
"Kau terlalu mudah dibodohi. Tidak ada cinta dalam sebuah pernikahan. Jangan gunakan hati. Dari awal kau menikahi perempuan itu karena kau tidak ingin terlibat sebuah skandal bukan? Namun ternyata ceritanya berkata lain." ucap Harris seraya mencibirnya.
"Aku jadi ragu pada perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintai Jessy?" tanya Dean sambil memangku tangan.
"Aku senang pada akhirnya kau sadar akan sesuatu. Aku pikir kau tetap pada pendirian mu dengan mempertahankan wanita itu." ucap Harris.
Dean kemudian berfikir. Ia keluar dari kantor Harris dan duduk di atap gedung. Ketika ia memiliki masalah, ia terbiasa menghabiskan waktu di atap sambil merokok. Kali ini ia tidak membawa rokok. Ia bisa membelinya nanti.
Setelah apa yang terjadi diantara ia dan Jessy, apakah ia ragu pada perasaannya? Lalu, perasaan apa ketika ia menghabiskan waktu bersama? Perasaan apa ketika ia tidak mau kehilangannya? Lalu, jika ia tidak memiliki perasaan pada Jessy, bagaimana bisa ia menitipkan Jessy pada Joan?
Apakah perasaannya langsung hilang ketika ia melihat Jessy bersama pria lain? Ia menggelengkan kepalanya. Tidak.. ia mencintai Jessy, tentu saja.. Ia hanya cemburu pada pria itu. Cemburu ini perlahan bisa membunuhnya. Ia tidak mau memiliki perasaan seperti ini. Ia marah pada Jessy karena membiarkan pria lain memperhatikannya. Bukan itu saja, pria itu adalah pria yang paling diawasi olehnya. Sejak ia menikah, pria itu selalu berada di sekeliling istrinya.
Iapun berbalik. Ia harus membeli rokok agar pikirannya bisa hilang. Jika Jessy tahu ia sudah kembali? Bagaimana sikapnya? Jika ia terlihat gugup, ia yakin terjadi sesuatu. Tapi, ia tidak akan menemui Jessy sekarang. Ia akan menemui Jessy nanti ketika ia akan kembali ke Santorini.
Tubuh Jessy berkeringat hebat. Ia berada didalam mobilnya dan hendak menuju rumah sakit. Ia ingin memeriksakan diri. Beberapa saat yang lalu Joan menghubunginya dan memintanya untuk pergi sendiri karena ia masih sibuk mengurus model-modelnya. Menyedihkan tapi ia wanita mandiri. Tanpa sadar ia memegang perutnya.
Ketika mobilnya berada di depan lampu merah, ia menatap gedung di sampingnya. Gedung itu merupakan salah satu kantor Harris. Untuk apa ia tertarik, Dean tidak ada disana. Baru saja ia berfikiran seperti itu, ia melihat seorang pria melintas dengan menyimpan kedua tangannya kedalam saku jaketnya. Tidak mungkin Dean telah kembali.
Suara klakson mobil mengejutkannya. Ia melihat lampu sudah berganti hijau. Iapun menjalankan mobilnya perlahan. Ia harus mencari parkiran sementara. Ia ingin memastikan jika pria itu bukan Dean. Tidak mungkin Dean kembali tanpa memberitahunya.
Setelah mendapatkan parkiran, ia keluar dari mobil. Ia hiraukan rasa sakitnya. Ia berlari tanpa tahu arah. Ia kehilangan sosok itu. Ia memutuskan akan menunggu didepan kantor Harris. Entah sampai kapan. Ia yakin Dean akan kembali ke kantor Harris. Ia berdiri didepan kantor Harris sambil memegang tembok yang berada disampingnya. Walaupun siang hari, namun awan sudah terlihat mendung kembali. Ia mempererat mantelnya. Ia menunggu.
Sedangkan Dean memegang rokok yang baru saja dibelinya dan kembali ke kantor Harris. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Jessy sedang berdiri kedinginan didepan kantor Harris. Bagaimana ia bisa tahu jika ia ada di kantor?
Iapun menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dean dingin.
Jessy mengerutkan keningnya. "Sepertinya aku yang harus bertanya padamu. Apa yang kau lakukan disini? Kapan kau pulang?"
__ADS_1
Dean memutar kotak rokoknya ditangannya. "Itu tidak penting. Pulanglah. Aku masih banyak pekerjaan." ucapnya sambil berjalan menaiki tangga gedung.
Jessy hanya bisa menatap kepergian Dean dengan mata nanar. Apa yang terjadi padanya? Ia bingung. Ia kembali bertanya. Apa yang sudah terjadi? Kemanakah Dean yang selalu menatapnya penuh cinta? Tanpa sadar Jessy menitikkan airmata. Namun ia langsung menghapus air matanya dengan cepat.
