
Suasana penyulingan anggur terlihat membosankan. Beberapa pegawai terlihat sibuk. Pesanan dari beberapa negara membuat produksi wine menjadi banyak. Semua sibuk. Termasuk Dean. Ia sibuk membantu para pegawai. Terlihat olehnya sebuah mesin yang membawa anggur masuk kedalam gudang. Dean berlari untuk membantu mereka. Tidak ada alasan untuk diam sepanjang dirinya lengah.
"Dean!" teriak Jack.
Dean berbalik. Ia melihat Jack dan Miranda berdiri di ujung lorong. "Ada apa?"
"Miranda sudah menyiapkan makanan untukmu. Istirahatlah.." seru Jack.
Dean terpaksa melepaskan tangannya yang sedang memegang kantong berisi anggur. Ia berjalan menghampiri mereka.
"Mengapa kau selalu menghindar?" tanya Miranda.
Dean mengerutkan keningnya. Ia menatap keduanya. "Aku tidak menghindar."
"Lalu mengapa beberapa hari ini kau tidak pernah terlihat di rumah? Apa yang kau lakukan? Apakah begini caramu melupakan rasa kesepianmu? Kau menyendiri dan entah pergi kemana. Sedangkan kakimu saja belum sepenuhnya pulih." ucap Miranda sedikit kesal.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jack. "Dean, kami ini sahabatmu. Kau harus menceritakan apa yang terjadi padamu. Kami tahu kau baru saja mengeluarkan sebuah film. Tapi mengapa kau tidak bersemangat? Kau terlihat murung dan sedang sedih."
"Ya, aku tidak melihat artikel yang membicarakan masalahmu?" tanya Miranda.
Dean tersenyum. "Kalian berdua terlalu banyak berkhayal. Aku tidak menyedihkan seperti yang kalian pikir. Aku baik-baik saja. Setiap malam aku menghabiskan waktu dengan mengunjungi Zucardi Valley de Uco. Aku mengunjungi museum itu untuk mencicipi anggur-anggur yang baru saja dikeluarkan."
"Apakah kau yakin? Kau kesana bukan untuk mengingat mantan istrimu bukan?" goda Miranda.
"Sedikit mengingatkan. Tapi aku selalu berusaha untuk menerima apa yang telah terjadi." jawab Dean tenang.
"Mengingat tempat itu, aku pernah bertindak jahat pada mantan istrimu. Aku meminta maaf, Dean. Aku mengatakan hal yang tidak pantas saat itu." ungkap Miranda.
Dean tersenyum nanar. "Kau tidak perlu mengatakannya padaku sekarang. Jessy sudah bukan istriku lagi. Ia sudah menjadi istri seseorang." ucapnya. Iapun berdiri untuk melupakan apa yang ia katakan tadi. "Aku akan kembali ke kebun. Beberapa hari ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di gudang. Aku akan membantu memanen anggur kalian."
"Jangan terlalu lelah. Bayaran mu terlalu tinggi. Kami tidak bisa membayarnya." goda Jack
"Aku tidak pernah meminta. Aku hanya ingin menghabiskan waktu." jawab Dean sambil berjalan keluar.
Ketika berada didepan perkebunan luas itu, ia hanya bisa menatap gedung Zucardi Valley de Uco dari kejauhan. Tempat itu adalah tempat paling berharga untuknya. Tempat dimana ia bisa mengenang semua kenangan dengan Jessy saat itu. Semua tidak akan pernah kembali. Jessy telah menikah dengan pria pilihannya.
Ia mengeluarkan ponsel yang beberapa hari ini tidak pernah ia nyalakan. Banyak sekali panggilan yang masuk. Termasuk dari Lana. Ia yakin Lana akan mengabarkan tentang jalannya prosesi pernikahan Jessy. Ia menghela nafas. Dengan jantung berdebar, ia mulai melakukan panggilan pada Lana. Ia tidak siap dengan kabar terbaru. Seandainya saja saat itu pernikahan mereka langsung ia daftarkan, pasti saat ini mereka masih menjadi pasangan. Tidak ada alasan bagi Jessy untuk menikah kembali. Namun semua sudah terjadi.
