
Joan meninggalkan acara itu untuk langsung pergi ke apartemen Dean. Sejak ia sibuk dengan pekerjaannya, ia sedikit melupakan Jessy. Padahal niatnya pulang ke New York untuk beristirahat. Namun ternyata salah. Ia malah mendapatkan banyak tawaran dari rumah mode dunia.
Ia terus menghubungi Dean namun ponselnya kini tidak aktif. Hanya ada satu cara. Menghubungi Harris. Ia yakin Harris ada disana. Selama di perjalanan menuju apartemen, ia terus menghubungi Harris.
"Halo.."
"Akhirnya. Aku menghubungimu sejak tadi." ucap Joan cemas.
"Ada apa? Kau mencari Dean? Kau bisa langsung menghubunginya."
"Tidak bisa. Aku cemas. Bisa kau lihat keadaan Dean sekarang? Aku takut sekali. Ia sedang cemburu buta. Aku takut ia melakukan hal bodoh." ucap Joan dengan nada cemas.
"Cemburu?" tanya Harris sambil melirik wanita disampingnya yang kini tengah tersenyum.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku minta jaga Dean untukku. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ini mengenai Jessy. Dean sedang cemburu. Aku yakin itu bukan sesuatu yang baik."
"Seharusnya kau menjaga istri adikmu. Aku tahu semua. Foto-foto antara Jessy dengan seorang pria latin sudah sampai ke tangan Dean. Jika kau tidak lengah, kejadian ini tidak akan terjadi." ucap Harris.
Joan terdiam. Foto-foto Jessy? Bukankah ia sudah memperingatkan agar menjauhi pria itu? Bagaimana bisa foto-foto itu sampai ditangan Dean?
"Aku akan mencari tahu. Aku hanya ingin kau menjaga Dean untukku." ucap Joan sambil menutup telepon.
Ketika mobilnya memasuki parkiran, ia melihat beberapa security sedang bertugas di basement. Ia keluar dengan cepat. Pakaiannya yang mencolok menjadi perhatian beberapa orang yang ada disana. Namun ia tidak peduli. Ia menaiki lift langsung tanpa menunggu apapun lagi.
Sayangnya ketika ia sampai didepan apartment Dean, ia melihat beberapa karangan bunga didepan pintu. Ia penasaran, siapa pengirim bunga sebanyak itu? Ketika ia mengambil salah satunya, hanya ada tulisan "Secret Admirer". Ia yakin ada yang mau memisahkan Dean dengan istrinya. Ia harus bertindak sesuatu. Ia menekan bell lama namun tidak dibuka. Ia mencoba menghubungi Jessy namun ponselnya sibuk. Ia terdiam sambil melihat kurir yang terus datang mengirimkan bunga.
Jessy tengah duduk di ruang tunggu rumah sakit sambil menatap hasil foto yang ia dapatkan dari dokter.
"Selamat, anda hamil. Sudah berjalan 6 minggu."
Ada perasaan haru. Ia tidak menyangka jika ia benar-benar hamil anak Dean. Ternyata tubuhnya sakit dan ia sering muntah di pagi hari karena ia tengah hamil. Ia ingin memberikan surprise pada Dean namun ia akan menunggu. Berulang kali ia menghubungi Dean namun ponselnya tidak aktif.
Ia berdiri dan melangkah keluar dari rumah sakit. Ia menyimpan tangannya di perut. Ia akan melindungi bayi ini sampai kapanpun. Ia tidak akan menyakitinya. Ketika berada diluar rumah sakit, ia menunggu seseorang. Ia ingin menyelesaikannya saat ini. Ia teringat ucapan Dean dan Joan untuk menyelesaikan semuanya.
Terdengar suara klakson mobil. Ia langsung memasukkan foto itu kedalam tasnya. Ia melihat Jose menjemputnya. Iapun masuk kedalam mobil.
"Apa yang kau lakukan di rumah sakit? Kau sakit?" tanyanya cemas.
Jessy tersenyum. "Aku hanya flu biasa". jawabnya. Ia tidak mungkin mengatakan dirinya hamil sebelum suaminya tahu. Ia ingin Dean yang mendengarnya terlebih dahulu.
