
Alv!" panggil Lily kencang.
"Alv!" panggilnya kembali. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dan melihat reaksi Alv. Kakinya bergetar ketika mendengar kabar mengenai Brittany semalam. Ia tiba dari Yunani menggunakan pesawat paling pagi. Semuanya begitu cepat. Padahal semalam ia menonton iklan Brittany dan mengirimkan pesan padanya. Namun berita itu muncul dengan cepat. Jose menghubunginya semalam.
Lily berusaha untuk membuka pintu. Walaupun itu rumahnya juga tapi masalah kunci rumah tidak pernah ia menyimpannya. "Alv!" teriaknya kembali.
"Aysun, jika kau mencari kakakmu, ia sudah pergi sejak kemarin sore. Ia pergi dengan terburu-buru seperti tidak ada hari esok. Aku tidak sempat bertanya kemana ia pergi." jawab salah seorang tetangganya. Ia hanya terlihat mengeluarkan kepalanya saja ketika berbicara dengannya melalui jendela.
"Alv pergi kemana?" tanya Lily bingung.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Ia tidak mengatakan apapun. Hanya saja ia terlihat shock."
"Apakah ia pergi ke New York? Kenapa ia meninggalkanku?"geram Lily. Padahal ia ingin sekali pergi kesana. Selain melihat keadaan Brittany, iapun ingin bertemu dengan pria pujaannya. Iapun berbalik dan berjalan meninggalkan rumahnya.
"Aysun! Kau tidak mau mencicipi makanan yang aku buat?" teriak wanita itu.
Tidak ada jawaban karena Lily sudah berjalan menjauh.
"Dasar tidak sopan. Ia menghiraukan orangtua. Jika kau meminta makananku, aku tidak akan memberikannya " umpat wanita tua itu.
Pesawat yang ditumpangi Alv sudah mendarat di kota yang belum pernah ia singgahi sebelumnya. New York adalah kota yang padat. Sepanjang perjalanan dari Istanbul, hatinya terus merasa tidak tenang. Ketakutannya akhirnya terjadi. Brittany hilang tanpa siapapun yang tahu. Menurut laporan polisi yang ia ketahui dari Joey, kemungkinan Brittany diculik.
Langkahnya semakin cepat. Ia tidak tahan untuk segera bergabung dengan pihak polisi untuk mencari Brittany. Ia terus berharap keajaiban akan datang. Ia harap Brittany selamat.
Ia bergegas mencari taxi ketika sudah berada diluar. Hanya dengan melihat kondisi bandara, ia dapat mengetahui bagaimana kondisi kota ini. Yang pasti kota ini sangat ramai. Ia melihat ada taxi kosong yang baru saja tiba. Ia berlari mengejar taxi itu. Sayangnya ia bertabrakan dengan seorang wanita. Mereka berdua terjatuh. Alv bisa bangun dengan cepat. Ia membantu wanita didepannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alv cemas. "Ada yang sakit?"
__ADS_1
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, aku terburu-buru."
Alv membantu wanita itu berdiri. "Aku pun meminta maaf. Aku sedang terburu-buru pula."
Wanita itu memungut kantong-kantong kertas yang dibawanya. Ia melihat pria didepannya ikut membantu.
"Bisakah aku menggunakan taxi nya sekarang? Aku sedang terburu-buru. Aku harus cepat pulang ke rumah." ucapnya.
Alv menganggukkan kepalanya. "Well.. Sepertinya kau jauh lebih penting. Baiklah.. Aku akan menunggu taxi berikutnya." ucap Alv sambil membukakan pintu taxi.
Beruntungnya, ia tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan taxi berikutnya. Iapun menaikinya dan mulai mencari alamat yang sudah Joey berikan padanya.
Taxi yang ditumpanginya melewati beberapa pertokoan mewah. Ia melihat billboard yang memasang wajah Brittany terlihat dibeberapa sudut jalan. Brittany sudah terkenal. Namun, ia tidak peduli dengan profesinya. Jika memungkinkan, ia akan kembali melamarnya.
