Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Bad luck


__ADS_3

Joan terus menatap jam dindingnya. Sudah beberapa jam berlalu tapi Jessy belum kembali. Hujan pun mulai reda. Ia membiarkan Jessy pergi sendiri karena ia tengah ada meeting dengan beberapa model. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan jika Dean menghubunginya.


Terdengar pintu terbuka. Joan setengah berlari untuk mencapainya. Ia melihat Jessy kembali dengan rambut sedikit basah.


"Kenapa kau tidak menghubungiku?" tanya Joan marah


"Aku tidak membawa ponselku. Aku menunggu sebentar disana sampai hujan reda. Tapi sayang hujan terus turun." ucap Jessy sambil menggigil.


Joan langsung membawa Jessy ke kamarnya. "Cepat ganti baju. Jika Dean tahu, aku yang akan dimarahi. Kau tahu bagaimana jika Dean marah. Aku sudah berjanji akan menjagamu."


Jessy tersenyum. " Ya, aku tahu.."


"Lagipula kenapa kau bersikeras untuk pergi ke coffeeshop. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya."


"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin meminum minuman itu." ucap Jessy


"Kau nakal sekali." ucap Joan kesal.


"Maafkan aku. Tidak akan aku ulangi lagi."


"Ya sebaiknya seperti itu." ucap Joan sambil mengantar Jessy ke kamar.


"Apakah Dean menghubungimu?" tanya Jessy ketika ia mengganti pakaiannya.


"Tidak. Seharian ini aku sibuk meeting." ucapnya sambil memperhatikan Jessy.


Jessy mengerutkan keningnya. Dean tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia mengambil ponselnya dan mulai menghubunginya. Tidak ada jawaban. Ia menatap Joan. "Tidak ada nada sambung." ucap Jessy berbohong.


"Mungkin suamimu sedang sibuk. Aku akan mengambilkan obat agar kau tidak terserang flu." ucap Joan sambil berjalan keluar.


Jessy menatap kembali ponselnya. Kenapa Dean tidak menjawab telepon darinya? Biasanya ia tidak pernah melewatkan panggilan darinya. Tiba-tiba ia diserang rasa sedih. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia merasa aneh beberapa hari ini?


Dean masuk kedalam apartemennya dengan perasaan marah. Ia marah karena diam saja melihat Jessy berada berdua di sebuah coffeeshop. Ia marah karena Jessy tersenyum seperti itu pada pria yang bukan suaminya.


Ia duduk di sofa tanpa menyalakan lampu. Ia merasa sakit. Ia kembali pulang untuk melihat Jessy karena merindukannya. Namun ternyata ia melihat Jessy dengan pria lain.


Ia melihat ponselnya berbunyi. Jessy menghubunginya. Ia langsung melemparkannya ke sofa yang ada diseberang hingga bunyinya berkurang. Ia menyandarkan kepalanya dan menutup matanya. Tidak ada Jessy untuk malam ini. Ia marah sekali.


Kau tidak bisa menjudge Jessy hanya karena ia bersama pria lain? Kau harus bertanya padanya. Bukan dengan marah-marah!

__ADS_1


Suara hatinya terus berbisik. Ia berdiri dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi Harris.


"Berikan aku pekerjaan untuk besok. Aku akan datang ke kantor." ucapnya serius.


"Kau yakin? Bukankah kau kembali karena istrimu yang muda itu?" ejek Harris.


"Diam! Jika awalnya ia datang dari desa, maka ia akan kembali ke desa." ucap Dean kesal.


"Apa maksudmu?" tanya Harris bingung.


"Jangan tanyakan aku apa yang terjadi." ucapnya sambil menutup sambungan telepon. Beberapa kali ponselnya berbunyi namun tetap saja ia tidak mau mengangkatnya.


"Kau baik-baik saja? Kau mau aku antar ke dokter?" tanya Joan ketika ia melihat Jessy sudah memakai selimutnya.


"Tidak. Aku akan baik-baik saja besok pagi."jawab Jessy.


Joan menghela nafas. Ia berjalan keluar sambil mencoba menghubungi Dean. Tidak diangkat. Iapun kembali ke kamarnya. Sudah beberapa hari ini Jessy terlihat aneh. Ketika tadi ia melihat Jessy melepas pakaiannya, ada sesuatu yang membuatnya sedikit penasaran. Ada perbedaan sedikit di tubuhnya. Dada Jessy sedikit membesar. Apakah ia hamil? Jika Jessy hamil, bukan hanya Dean yang akan bahagia. Ia yakin ayahnya akan kembali jika mengetahui ia akan menjadi calon kakek.


...***...


Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang cerah. Semalaman hujan tidak berhenti. Jessy sulit sekali untuk bangun. Kepalanya sedikit pusing namun ia juga merasakan perutnya sedikit aneh. Apakah tadi malam ia terlalu banyak minum kafein? Ataukah flu telah melandanya karena hujan tadi malam? Apa yang dikatakan Jose benar. Tidak seharusnya ia pulang cepat dengan menembus hujan seperti itu. Seharusnya ia masih menunggu hingga hujan reda.


Perlahan ia bisa membuka matanya. Ia melihat ke jendela. Cahaya matahari sudah terlihat. Ia mencoba untuk bangun namun ia urungkan. Ia melihat ponselnya. Sayang sekali tidak ada panggilan dari Dean ketika ia tidur. Ia harus meminum sesuatu untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Iapun bangun dari tidurnya sambil memaksakan diri. Sebelum keluar kamar, ia menatap dirinya di cermin. Ia terlihat pucat. Flu ini telah menyiksanya. Jika Joan tahu, ia akan dimarahi olehnya. Padahal semalam ia sudah memberinya obat. Tapi sepertinya obat yang diberikan tidak bereaksi.


