadi terjatuh, Lana..


"Tidak apa-apa sayang. Kita bisa melakukannya kembali." jawab Lana dari luar. Ia berjalan kembali ke meja rias. Ia duduk. Baik Jessy maupun Dean sama-sama tersakiti. Apa yang harus ia lakukan untuk menyatukan kedua hati yang telah patah itu? Ia menghela nafas. Mudah-mudahan Dean cepat sampai.


Ketika Britanny keluar dari kamar mandi, ia menatap Lana. "Maafkan aku.."


Lana beranjak dari duduknya dan menghampiri Brittany. "Apakah kau kesakitan? Bagaimana bisa kau terjatuh didalam?" tanya Lana cemas. Padahal ia tahu jika Brittany tidak jatuh. Jika ia membongkarnya sekarang, rasanya belum tepat. Sampai sekarang ia belum tahu motif Jessy melakukan ini. Apakah ia ingin membalas dendam pada Dean? Atau pada Harris?


"Aku baik-baik saja." jawab Brittany sambil berjalan melewatinya. "Lana, mengapa kau bersedia menjadi stylist ku? Aku jadi kesulitan.." tanyanya. Ia kembali duduk di kursi rias.


"Aku bosan. Aku ingin bekerja pada seseorang. Dan memang kebetulan perusahaan mu membutuhkan stylist untukmu. Bagiku uang bukan segalanya. Aku telah memiliki semuanya." jawab Lana. Ia tahu Brittany terus menatapnya ketika Lana memulai membersihkan wajahnya.


"Aku akan berada dibelakang mu. Aku akan mendukungmu. Kau bisa percaya padaku."


Tidak ada waktu yang tersisa bagi Dean. Ia menatap jam tangannya. Menurut Lana, mereka telah saling bertemu disebuah restoran mewah. Sialan Harris, ia langsung menyergap mangsanya. Ia tidak akan membiarkannya lolos. Ia layak disebut pria yang tidak bertanggungjawab. Namun ini menyangkut masa depan. Ia tidak akan membiarkan Jessy berada diperlukan Harris. Ia tahu sifat pria itu. Ketika ia merasa tertarik, ia akan mengesampingkan urusan pekerjaannya.


Taxi yang membawanya ke sebuah restoran tiba-tiba berhenti ditengah jalan. Ia melihat jalanan begitu ramai. Tanpa menunggu lama, ia keluar dari taxi dan membayarnya. Ia berlari agar segera sampai ke restoran yang letaknya hanya dua blok dari tempatnya sekarang.


Brittany duduk dengan elegan. Pakaiannya yang pendek tidak membuatnya merasa terganggu. Ia menatap pria itu tajam. Salah satu tangannya disimpan diatas meja. Ia merapikan rambutnya yang jatuh di depan meja. Ia tidak tahu jika hal sekecil itu membuat Harris berdebar.


"Kau sering membawa artis mu ke restoran ini?" tanya Brittany.


Brittany tersenyum. "Baiklah.."


"Ketika melihatmu di acara fashion itu, aku langsung berfikir kau wanita yang selama ini aku cari. Kau memiliki aura yang dapat memikat para pria termasuk aku. Tidak pernah aku melihat wanita sepertimu. Kau cantik, seksi dan pesona mu luar biasa." ucap Harris. "Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan makan malam berdua denganmu."


Brittany melihat sekelilingnya. "Semuanya indah. Ini kali pertama untukku datang ke LA. Aku tidak pernah kesini sebelumnya. LA kota yang indah. Apakah kau berasal dari sini?" tanya Brittany berpura-pura.


Harris menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kantorku berada di NY. Aku datang ke LA untuk mengejar mu." ucapnya sambil tersenyum.


Brittany tersenyum. "Aku tersanjung. Kau terlihat baik."


"Kebetulan sekali!!" seru seseorang.


