
Joan terbangun dan menemukan dirinya tertidur didepan perapian. Semalam karena sudah kelelahan membawa mobilnya, ia menemukan sebuah penginapan didekat danau yang letaknya cukup jauh dari Brooklyn. Ia bisa melupakan apa yang terjadi kemarin untuk sejenak. Ia bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamar. Pemandangan indah pagi ini cukup membuatnya lupa atas apa yang sedang terjadi. Tidak ada televisi maupun suara klakson mobil yang dapat mengganggunya hari ini. Ia berjalan menuju sebuah dermaga buatan. Tidak banyak pengunjung. Ia melihat hanya ada beberapa pasangan yang menjadi tamu di penginapan ini.
Suasana sejuk langsung ia rasakan ketika ia duduk diujung dermaga. Kabut mulai turun memenuhi danau didepannya. Sungguh pemandangan indah yang dapat melupakan permasalahan yang sedang ia hadapi. Tapi hanya satu yang tidak bisa ia lupakan.
“Alv..” ucapnya pelan. Ia memeluk kedua lututnya. Ia merindukan Alv. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jika menghentikan kegilaan Lily dengan melepaskan Alv, ia tidak akan pernah mau melakukannya. Ia akan melepaskan Alv, jika pria itu yang memintanya.
Ia mengeluarkan ponselnya. Karena banyaknya panggilan, sejak kemarin ia mematikan ponselnya. Banyak sekali panggilan yang masuk termasuk Alv. Alv pasti mencarinya. Tapi bukankah ia kembali kerumah baru beberapa hari lagi?
Joan berdiri dengan cepat dan mulai menghubungi Alv.
“Demi tuhan Joan, kau ada dimana?” tanya Alv cemas ketika baru saja mengangkat panggilan darinya.
“Maafkan aku Alv, awalnya aku ingin sendiri. Aku sedang merenung. Mengapa aku seperti ini?” jawab Joan. Ia berjalan menuju kamarnya kembali karena udara semakin dingin. Padahal awan terlihat cerah.
“Jangan pernah berfikir kau sendirian. Aku ada disini. Aku tidak akan membiarkan kau sendiri. Kita hadapi bersama. Aku mencemaskanmu, sayang.”
“Maaf..” ucap Joan. Hanya perkataan itu yang bisa ia keluarkan saat ini.
“Kau ada dimana sekarang? Aku akan kesana. Jangan bertindak macam-macam. Tunggu aku. Kirimkan padaku alamatmu sekarang.”seru Alv.
“Jadi gosip ini tidak berpengaruh pada drama baru mu?”tanya Jessy tidak percaya. Pagi ini ketika bangun tidur, Dean tidak mengatakan apapun. Ketika mereka sedang sarapan, tiba-tiba Dean mengatakannya pada semua orang. Semua orang terkejut termasuk dirinya.
“Berita yang berkembang saat ini tidak akan berpengaruh banyak. Walaupun mungkin saja berimbas pada pakaian Joan. Tapi semalam jelas-jelas di akhir drama dicantumkan merk pakaian Joan, tapi orang-orang tidak merasa terganggu.” jelas Dean.
“Lalu mengapa banyak yang mendatangi butik dan kantor Joan untuk pengembalian pakaian yang sudah mereka beli?” tanya Anastasia.
__ADS_1
“Itu hanya emosi sesaat mom.” jawab Dean. Ia berdiri dan mengecup kening Jessy. “Aku harus pergi sekarang untuk bertemu dengan sponsor baru. Jaga bayiku dengan baik. Jangan pergi kemanapun.” ucap Dean.
Jessy hanya tersenyum sambil melirik pada Anastasia dan Lee. Ketika terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali, ia menatap keduanya. “Ada yang harus aku lakukan. Tolong jangan katakan pada Dean. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Aku percaya padamu.” jawab Lee.
Alv turun dari taxi dengan cepat. Begitu mendapat alamat baru dari Joan, ia tidak mau menunggu lama. Ia langsung mendapatkan taxi saat itu juga. Perjalanan mereka lumayan jauh karena mereka telah meninggalkan kota New York.
Ia menatap bangunan yang Joan sebut sebagai penginapan itu. Semuanya terlihat sangat indah. Bagaimana bisa Joan menemukan tempat ini padahal kemarin ia dalam keadaan tidak baik. Ia membuka pintu gerbang yang terbuat dari kayu oak itu. Tumbuhan merambat memenuhi dinding-dinding penginapan. Yang membuatnya takjub adalah ada sebuah danau yang dikelilingi oleh beberapa suite.
