Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Albertico Alv


__ADS_3

"Dokter Alv!" panggil seseorang


Alv berbalik ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. Seorang suster berlari ke arahnya. Cukup bingung mengingat ia bukan suster yang berjaga dengannya. Karena ia baru pindah ke rumah sakit Ankara, ia sedikit kebingungan. Apakah ini suster baru?


Ketika suster itu mendekat, ia melihat namanya yang tercantum di pakaiannya. Suster Mia. Iapun menatap wanita didepannya.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Alv ramah.


Suster Mia harus menengadahkan wajahnya untuk melihat langsung dokter baru yang menjadi perhatian seantero rumah sakit. Tubuh dokter baru itu tinggi dan atletis. Wajar saja. Sebagai suster terlama dirumah sakit ini, ia kewalahan dengan banyak permintaan teman-temannya. Wajah pria itupun kini dekat dengannya. Dan matanya, Ya Tuhan.. mata pria seindah ini. Sangat disayangkan sekali ia sudah menikah.


"Suster Mia..." panggil Alv kembali.


Suster Mia berkedip. "Ya.." jawabnya pendek.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Alv kembali.


Suster Mia melirik ke kiri dan ke kanan namun ia masih mematung. Ia kemudian menatap kembali pria didepannya. "Aku lupa" jawabnya dengan nada terkejut. Ia benar-benar lupa apa yang harus ia katakan.


"Kau bisa mengingatnya terlebih dahulu. Jika sudah mengingatnya, temui aku nanti." ucap Alv sambil tersenyum. Ia berbalik dan mulai berjalan.


Setelah melakukan penelitian di Asia, ia kini kembali ke "rumah"nya. Ia kini telah menjadi dokter bedah yang paling diperhitungkan keberadaannya. Kehidupannya sebagai seorang dokter tidak lepas dari peran sang adik. Ketika adiknya berusia lima tahun, ia mengalami kecelakaan parah yang merenggut kedua orangtuanya. Adiknya hampir saja tidak selamat. Namun, ia diselamatkan oleh dokter yang kini menjadi gurunya. Ia bertekad untuk menjadi seorang dokter agar bisa membantu siapapun yang membutuhkan.


Alv membuka pintu ruangannya. Namun ia kembali menutupnya. Ia menemui meja suster yang tidak jauh darinya.


"Dewa Yunani. Lihatlah wajah tampannya." bisik-bisik para suster ketika melihat sebuah majalah kedokteran.

__ADS_1


Alv menyimpan kedua tangannya dimeja. "Siapakah pria yang kalian katakan dewa yunani?"


"Dokter Alv!" seru salah satu perawat. Mereka terkejut, mereka menutup majalah dengan cepat.


"Kalian tidak bekerja dan hanya bergumul disini?" tanya Alv marah.


"Maafkan kami, dok."


"Kembali ke tempat masing-masing. Apakah kalian sudah selesai mendata pasien yang akan dioperasi lusa?"


Salah satu perawat menggelengkan kepalanya.


Alv menggelengkan kepalanya. "Dalam satu jam, data itu harus ada di ruangan ku." ucapnya sambil berjalan ke ruangannya.


Alv membuka pintu ruangannya dan masuk kedalam. Ia duduk dikursi kerjanya. Beberapa waktu yang lalu adiknya menangis hebat karena ketakutan. Ia telah menabrak seseorang. Itu telah membuatnya sangat cemas. Namun, beruntung korban yang ditabrak selamat.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Wajah mungil itu terlihat dilayar ponsel.


"Aku menunggu panggilan dirimu, Aysun sayang!"


"Aku akan pulang. Kau harus berjanji satu hal. Brittany memaafkanku. Dan ia menerima perawatan darimu, Alv!" seru Lily Aysun dengan nada bahagia.


Alv mengerutkan keningnya. "Perawatanku?"


"Kau tidak menyayangiku? Ini adalah permintaan adikmu untuk pertama kali. Aku ketakutan sampai aku mau mati. Brittany kehilangan bayinya karena aku." ucap Lily sedih.

__ADS_1


"Tentu saja aku menyayangimu. Brittany siapa? Apakah itu wanita yang kau tabrak?" tanya Alv.


"Benar. Aku harus bertanggungjawab. Kau yang akan membuat wajahnya kembali cantik. Sebagai kakak kau harus ikut bertanggungjawab karena ini masalah adik kesayanganmu." jawab Lily bersemangat.


Alv tersenyum. Untuk kesekian kalinya ia ikut terlibat dalam masalah adiknya. Namun ia tidak bisa menolak. Hanya adiknya yang ia miliki. Ia menghela nafas. "Baiklah. Aku akan melakukannya. Namun kau harus mengenalkan ku terlebih dahulu."


"Ketika kau ada waktu luang, kita pergi ke Austria." jawab Lily bersemangat.


"Baiklah.."


Ketika telepon ditutup, pintu ruangannya diketuk. Seorang suster muncul. "Maaf dok, ada pasien kritis karena kecelakaan. Tidak ada dokter yang menangani" ucapnya gugup


Alv berdiri. Ia memakai jubah dokternya dan berjalan keluar.


"Bagaimana tekanan darahnya?"


"Kehilangan banyak darah. Sedang dilakukan CPR oleh perawat lain."


Alv mengangguk. Ia berlari menuju ruang gawat darurat. Ia melihat pasien itu. Seorang pria tengah baya. "Bagaimana keadaannya?"


"Sudah tidak sadarkan diri sejak dibawa kesini." jawab perawat.


Alv mengecek kepalanya. Pendarahan melalui kepala, pikirnya. Ia melihat tekanan darah yang semakin turun. Beberapa perawat sibuk melakukan sesuatu. Alv mencoba memberikan defribilator (alat kejut jantung) untuk menyelamatkan nyawanya. Berulang kali ia mencoba namun ia gagal menyelamatkan nyawa korban.


"Beritahu keluarganya. Pasien telah meninggal pukul sepuluh malam." ucap Alv sambil melihat jam tangannya. Ia pun berjalan dan duduk dikursi lorong. Ia terdiam. Rasanya menyebalkan tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

__ADS_1


__ADS_2