Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Wedding Night


__ADS_3

"Lana, apa yang harus aku lakukan?"


Lana baru saja berbaring untuk melepaskan rasa lelahnya. Seharian ini ia terlalu sibuk dengan Jessy yang sangat cantik. Ia terkejut melihat panggilan dari sahabatnya tengah malam. "Ada apa kau menghubungiku malam-malam?"


"Kami baru sampai apartemen. Lalu setelah ini apa yang harus aku lakukan?" tanya Dean seraya berbisik.


Lana langsung bangun dari tidurnya. "Dean, apakah ini benar-benar kau?"


"Lana, aku tidak bercanda. Jessy sedang didalam kamar mandi sekarang. Apalagi yang harus aku lakukan?" tanya Dean panik.


Lana langsung tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ucapan Dean." Kau bukan seorang perjaka, Dean, Kau bisa melakukan apapun pada Jessy. Dia istrimu."


"Aku tidak pernah berinisiatif terlebih dahulu. Kau tahu itu." seru Dean


"Anggap saja istrimu sebagai para wanita yang mengejarmu."


"Jessy tidak pernah mengejarku, Lana. Kau tahu itu." elak Dean


"Anggap saja seperti itu. Istrimu memang tidak seperti para wanita yang mengejarmu. Aku hanya berkata anggap saja. Lalu kau bisa mengikuti alurnya. Hal seperti ini harus aku beritahu?" tanya Lana sedikit kesal.


"Kau tahu sendiri.."


"Aku tahu semua tentangmu. Sampai kapan kau akan terus menghubungiku? Cepat hampiri istrimu sebelum kau menyesal!" seru Lana.


Dean terdiam didepan kamarnya sendiri. Jantungnya berdebar dengan kencang. Baru kali ini ia merasa gugup didepan seorang wanita. Ia kembali mengingat pertemuannya dengan Jessy untuk pertama kalinya. Mereka dipertemukan ditempat ini. Saat itu Jessy berada di apartemennya untuk mengambil pakaian kotornya. Yang ia ingat saat itu adalah tatapan matanya. Dan hari itu pula ia mengenal Jessy hingga ia menjadi istrinya saat ini. Perjalanan mereka bertemu hingga menikah sangat singkat sekali. Jika bukan karena kasus Cindy dan acara award itu, ia tidak yakin Jessy akan menjadi istrinya saat ini.  Ketika ia menghubungi Lana, ia menelpon diluar. Beberapa kali ketukan tidak ada respon. Dean kembali mengetuk pintu.


"Jessy.." panggilnya pelan. Tetap tidak ada jawaban. Perlahan ia membuka pintu dan masuk. Ia terdiam melihat bagaimana Jessy yang tertidur diatas tempat tidurnya dengan nyaman.


Dean menghela nafas dan melangkah mendekatinya. Ia duduk disamping tempat tidur dan hanya melihatnya.


"Kau tidak tahu bagaimana gugupnya aku malam ini? Kalau kau tertidur seperti ini, untuk apa aku menghubungi Lana malam-malam?" ucapnya kesal. Kemudian Dean berdiri dan melangkah keluar kamar. Ia berjalan ke mini bar dan mengeluarkan satu buah wine yang belum dibuka. Ia membawa gelas berisi wine itu dan membuka pintu beranda. Ia berdiri diluar seperti biasanya. Suasana terlihat sepi. Hanya terlihat ada beberapa mobil yang melintas. Ia terdiam. Beginilah rasanya sebuah pernikahan. Jessy ada didalam kamarnya. Mereka akan tinggal bersama mulai saat ini. Ia berfikir sesuatu. Apakah Jessy akan menerima semua sifatnya? Sedangkan sifat Jessy sendiri, ia tahu istrinya itu tidak pernah menutupi sesuatu darinya. Apapun yang ia lakukan, karena begitulah kepribadiannya. Lalu bagaimana dengan Jessy? Apakah ia akan menerima semua sifat buruknya?


Suara dering handphonenya terdengar pelan. Ia melangkah dan menutup pintu beranda. Iapun mengambil handphone dan melihat layar. Siapa yang menghubunginya malam ini? Ternyata Lana.


"Aku pikir kau sedang menjalankan aksimu. Untuk itulah aku menghubungimu, Dean. Ini adalah taruhan." ucap Lana disaat Dean belum mengeluarkan suara satu katapun.


"Aku sedang berfikir sesuatu." jawab Dean serius.

__ADS_1


"Dean? Apakah terjadi sesuatu? Maksudku, apakah Jessy menolakmu?" tanya Lana serius.


"Bukan seperti itu. Jessy sudah tertidur nyenyak. Aku tidak berani membangunkannya." jawab Dean. Ia melangkah ke sofa dan duduk dengan lesu.


"Ada apa?" tanya Lana.


"Apakah Jessy akan menerima sifat burukku, Lana? Bisa dikatakan Jessy masih berusia sangat muda. Ia masih bisa melakukan apapun. Perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Dia masih bebas jika tidak menikah denganku."