"Halo, Dean!" seru Lana.
"Lana, aku tidak siap dengan kabar terbaru darimu. Maafkan aku karena baru menghubungimu. Aku hanya ingin menyendiri." ucap Dean.
"Hey pengecut! dengarkan aku! Semuanya batal. Kau senang bukan? Pernikahan itu batal. Kau tahu siapa yang menjadi pengantin wanitanya? Kakakmu, Lee!!" teriak Lana sambil bersorak.
"Batal? Pernikahan mereka batal? Lalu siapa pengantin wanitanya?" tanya Dean bingung.
"Joan menggantikan Jessy untuk menikahi dokter itu!" seru Lana.
Dean terdiam. Butuh beberapa detik untuk menyadari jika hatinya sudah mulai terbuka kembali. Ia senang dan kebahagiaannya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Lana.. aku bahagia sekali. Berarti masih ada kesempatan untukku?"
"Tentu saja. Semuanya berkat film mu. Jika aku tidak membawa Jessy menonton film terbarumu, ia pasti sudah menikah sekarang. Aku akan meminta bayaran ku." seru Lana.
__ADS_1
"Berapapun Lana.." jawab Dean senang. "Kalau begitu aku akan pulang sekarang.."
"Dean, untuk apa kau pulang?" tanya seseorang.
Dean berbalik secara tiba-tiba. Ia melepaskan ponselnya dan berlari menuju seseorang yang tidak pernah ia pikir akan hadir ditempatnya sekarang.
"Jessy..."
Dengan wajah lelah, wanita ini mengangkat kedua tangannya.
"Aku tidak bermimpi bukan?" tanya Dean gemetar.
Brittany menggelengkan kepalanya. "Kau tidak sedang bermimpi, Dean.. Ini nyata. Aku datang untuk menemuimu.." jawabnya sambil tersenyum.
Dean membawa Brittany kedalam pelukannya. "Apakah kau tahu ketakutan terbesarku? Aku takut melihatmu bersama pria lain. Dengan semua pengorbanan yang telah aku lakukan, rasanya sangat menyedihkan jika kau tidak memilihku. Terkadang aku merasa tidak pantas berada disampingmu dengan semua kesalahan yang telah kubuat. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu dengan mudah dari hidupku. Maafkan aku Jessy, separuh hidupmu dihancurkan olehku. Tapi aku sudah berjanji sejak awal. Aku akan memperbaiki separuh hidupmu jika kau bersamaku."
"Aku menantikannya, Dean.. Aku sudah memaafkan mu." jawab Brittany pendek.
Dean mempererat pelukannya. "Aku merindukanmu, Jessy. Sangat. Aku hampir kehilangan arah. Aku sudah tidak mau kehilanganmu lagi. Semuanya sudah cukup. Kita akan menikah kembali. Kita akan memulainya kembali dari awal. Bukankah begitu, Brittany Jonas?"
Brittany tertawa ringan. Lega rasanya bisa menemukan Dean di kebun milik sahabatnya. Ketika Lana mengatakan tentang tempat ini, ia hanya terpikirkan tentang kebun milik Jack yang dulu pernah dikatakan Dean. Dengan alat pencarian terbatas, ia akhirnya menemukan Dean ketika berada di kebun. Tentu saja dengan bertanya pada orang-orang.
"Jika bagimu aku adalah Jessy Julian, aku baik-baik saja.." jawab Brittany.
Dean melepaskan pelukannya. "Lalu bagaimana kita sekarang? Maukah kau menikah denganku saat ini?" tanya Dean.
"Apakah aku bisa mengabaikan pertanyaanmu saat ini?" tanya Brittany
"Tentu saja tidak ada penolakan." jawab Dean sambil tersenyum.
Brittany Jonas & Dean Justin Lee Wedding
"Kalian menikah di Zucardi tanpa mengundangku. Aku melihatnya di media sosial. Kalian jahat sekali. Aku ingin menjadi saksi kalian berdua. Aku yakin semuanya indah saat itu! Kalian berdua menyebalkan" ujar Lana kesal.
Brittany dan Dean berpegangan tangan ketika melihat Lana kesal sejak mereka kembali.
