Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Birthday Party


__ADS_3

Jessy menatap dirinya didepan cermin. Ia memegang sebuah kalung yang terpasang dilehernya. Kini ia memakai dua kalung. Kalung dengan huruf “BJ” itu masih terpasang dilehernya. Dan kalung kedua yang Dean berikan tadi malam terpasang indah di lehernya yang jenjang. Ia tidak pernah menyangka Dean akan menyatakan perasaan padanya tepat dihari ulangtahunnya. Hadiah yang ia dapatkan begitu banyak sehingga ia terkadang merasa semua itu hanya mimpi. Tapi ketika pagi tadi ia terbangun dengan Dean disampingnya, ia sadar semuanya nyata.


Terkadang ketakutannya terlalu besar. Ia dengan bangga menyatakan jika dirinya adalah wanita mandiri dan kuat. Tapi seorang wanitapun memiliki perasaan yang rapuh. Apalagi menyangkut hati. Ia takut jika kebahagiaan yang didapatkannya dalam waktu singkat ini hanya sementara. Ia takut Dean berpaling. Banyak wanita yang lebih cantik dan menarik diluar sana.


Jessy kembali memegang kalung itu. Diluar terdengar suara ribut-ribut. Kedua orangtuanya bersikeras untuk mengadakan pesta untuknya. Semua kejutan untuknya tidak pernah berakhir. Ia melepaskan kalung yang selalu ia pakai sejak kecil itu dan menyimpannya di kotak perhiasan. Ketika ia memakai gaun ini, rasanya ia lebih menarik jika hanya memakai kalung pemberian Dean. Ia menutup kotak itu dan memasukkannya kedalam laci. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Anastasia masuk dengan memakai pakaian yang sudah rapi.


"Mau sampai kapan kau bersiap? Diluar tamu sudah menunggumu, sayang." Ujar Anastasia.


Jessy menatap Anastasia dibalik cermin. "Dean belum kembali?"


"Tadi aku menghubunginya. Ia masih dijalan." Jawabnya. Ia kemudian menghampirinya. "Wow, kalungmu indah sekali. Dean memberimu itu?"


Jessy tersenyum malu. "Ya, semalam Dean memberiku ini."


"Dean sangat mencintaimu, sayang."


Jessy mengangguk malu. "Mudah-mudahan akan selamanya seperti itu."


"Oh ya, ada yang ingin berkenalan denganmu. Mereka teman baik kami semua." Ucap Anastasia.


Jessy berdiri. "Siapa mom?"


"Nanti kau tahu sendiri. Ayo kita keluar." Tarik Anastasia.


Ketika keluar kamar, ia bertemu dengan seorang wanita yang berusia tak jauh dari Anastasia. Ia masih terlihat cantik. Wajahnya yang keibuan membuatnya merindukan sosok seorang ibu. Kedua matanya berkaca-kaca. Siapa wanita itu? Kenapa ia ingin memeluknya?


"Jessy!" panggil Anastasia.


Jessy terkejut. Ia menoleh pada Anastasia. "Ya mom.."


"Ini adalah wanita yang ingin berkenalan denganmu. Waktu aku melihatmu pertama kali, aku teringat pada sahabat kami. Ayo, kenalkan diri kalian." ucap Anastasia.


Jessy melangkah maju begitupun wanita itu. Rambut mereka sangat mirip sekali. Ia seakan tengah bercermin. Hanya saja, wanita yang didepannya sudah berusia. Ia tersenyum gugup. "Halo.." ucapnya.


Isabela terdiam. Ia menatap wajah asing didepannya untuk pertama kali. Ada perasaan aneh didadanya. Ia merasa bersedih ketika melihatnya. Yang terlintas pertama kali di benaknya adalah, apakah ini anakku?


"Halo.." ucap Jessy kembali.

__ADS_1


Isabela menatap Jessy dan tersenyum kaku. Tidak mungkin wanita ini adalah anaknya. Kemungkinan anaknya telah meninggal walaupun jasadnya tidak dapat ditemukan saat itu. Ia terus mencari sampai akhirnya menyerah karena kejadian itu sudah terlalu lama. Tapi didalam hatinya ia terus meyakini bahwa anaknya masih hidup.


Ia kembali menatap wanita didepannya. Apakah benar wanita ini adalah istri Dean? Ia menatap kalung dengan bandul dari berlian itu dengan takjub. Ia yakin Dean mencintainya. Ia kemudian mengangkat tangannya. Ia memegang tangan wanita itu dengan erat. Ia merasakan kehangatan.


"Halo, aku sudah lama sekali ingin bertemu denganmu." ucap Isabela.


"Kau mengenal Dean?" tanya Jessy polos.


"Tentu saja kami mengenalnya. Kami mengenal keluarga ini dengan baik." ucap Isabela. "Oh ya, aku Isabela."


"Aku Jessy Julian." jawab Jessy ramah.


"Aku sudah tahu. Berita tentangmu terus berkembang dengan cepat. Walaupun wajahmu ada di majalah dan tabloid, tapi kami lebih penasaran dengan melihatmu langsung." ucap Isabela senang.


"Jessy ini bisa dikatakan anak muda paling beruntung. Di usianya yang sangat muda ini, ia telah menikah dengan seorang sutradara terkenal. Siapa yang tidak mengenal Dean?" ucap Anastasia bangga.


Jessy tersenyum. "Ya, aku beruntung menikah dengan Dean. Ia mencintaiku dengan tulus." jawab Jessy.