Taxi berhenti disebuah bangunan tingkat yang terlihat mewah. Ia melihat beberapa orang keluar dari salah satu pintu. Iapun masuk kedalam. Yang ia ingat adalah Brittany tinggal di lantai empat. Tanpa menunggu lama, ia langsung menaiki lift untuk sampai ke lantai empat dengan cepat.
"Alv!" seru Isabela. "Bije hilang." isaknya. Ia memeluk Alv sambil menangis.
"Kita bisa menemukannya." jawab Alv optimis. Ia melihat disudut ruangan, Joey tengah melihat keluar dengan tatapan kosong. Ia masih terlihat shock.
"Kita pasti bisa menemukan Bije-mu." ucap Alv
Joey menatap Alv kemudian menangis. "Saat itu Bije hanya mengatakan akan membeli kopi. Tapi ia tidak pernah kembali."
"Aku yakin, kita bisa menemukannya." jawab Alv.
...***...
__ADS_1
Dean menjabat tangan seorang pria yang baru saja ia temui. Sebuah stasiun televisi paling besar.
"Carl, terima kasih karena kau melakukannya sesuai janjimu. Aku tidak melihat berita mengenai hilangnya Brittany sejak kemarin. Banyak masyarakat yang hanya percaya dengan berita darimu. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus mengatakannya. Tapi, aku benar-benar berterima kasih. Jika semua sudah selesai, aku akan mengajakmu makan malam enak."
"Kau bisa mengandalkan ku. Jika hanya menyimpan sebuah berita bukan sesuatu yang sulit. Apalagi ini menyangkut sebuah penculikan. Tapi, kenapa kau lakukan ini? Brittany adalah seorang artis baru. Kami pun mulai meliriknya karena kepintarannya." tanya pria itu kebingungan.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi, aku lah yang akan mencari keberadaan Brittany. Karena penculikan ini bisa terjadi karena akulah yang memulainya." jawab Dean. Ia kemudian melangkah sambil melambaikan tangannya. "Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Beruntung sekali ia mengenal salah satu petinggi stasiun televisi ini. Ayahnya yang mengenalkannya beberapa tahun yang lalu. Jika penculiknya tahu Brittany tengah dicari, ia akan membawanya ke beberapa tempat. Itulah yang Will katakan ketika ia bertemu dengannya. Saat ini Will masih sedang melakukan penyelidikan.
Mobilnya berhenti didepan perusahaan yang telah membesarkan namanya. Ia menatapnya. Sebuah papan ditempelkan di pintu masuk yang menandakan jika gedung itu telah diberikan peringatan. Gedung itu terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda karyawan sedang bekerja disana. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Will menghubunginya. Apakah ada kabar terbaru?
"Halo.." jawab Dean cepat
"Aku sudah menemukan titik pencarian. Kita bisa memulainya." ucap Will.
Will tidak pernah mengecewakannya. Ketika orangtua Jessy menolaknya, ia melakukan pencarian sendiri dengan melibatkan agen swasta yang ia sewa. Hanya saja Will tidak bisa melakukan pencarian Jessy saat itu karena ia telah merubah namanya.
"Kau bisa mengirimkannya padaku?" tanya Dean.
"Kau tidak bisa melakukannya sendiri. Aku dan polisi akan ikut bergabung. Kau harus menunggu arahan." ucap Will.
"Aku tahu. Aku hanya ingin tahu ia disekap dimana." jawab Dean berbohong.
"Baiklah. Aku akan mengirimkannya padamu."
Dean tersenyum. Tidak mungkin ia menunggu Will dan polisi bergerak. Itu terlalu lama. Ia akan bergerak sendiri tanpa bantuan siapapun. Karena ia yakin penculiknya adalah Harris. Hanya ia yang bisa menyelamatkan Brittany Jonas walaupun nyawanya yang menjadi taruhannya. Ia menghela nafas. Ketika ponselnya kembali berbunyi, ia melihatnya. Sebuah titik koordinat.
__ADS_1
"Aku tahu tempat itu.." ucapnya sambil menjalankan kembali mobilnya. Iapun berangkat menuju tempat itu. Ia harap pencariannya sukses.