"Tapi kau baik-baik saja?"
Jessy hanya mengangguk. Ia melihat beberapa anak sekolah yang baru saja pulang menaiki bis sekolah. Ia kembali memegang perutnya. Ia bahagia.
__ADS_1
Mereka tiba di sebuah cafe yang terletak ditengah kota. Mereka pun turun dan masuk ke cafe yang tidak terlalu penuh itu. Mereka masing-masing memiliki kepentingan.
"Aku ingin kita tidak pernah bertemu kembali." ucap Jessy tiba-tiba
"Kau memang tidak akan bisa menemuiku untuk waktu yang lama." jawab Jose.
"Mungkin selamanya."
Terlihat wajah terkejut Jose.
"Aku tahu kau mungkin terkejut. Tapi, aku harus mengikuti ucapan Dean. Ia tidak menyukaimu. Ia cemburu melihat kita berdua berbincang seperti ini."
Jose menghela nafas. "Baiklah, demi kebahagiaanmu. Jika suatu saat suamimu sudah tidak cemburu, beritahu aku. Aku bisa menjadi sahabatmu kapanpun kau mau."
"Terimakasih. Kau sebenarnya baik. Sejak pertemuan pertama kita, kau terus membantuku."
"Aku senang melakukannya." jawab Jose. Ia kemudian menatap lama Jessy. Ternyata benar, ada beberapa bagian wajahnya' yang mengingatkannya pada Isabela dan Jonas. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Bertanyalah. Ini pertemuan kita yang terakhir." ucap Jessy.
Walaupun sedih dengan jawaban Jessy, ia menjawab dengan tenang. "Aku dengar kau berasal dari yayasan? Kau tidak memiliki orangtua?"
Tiba-tiba mata Jessy berkaca-kaca. "Aku sedih jika membicarakan orangtuaku."
"Tidak apa-apa. Ceritakan padaku. Darimana kau berasal? Atau kau tidak tahu?"
Jose terkejut mendengarnya. Iapun sempat mendengar dari Isabela dan Jonas jika mereka kehilangan bayinya di Nevada.
"Jika suatu saat kau kembali bertemu dengan orangtuamu, apa yang akan kau katakan?"
Jessy menitikkan airmata. "Aku hanya ingin bertanya, mengapa mereka tidak mencari ku selama dua puluh tahun ini?"
Jose menenangkan Jessy dengan memegang tangannya. "Aku yang akan mencarinya untukmu."
"Aku sudah berhenti berharap. Lee sudah aku anggap sebagai ayahku. Begitu pula dengan anastasia. Mereka sangat baik padaku." ucap Jessy sambil menghapus air matanya.
"Beritahu aku nama yayasan tempat kau tumbuh. Aku berjanji akan mencari tahu tentang keluargamu. Kau ingat, aku sahabatmu. Aku akan menjauhimu hingga suamimu tidak cemburu lagi padaku. Berikan pengertian pada suamimu jika aku ini hanya bagian dari penggemarmu."
"Terimakasih, Jose.." ucap Jessy.
...***...
"Jessy berasal dari Nevada. Apakah kalian terkejut?" tanya Jose ketika ia menghubungi Isabela dan Jonas.
__ADS_1
"Nevada?" seru Isabela.
Jose sedang berjalan melewati beberapa blok untuk sampai ke apartemennya. Ia sudah menyimpan mobilnya di basement dan berjalan-jalan sebentar untuk menikmati malam. Ia terdiam sejenak sambil melihat beberapa orang yang sedang berlalu lalang disekitarnya. Hari sudah gelap tapi jalanan masih ramai. Ketika tahu Jessy berasal dari Nevada, ia tidak sabar untuk memberitahukannya pada Isabela.
"Kalian berdua harus menunggu. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk menyelidikinya." ucap Jose.
"Kami berharap padamu. Jika kau menemukan titik terang, kami akan pergi menyusul mu."
Jose tersenyum. "Baiklah.. jaga diri kalian baik-baik. Jangan terlalu banyak berfikir."
