Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Daddy long legs


__ADS_3

Jessy membuka matanya perlahan. Ia menatap seluruh ruangan. Ia tersadar jika dirinya kini berada di rumah yang menjadi saksi mata pertumbuhannya mulai dari anak kecil, remaja hingga dewasa seperti sekarang. Ia bangun dan duduk untuk melihat seluruh ruangan. Boneka miliknya masih tersimpan rapi di atas meja belajar miliknya. Beberapa benda miliknya pun masih tersimpan rapi. Mrs. Elisa sangat baik. Bahkan kamar yang seharusnya bukan miliknya lagi pun masih saja tetap menyimpan barang-barang miliknya.


Ia merasa angin menusuk tangannya. Ia menoleh untuk melihat jendela. Keadaan diluar sudah gelap. Padahal awalnya ia tidak ingin tertidur. Tapi karena kelelahan, ia tidak sadar tertidur di atas ranjangnya. Iapun turun dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela. Nevada tidak seperti New York yang setiap saat ramai orang. Ia melihat jam tangannya. Pukul 7 malam. Dean belum menghubunginya malam ini.


Matanya kemudian tertuju pada orang-orang yang ada di bawah. Itu adalah Mrs. Elisa bersama kedua pria yang berpakaian rapi. Ia mengerutkan keningnya. Mereka terlihat sangat serius. Ia memutuskan untuk melihat ketiga orang itu. Iapun mulai melihat kedua orang itu menaiki mobil dan melambaikan tangannya pada Mrs. Elisa. Sedangkan Mrs. Elisa kembali masuk kedalam kamar dengan raut wajah yang sulit diketahui.


Terdengar suara ribut diluar kamarnya. Ia membuka pintu pelan. Anak-anak panti sudah pulang dari sekolah. Pantas saja ia tidak bertemu tadi siang. Namun sedikit terkejut, tidak ada seorangpun yang antusias ketika melihatnya. Mereka masih belia, tapi terlihat olehnya seperti wajah penuh kebingungan. Tidak hanya satu orang, tapi beberapa orang terlihat sedih.


Ada satu orang gadis yang biasa menyendiri tengah terdiam dipojokan. Nama gadis itu Joey. Ketika ia datang ke yayasan ini, usianya kemungkinan baru menginjak dua tahun. Iapun menghampirinya.


"Apakah tidak ada yang senang ketika melihatku pulang, Joey?" goda Jessy.


Gadis itu hanya menatapnya sekilas. Kemudian ia terdiam kembali sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong. Jessy duduk disampingnya. "Joey, ada apa? Kau tidak pernah merahasiakan sesuatu padaku. Katakanlah.."


"Menurut Mrs. Elisa, aku dan yang lainnya akan dipindahkan ke yayasan lain." jawabnya sedih.


"Mengapa?" tanya Jessy terkejut.


"Rumah ini akan digadaikan untuk menjadi sebuah hotel. Menurut Mrs. Elisa, ia sudah tidak sanggup membiayai kami. Para pemberi bantuan sudah lama menghentikan bantuannya. Aku sedih karena harus berpisah dengan teman-teman disini."


Jessy mengangguk mengerti. Untuk itulah ia melihat wajah sedih Mrs. Elisa beberapa menit yang lalu. Ia kemudian menatap Joey dan memegang pundaknya.


"Jessy.. kau sekarang sudah menjadi seorang artis. Uangmu sekarang banyak bukan? Kau bisa membantu Mrs. Elisa. Kau yang kami banggakan. Kau mau membantu kami bukan? Tolonglah.. Aku memohon padamu." ucap Joey sambil memohon. "Aku tidak mau pindah dari sini, Jessy. Aku ingin bersama Mrs. Elisa. Aku yang akan merawatnya ketika ia mulai sakit-sakitan nanti."


Jessy mengangguk menenangkan. "Aku akan membantu. Tapi aku akan bicara terlebih dahulu dengan suamiku."


Joey tersenyum haru. Ia memeluk Jessy dengan erat. "Terimakasih Jessy.."

