
"Dean..aku harus pergi menemui Brittany. Kau mau aku antar?" tanya Lana ketika ia berada diluar kantornya pagi ini. Tidak ada jawaban dari dalam. Ia kembali memanggil Dean. "Dean.." panggilnya. Karena tidak dibuka, ia membuka pintu terlebih dahulu. Lana tertegun. Ruangannya kosong. Dean tidak ada disana. Ia mencoba menghubungi Dean terlebih dahulu. Tidak biasanya Dean pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya. Ia berjalan keluar dan menutup pintu ruangannya. Nada dering ponsel Dean tidak tersambung. Sepertinya Dean telah mematikan ponselnya. Apakah ia merasa bersalah karena kejadian kemarin? Ia harap Dean baik-baik saja.
Lana membawa satu koper kecil untuk dibawanya nanti malam ke Las Vegas. Iapun sengaja tidak membawa mobilnya karena salah satu pegawainya telah menunggu di mobil.
"Apakah diantara kalian ada yang melihat Dean keluar tadi malam?"
Mereka menggelengkan kepalanya. "Baiklah, lupakan. Aku tidak akan kembali selama dua hari." ucapnya sambil naik ke mobil.
Joey menatap jam tangannya terus menerus. Tidak mungkin Brittany keluar dalam waktu dua jam hanya untuk membeli kopi. Ia mulai cemas. Ia berdiri kemudian melangkah keluar. Ia berdiri didepan pintu. Beberapa kali lift terbuka namun isinya bukan Brittany. Kecemasannya mulai meningkat. Ia menutup pintu dan berjalan memasuki lift.
Joey melihat ke kiri dan ke kanan jalan. Karena jalanan sepi, tidak sulit baginya mencari Brittany. Seharusnya seperti itu. Namun kenyataannya ia kesulitan. Ia masuk beberapa kali ke sebuah cofeeshop namun tidak terlihat Brittany pernah kesana. Iapun mencari ke sebuah mini market. Namun hasilnya pun nihil.
"Kamu dimana, bije?" tanya Joey cemas. Kedua kakinya bergetar karena takut.
Bukan hanya ke cofeeshop maupun mini market, ia mencari Brittany kesebuah taman kota yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Ia terus berlari dan berharap menemukan Brittany. Ia begitu
ketakutan mengingat ancaman yang akan datang padanya. Apakah saatnya sudah tiba?
Dengan bermandikan keringat, ia terus mencari Brittany. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia melihatnya. Lana menghubunginya.
"Kalian dimana?" tanya Lana kebingungan ketika mendapati kondo mereka terkunci rapat.
"Lana.. sepertinya Bije hilang.." ucap Joey dengan nada ketakutan.
"Apa?"
"Bije hilang, Lana.. Aku takut " jawab Joey sambil menangis.
"Kau dimana? Berikan alamat mu sekarang, aku akan langsung mencarimu!" ucap Lana cepat.
Lana menyimpan koper didepan pintu dan berlari menuju Joey berada. Ketika berada di taman, ia menemukan Joey tengah duduk di kursi taman dengan wajah ketakutan.
"Joey.."
__ADS_1
Joey berdiri dan menatap Lana. "Bije hilang, Lana.. Aku sudah mencarinya kemanapun. Aku hubungi ponselnya tapi tidak diangkat. Aku takut sesuatu terjadi padanya."
"Apa yang terjadi?"
"Tadi ia pergi keluar untuk membeli kopi karena kau tahu sendiri, Bije tidak pernah lepas dari minuman itu. Aku menunggunya di kondo selama dua jam. Namun Bije tidak pulang. Aku putuskan mencarinya, tapi aku tidak dapat menemukannya."
"Ayo kita pulang, kita tunggu di kondo. Jika ia hilang setelah 24 jam, kita bisa melaporkan ke polisi. Kita tunggu di kondo." ucap Lana sambil merangkul Joey.
Menunggu sesuatu yang tidak pasti sudah pasti g menyebalkan. Mereka tidak bisa menunggu lagi. Lana mulai terpikirkan sesuatu. Apakah Dean yang membawa Brittany pergi? Mengingat pria itu tidak ada di butiknya pagi ini. Tapi, seingatnya Dean bukan pria seperti itu. Apakah Harris? Ketika tadi malam ia melihat berita terbaru mengenai pria itu, berita terakhir mengatakan jika Harris bersiap dalam beberapa tuntutan. Bukan hanya tuntutan dari sponsor, melainkan tuntutan dari beberapa artis. Ia melihat Joey yang sedang menghubungi seseorang. Ia menghampirinya.
"Kau menghubungi siapa?" tanya Lana.
"Aku menghubungi orangtua Bije" ucapnya gugup. "Mereka harus tahu apa yang terjadi."