Langkah Jessy gontai ketika menuju parkiran. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Pertanyaan itu menghantuinya. Mengapa Dean tidak memberitahunya jika ia sudah kembali? Apakah ini hanya kejutan untuknya? Ia memegang stir mobil dengan tangan bergetar. Keringat yang sejak tadi memenuhi peluhnya, sudah tidak terasa. Tiba-tiba ia teringat apartemen. Jika Dean tidak pulang ke rumah orangtuanya, ia pasti kembali ke apartemen. Perlahan ia membawa mobilnya menuju apartemen.
...***...
Dean menghabiskan rokok terakhirnya hari ini. Hari sudah mulai gelap. Tanpa terasa ia telah menghabiskan waktu yang cukup lama. Iapun berdiri dan melangkah. Wajah Jessy masih terlintas di kepalanya. Ia terlihat cemas dan terkejut ketika melihatnya. Tidak ada wajah bahagia. Hanya ada rasa gugup dan nanar. Ia kecewa. Ia pikir, Jessy akan langsung memeluknya ketika melihatnya sudah tiba di New York. Ia melihat kebawah. Jalanan kota terlihat sedikit padat. Setelah menghabiskan hisapan terakhirnya, ia membuang puntung rokok ditempat sampah.
Ia menggunakan taxi untuk sampai ke apartemen. Ia tidak mau kembali ke rumah orangtuanya. Ia tidak mau mendengar Joan menyudutkannya. Beberapa orang menatapnya ketika ia memasuki lift. Ia menunduk. Ponselnya bergetar. Ia melihatnya. Rossy menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Dean cepat.
"Dean, aku sudah berada di New York. Apalagi yang kau butuhkan. Aku akan menyiapkannya. Besok kau harus menemui editor televisi yang akan menyiarkan iklan tentang film yang sedang kah buat ." jelas Rossy.
Rossy tersenyum. "Apakah kau mau aku pesankan tiket ke Santorini bersamaku?"
Dean menghela nafas. Ia membuka pintu apartemen. "Kau pesankan saja. Kita bisa pergi bersama." jawab Dean. Namun ia terkejut melihat Jessy sedang duduk menunggunya. "Aku tutup teleponnya. Berhati-hatilah.."
Jessy mengerutkan keningnya. Ia menatap Dean sambil berpangku tangan. Ketika melihat Dean selesai berbicara di ponselnya, ia berdiri dan menghampirinya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Dean dan memeluknya.
Dean terdiam. Ia tidak membalas pelukan Jessy seperti biasanya.
"Aku tidak akan bertanya apapun padamu. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini." bisik Jessy. Ia menutup matanya. Namun tidak dapat dibendung, airmata mulai membasahi pipinya. Ia bisa menahan sakit di kepala dan perutnya. Tapi, ia tidak bisa menahan sakit di hatinya. "Aku mencintaimu, Dean."
Dean melepaskan tangan Jessy dan berjalan melewatinya dengan dingin. Ia masuk ke dapur untuk mengambil minum.
Jessy menghampirinya. "Apakah kau lapar?" tanya Jessy sambil tersenyum.
__ADS_1
Dean tidak mau menatapnya. "Aku tidak lapar."
Jessy mendekatinya. "Baiklah. Jika kau tidak lapar, apakah kau sudah makan? Apa yang kau makan? Apakah kau pergi dengan Harris?"
"Tidak. Aku bekerja dengan Harris. Aku makan seorang diri."
Jessy terdiam. Ia melepaskan tangannya yang sedang memegang t-shirt Dean. Ia berjalan ke sofa tanpa berkata apapun pada Dean. Ia mengambil jaketnya dan tas. Kakinya bergetar. Sikap dingin Dean membuatnya putus asa. Ia bahkan tidak tahu kesalahannya apa?
Ia melihat Dean sedang berdiri didepan beranda. "Aku pergi. Sepertinya kau tidak ingin aku ganggu. Maafkan aku." ucap Jessy dengan nada bergetar.
"Aku ingin kau berjanji satu hal padaku." ucap Dean tanpa menoleh padanya.
Jessy menghentikan langkahnya. "Aku akan berjanji selama itu baik untuk kita."
"Jangan temui pria manapun selain aku." ucap Dean tajam.
Jessy terkejut. Ia membalikkan badannya. "Apa maksudmu?"
Dean berbalik dan berjalan mendekati Jessy. Ia memegang kedua bahunya dan menariknya hingga mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Hanya aku pria yang harus ada di sampingmu. Bukan pria lain." ucap Dean tajam.
Jessy terkejut. Namun ia berfikir tentang kejadian kemarin malam. Ia bertemu dengan Jose karena sebuah kebetulan. Ia mengangkat kedua tangannya dan memegang tangan Dean dengan erat. "Dengarkan aku, Dean. Aku tidak akan pernah menyakiti hatimu. Kau harus percaya padaku. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria manapun. "
Dean memeluknya. "Kau harus berjanji padaku."
Jessy mengangguk. "Aku berjanji. Kau harus percaya padaku."
Dean diam. Ia sedikit melonggarkan pelukannya. Apakah kau bisa dipercaya? Karena semua wanita sama saja. ucapnya dalam hati.
__ADS_1