
"Aku lelah, Joey.." ungkap Brittany. Ia baru saja landing dari pesawat. Pemotretan di Inggris membuatnya lelah. Malam ini ia bahkan harus menghadiri acara peresmian agensinya. Beberapa media dan artis terkenal akan hadir. Namun ia kelelahan. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Apakah ia sanggup menghadiri acara itu?
Joey menyimpan beberapa tas Brittany di sudut ruangan. "Pekerjaanmu terlalu banyak, **. Aku pun kelelahan." jawabnya. Ia beberapa kali masuk ke kamar Brittany tapi ia tidak pernah menemukan sesuatu yang janggal. Kamar Brittany hanya memiliki satu buah ranjang besar ukuran double dan sebuah meja rias yang harganya kemungkinan sangat mahal. Terlihat biasa saja. Apalagi meja rias itu baru saja dibeli dari penghasilan pertamanya sebagai model.
Brittany menutup matanya. Pekerjaannya memang banyak, tapi ia memiliki tujuan. Ia ingin orang-orang cepat mengenalnya. Sehingga ia mudah memberikan pelajaran pada orang-orang yang telah menyakitinya.
Joey berlari ke pintu ketika terdengar suara bel berbunyi. Brittany menoleh sebentar dan kembali menutup matanya. Ia mendengar langkah cepat Joey menuju arahnya.
"**, gaun yang agensi siapkan sudah tiba."
Brittany membuka matanya dan mengangguk pelan. "Simpan saja. Akan aku pikirkan apakah aku akan pergi atau tidak."
Joey menyimpan gaun itu diatas tempat tidur dan keluar dari kamar. Banyak yang bisa ia lakukan selama Brittany tidur.
"**, bangunlah. Aku mendapat panggilan dari Deniz, kau harus menghadiri acara itu." panggil Joey beberapa waktu kemudian.
Brittany membuka matanya. "Deniz menghubungimu?"
"Ya, karena ia tahu kau pasti sedang tidur. Katanya kau harus bertemu dengan seseorang disana." ucap Joey
Brittany menggeliat. Ia mulai membaik. Rasa lelahnya sudah terobati dengan tidur beberapa jam saja. Ia bangun dan berjalan ke kamar mandi.
"Apakah ada tawaran produk lagi?" tanyanya pada Joey. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
Selesai dari kamar mandi, ia menatap gaun yang dikirimkan oleh agensi. Gaun itu terlalu biasa saja. Ia memiliki gaun yang lebih indah dibanding itu. "Singkirkan itu, Joey. Aku memiliki gaun yang lebih pantas. Aku merasa malam ini akan menemui sesuatu yang menarik." ucapnya sambil berjalan ke arah lemari. Ia membukanya. Ada beberapa pakaian yang bahkan belum pernah terpakai. Ia mengeluarkan sebuah gaun yang ditutupi plastik bening itu. Ketika ia berada di Italy untuk pemotretan, ia jatuh cinta pada salah satu gaun yang terpasang di satu toko. Gaun itu cantik dan berwarna merah. Ia kini berani bahkan ketika media mulai meliriknya. Ia akan menjadi sorotan malam ini.
"Bukankah gaun itu terlalu minim?" tanya Joey sambil menghampirinya.
Brittany mengeluarkan gaun itu dari dalam plastik dan menatapnya. Gaun ini memang minim. Ia sengaja memakainya untuk acara penting seperti sekarang. Ia akan menjadi pusat perhatian para pria. Permainan akan segera ia mainkan. Malam ini layak diapresiasi karena ia yakin malam ini ia akan tidur dengan nyenyak.
Pesta dilakukan sebagai tanda kesuksesan suatu perusahaan. Banyak media dan aktor/aktris maupun model yang berada dibawah perusahaannya.
__ADS_1
Mobil yang Brittany tumpangi hanya berjarak beberapa meter saja. Namun tetap saja ia merasa terlalu lama.
"**.. jika kau ditawari sebuah film, apakah kau mau ikut?" tanya Joey.
"Tentu saja, itu tujuanku." jawab Brittany tenang.
Joey hanya bisa menatap Brittany bangga. Orang yang banyak membantunya hingga kini telah menjadi seorang artis besar. Beberapa produk yang terpasang di beberapa billboard kota terpasang wajahnya. Ia memiliki tujuan, Joey tahu itu. Namun apapun tujuannya, ia akan senantiasa berada dibelakangnya.
Gaun berwarna merah dengan belahan samping sepanjang paha, punggung terekspos, high heels mewah, lipstik berwarna merah, kalung dengan inisial namanya, dan tas berharga ratusan ribu dollar terpasang di seluruh tubuhnya. Ketika ia keluar dari mobil, tampilannya langsung disorot. Ini bukan red carpet, tapi pesonanya akan meluluhkan siapapun yang melihat. Banyak yang terkejut dengan begitu cepatnya ia mendapatkan kesuksesan.