Isabela masih belum melepaskan tangan Jessy. Ia merasa bahagia ketika sudah bertemu dengan orang yang paling ingin ditemuinya. Sejak berada di LA, ia dan suaminya masih sibuk mengurus kepindahannya ke Eropa. Ya, kepindahannya ke Eropa dipercepat karena satu hal. Ia dan suaminya ingin segera menikmati kehidupan penuh ketenangan di pedesaan di salah satu negara di Eropa.


Ketika mereka sudah sampai didepan ruangan, ia dikejutkan oleh musik dan nyanyian ulang tahun. Jessy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia terharu. Dean menghampirinya. Ia bahkan tidak tahu jika Dean sudah pulang. Ia langsung memeluknya.


Jessy mengangguk cepat. "Kenapa kalian begitu baik padaku?Bagaimana cara aku membalas kebaikan kalian?" tanyanya terbata-bata.


"Karena kau pantas mendapatkannya. Kau cukup membalasnya dengan mencintaiku dan mencintai keluargaku." ucap Dean.


"Sejak aku mengenal kalian, aku sudah belajar mencintai kalian." jawab Jessy.


"Itu bagus. Ayo kita duduk." ucap Dean sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap Jessy sebentar dan mengecup keningnya. "Kau sangat cantik."


Jonas terpaku melihat orang yang baru pertama kali dilihatnya itu. Ia menatap istrinya. "Itu istri Dean?"


Isabela tersenyum. "Iya, aku sudah berkenalan dengannya tadi. Dia wanita yang baik. Dean beruntung memilikinya."


"Rambutnya sama dengan rambutmu ketika muda dulu. Wajahnya pun terlihat mirip denganmu. Apakah hanya kebetulan?" tanya Jonas tanpa melepaskan tatapannya.


"Itu hanya kebetulan. Yang memiliki rambut sepertiku banyak. Bukan hanya aku saja." jawab Isabela.

__ADS_1


Acara itu telah dimulai. Beberapa hidangan sudah dihidangkan di meja panjang penuh makanan itu. Semuanya bahagia. Makan-makan, nyanyian, dansa dan beberapa acara dilakukan sesuai rencana. Pesta ini berlangsung dengan sangat baik. Anastasia dan ayahnya telah menyiapkan semua ini dengan baik. Berulang kali Jessy berterima kasih pada orang-orang yang datang. Kini semuanya telah meninggalkan pesta satu persatu. Hanya tinggal beberapa orang saja.


Jessy berdiri untuk menemui Isabela. Entah mengapa ia selalu ingin berbincang dengan wanita itu.


"Isabela.." panggilnya ketika ia melihat Isabela hendak berdiri.


Isabela tersenyum ramah. "Iya sayang. Perkenalkan ini suamiku. Jonas sama sepertiku. Ia penasaran untuk bertemu denganmu."


Jessy menghampiri pria didepannya dan memeluknya. Entah mengapa ia begitu ingin memeluk mereka berdua ketika pertama kali melihatnya.


Isabela tersenyum sambil melihat Jonas. "Kau pasti terkejut."


Jessy melepaskan pelukannya. "Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan emosiku ketika melihat kalian berdua. Aku ingin memeluk kalian berdua."


"Itu tidak apa-apa, sayang." ucap Isabela.


Jonas menyeka matanya. Ia emosional ketika mendapatkan pelukan dari Jessy. "Maafkan aku. Aku teringat pada Britanny." bisiknya pada Isabela.


Isabela menggenggam tangan Jonas untuk menenangkan. Ia kemudian menatap Jessy. "Dimana Dean? Kami berdua harus kembali."


Jessy melihat sekeliling. Dean tidak terlihat sejak tadi. Ia kemudian menoleh pada Isabela. "Sejak tadi aku tidak melihatnya."


"Tidak apa-apa sayang. Sampaikan permintaan maaf dari kami karena kami harus segera kembali. Tapi, kita harus bertemu kembali. Sebelum kami pindah ke Eropa, kita harus sering bertemu." ucap Isabela.


"Aku akan sangat bahagia jika melakukan itu. Terima kasih sudah datang ke pesta ini." ucap Jessy. Ia mendekat dan kembali memeluk mereka berdua.


Selagi Isabela dan Jonas berpamitan pada kedua orangtuanya, Jessy kembali untuk mencari Dean. Ia mencari berkeliling di semua ruangan tapi tidak dapat menemukan Dean. Ia kemudian naik keatas untuk ke kamarnya. Ia melihat pintu beranda terbuka. Dean ada disana. Ia terlihat sedang merokok. Jessy melangkah menghampirinya. Ia memeluknya dari belakang. Ia dapat merasakan Dean terkejut.


"Ada apa? Kenapa kau ada disini? Mereka mencarimu.."


Dean memegang tangan Jessy. "Aku memikirkanmu.."


Jessy melepaskan tangannya. Apakah kali ini Dean akan memberinya kejutan lagi? Ia membalikkan tubuh Dean untuk menatapnya. "Ada apa Dean?"


Dean memegang tangan Jessy. "Apakah kau benar-benar mau tinggal sendiri di apartemen?"


Jessy mengangguk. "Ya, ada apa?"

__ADS_1


"Maafkan aku, Jessy. Kepergian ku dipercepat. Besok aku harus pergi ke Yunani untuk memulai syuting.."


__ADS_2