"Jangan berkata hal yang gila, Dean. Apakah kau menyesal menikahi Jessy disaat pernikahan kalian baru terjadi beberapa jam yang lalu?" tanya Lana serius.


"Aku tidak menyesal. Hanya saja kau tahu bagaimana buruknya aku jika sedang bekerja. Apakah Jessy akan menerimanya?" tanya Dean.


"Kau bisa berbicara dengan Jessy. Aku yakin dia akan mengerti. Bukankah Jessy menikahimu karena ia menginginkan uang satu juta dollar itu? Aku pikir sifat burukmu tidak akan menjadi suatu masalah. Yang terpenting untuk Jessy adalah kau tidak lupa untuk mengisi rekening pribadinya bukan?" tanya Lana.


"Kau betul, Lana. Aku sendiri yang membiarkan ia mengambil uangku setelah menikah. Apakah menurutmu aku harus membuat perjanjian pernikahan?" tanya Dean.


"Dean, kenapa kau menjadi bodoh didepan Jessy? Apakah di hatimu sudah ada getaran?" tanya Lana.


"Aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Ketika di pernikahan, aku sempat mengatakan pada Jessy untuk membantuku mendapatkan perasaan itu. Tapi Jessy tidak menjawabnya. Aku memang menjadi bodoh Lana, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini. Aku tidak pernah serius pada seorang wanita. Kau tahu itu. Tapi soal Jessy, itu hal berbeda."


"Aku tidak pernah berfikir akan secepat itu." jawab Dean.


"Tidak akan ada yang tahu itu, Dean.."


...***...


Jepretan kamera membuat Jessy terus menggenggam tangan Dean hingga ia bisa masuk kedalam ruang tunggu eksekutif bandara. Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan pesawat. Semalam ia bisa tertidur dengan nyenyak. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana Dean tertidur. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Dean.


"Apakah karena aku terlalu tampan, sehingga kau menatapku seperti itu?" goda Dean.


"Kau salah. Aku hanya khawatir karena semalam kau tertidur diluar." jawab Jessy. Sesaat ia merasakan Dean terkejut mendengar jawaban Jessy.


"Kau peduli padaku?"


"Tentu saja aku peduli padamu. Jika kau sakit, nanti aku yang akan menjagamu. Itu memerlukan sedikit perjuangan." jawab Jessy dengan nada menyesal.


Dean tertawa. "Kau takut kehilangan uang satu juta dollar dariku bukan?" canda Dean.

__ADS_1


"Tentu saja, Dean.." jawab Jessy gemas.


Dean tak kuasa untuk menunduk dan mengecup ringan bibir Jessy. Kemudian ia tersenyum dibalik kacamata hitamnya.


"Apa yang kau lakukan?" bisik Jessy sambil memegang bibirnya.


"Aku hanya ingin membuat berita panas di koran gosip pagi ini." jawab Dean senang.


Jessy tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka berdua pun masuk kedalam ruang eksekutif bandara. Dean duduk terlebih dahulu di sofa sedangkan Jessy berjalan menghampiri sebuah meja menyediakan dessert. Jujur saja, ia gugup karena ini penerbangan pertamanya. Ia menoleh untuk melihat Dean. Ternyata pria itu sedang menatapnya.


Jessy tidak peduli. Tidak ada orang disana hanya mereka berdua. Ia mengambil sebuah piring dan mengambil beberapa kue dan buah-buahan. Kebetulan ia dan Dean belum sarapan. Setelah selesai, ia membawa piring itu ke meja.


"Aku membawa makanan untuk kita. Kita belum sarapan dari apartemen."ucap Jessy.


Dean duduk dengan tegak. Ia membuka mulutnya. "Aku mau itu." tunjuknya.


"Kau bisa melakukannya sendiri. Kenapa harus aku suapi?" tanya Jessy sewot.


"Seharusnya kau perhatian pada suamimu ini. Banyak yang menginginkan menjadi pasanganku. Kau beruntung." jawab Dean percaya diri.


"Aku tidak pernah melihat pria dengan percaya diri yang begitu tinggi." ucap Jessy sambil menyuapi Dean. "Oh ya Dean, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


Dean membuka kacamata hitamnya dan menatap Jessy. Ia menatapnya serius. "Apa? Apa ada yang terjadi?"


Jessy beranjak dari sofanya dan duduk disamping Dean. "Aku takut Dean.."


Dean mengerutkan keningnya. "Apa yang terjadi? Ada yang mengancammu?" tanya Dean serius.


Jessy memainkan jari-jarinya. "Aku takut naik pesawat. Aku belum pernah naik pesawat seumur hidupku." ucapnya.


Dean tertawa ringan. Ia memegang tangan Jessy. "Aku ada disini. Selama denganku, kau tidak akan ketakutan." ucapnya menenangkan.


"Kau berjanji?" tanya Jessy.


"Tentu saja.." jawab Dean.


Sesaat kemudian, terdengar suara panggilan dari pengeras suara, Dean berdiri. Ia menarik tangan Jessy. "Ayo, kita pergi sekarang "

__ADS_1


__ADS_2