Brittany mengenal suara itu. Ia hanya melihat mimik waja Harris yang langsung berubah. Bagaimana Dean tahu ia dan Harris sedang makan malam? Apakah Lana yang melakukannya? Sejak awal ia tahu, Lana yang akan menggagalkan semua rencananya.


Dean duduk disamping Brittany. "Halo, Brittany. Apakah aku mengganggu kalian?"


Brittany menyandarkan punggungnya. Matanya menyorot punggung Dean yang basah oleh keringat. Begitu pula dengan tangannya. Pria itu menggenggam tangannya dengan erat. Mengingat ucapan Lana tadi, ia berharap ucapannya bohong. Dean tidak mungkin melakukannya. Ketika ia menjalani operasi dan memulai perawatan, ia menolak sepenuhnya menonton televisi.


"Apakah kau menawarkan kontrak pada Brittany?" tanya Dean pada Harris.

__ADS_1


"Bukan urusanmu, Dean. Aku berada disini karena sedang makan malam. Kau tidak ada urusan berada disini. Pergilah.." ucap Harris tajam.


"Kau salah, aku yang pertama kali menemukan Brittany. Lagipula apa yang mau dibanggakan oleh rumah produksi mu? Kau tidak bisa menghasilkan apapun. Karyamu nol!"kritik Dean.


"Dean, pergilah. Benar kata Harris. Kau tidak ada urusan disini." ucap Brittany.


"Aku akan pergi tapi denganmu." ucap Dean. Tiba-tiba ia menarik tangan Brittany dan membuatnya berdiri.


"Aku tidak mau!" protes Brittany.


Harris bangun dari duduknya dan mendorong Dean hingga ia terduduk. Brittany menjerit ketakutan. "Harris!"


Dean tersenyum. "Kau tidak ingat apa yang sudah kau lakukan pada Jessy sehingga ia pergi dari hidupku?" tanya Dean cepat.


Harris terdiam. Dan Brittany ikut mematung. Ia melihat wajah Harris. Ini tidak bisa dibiarkan. Jika ia masih berada disini, Dean dan Harris akan baku hantam. Hal ini akan mempengaruhi popularitasnya yang saat ini tengah naik.


"Stop! Aku akan pergi dari sini! Aku tidak mau ada keributan!" ucap Brittany sambil berdiri.


"Itu bagus." jawab Dean senang.


Brittany menatap Harris. "Maafkan aku, kita bisa makan malam lain kali. Aku lebih baik pulang."


Harris mengangguk. "Kita bisa pergi tanpa pengacau sepertinya. Aku akan mengantarmu pulang."


Dean berdiri untuk menahan Harris mendekatinya. "Kau tidak bisa melakukannya.."


Dean menarik tangan Brittany keluar restoran.


"Lepaskan, Dean! Kau tidak bisa memaksaku. Kau selalu memaksaku untuk melakukan sesuai kehendak mu!"


Dean tersenyum dan melepaskan tangannya. Ia mendorong tubuh Brittany kedalam lift.


"Aku tidak pernah memaksamu, Brittany. Kau ingat, kita baru dua kali bertemu. Bagaimana bisa kau katakan aku selalu memaksamu? Kapan aku melakukannya?"


Brittany selalu melakukan hal bodoh seperti ini. Jika ia terus melakukannya, tidak akan lama lagi Dean akan tahu identitas aslinya. "Aku mendengar dari Lana kau biasa memaksa seseorang!"ucapnya gugup.


Dean tersenyum. "Sepertinya kau salah dengar. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu."


Ketika berada diluar, Joey dan Lana sudah menunggu didepan mobil. Brittany terkejut. "Apa yang kalian lakukan? Apakah ini rencana kalian?"


"Joey terus mengatakan ia cemas padamu." ucap Lana.


"Joey?" tanya Dean. "Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya. Apakah kau diam di Nevada sebelumnya?"

__ADS_1


Brittany melotot karena terkejut. Ia menatap Dean yang saat ini tengah menekan Joey dengan tatapannya. Ini tidak bisa dibiarkan..!


__ADS_2