
Dean melihat Rossy yang sejak tadi berkutik pada tabletnya. Tidak salah jika Harris yang memilihnya. Etos kerjanya sangat luar biasa. Terkadang ia merasa takjub dengan kerja kerasnya. Sebagai wanita, ia memiliki paras yang cantik. Tapi, ia sedikit keras. Orang yang belum mengenalnya mungkin berpikiran jika ia wanita yang sombong. Ketika ia kuliah dahulu, ia dan Rossy tidak terlalu dekat karena mereka berbeda jurusan. Namun sejak ia mengenalnya melalui Harris, ia mulai dekat walaupun tanpa adanya perasaan apapun dihatinya. Rossy tiba-tiba pergi saat itu. Sekarang ia kembali dan menjadi manajernya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Rossy memperlihatkan tabletnya. “Aku hanya sedang melihat semua berita tentang pernikahanmu.” ucapnya sambil memperlihatkan layar tabletnya.
“Untuk apa?”
“AKu sedang melihat, seberapa banyak skandal yang sudah kau buat hingga pernikahanmu yang sangat menguras emosi para penggemarmu itu. Semuanya berpengaruh pada profesimu. Apakah kau mengerti? Dengan memilihku, itu berarti privasimu sudah aku ketahui. Aku tidak mau kerja kerasku dirusak oleh sikap istrimu yang sok kecantikan itu.” ucap Rossy dengan nada kesal.
Dean mengerutkan keningnya. “Ada apa denganmu? Kenapa kau menjelek-jelekkan Jessy?” tanya Dean marah.
“Aku memperingatkanmu. Pernikahanmu dengan wanita itu salah. Kau bisa kehilangan semua mimpimu. Kau tidak akan bahagia karena kau melakukannya terlalu cepat. Awalnya kau memang terlihat bahagia. Tapi tunggu hingga beberapa bulan ke depan.” seru Rossy.
Deaan marah dan menunjuk wajah Rossy. “Kau tidak berhak mengatakan hal buruk tentang Jessy! Aku tidak menyesal harus kehilangan mimpiku karena menikah dengan Jessy. Aku memperingatkanmu untuk berhenti. Bekerja dengan baik tapi jangan menyentuh privasiku dengan Jessy! Aku menggajimu bukan untuk mendengar ocehan omong kosongmu! Aku menggajimu untuk mengatur semua jadwal pekerjaanku!”
Rossy kesal dan memunggunginya. Dean menekan tangannya kuat-kuat. Jika bukan wanita dan mereka tidak dalam penerbangan, Rossy sudah ia beri pelajaran.
“Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu.” ucap Rossy pelan. “Aku minta maaf karena mengatakan hal yang membuatmu marah.”
__ADS_1
Dean tidak mau mendengarnya. Ia berdiri dan berjalan ke toilet. Beberapa pramugari dengan ramah menyapanya. Melihat wajah muda mereka, ia mulai merindukan Jessy.
...***...
“Jessy! Jessy!” panggil seseorang.
Jessy menoleh ke belakang. Dua orang bodyguard yang tengah berjalan dengannya ikut membalikkan badannya. “Kau mengenalnya?”
Jessy harus menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ketika pria itu mendekat, Jessy langsung mengenal siapa pria itu.
“Jessy! Ada beberapa media didepan apartemenmu. Kau harus berhati-hati.” ucap pria yang Jessy ketahui sebagai paparazzi itu.
“Jangan asal bicara! Kau salah satu dari mereka, bukan?” tanya pria bertubuh besar yang merupakan bodyguardnya.
Pria berwajah latin bernama Jose itu memperlihatkan sebuah berita. Disana terlihat berita mengenai Rossy yang kembali untuk menjadi manajer Dean. Sebuah penantian yang tidak sia-sia. Akhirnya mereka kembali. Jessy menyoroti sebuah kalimat dengan tulisan “Apakah ini pertanda berakhirnya pernikahan kontrak antara Dean dengan gadis petugas Laundry?”
Jessy menggelengkan kepalanya. Ini jelas salah. Ia tidak melakukan pernikahan kontrak dengan Dean. Itu hanya awalnya saja. Mereka saling mencintai sekarang. Kenapa mereka membuat berita seperti itu? Wajahnya tiba-tiba pucat. “Berita ini bohong. Aku tidak melakukan pernikahan kontrak dengan Dean.” ucapnya sambil melihat pria itu. Namun ia tidak takut. Sepertinya Dean memang sudah tahu apa yang akan terjadi padanya. Untuk itulah ia memberinya dua orang bodyguard untuk menjaganya dari berita hari ini. Semua berita yang diperlihatkan pria itu jelas salah. Ia tidak akan takut.
“Ayo, kita hadapi wartawan gila itu.” ucap Jessy sambil berjalan.
__ADS_1
Jose melihat kepergian Jessy sambil tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya.
“Halo..”
“Kau beruntung sekali karena kau tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk membuat petugas laundry itu kembali ke tempat asalnya.” ucap pria di telepon.
“Tetap tidak mudah. Aku masih harus mencari celah.” jawab Jose sambil menutup teleponnya. Ia berlari mengejar langkah Jessy dan kedua bodyguardnya.
Jessy menahan rasa takutnya ketika melihat banyaknya wartawan di lobby. Ia tidak bisa lewat pintu belakang karena ia tidak mengetahui sudut apartemen ini. Ketika ia berjalan melewati mereka, tiba-tiba saja orang-orang itu langsung berlari ke arahnya. Salah satu bodyguard memegang bahunya. Dan yang satu lagi mencoba untuk menahan wartawan itu.
"Jessy! Bagaimana pendapatmu dengan kedatangan Rossy?"
"Jessy, apakah kabar mengenai pernikahan kontrakmu benar?"
"Jessy apakah kau tidak cemburu melihat suamimu kini bersama mantan kekasihnya?"
Langkah Jessy terhenti. Mantan kekasih? Bukannya Dean belum pernah berpacaran? Apakah Dean berbohong padanya?
"Jangan kau dengarkan. Ucapan mereka hanya membuat kau marah dan itu akan menjadi berita besar." bisik bodyguard yang memegang bahunya.
__ADS_1
Jessy mengangguk. Ia berjalan dengan bantuan bodyguard itu. Ia tidak mau mendengar ucapan para wartawan itu sesuai dengan perintah bodyguardnya. Hari ini ia menyadari jika kehidupan aktris, aktor dan semua industri hiburan tidak akan membuatnya bertahan. Ini baru awalnya. Jika ia ingin menjadi seseorang yang pantas untuk Dean, ia harus siap dengan semua berita bohong itu. Jika ia diperlakukan seperti itu oleh media, bagaimana tanggapan Dean? Apakah pekerjaannya akan terpengaruh oleh berita ini?
Ia hanya ingin membiarkan Dean bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia membiarkan Dean bekerja tanpa ditemani olehnya karena ia ingin Dean membuat film yang berkualitas tanpa diganggu olehnya. Tapi ia tidak pernah berharap Rossy akan datang sebagai manajer Dean yang baru. Sesungguhnya ada permainan apa ini?