"Kau hanya akan membuat mereka khawatir. Brittany pergi belum 24 jam, Joey."
"Tapi aku memiliki firasat buruk." seru Joey.
Brooklyn bridge masih terlihat sama. Dean melihat keindahan jembatan itu untuk menghilangkan kesedihan hatinya. Terakhir ia datang ke tempat ini ketika ia kehilangan Jessy untuk pertama kalinya. Kali ini ia kembali. Angin laut yang menerpa wajahnya, tak kuasa membuat Dean menutup matanya. Terdengar suara burung yang saling bersautan. Hampir memasuki musim semi.
Beberapa keluarga menghabiskan waktunya dengan bermain-main di sebuah kapal pariwisata. Ia melihatnya nanar. Jika kejadian saat itu tidak terjadi, ia yakin sudah berbahagia.
"Maafkan dad, dad tidak tahu kau begitu cepat pergi. Maafkan dad.." bisiknya sambil memegang erat jari-jarinya.
Teringat sesuatu, ia belum menghubungi ibunya. Sejak semalam ia tidak pulang. Ibunya pasti cemas. Seharusnya semalam ia makan malam dirumah, namun karena Jessy, ia mengurungkan niatnya makan malam dirumah. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya. Ketika ia sedang ingin sendiri, ia lebih suka untuk tidak diganggu.
Ia sedikit terkejut melihat banyaknya panggilan. Diantara ibu dan Lana, paling banyak dari Lana. Semalam ia pergi tanpa mengucapkan perpisahan pada Lana. Lebih baik ia menghubunginya.
"Dean!" jawab Lana cepat. Ia terdengar cemas.
"Ada apa Lana? Maafkan aku karena tidak pamit ketika pergi tadi malam."
"Tidak ada waktu membicarakan itu. Apakah kau membawa pergi Brittany?" tanya Lana.
__ADS_1
"Tidak. Aku sendiri. Apa yang terjadi?" tanya Dean bingung.
"Sepertinya Brittany hilang. Kami sedang berusaha mencarinya." jawab Lana.
Dean tidak menunggu lama, ia berlari untuk ikut mencari Brittany.
"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi.." ucap Joey ketika Dean sudah berada di kondo.
"Aku akan memanggil Will. Ia detektif yang dulu aku minta untuk mencari Brittany." jawab Dean cepat. Mendengar Brittany hilang membuatnya sangat takut. Ia bersedia dibenci oleh Brittany namun jika menyangkut keselamatannya, ia harus ikut bertanggungjawab.
Lana kembali membawa satu pasangan pria dan wanita. Dean membalikkan badannya dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Jonas?" tanya Dean bingung. Ia langsung menghampirinya. Lebih dari tiga tahun ia kehilangan Jonas dan istrinya. "Aku senang kalian datang. Tapi, ada apa?"
"Ceritanya sangat panjang. Yang pasti Brittany Jonas adalah putri kami." jawab Jonas.
Dean terkejut. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia memeluk Jonas. "Maafkan aku."
"Kau tidak bisa ku maafkan setelah apa yang terjadi pada anakku!" ucap Isabella. "Jika ia tidak melakukan balas dendam, hal seperti ini tidak akan terjadi. Ia tidak akan kehilangan anaknya dan kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Dan semua itu karena kesalahanmu! Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu!" seru Isabela murka. Ia menangis dan hanya bisa menyorot wajah Dean yang terlihat pucat.
"Maafkan aku. Aku tidak akan pernah bosan mengatakan aku mencintai Brittany. Berapa kali pun ia menolak ku, aku akan tetap berusaha agar ia memaafkan ku."
"Dean ,pergilah.." ucap Jonas.
"Aku akan ikut mencari Brittany. Aku tidak akan tinggal diam. Sekalipun kalian tidak percaya, tapi aku akan ikut mencari."
"Tidak perlu. Kami baru saja pulang dari kantor polisi ketika Lana menjemput kami di bandara."
"Aku tidak peduli. Aku akan tetap ikut mencarinya. Aku memiliki kenalan detektif swasta."
Isabela mendorong tubuh Dean dengan kasar. "Pergi! Kami tidak membutuhkanmu!"
Dean mundur dan berbalik. Ia menunduk sambil berjalan keluar. Ia berjanji tidak akan diam saja. Ia akan mencari Brittany. Hampir tiga tahun ia melakukan pencarian, jadi bukan hal yang sulit untuknya jika kembali melakukan pencarian. Ia hanya berharap wanita yang dicintainya itu selamat. Ia akan mencari tahu siapa orang dibalik penculikan Brittany. Ia membawa mobilnya menembus kepekatan malam. Apapun yang terjadi, kau harus selamat. Aku berjanji....
__ADS_1