Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
How can I'm not love you


__ADS_3

Sejak awal ia harus melakukan sesuatu. Lana melirik pada Joey. Ia berbisik sesuatu selagi Brittany tengah tertidur. Perjalanan pulang menuju kondominium Brittany memerlukan waktu selama 30 menit. Untuk itulah Lana membiarkan dia tidur.


Brittany membuka matanya. Mereka sudah sampai didepan bangunan cantik itu. Ia mengangkat kedua tangannya keatas. "Joey, ayo kita turun. Biarkan Lana pulang sendiri". ucapnya sambil bersiap untuk turun.


"Bije.. aku dengan Lana terlupa sesuatu. Kami harus membawa pakaian untuk esok." ucap Joey.


Brittany menoleh pada kedua orang itu dan mengerutkan keningnya. Selama di perjalanan, ia tahu mereka berdua sering saling berbisik. Entah apa yang dibicarakan. Namun karena hal itu bukan hal yang menarik, ia kembali tertidur.


"Dua kali kalian melakukan kecerobohan ini. Aku harap lain kali kalian tidak melakukannya lagi." ucapnya.


"Untuk terakhir kalinya." jawab Lana sambil tersenyum.


Brittany diturunkan oleh supir di basement yang menghubungkannya langsung ke lift. Kondominium itu hanya memiliki tiga lantai. Tapi pengurus gedung menyediakan sebuah basement satu lantai untuk kebutuhan parkir pemilik maupun penyewa. Beruntung pihak agensinya menemukan Kondo ini sehari setelah ia memutuskan untuk menolak hadiah dari ayahnya.


Ia memasuki lift bersama dengan dua pasangan lainnya. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Beruntung ia berada di NY dimana orang-orang masih jarang mengenalinya. Jika ia berada di Istanbul, keberadaannya selalu menjadi sorotan. Ia lelah hari ini. Ketika semua pekerjaannya telah selesai, ia hanya ingin pergi berlibur walaupun hanya dua hari. Namun mengingat Harris masih menjadi ancaman baginya, ia hanya bisa diam didalam kamarnya jika tidak ada pekerjaan. Esok ia libur tanpa melakukan aktifitas apapun. Tunggu... besok ia libur. Mengapa Lana dan Joey pergi mengambil pakaian untuk besok? Apa yang mereka rencanakan?


Iapun mencoba menghubungi Lana. Suara lift berbunyi. Pintu terbuka dan dua pasangan itu keluar. Iapun ikut keluar karena kamarnya ada disana. Tepatnya diujung lorong ini. Hanya ada delapan kamar di lantai tiga. Ia melihat dua pasangan itu masuk kedalam kamar tepat didepan kamarnya. Ia tidak terkejut melihat beberapa pasangan masuk kedalam ruangan yang sama. Bahkan ia pernah mendengar jika ada dari mereka yang saling bertukar pasangan. Ia mendengarnya dari salah satu petugas kebersihan yang sedang berbincang ketika mereka berada didalam lift dua hari yang lalu.


"Halo, Bije.." jawab Joey.


"Dimana Lana?" tanya Brittany.


"Ia sedang membeli makanan di mini market." jawab Joey polos.


"Joey, apa yang terjadi? Bukankah esok aku libur? Kenapa kau mengambil pakaian untukku?"

__ADS_1


"Agensi merubah libur kerjamu, Bije.. Mereka tetap menginginkan kau bekerja. Jadwal mu esok hari yaitu melakukan fashion show di Las Vegas malam hari. Kita pergi besok pagi. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."


Tidak ada kecurigaan ketika Joey mengatakan hal itu. Brittany membuka pintu dan masuk kedalam. Ia mematikan beberapa lampu. Kondo sebesar ini sangat disayangkan karena ditinggali oleh ia dan Joey saja. Padahal ia awalnya menginginkan tempat yang kecil. Namun agensinya mengatakan jika ia tidak bisa mengatur sendiri. Apapun yang dilakukannya akan menjadi sorotan. Termasuk tempat tinggal.


Ia menurunkan tas jinjingnya dan membiarkan jatuh dilantai. Ia lelah. Jika memungkinkan, ia hanya ingin tidur. Ia masuk kedalam kamarnya dan mulai menyalakan perapian elektrik. Cukup lama ia terdiam didepan perapian. Ia memikirkan Harris. Ia lega namun tetap saja ada yang mengganjal hatinya. Alv, siapa yang dapat melindungi ku saat ini? Rasanya terlalu egois memintamu untuk datang. Padahal saat ini kau tengah sibuk bekerja.


Terdengar bell pintu berbunyi. Sambil malas, ia berjalan ke pintu untuk membukanya. Ia mendengar pintu terus diketuk. Yang biasa melakukannya adalah Lana. Ia tidak pernah sabar.


Ketika pintu terbuka, ia terkejut melihat Dean ada didepan pintu. Ia tidak sempat berbicara karena pria itu mendorongnya masuk kedalam. Wajahnya merah karena frustasi. Kemeja yang ia pakai basah oleh keringat. Apa yang terjadi?


