Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Meet Brittany


__ADS_3

"Alv!" teriak Lily


Alv berlari menuju suara adiknya yang begitu menggelegar seisi rumah. Ia baru saja bangun tidur dan selesai mandi. Ia hampir saja lupa jika hari ini ia akan terbang menuju Austria. Sesuai janjinya pada adiknya, hari ini mereka akan menemui Brittany. Ia mendengar adiknya memanggilnya kembali.


"Aku datang.." seru Alv sambil merapikan pakaiannya. Ia melihat pelayannya tertawa melihat kebiasaan kedua bersaudara ketika hendak bepergian.


"Kalian seperti anak kecil." ucap wanita setengah baya itu.


"Kau sudah tahu bagaimana Aysun bukan?" tanya Alv. Wanita itu mengangguk cepat sambil tertawa.


Alv melihat beberapa koper diruang tamu. Ia kebingungan dan menatap adiknya. Ia kemudian menghampiri koper-koper itu dan menunjuknya. "Apa ini?"


"Tentu saja itu barang yang akan aku bawa untuk berlibur." jawabnya tenang.


"Kita kesana bukan untuk berlibur, Ay!"


"Aku ya, aku akan tinggal disana lebih lama. Kau bisa pulang sendiri." jawab Lily. Ia melangkah keluar dengan angkuhnya meninggalkan kakaknya yang masih kebingungan.


Alv masih berdiri terdiam ditempat.


"Alv!" panggilnya kembali.


Alv berjalan keluar. Ia melihat adiknya sudah siap didalam mobilnya.


"Kau harus memiliki kekasih. Kau tidak bisa menuntut ku untuk terus mengikutimu kemanapun kau mau. Aku juga memiliki kebebasan. Aku sengaja libur dari rumah sakit karena keinginanmu itu." ucap Alv ketika ia memasuki mobil.


"Brittany seorang wanita cantik." ucap Lily tenang.


"Apa hubungannya denganku?"


"Tidak ada. Kau tetap harus membantuku. Kau sudah berjanji. Kau harus membuat Brittany cantik seperti semula."ucap Lily tegas.


"Kau egois sekali."


Lily menutup kedua telinganya. "Aku tidak peduli. Kau tidak mengerti betapa takutnya aku malam itu ketika menabrak seseorang. Ia bahkan harus kehilangan bayi yang sedang ia kandung."


"Seharusnya ada suaminya."


"Brittany tidak memiliki suami."


"Bercerai? Atau meninggal?" tanya Alv kembali


Lily mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Sepertinya itu kenangan pahit. Brittany tidak mau bercerita tentang itu. Kau mau aku mencari tahu?" goda Lily.

__ADS_1


Alv mencubit pipi Lily sehingga adiknya itu meringis. "Jangan macam-macam, Alv!" teriaknya.


Alv melepaskan jari-jarinya. Ia menutup matanya sejenak. Mereka pergi ke bandara pagi sekali. Padahal semalam ia baru saja melakukan operasi sampai larut malam. Ia menghela nafas. Karena lelah ia tertidur. Jika matanya terbuka, ia dan adiknya pasti akan berdebat kembali.


...***...


Jose melihat Jessy dari balik pintu kamarnya yang terbuka. Sudah satu minggu ia berada di rumah Isabel. Ketika mendengar Jessy kecelakaan, hatinya tidak menentu. Ia marah ketika melihat di berita jika Jessy hilang. Ia ingin masuk kedalam kamar namun ia tidak berani. Selama ia berada disini, ia tidak pernah melihat Jessy keluar dari kamarnya. Ia selalu duduk diatas tempat tidur dan melamun. Wajahnya masih memakai perban. Luka di tubuhnya tidak sebanding dengan luka dihatinya. Ia mengepalkan jari-jarinya. Ia pernah mengatakan dalam dirinya jika Dean memperlakukannya buruk, ia tidak segan-segan untuk merebutnya. Namun, melihatnya sekarang ia merasa khawatir. Apakah Jessy masih bisa membuka hatinya untuk pria lain?


Jose menghela nafas. Ia marah karena tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jose, ikut aku.." ucap Jonas yang kini berada dibelakangnya.


Jose berbalik dan mengangguk. Ia mengikuti langkah Jonas keluar. Mereka duduk di kursi belakang rumah. Sungai yang mengalir dibelakang rumah terdengar menggoda. Selama berada di rumah ini, ia tidak pernah memperhatikannya. Ia kemudian menatap Jonas.


"Bagaimana keadaan Jessy sebenarnya?"


"Sudah tidak ada Jessy. Hanya ada Brittany. Panggil ia dengan nama Brittany." tekan Jonas. Matanya menatap tajam padanya.


"Baiklah.. aku lupa harus memanggilnya Brittany." jawab Jose sambil tertawa.