Ia melihat dengan serius nomor-nomor yang tertera didepan pintu. Nomor yang ia cari ada di depan danau itu. Ia berjalan agar bisa bertemu dengan Joan dengan cepat. Semalaman ia tidak tidur karena mencemaskan Joan. Baru saja ia menaiki satu anak tangga, pintu terbuka. Joan keluar dan menatapnya dengan sedih.
“Alv…” ucapnya pelan.
Alv menaiki dua anak tangga sekaligus dan memeluk tubuh Joan dengan cepat. Kecemasan selama satu malam ini berakhir ketika ia melihat Joan dalam keadaan baik-baik saja. Ia bisa bernafas dengan lega.
Alv merenggangkan pelukannya. Ia menatap Joan dan menghapus airmata yang ada dipipi Joan. “Kau tidak perlu minta maaf. Melihatmu baik-baik saja seperti sekarang sudah cukup bagiku. Jangan menangis lagi.”
Joan memeluk suaminya dengan erat. “Aku takut jika aku harus kehilanganmu. Bagaimana ini Alv? Karirku akan hancur. Dan kaupun akan terkena imbasnya. Bukan hanya itu, drama produksi Dean akan terganggu. Aku tidak mau orang-orang yang aku sayangi mendapatkan masalah gara-gara aku.”
“Aku tidak peduli dengan itu. Jika karirmu hancur disini, karirku hancur disini. Kita bisa memulai kembali di Eropa. Tempat yang sangat kau sukai. Aku bisa membuka praktek disalah satu rumah sakit di Eropa. Jika kau mau, kau bisa melepaskan karirmu dan fokus hanya padaku. Tapi aku tidak sekejam itu sayang.”jelas Alv.
Joan melepaskan pelukannya dan berjalan menuju sofa sambil menuntun tangan Alv. “Kau sudah bertemu dengan Lily?”
Joan duduk disofa diikuti Alv. Mereka bahkan tidak melepaskan tangannya satu sama lain. Gengaman Alv semakin kuat.
__ADS_1
“Aku sudah bertemu dengan Lily dan berbicara.”
“Lalu bagaimana?”
“Seperti yang aku duga. Ia tidak ingin aku menikah denganmu. Ia pikir pernikahan kita tidak akan serius mengingat alasan kita berdua menikah tidak menuju kearah serius.”
“Karena ia menyukaimu, bukan?”tanya Joan sambil menggigit bibirnya.
Alv menutup matanya dan mengangguk. “Aku tidak percaya ia tega melakukan ini padamu. Padahal aku sudah melupakan jika ia bukan adik kandungku. Aku tetap menganggapnya sebagai anak ayah, walaupun aku tahu kita tidak sedarah.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan? Aku tidak berani pulang hingga berita itu hilang. Aku tidak berani bertemu dengan Dean, karena menurutnya aku sudah membuat proyek barunya hancur.” ucap Joan.
“Kau tidak mau pulang? Akupun tidak akan pulang. Kita tinggal disini hingga kau bosan. Hingga kau bisa melupakan kejadian kemarin. Ketika aku mendengarnya di Hawaii, aku tidak bisa untuk tetap diam. Aku pulang dengan cepat tapi aku harus menelan kekecewaan ketika menyadari kau tidak ada. Aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin ada disampingmu ketika kau merasa kesulitan. Aku ingin menyerap semua kesedihanmu.”
“Jadi kau tidak akan pulang? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Joan bingung.
“Lalu aku harus meninggalkanmu disini sendiri? Tidak mungkin. Lebih baik aku tidak bekerja daripada harus meninggalkanmu disini sendiri. Kau takut aku tidak memiliki uang jika aku tidak bekerja?” goda Alv.
“Tentu saja. Jika kau tidak memiliki uang, bagaimana aku bisa hidup? Perawatan kecantikanku sangat mahal. Jika aku tidak bekerja karena berita tidak penting ini, aku tidak akan memiliki uang. Dan kau, bagaimana bisa menanggung biaya perawatan kecantikanku jika kau tidak bekerja?”balas Joan.
“Kau meragukan kekayaanku?”tanya Alv
Joan tersenyum sambil memeluk Alv. Ia tidak bisa menggoda suaminya lebih lanjut. “Aku hanya bercanda,Alv. Maafkan aku.”
Alv membalas pelukan Joan sambil tersenyum. “Jangan takut, sayang. Aku akan bertanggungjawab jika hal itu memang terjadi. Masalah ini, mari kita hadapi bersama.”ucapnya sambil mengecup kening Joan.
__ADS_1
Bertemu dengan Joan membuat hatinya lega. Tidak ada lagi kecemasan. Ia hanya bertekad satu hal saat ini. Lily tidak akan bisa menyakitinya karena ia yang akan melawannya terlebih dahulu.