__ADS_1


Mrs. Elisa tengah duduk di meja makan seorang diri. Ia menatap cangkir berisi teh hangat. Ia mulai mengingat suaminya yang telah tiada. Hanya yayasan ini satu-satunya peninggalan dari suaminya. Ketika ia divonis tidak bisa memiliki anak lima puluh tahun yang lalu, ia dan suaminya mulai membuat yayasan ini saat usia pernikahan mereka hampir menginjak dua puluh tahun. Usianya kini tak lagi muda. Ia sudah merasa tidak sanggup mengurus lima belas anak disini. Usianya semakin renta, iapun terkadang sering sakit-sakitan. Ia ingin memberikan kebebasan kepada anak-anak disini untuk mencari yayasan lain. Tapi mereka tidak mau. Terpaksa ia mencari sebuah yayasan yang dapat menampung mereka dan memberikan mereka kehidupan yang layak.


"Mom.." panggil Jessy.


Mrs. Elisa menoleh. Ia tersenyum. "Kau sudah bangun? Aku tidak berani membangunkanmu. Kau terlihat kelelahan."


Jessy duduk disamping wanita tua itu dan memegang tangannya. "Mom.. apakah ada sesuatu? Kau terlihat sedih."


Mrs. Elisa tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Jessy. Aku baik-baik saja."


"Aku sudah mendengarnya." ucap Jessy.


Mrs. Elisa tersenyum. "Jangan mendengarkan ucapan anak-anak itu."


"Joey yang mengatakannya."


"Aku akan membantumu. Aku berjanji. Jangan melepaskan yayasan ini, aku mohon. Yayasan ini memiliki banyak kenangan untukku dan anak-anak lainnya, mom.."


...***...


Dean terus menatap ponselnya. Malam ini Jessy belum menghubunginya. Syuting sudah selesai beberapa jam yang lalu. Kini ia sudah berada di hotel. Ketika ia dan tim sudah menyelesaikan makan malam, Harris mengajaknya untuk pergi ke bar yang tidak jauh dari hotelnya menginap. Tapi dengan tegas ia tolak.


Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, mereka tidak tidak terlalu dekat. Ajakan Harris ke bar pun ia yakin karena ia ingin mengembalikan situasi keduanya. Walaupun ia masih sangat marah karena mereka telah menjualnya, dalam pekerjaan ia tetap profesional.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Jessy menghubunginya.


"Apakah ada berita lain hari ini?" tanya Dean

__ADS_1


"Aku tidak melihat berita hari ini. Aku tertidur seharian di kamarku." jawab Jessy


"Apakah kau senang tinggal disana? Tidak ada paparazzi yang mengikutimu?"


"Tentu saja tidak ada. Aku merasa telah menjadi Jessy yang normal." jawab Jessy senang.


"Tapi aku tidak mendengar nada bahagiamu. Ada apa sayang?" tanya Dean. Ketika mendengar suara bergetar Jessy, ia tahu ada yang disembunyikan darinya.


"Dean, aku ingin meminta bantuanmu." ucap Jessy serius.


"Apa yang terjadi?"


"Aku membutuhkan uang yang banyak."


"Kau bisa meminta berapapun. Untuk apa?" tanya Dean. Setelah menikah dengannya, ini kali pertama Jessy meminta uang padanya. Apakah Jessy memang sangat menyukai uang? Awalnya memang tidak seperti itu, tapi ketika mereka sudah menjalin hubungan sedikit lama, Jessy mulai menunjukkan wajahnya yang asli.


"Aku akan memberitahumu nanti. Aku sangat membutuhkannya dengan cepat."


"Baiklah, aku akan memberimu. Tapi dengan satu syarat.." ucap Dean.


"Apa? Aku akan menggantinya jika kau memintaku untuk menggantinya." ucap Jessy cepat.


"Bukan itu.."


"Apa syarat yang kau berikan padaku?"


"Datanglah ke Yunani dengan penerbangan paling pagi."

__ADS_1


__ADS_2