Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
A little time


__ADS_3

Jessy terbangun ketika siang hampir menjelang. Ia menyadari satu hal. Dean sudah tidak ada disisinya. Ia bangun dari tidurnya dengan memakai piyamanya terlebih dahulu.


"Dean..." panggilnya saat ia memakai pakaian. Ia membuka pintu kamar dan melihat keluar. Sepi. Tidak ada tanda-tanda Dean ada di apartemen.


Jessy melangkah ke sofa panjang berwarna putih yang ada ditengah ruangan. Ia duduk sambil mengangkat kedua kakinya. Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai. Ia memegang wajahnya. Hubungan dengan Dean tidak dalam keadaan baik. Tentu saja. Semuanya karena ia cemburu pada Jose. Bahkan ketika Jose tidak melakukan apa-apa padanya, Dean dengan keras memperlihatkan jika ia cemburu.


Jessy mengambil gagang teleponnya. Ia mulai menghubungi Dean. Nada dering kesekian ia baru menjawab.


"Ada apa?"


Jessy tercekat dengan jawaban Dean. "Apakah aku mengganggumu?"


"Bicaralah. Sebentar lagi aku harus bertemu dengan seseorang." ucap Dean.


"Hubungi aku jika kau sudah selesai. Aku menunggumu." Jessy menutup gagang telepon dan terdiam.


Lama-lama ia merasa kurang baik. Ia tahan namun sulit. Ia memegang perutnya karena ia merasa seperti ada sesuatu yang akan ia keluarkan. Ia berlari dengan cepat menuju wastafel. Hanya cairan asam yang keluar dari perutnya. Sejak semalam ia tidak memakan apapun. Ia menatap cermin didepannya. Wajahnya jauh lebih pucat daripada kemarin. Ia memegang wastafel dengan kedua tangannya. Flu ini masih menghantuinya, pikirnya.


Ia kembali ke kamar dan membaringkan kembali tubuhnya. Didalam kepalanya, ia hanya berfikir tentang sikap Dean. Jika mereka tidak bertemu di kantor Harris, apakah ia tetap tidak akan memberitahu kepulangannya? Sampai kapan?. Ia mulai membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Ia lebih baik kembali ke Nevada jika Dean masih tetap dingin padanya. Untuk apa ia menikah namun hubungan mereka dingin seperti sekarang? Sejak semalam ia terus mengalah agar Dean tidak marah padanya. Ia tidak akan tahan jika Dean memperlakukannya seperti ini. Ia mengangkat tangannya ke atas kepalanya dan menutup mata. Ia berharap semua ini hanya mimpi. Selama menikah, baru kali ini Dean seperti ini. Ia mulai berfikir kembali. Apakah ini sifat asli Dean? Ia akan membuangnya dengan menjadikan rasa cemburunya sebagai alasan? Namun menurutnya, Dean tidak mungkin seperti itu. Sampai saat ini, ia masih percaya padanya.


"Terjadi sesuatu antara kalian?" tanya Rossy yang kala itu ada dibelakangnya. Ada perasaan senang. Ia tidak perlu repot-repot melakukan sesuatu agar Dean bisa berpisah dengan Jessy.


Dean menoleh kebelakang. Ia menggelengkan kepalanya. " Tidak ada." ucapnya sambil berjalan.


Rossy mengikutinya. "Lalu mengapa nadamu seperti itu? Apakah aku ada kesempatan?" godanya.


"Kesempatan apa? Jangan bicara macam-macam. Ini hanya masalah pribadi sepasang suami istri. Wajar jika aku marah pada Jessy karena ia sudah melakukan kesalahan. Namun jangan kau pikir aku akan meninggalkan Jessy hanya karena masalah ini! Jangan bermimpi untuk menjadi pengganti Jessy. Tidak akan pernah!"


Rossy menghela nafas. Ia menatap Dean yang sudah berbelok ke ruang meeting. "Ya, akan dan tidak akan lama lagi. Kau tunggu saja, Dean.." ucapnya.


Dean masuk kesebuah ruangan dimana Harris dan beberapa pria sudah ada disana.


"Maaf aku terlambat." ujarnya


Pria yang sudah menyimpan investasi sebesar tiga puluh persen di perusahaan Harris itu menatapnya. Ia tersenyum sekilas.


"Shane sangat menyukaimu. Ia bahkan bertekad untuk menjadi seorang aktris karena pesonamu yang luar biasa."

__ADS_1


Dean canggung dan tidak suka dengan pembicaraan ini. Ia tersenyum memaksa. "Aku hanya seorang pria biasa dengan profesi sebagai sutradara. Aku bukan seseorang yang bisa mempengaruhi seseorang termasuk putrimu."


"Namun kenyataannya berbeda. Berulang kali ia mengatakan jika ia menyukaimu. Aku menyimpan investasi sebesar itu karena Shane. Ia memintaku secara langsung untuk percaya jika film yang sedang kau buat akan sukses besar."


Dean mengetuk jari-jarinya diatas meja. Ia merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Ia menatap Harris yang mengangkat kedua alisnya. Ia meminta Harris untuk melakukan sesuatu hanya dengan isyarat.


"Mr. Daniel.. ini surat pernyataan yang sudah kami buat tentang status kepemilikan perusahaan. Kau bisa melihatnya." ucap Harris.


Dean mengerutkan keningnya. Kepemilikan?


"Apa maksudmu kepemilikan?"


Harris memberikan salinan surat itu padanya. Ia membacanya. Pria didepannya kini menjadi salah satu pemegang saham Sixty Manajemen dan Sixty Production dimana ia yang menjadi artisnya. Tiga puluh lima persen saham sudah dibeli oleh pria itu.