"Aku tidak mau menunggu lama. Aku takut Jessy akan pergi. Kau mengerti bukan ketakutanku?"
Brittany melepaskan genggaman tangan Dean. Ia menghampiri Lana.
"Aku ingin berterima kasih padamu, Lana. Terimakasih untuk semuanya. Kau baik sekali."
"Aku memang hidup untuk menjadi orang baik." jawab Lana tenang.
Para tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan tempat acara. Dean menghampiri ibunya yang terlihat paling bersemangat tentang acara pernikahannya ini. Ia melihat Joan bergabung dengan mereka.
"Kemana suamimu?" tanya Dean pada Joan. "Apakah ia masih marah padaku?"
" Tentu saja ia marah. Tapi jangan khawatir. Ia tidak akan selamanya seperti itu." jawab Joan tenang. Ia menunduk menyadari jika ia dan Alv tidak pernah bertemu kembali sejak pernikahan itu. Pernikahan mereka hanya cukup dengan selembar kertas.
"Ya, aku pun berfikir seperti itu. Kau harus siap menghadapi suamimu yang membenci adik istrinya. Tapi ia tidak menyakitimu, bukan?" tanya Anastasia.
"Tidak pernah mom.." jawab Joan.
__ADS_1
"Itu yang penting." jawab Anastasia.
"Mom.. karena tamu undangan sudah hampir habis, aku akan membawa Jessy pergi dari sini.." ucap Dean.
"Dean, apakah kau selalu tidak sabar untuk berdua dengan Jessy?" tanya Joan.
"Aku harus pergi ke sebuah tempat." ucap Dean.
"Baiklah. Pergilah. Kami akan mengurus tamu undangan."
Dean dan Brittany pergi tanpa mengganti pakaian pengantin mereka. Dean membawa mobil pengantin mereka kesebuah tempat. Tidak terlalu ramai. Brittany menatap Dean ragu.
"Dimana ini?"
"Kau akan tahu." jawab Dean. Ia turun dari mobil terlebih dahulu.
Brittany sedikit cemas melihat di belakang mobil mereka. Beberapa media memang sengaja mengikuti mereka. Dean membuka pintu mobil.
"Ayo, mereka sudah menunggu. Aku paling menantikan hal ini." ucap Dean dengan tangan terbuka.
Brittany ikut turun dari mobil tanpa merasa cemas jika Dean sudah menggenggam tangannya.
"Kita seperti tengah melakukan syuting." goda Brittany.
"Syuting yang menjadi nyata. Lihatlah berapa banyak media yang penasaran mengikuti kita " bisik Dean.
Langkah Brittany terhenti. Ia melihat sebuah gedung pemerintahan. "Apa yang akan kit lakukan?"
"Membuat pernikahan kita resmi. Aku tidak mau kehilanganmu lagi." ucap Dean cepat.
Brittany merasa bahagia. Ia melangkah tanpa ragu walaupun mereka menjadi pusat perhatian para pasangan yang sedang mendaftarkan pernikahan mereka. Genggaman tangan Dean semakin erat.
"Kau tahu apa yang membuatku bahagia?" bisik Brittany
"Banyak sekali. Aku yang membuatmu bahagia." jawab Dean percaya diri.
Brittany tertawa ringan.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka mendaftarkan diri. Kini keduanya telah memegang lembar kertas yang sangat berarti.
"Kau sudah siap?" tanya Dean.
"Siap? Apa yang akan kita lakukan?"
Dean menarik lengan Brittany tanpa ragu.
"Bulan madu yang tertunda. Aku tidak bisa menundanya lagi. Pesawat kita akan berangkat satu jam lagi, Jessy!" serunya.
"Kenapa kau mendadak memberitahuku?" teriak Brittany cemas.
Mereka berdua berlari menuju mobil karena waktu mereka sangat tipis. Bahkan media yang mengikuti mereka terkecoh karena keduanya keluar melalui pintu belakang.
Dari ujung sebuah tempat, sepasang mata melihat kepergian mereka dengan tajam. Mereka berbahagia. Ia membenarkan letak topinya dan berbalik kembali menuju tempat yang seharusnya ia datangi.
__ADS_1
- the end -