
Beberapa minuman tersaji didepan meja yang sudah dipesan oleh salah satu kru. Itupun atas perintah Dean. Seluruh kru dan aktris maupun aktor telah bekerja dengan sangat baik akhir-akhir ini. Untuk itulah Dean sengaja mentraktir semuanya. Ia ingin berterima kasih dengan caranya sendiri. Para kru mulai berdatangan. Awalnya ia ingin menyewa suatu tempat yang bisa ia gunakan untuk pesta malam ini. Namun ia kesulitan mendapatkan ijin. Setelah berbicara dengan warga lokal yang sering ia temui di hotel tempatnya menginap, ia diberi tahu jika ada bar yang bisa ia sewa selama beberapa jam.
Disinilah mereka. Suasana yang awalnya tenang menjadi ramai. Suara musik mulai menggema. Orang-orang mulai membaur ke lantai dansa dan bergoyang. Begitu pula dengan DJ yang sudah memainkan musiknya. Melihat semua orang senang, ia pun turut senang.
Ia melangkah menuju meja bar. Ia ingin meminum racikan pria yang biasanya selalu dikelilingi wanita itu. Ia duduk sambil sesekali melihat lantai dansa.
"Kau sangat baik sekali menyewa tempat ini untuk mereka." ucap pria itu.
Dean tersenyum. "Mereka banyak membantuku."
Pria itu memberikan gelas yang sudah berisi minuman yang diracik olehnya. "Tidak terlalu keras." ucapnya.
Dean mengambil gelas itu dan meminumnya perlahan.
"Wanita itu sejak tadi sendirian. Aku pernah melihatnya ada di belakangmu. Bukankah itu manajermu?"
Dean membalikkan tubuhnya ke belakang. Ia melihat Rossy tengah sendiri. Ia sudah terlihat mabuk. Aneh, padahal ia memberikan kebebasan pada semuanya namun tidak menyangka Rossy akan mabuk dengan cepat. Ia melihat di meja hanya terdapat dua gelas bir. Iapun menyimpan kembali gelas yang dipegangnya dan menghampiri Rossy.
"Rossy! Lebih baik kau pulang sekarang. Kau memalukan." ucap Dean.
Rossy tersenyum. Tiba-tiba ia membuka blazernya yang berwarna putih dan hanya memakai camisol berwarna hitam.
Dean segera memalingkan wajahnya. "Apakah kau pikir dengan cara mu melakukan hal bodoh seperti ini akan membuat aku menyingkirkan Jessy? Kau salah. Karena setiap hari dan setiap waktu aku mencintai Jessy."
__ADS_1
"Aku tidak butuh ucapan jahat darimu. Pergilah, aku ingin sendiri." ucap Rossy kesal.
Dean melangkah kembali menuju keramaian. Jika Jessy melihatnya mendekati Rossy, ia akan celaka. Ia bisa salah paham.
Rossy terus menatap kepergian Dean. Ia masih sadar walaupun tubuhnya sudah tidak bisa melakukan hal lain lagi. Ia masih tanpa menggunakan blazer. Ia biarkan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Ia ingin mencari perhatian Dean.
"Kau membuatku sulit, Rossy! Bagaimana jika media melihat ini!" ucap Dean kesal. Ia mengangkat tubuh Rossy yang sudah tidak sadarkan diri. Dengan dibantu bartender bar, ia membawa Rossy keluar dari bar. Ia mengenda-endap keluar, karena tidak ingin diketahui oleh siapapun.
Taxi sudah berada diluar. Pria itu membantunya membukakan pintu.
"Hati-hati" ucapnya.
Dean menatap pria itu. "Aku pasti berhati-hati. Jika media tahu, aku bisa mati dicekik istriku."
Pria itu tertawa. "Aku yang menjadi saksi kalian tidak melakukan apa-apa."
Pria itu mengangguk. "Tidak masalah."
Dean menaiki mobil setelah membantu Rossy untuk masuk. Ia duduk disampingnya. Sesekali ia menatap supir taxi yang tersenyum padanya.
"Rossy! Jangan berulah. bangunlah!" bisik Dean.
Rossy membuka matanya pelan. Ia menatap Dean dan langsung memeluknya. Ia menangis dan menyandar di bahu Dean.
__ADS_1
"Tunggu, kau kenapa?" tanya Dean panik.
Kedua tangan Rossy memeluknya dengan erat. "Dean.. sampai kapan kau akan membenciku? Tidak masalah kau menjadikanku yang kedua. Tidak masalah kau membagi cintamu. Kenapa kau menikahi wanita itu? Kenapa kau menganggapku hanya sebagai rekan kerja?" Isaknya.
Dean melepas pelukan Rossy namun tangis wanita itu semakin kencang.
"Rossy, dengarkan aku! Aku tidak pernah mencintaimu. Kau dengar? Aku hanya mencintai istriku. Tidak ada yang lain. Jika kau katakan aku membencimu? Ya benar, aku membencimu karena perlakuan mu pada Jessy. Karena semua ucapan mu yang menyakiti perasaanku. Kau seharusnya bertindak layaknya seorang manajer. Aku tidak tahu ada rencana apa diantara kau dan Harris padaku. Jika ada hubungannya dengan Jessy, aku tidak akan tinggal diam."
Rossy melepaskan tangannya dan duduk sedikit menjauh. Ia terdiam sambil menyeka air matanya. Sial, tadinya ia menginginkan belas kasihan Dean. Namun ternyata ia malah mendapat ucapan seperti itu. Ia menutup matanya. Kepalanya terasa pusing karena mabuk.
Sesampainya di hotel, Dean masih membantu Rossy turun dari mobil. Namun, ketika ia berjalan meninggalkannya, Rossy berlari mendahuluinya dan tanpa diduga memeluknya dengan erat. "Aku mencintaimu, Dean!"
Dean panik karena di area lobby tengah banyak pengunjung. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, ada beberapa orang yang mengabadikan momen itu. Tidak, itu tidak bisa. Ia menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba tangan Rossy terlepas. Ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Rossy! bangun!" seru Dean.
Rossy terlihat tidak sadarkan diri. Ia menyesal menerima Rossy menjadi manajernya. Ia akan membuat perhitungan dengan Harris karena telah menyebabkan semua masalah ini. Iapun mengangkat tubuh Rossy. Ia tidak peduli lagi. Iapun membawa Rossy ke kamarnya.
Ia dibantu oleh pihak hotel untuk membuka kamarnya. Ketika Dean sudah membaringkan tubuh Rossy keatas tempat tidur, iapun berjalan keluar.
"Terimakasih atas bantuannya." ucap Dean
Pria yang membantunya tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
"Merepotkan sekali " ucap Dean sambil menutup pintu kamar Rossy.
Tidak terlihat olehnya, kedua mata itu terbuka perlahan. Ia tersenyum. Setelah ini, ia yakin Jessy dan Dean akan memulai perselisihannya. Ia akan menunggu dan perlahan bertepuk tangan karena kemenangan hampir ada didepan mata.