"Brittany masih trauma. Kau harus menjaganya. Tinggal lah disini sementara waktu. Ia membutuhkan banyak support dari orang-orang terdekatnya. Hari inipun temannya datang. Kau harus ikut menyambutnya karena salah satunya adalah dokter yang akan menyembuhkan luka Brittany." jelas Jonas. Ia menatap keluar ketika ia melihat sebuah mobil berhenti didepan rumahnya.


Jose ikut melihatnya. "Siapa?"


Ia melihat seorang wanita keluar dari taxi. Dan seorang lagi seorang pria. Ia menatap Jonas. "Yang mana temannya Brittany?"


"Wanita muda itu." tunjuk Jonas.


"Lalu laki-laki itu dokter?" tanya Jose tidak rela. Siapa yang rela Brittany dekat dengan pria baru. Ia bersusah payah mendekati Brittany saat itu namun jika pria didepannya bisa dekat dengan Brittany, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Jonas menoleh pada Jose. Seakan tahu kegelisahan Jose, Jonas tersenyum. "Pria itu kakaknya Lily. Karena Lily merasa bersalah telah mengakibatkan kecelakaan Brittany, ia meminta kakaknya untuk menyembuhkan luka Brittany."


"Pria tampan.." bisik Jose. Ia kemudian menatap wanita disebelahnya pria itu. "Gara-gara wanita itu?"


Jonas menyambutnya dengan membukakan pintu gerbang. Ia tersenyum pada keduanya. Kebetulan sekali istrinya belum kembali dari supermarket. Jadi ia menyambut Lily seorang diri.


"Halo, akhirnya kami sampai dirumah kalian." seru Lily bersemangat. Ia menatap pria disamping Jonas seraya berbisik "Ya Tuhan, pria ini tipe kesukaanku.."


Jonas mengulurkan tangannya. "Senang bertemu kembali denganmu." ucapnya. Lily menyambut uluran tangannya. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada pria disampingnya. "Au Jonas. Kau adalah kakak Lily yang sering ia banggakan bukan?"


Alv tersenyum. "Dokter Albertico Alv. Kau bisa memanggilku Alv saja. Kau benar, aku adalah kakaknya Lily Aysun. Maaf jika ia membuat putrimu terluka. Kami merasa sangat bersalah."


"Lily sudah mengatakan ia akan bertanggungjawab. Brittany sudah memaafkannya." jawab Jonas.

__ADS_1


"Dimana aku bisa bertemu dengan Brittany?" tanya Alv cepat. Ia datang hanya untuk bertemu dengan Brittany. Ia tidak merasakan lelah karena perjalanan. ia tidak memerlukan istirahat. Ia hanya ingin segera melihat calon pasiennya.


Jose maju didepan Jonas. "Kau melupakanku."


Alv tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada Jose. "Maafkan aku. Kenalkan, aku Alv."


Jose menjawab dengan angkuh. "Aku tahu, kau mengatakannya tadi." ucapnya tanpa membalas uluran tangan pria didepannya.


Jonas menggelengkan kepalanya. "Kau mau bertemu Brittany bukan?" tanyanya pada Alv.


Alv mengabaikan ucapan Jose. Ia menatap Jonas dan tersenyum. "Ya. Bisa antarkan aku?"


"Aku harap ia baik-baik saja bertemu orang baru."


"Aku yakin ia tidak akan menolak." jawab Alv percaya diri.


Jonas berjalan masuk kedalam rumah diikuti oleh Alv, Lily dan Jose. Ketika mereka akan menaiki tangga, Lily menarik tangan Jose.


"Kita disini saja. Biarkan mereka berdua yang keatas."


Jose terkejut. "Kenapa?"


"Kakakku paling tidak suka diganggu ketika mengobati seseorang." bisik Lily.


Jose terpaksa mengikuti ucapan wanita itu. Walaupun dalam hatinya ia tidak rela.


Pintu kamar Brittany diketuk dengan pelan. Tidak ada jawaban, namun Jonas tetap membuka pintu. Brittany terlihat tengah memunggungi mereka. Masih seperti biasa, ia terlihat melamun.


"Brittany, dokter yang diceritakan oleh Lily datang." ucap Jonas sambil melangkah kedalam.


Brittany menoleh pada ayahnya. "Aku belum siap-siap, dad.." bisiknya


"Kau tidak perlu bersiap-siap Brittany. Aku sudah siap dengan keadaanmu, apapun itu." ucap Alv sambil tersenyum.


Brittany membalikkan tubuhnya dan menatap seorang pria tampan yang terlihat terkejut ketika kedua mata mereka saling bertemu. Ia berjalan pelan dan masih menggunakan tongkat.


"Kau saudara Lily?" tanya Brittany ramah.


Alv tersenyum lebar. "Ya, aku Alberrico Alv. Tapi kau bisa memanggilku dengan nama Alv."


Brittany mengulurkan tangannya. "Senang berkenalan denganmu, dokter Alv."


Alv membalasnya. "Aku lebih beruntung karena bisa berkenalan denganmu."

__ADS_1


__ADS_2