Jessy benar-benar merasa lemah sekali. Sepertinya ia harus menemui dokter siang ini. Ia merasa tidak memiliki tenaga untuk melangkah. Ia akan kembali tidur setelah meminum satu gelas susu.


Ketika berada diluar kamar, ia mendengar ponselnya berbunyi. Ia memaksa untuk melangkah cepat. Nomor tanpa nama?pikirnya.


"Halo..." jawab Jessy sambil duduk disamping tempat tidur.


"Halo, sayang. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu." ucap seseorang.


Jessy melihat kembali ponselnya. "Maafkan aku, ini siapa?". Ia kebingungan ketika mendapatkan panggilan dari seorang wanita dan menyebutnya dengan kata sayang.


"Isabela, sayang. Aku dan Jonas merindukanmu." ucapnya.


Tiba-tiba Jessy merasa terharu. Ia sedih mendengar suara antusias Isabela. Ia tidak pernah memiliki orangtua dan memang sedang mencarinya. Tapi kenapa ia merasa Isabela dan Jonas seperti kedua orangtuanya. Perhatian keduanya tulus. Mendengar mereka mengingatnya membuatnya sedih. Ia hanya bisa terdiam.


"Halo.. apa yang terjadi sayang?" tanya Isabela bingung ketika tidak ada suara dari ponselnya.

__ADS_1


"Aku terharu mendengar suaramu. Aku merindukanmu. Walaupun kau bukan orangtuaku, tapi aku merasa telah menemukan kedua orangtuaku. Aku kesepian. Tidak ada yang menemaniku. Aku sakit. Tapi tidak ada yang peduli padaku." jawab Jessy sambil terisak.


"Kalau begitu, kau bisa panggil aku mama. Aku akan dengan senang hati menerima mu sebagai anakku. Apa yang kau khawatirkan, apa yang kau pikirkan dan kau rasakan, kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan ada walaupun kita berjauhan." ucap Isabela bijak.


"Ada sesuatu. Sepertinya ada keanehan. Aku sering sekali flu, tapi tidak pernah seperti ini."


"Kau bisa menceritakannya padaku. Apa yang terjadi dengan tubuhmu." ucap Isabela antusias.


"Tubuhku setiap pagi selalu lemas. Aku merasa seperti ada yang mengaduk perutku. Rasanya seperti ingin muntah tapi aku tidak bisa melakukannya."


"Baiklah sayang aku tahu itu. Lebih baik kau ke dokter untuk memeriksanya. Aku takut terjadi sesuatu pada tubuhmu. Apakah ada beberapa tubuhnya yang sakit?" goda Isabela.


"Ya. Aku merasa dadaku sedikit membengkak." ucap Jessy


"Aku akan menunggu kabar setelah kau melakukan cek up ke dokter. Jangan lupa menghubungiku. Saat ini kau adalah anak perempuanku. Kau harus menceritakan semuanya padaku. Aku sedih mendengar kau kesepian. Aku mendengarnya dari Jose."


Jessy mengangguk. Ia tidak menyangka Jose akan sebaik itu menceritakan semuanya pada Isabela. Awalnya ia mengira Jose adalah paparazzi yang haus akan berita. Semua kebaikannya hanya untuk mendapatkan berita. Namun dugaannya salah.


Isabela menatap Jonas antusias. "Sepertinya Jessy hamil. Aku senang sekali." ucapnya sambil memegang tangan Jonas.


Jonas tersenyum. "Aku senang mendengarnya."


"Dari nada bicaranya, aku merasa kasihan. Aku yakin ia sedang hamil. Apakah lebih baik kita katakan pada Dean? Kita bisa menghubunginya untuk memberitahu keadaan Jessy saat ini."


Jonas menarik tangan Isabela dan menyuruhnya duduk. "Aku tahu kau antusias. Tapi ini masalah pribadi mereka berdua. Lebih baik kita diam dan memberikan support pada Jessy."


Isabela berfikir sejenak. "Jika Dean menyakiti kesayanganku, aku tidak akan pernah memaafkannya. Sekalipun Dean adalah anak dari sahabat kita."


"Jessy bahkan bukan anak kita."


"Ia anakku. Aku sudah memutuskannya. Aku berjanji padanya ketika mendengarnya terisak untuk pertama kali. Jessy tidak berhak disakiti. Ia yang dipaksa oleh Dean masuk kedalam lingkarannya." ucap Isabela berapi-api.


"Ya, aku akan diam dan melihat perkembangan mereka. Mungkin karena Jessy tengah hamil, ia merasa sensitif. Aku pikir itu bukan masalah besar "


Isabela menatap suaminya. "Sejak pindah kesini, aku tidak pernah tidak memikirkan Jessy. Jika kita mencari tahu tentang asal usul Jessy, apakah kau mau?"


"Aku setuju saja tapi tunggu pekerjaan kita selesai. Kita masih banyak pekerjaan disini. Beberapa ladang sedang menunggu musim hujan. Kita tidak bisa meninggalkan para pekerja ditengah cuaca yang tidak menentu seperti ini."


Isabela cemberut. Ada perasaan yang suaminya tidak mengerti jika ia membicarakan Jessy. Ia merasa ikatannya begitu kuat. Ia menyesal tidak melakukannya ketika berada di New York dulu. Ia menghela nafas.

__ADS_1


"Ayolah sayang.. kau harus sabar. Kita tunggu berita dari Jessy sendiri. Ia sendiri yang akan memberitahu kita, bukan?" ucap Jonas.


Isabela hanya mengangguk.


__ADS_2