"Aku tahu itu kau, Jessy! Aku mengenalmu bahkan saat kau mengubah wajahmu. Aku bisa mengenalmu! Dari awal aku melihat wajahmu terpasang di billboard, aku langsung mengenalmu." ucap Dean tertekan. Ia menekan tubuh Brittany ke tembok sedangkan kedua tangannya memegang wajah wanita itu. "Maafkan aku..". Dean menundukkan wajahnya di tengkuk Brittany dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Brittany. Ia memeluknya erat.


Brittany gugup. Ia melepaskan tangan Dean. "Apa yang kau lakukan? Aku bukan Jessy. Siapa Jessy? Apakah wajahnya mirip denganku?" tanyanya sambil berjalan menjauhi Dean.


"Aku bukan Jessy!" seru Brittany sambil mendorong tubuh Dean sehingga pria itu limbung dan hampir terjatuh.


Dean tersenyum sekilas. "Aku tahu jika kau Jessy. Aku bisa membuktikannya!" ucapnya.


"Bukti apa yang bisa kau berikan padaku?" tanya Brittany menantang. Ketika semua harus terbongkar hari ini, ia harus menyelesaikan semuanya.


Dean mendorong bahu Brittany hingga ia terduduk di sofa.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Brittany gugup.


"Memberikanmu bukti!" ucapnya sambil menyeringai. Ia mencium bibir Brittany keras. Tidak ada perlawanan berarti dari Brittany. Dean tahu ia pasti shock. Ketika melepaskan diri, jari Dean menyentuh bibir Brittany yang bergetar. "Masih sama seperti sebelumnya."

__ADS_1


Brittany menatap marah pada Dean. Ia menampar pipi Dean dengan keras. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga ketika mendapat perlakuan yang terjadi dengan sangat cepat itu. Ia tidak sanggup melawan karena pria itu melakukannya dengan cepat. Kedua matanya mulai berlinang. Kesedihan paling berat menghampirinya. Ia kembali teringat pada bayinya. Ia menatap nanar pria itu. "Puas kau menyakitiku?"


Dean terkejut dengan tamparan itu. Pada akhirnya iabangun sehingga Brittany bisa bernafas. "Jangan berkata seperti itu, Jessy! Kenapa kau lakukan ini?"


Brittany bangun dan mulai memukul dada pria itu. "Aku bukan Jessy! Sudah aku katakan, aku bukan Jessy! Aku benci nama itu! Keluar dari sini" teriaknya histeris.


Dean menangkap kedua tangan Brittany. "Tidak! Aku tidak akan keluar sebelum kau katakan apa yang terjadi padamu!" jawab Dean.


Brittany menunduk, ia mulai menangis. "Tolong Dean, aku membencimu. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku benar-benar membencimu."


Dean melepaskan tangannya. "Mengapa? Aku begitu merindukanmu. Aku lelah mencarimu selama ini. Tolong katakan apa yang terjadi?"


"Karena kau yang telah membuatku harus kehilangan bayiku! Kau puas sekarang? Kau yang telah mengusirku dari hidupmu. Kau lupa atau pura-pura lupa?" tanya Brittany marah. Ia menatap Dean yang terlihat masih kebingungan dan tampak tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan. "Kau telah membuatku harus kehilangan bayiku dan kehidupanku!"ucapnya kembali dengan nada pelan.


Dean menatap nanar Brittany. Ia mundur dan menggelengkan kepalanya. "Itu tidak benar. Kau tidak kehilangan bayi kita. Aku sudah lama menunggu untuk melihatnya. Kau berbohong. Hanya karena kau membenciku, kau tidak mau aku bertemu dengan anakku. Dimana kau sembunyikan anakku?"


"Ya, itu benar. Kau mengusirku ketika hujan badai di Yunani saat itu. Aku mengalami kecelakaan parah dengan bertahan hidup hanya tinggal beberapa persen saja. Apakah kau pernah merasakan betapa sakitnya aku? Kau mempermainkan hidupku. Kau lihat wajahku? Aku melakukan pembedahan karena wajahku rusak saat itu. Kau lihat kaki dan tanganku? Semuanya penuh dengan pembedahan." jawab Brittany. Kemudian ia memegang perutnya. "Kau lihat perut ini? Aku bahkan harus kehilangan kesempatan untuk memiliki anak karena kecelakaan itu. Apakah aku bisa memaafkan mu setelah apa yang terjadi padaku saat itu?"


Dean terdiam dan menarik nafas panjang. Kedua matanya perih setelah mendengar penjelasan Brittany. Ia mulai marah pada dirinya sendiri. Ia menunduk dan merasa kedua kakinya lemah. Ia ambruk dilantai.


Sambil terisak, Brittany membalikkan badannya. "Pergilah.. sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu. Kisah kita telah selesai. Lupakan Jessy Julian karena sudah lama nama itu terkubur. Jika kau ingin aku bahagia, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi didepan ku."


Dean menutup wajahnya dengan kakinya. Ia memeluk kedua lututnya dan mulai meneteskan airmata kedua untuk seorang Jessy Julian. Apakah kini mereka telah selesai? Lalu bagaimana dengan kesempatan yang selalu muncul dalam pikirannya ketika ia memikirkan Jessy.


Jessy, bagaimana bisa aku melupakanmu jika kau sudah memenuhi hati ini..

__ADS_1


__ADS_2