Ketika ponsel ditutup, ia melihat sebuah berita. Foto-foto antara Dean dan manajernya sudah tersebar. Ia membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak percaya pria itu akan melakukannya secepat ini. Ia berjalan cepat bahkan hampir berlari. Namun kakinya tertahan. Ia ingat jika hari ini adalah hari terakhir ia bertemu dengan Jessy.
Ketika Jessy kembali ke apartemen, ia terkejut melihat karangan bunga didepan pintu apartemennya. Ia mengambil salah satunya dan melihat siapa pengirimnya. Hanya ada tulisan Secret Admirer. Ia ingat jika ia baru saja memiliki situs penggemar. Tapi, jika mereka mengirimkan bunga, ia pasti memberitahunya. Lalu siapa yang mengirimnya? Apakah Dean memberikannya kejutan?
Jessy memegang perutnya sambil tersenyum. Ia ingin segera memberikan kabar baik ini padanya. Suasana hatinya sedang sangat baik malam ini. Walaupun sebenarnya ia sedih karena harus kehilangan sahabatnya. Namun, bayi di kandungannya jauh lebih penting.
"Kau sudah pulang?" tanya Joan ketika Jessy baru saja membuka pintu.
Jessy terkejut. "Kau mengejutkanku?" seru Jessy. Ia melangkah menghampirinya. "Kau menungguku?"
Joan mengangguk. "Ya. Ada sesuatu yang sangat penting. Ini mengenai Dean."
Jessy duduk disampingnya. "Dean? Aku tidak bisa menghubunginya sejak siang."
"Apakah kau masih bertemu dengan pria itu?"
Jessy menghela nafas. "Hari ini aku memutuskan persahabatan dengan Jose. Aku tidak ingin Dean terus cemburu pada pria yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apapun denganku."
"Namun Dean berbeda. Aku harap kau tidak melakukannya lagi. Hormati suamimu yang saat ini sedang jauh darimu. Dean belum pernah jatuh cinta selain padamu. Ia belum pernah merasakan cemburu pada pasangan. Aku tahu Dean sangat pen cemburu melebihi apapun. Ketika dad menikah, ia sangat cemburu pada istrinya. Namun kali ini berbeda. Kali ini ia cemburu dengan orang yang dekat dengan pasangannya. Kau bisa merasakannya juga bukan?"
Jessy menunduk. "Maafkan aku. Aku kesepian. Aku membutuhkan sahabat untuk bercerita. Aku membutuhkan seseorang yang bisa diajak bertukar pikiran. Untuk itulah Jose datang dan mau mendengar semua ceritaku." ucap Jessy pelan. "Namun jika aku salah, aku minta maaf."
"Tidak ada salahnya berteman. Kau bisa berteman dengan siapa saja. Itu menurutku. Tapi tidak dengan Dean. Kau harus mengerti itu."
"Baiklah, aku mengerti. Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Joan berfikir sejenak. "Kau mau menyusul Dean?"
Jessy memegang perutnya dengan cepat. Apakah akan baik-baik saja jika ia melakukan perjalanan jarak jauh ke Santorini? Apakah bayinya akan bertahan? Ia kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku akan pergi namun setelah semua urusanku disini selesai."
Joan melihat Jessy tidak biasa. "Kenapa kau memegang perutmu?"
Jessy melepaskan tangannya. "Tidak ada." ucapnya cepat.
__ADS_1
Ketika Joan sudah pulang, ia menatap cermin sambil memegang perutnya. Ia tersenyum. Ia akan bertemu dengan Dean dan mengatakan untuk pertama kalinya pada Dean. Ia akan mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau orang lain tahu terlebih dahulu. Ia tersenyum mengingat hal itu akan terjadi. Ia mulai membuka pakaiannya dan terlihatlah perutnya. Walaupun masih kecil, tapi ia dapat melihat perubahan bentuk tubuhnya.
"Tunggu sembilan bulan, kau akan menjadi anak seorang sutradara terkenal, sayang. Akan banyak yang menyayangimu." ucapnya sambil mengelus perutnya. Tiba-tiba ia teringat karangan bunga itu. Siapa yang mengirimkannya?