"Brittany!"
Brittany melihat siapa yang memanggilnya. Deniz, pria yang telah menjadi manajernya tengah berjalan menghampirinya. Ia melihat siapa wanita yang ada disampingnya. Cukup mengejutkan dan tidak diduga. Lana berada disampingnya. Yang terpikir dalam kepalanya adalah rencana apa yang ada di kepala Lana? Apakah ia masih penasaran dengan masa lalunya? Ia teringat di acara itu, Lana terus mengejarnya.
"Hai, Brittany.." panggil Lana sambil tersenyum. Ia terlihat cantik dengan gaunnya.
Brittany tersenyum. Tatapannya ia layangkan pada Deniz dengan berbagai pertanyaan. Pria itu tersenyum padanya.
Brittany berdeham. "Tentu saja, aku masih mengingat wanita yang terus mengejar ku saat itu." ucapnya tajam.
"Lana ini akan menjadi stylist dan make up artist khusus yang menangani mu. Kemanapun kau pergi, di acara apapun, Lana yang akan bertanggungjawab. Kau senang bukan?" tanya Deniz.
Senang? Tidak. Ia sama sekali tidak senang. Lana bisa merusak rencananya. Identitasnya yang baru sulit ia dapatkan. Ia tidak mungkin memberitahu Lana dengan identitas sebelumnya.
"Ya, aku senang. Selamat bergabung Lana. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Berapa bayaran mu? Kau memiliki butik dan kau seorang designer terkenal. Kenapa kau mau jadi stylist seorang artis baru sepertiku?"
"Bagaimana kau bisa tahu aku seorang designer terkenal? Aku belum mengatakannya." selidik Lana.
Brittany tercekat. Ia terpancing. "Kau pernah mengatakannya pada ku. Kau memiliki sebuah butik di New York."
Lana tersenyum samar. Ia melihat wanita didepannya gugup. Sama seperti Jessy yang gugup ketika menghadapi sesuatu. Ia terlihat memainkan jari-jarinya.
__ADS_1
Deniz berpamitan pada mereka. Brittany menunduk pada Joey dan berbisik. "Pergilah, aku bisa menghadapi ini."
Gadis itu mengangguk dan pergi dari tempatnya. Brittany mengajak Lana untuk mengambil minuman. "Apakah kau sengaja berada di Turki?" tanya Brittany.
"Tidak. Hanya kebetulan. Ketika aku sedang berlibur, aku mendengar kabar jika agensimu sedang membutuhkan seorang stylist. Aku datang dan mereka menerimaku." jawab Lana tenang. Ia sedikit terkejut ketika Brittany membalikkan tubuhnya dan menatapnya. Ia melihat sebuah bandul di kalung yang sedang dipakai Brittany. Jantungnya berdebar dengan kencang.
Brittany mengambil satu gelas wine dan meminumnya dengan cepat.
"Kau tidak bisa meminumnya dengan cepat, sayang. itu bisa memabukkan.." seru Lana.
Brittany tidak peduli. Ia mengambil gelas kedua dan mulai meminumnya perlahan.
"Brittany, kau ingat teman yang aku ceritakan ketika kita di Paris?" tanya Lana tiba-tiba.
Brittany tersedak karena terkejut. Lana mendekat dan menepuk bahunya. "Kenapa? Kau terkejut?" selidiknya.
Brittany menggelengkan kepalanya. "Tidak. Untuk apa aku terkejut. Aku tidak mengenal temanmu."
"Kau akan mengenalnya sekarang. Ia datang kesini karena ingin menemui mu. Ia adalah seorang pria tampan. Kau pasti terpesona ketika melihatnya. Ia baru saja datang. Lihatlah.." ucap Lana sambil melihat ke pintu masuk.
Jantung Brittany hampir berhenti berdetak. Ia siap bertemu dengan Harris atau siapapun itu. Tapi, ia belum siap bertemu dengan Dean. Ia membutuhkan beberapa hari lagi. Tidak saat ini. Ia benar-benar terkejut. Ia tidak berani membalikkan tubuhnya untuk melihat kesana.
"Dean!" panggil Lana seraya melambaikan tangannya. Ia kemudian melihat Brittany yang mematung. "Brittany.. pria itu adalah Dean Justin Lee. Pria tampan dari New York. Ia seorang sutradara dan pemilik rumah produksi."
Dengan tubuh bergetar, Brittany membalikkan badannya. Ia menatap pria yang kini tengah menatapnya haru. Kedua matanya terlihat memendam kesedihan ketika melihatnya. Mereka berdua terpaku dan saling bertatapan. Pria itu mulai mendekatinya.
"Halo, aku Dean. Senang bertemu denganmu.." ucap Dean sambil mengulurkan tangannya.
Brittany mengangkat tangannya ragu. Pria itu langsung menangkap tangannya dan tersenyum.
"Brittany Jonas." jawabnya pelan.
__ADS_1