"Aku membutuhkan penjelasan." bisik Dean.


Harris tersenyum. "Tentu saja.."


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang. Rossy datang dengan terburu-buru.


"Ada kabar buruk!" ucapnya dengan wajah pucat.


"Ada demo besar di Yunani mengenai krisis moneter. Kita hanya diberikan waktu hingga besok untuk melanjutkan syuting. Santorini masih aman. Aku telah memberi kabar beberapa kru dan manajemen artis untuk memberangkatkan mereka dengan segera." ucap Rossy panik. Wajahnya terlihat pucat.


Dean berdiri dengan kesal. "Ada apa lagi ini!"


Harris menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jika syuting ini tidak sesuai rencana, ia takut filmnya akan tertunda. Ia tidak mau harapannya pada film ini pudar. Ia menatap Dean. "Kita pergi ke Santorini malam ini. Kita tidak bisa menunda, Dean. Ini semua demi tim yang telah lelah bekerja. Kita tidak bisa egois dan mementingkan diri kita sendiri."


"Aku tahu." jawab Dean malas. Iapun berdiri dan berjalan keluar.


Harris menghampiri Rossy. "Apakah yang kau ceritakan benar?"


Rossy menatap Harris marah. "Tentu saja benar! Mana mungkin aku mengatakan sesuatu kebohongan yang menyangkut keamanan suatu negara. Kau gila!" ucapnya kesal.


...***...


Dean membuka pintu perlahan. Ia kembali ke apartemen untuk menyampaikan pada Jessy jika ia harus kembali ke Yunani. Ia mungkin kasar ketika di telepon tadi. Tapi ia melakukanmya dengan alasan.

__ADS_1


Ia melangkah menuju kamar. Jessy terlihat sedang berbaring. Ia masih menggunakan pakaian yang sama ketika ia pergi tadi. Apakah Jessy sedang sakit?


Dean berjalan cepat. Ia duduk disamping tubuh Jessy yang sedang berbaring. Ia memegang kepalanya dan menyentuh pipinya. Sedikit hangat tidak seperti biasanya. Ia kemudian menundukkan kepalanya untuk mengecup keningnya. Kedua mata itu terbuka, namun ia tersenyum. Jessy langsung memeluknya.


"Maafkan aku. Tadi aku tanpa sadar kasar padamu."bisik Dean.


Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah karena mengganggumu."


Dean melepaskan pelukan Jessy. Ia memegang kedua bahunya. "Kau sakit?"


Jessy menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin gadis sepertiku sakit. Aku hanya sakit kepala biasa." ucapnya berbohong.


"Malam ini aku harus kembali ke Yunani. Kau harus menjaga kesehatanmu." ucap Dean.


Jessy mengerutkan keningnya. Datang tanpa ia tahu dan pulang tanpa ia duga. Dean seperti mempermainkannya. "Apakah kau sudah tidak marah padaku?"


Dean ragu. Ia terdiam. Bohong jika ia sudah melupakan apa yang sudah terjadi.


"Jose tidak mungkin menjadi pria yang bisa membuatku jatuh cinta. Jose bukan tipeku. Aku hanya berteman dengannya. Tidak ada perasaan lebih."


Dean menghela nafas. "Sulit untuk menerima pria itu menjadi temanmu. Aku cemburu. Aku meminta padamu, lebih baik kau menghindari pria itu agar tidak ada sesuatu yang tidak kita inginkan."


Jessy melepaskan tangannya. "Jose itu kerabat sahabat orangtuamu, Dean."


Dean berdiri. "Aku tidak ingin sesuatu yang buruk diantara kita. Lebih baik kau menghindari untuk menjaga hubungan baik kita. Aku tidak peduli siapa Jose itu. Aku hanya tahu jika ia mengganggu istriku dan aku harus bersiap dengan itu." ucapnya sambil keluar kamar.


Jika Jessy dalam keadaan baik-baik saja, ia mungkin masih bisa berdebat. Namun, turun dari atas tempat tidur pun ia tidak sanggup. Ia memutuskan untuk tetap diam. Ia melihat Dean mulai mengemasi pakaiannya. Ia hanya bisa melihatnya.


"Maafkan aku karena tidak bisa membantumu." ucap Jessy.


"Jangan. Aku saja."


Setelah selesai, Dean menghampiri Jessy dan duduk disampingnya. Ia kembali memegang dahi Jessy. "Istirahat yang banyak. Jangan terlalu lelah. Aku tidak mau kau sakit. Syuting kali ini aku berada di Santorini. Aku akan kembali dalam satu bulan setelah menyelesaikan semuanya. Nanti aku akan lebih banyak tinggal disini bersama denganmu. Tunggu aku. Biasanya waktu akan berjalan dengan cepat."


Jessy mengangguk pelan. Ia memeluk Dean kembali. "Jangan pernah merubah perasaanmu padaku, Dean." ucapnya manja.


"Jangan berteman dengan pria itu lagi" ucap Dean kembali.

__ADS_1


"Baiklah.."


Jessy hanya bisa melepaskan kepergian Dean dengan senyum. Ia melambaikan tangannya ketika Dean keluar dari kamarnya. Ia mendengar suara pintu dibuka dan ditutup. Dean telah pergi. Ia tidak menyangka Dean akan kembali dengan cepat. Padahal, ia ingin memberikan sesuatu. Walaupun sebenarnya iapun belum tahu pasti.


__ADS_2